<< Go Back

Sabat 20 Desember 2025

RENUNGAN PENDAHULUAN

JIKA FIRMAN ALLAH GAGAL UNTUK MENYELESAIKAN PEKERJAANNYA DI DALAM HATI DAN KEHIDUPAN KITA, PENYEBABNYA ADA DI DALAM DIRI KITA SENDIRI

 

“Satu hal lagi yang kurang padamu,” kata Yesus. “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala sesuatu yang kaumiliki, berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Kristus membaca hati sang penguasa. Hanya satu hal yang kurang dari dirinya, tetapi itu adalah sebuah prinsip yang sangat penting. Dia membutuhkan kasih Allah di dalam jiwanya. Kekurangan ini, jika tidak dipenuhi, akan berakibat fatal baginya; seluruh sifatnya akan rusak. Dengan memanjakan diri, keegoisan akan menguat. Agar ia dapat menerima kasih Allah, maka kasihnya yang tertinggi terhadap diri sendiri harus diserahkan ….Perkataan Kristus sesungguhnya adalah undangan kepada penguasa, “Pilihlah pada hari ini, siapa yang akan kamu layani.” Yosua 24:15. —— A call to stand apart (Panggilan untuk berbeda), Bab 5 p. 15

 

Manusia harus mengosongkan diri sebelum ia dapat menjadi orang yang percaya kepada Yesus secara penuh. Ketika diri sendiri ditinggalkan, maka Tuhan dapat membuat manusia menjadi ciptaan baru. Botol-botol yang baru dapat menampung anggur yang baru. Kasih Kristus akan menghidupkan orang percaya dengan kehidupan yang baru. Di dalam orang yang memandang kepada Penulis dan Penggenap iman kita, karakter Kristus akan dinyatakan. —— A call to stand apart (Panggilan untuk berbeda), Bab 5 p. 17.

 

Kasih karunia hanya dapat tumbuh subur di dalam hati yang terus menerus dikupas dari benih-benih kebenaran yang berharga. Duri-duri dosa akan tumbuh di tanah mana pun; mereka tidak memerlukan pengolahan; tetapi kasih karunia harus diolah dengan hati-hati. Penghalang dan duri selalu siap untuk tumbuh, dan pekerjaan pemurnian harus terus berlanjut. Jika hati tidak dijaga di bawah kendali Allah, jika Roh Kudus tidak bekerja tanpa henti untuk memurnikan dan memuliakan karakter, maka kebiasaan lama akan menampakkan diri di dalam kehidupan. Manusia dapat saja mengaku percaya kepada Injil, tetapi jika mereka tidak dikuduskan oleh Injil, maka pengakuan mereka tidak ada gunanya. Jika mereka tidak memperoleh kemenangan atas dosa, maka dosa akan memperoleh kemenangan atas mereka. Duri yang telah dipotong tetapi tidak dicabut akan terus tumbuh, sampai jiwa mereka dipenuhi olehnya. Kristus menjelaskan hal-hal yang berbahaya bagi jiwa. Seperti yang dicatat oleh Markus, Ia menyebutkan kekuatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, dan hawa nafsu dari hal-hal lain …. “Kekhawatiran akan dunia ini.” Tidak ada kelas yang bebas dari godaan untuk mementingkan hal-hal duniawi. Bagi orang miskin, kerja keras dan kekurangan serta ketakutan akan kekurangan membawa kebingungan dan beban. Bagi orang kaya, ketakutan akan kehilangan dan banyak kekhawatiran yang mencemaskan …. Mereka tidak percaya kepada pemeliharaan-Nya yang terus menerus. Kristus tidak dapat memikul beban mereka, karena mereka tidak menyerahkannya kepada-Nya. Oleh karena itu, kekuatiran hidup, yang seharusnya membawa mereka kepada Juruselamat untuk mendapatkan pertolongan dan penghiburan, justru memisahkan mereka dari-Nya. Banyak orang yang mungkin berbuah dalam pelayanan Tuhan menjadi bertekad untuk memperoleh kekayaan. Seluruh energi mereka terserap dalam usaha bisnis, dan mereka merasa berkewajiban untuk mengabaikan hal-hal yang bersifat rohani. Dengan demikian mereka memisahkan diri dari Tuhan. Kita diperintahkan dalam Kitab Suci untuk “tidak lamban dalam usaha.” Roma 12:11. Kita harus bekerja keras agar kita dapat memberikan kepada orang yang membutuhkan. Orang Kristen harus bekerja, mereka harus terlibat dalam bisnis, dan mereka dapat melakukannya tanpa melakukan dosa. Tetapi banyak orang yang menjadi begitu asyik dengan bisnis sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk berdoa, tidak memiliki waktu untuk mempelajari Alkitab, tidak memiliki waktu untuk mencari dan melayani Tuhan. Kadang-kadang kerinduan jiwa keluar untuk kekudusan dan surga; tetapi tidak ada waktu untuk menyingkir dari hiruk-pikuk dunia untuk mendengarkan perkataan yang agung dan penuh kuasa [22] dari Roh Allah. Hal-hal kekekalan menjadi lebih rendah, hal-hal duniawi menjadi lebih tinggi. Tidak mungkin benih firman menghasilkan buah, karena kehidupan jiwa diberikan untuk memelihara duri keduniawian ….. —— A call to stand apart (Panggilan untuk berbeda), Bab 6 p. 21, 22.

 

Di sepanjang perumpamaan tentang penabur, Kristus menggambarkan perbedaan hasil dari penaburan yang bergantung pada tanahnya. Dalam setiap kasus, penabur dan benih adalah sama. Dengan demikian, Ia mengajarkan bahwa jika firman Allah gagal untuk menyelesaikan pekerjaannya di dalam hati dan kehidupan kita, penyebabnya ada di dalam diri kita sendiri. Tetapi hasilnya tidak berada di luar kendali kita. Benar, kita tidak dapat mengubah diri kita sendiri; tetapi kuasa untuk memilih adalah milik kita, dan kita sendiri yang menentukan akan menjadi seperti apa diri kita nantinya. Para pendengar yang berada di pinggir jalan, di tanah yang berbatu batu, di tanah yang berduri tidak harus tetap seperti itu. Roh Allah selalu berusaha untuk mematahkan mantra kegilaan yang membuat manusia terserap dalam hal-hal duniawi, dan membangkitkan keinginan untuk mendapatkan harta yang tidak dapat binasa. Dengan melawan Roh, manusia menjadi lalai atau mengabaikan firman Allah. Mereka sendirilah yang bertanggung jawab atas kekerasan hati yang mencegah benih yang baik berakar, dan untuk pertumbuhan yang jahat yang menghalangi perkembangannya. Taman hati harus diolah. Tanahnya harus dihancurkan oleh pertobatan yang mendalam atas dosa. Tanaman beracun dan tanaman setan harus dicabut. Tanah yang pernah ditumbuhi duri hanya dapat direbut kembali dengan kerja keras. Jadi kecenderungan jahat dari hati alamiah dapat diatasi hanya dengan usaha yang sungguh-sungguh di dalam nama dan kekuatan Yesus. Tuhan berpesan kepada kita melalui nabi-Nya, “Pecahkanlah tanah yang bera, dan janganlah menabur di antara semak duri.” “Taburkanlah benih dalam kebenaran; [24] menuai dalam belas kasihan.” Yeremia 4:3; Hosea 10:12. Pekerjaan ini ingin Dia selesaikan bagi kita, dan Dia meminta kita untuk bekerja sama dengan-Nya. —— A call to stand apart (Panggilan untuk berbeda), Bab 6 p. 23, 24.

 

CONTOH DARI SASARAN DUA JENIS PENDIDIKAN YESUS KEPADA

MURIDNYA DAHULU

 

  1. 3 ½ tahun Yesus sebelum kayu salib fokus mengajar bersama murid-murid di Bait suci/gereja-gereja

 

  1. 40 hari Yesus mempersiapkan diri masing-masing pribadi murid-muridNya dengan menitik beratkan kepada PEMBANGUNAN MORAL/TABIAT, sebelum penugasan Roh Suci hujan awal

Catatan:

  • Di pendidikan 3 ½ tahun Yesus juga melakukan pembangunan moral, terbukti murid-murid tidak lagi bekerja untuk kepentingannya sendiri, dan terpisah dari lingkungannya dan keluarganya, bergaul setiap hari bersama Yesus, namun yang difokuskan adalah pengabaran injil, sehingga hasilnya untuk moral murid-murid tidaklah sepenuhnya berubah, terbukti diujung dari pendidikan mereka semuanya diluar dari Yudas masih mementingkan diri, memperebutkan kedudukan pada kerajaan yang diharapkan berdiri, berarti keinginan meninggikan diri ternyata belum tersingkirkan dari keinginan masing-masing.
  • Pendidikan 40 hari memperlihatkan perbedaan yang tegas sasaran pendidikan yang Yesus terapkan, dan tidak ada catatan yang memperlihatkan Yesus mengunjungi Bait Suci setelah kebangkitannya, fokus penitikberatan pendidikan yang dilakukan adalah kepada diri murid-murid Yesus sendiri, Yesus memastikan karakter-karakter seperti Yohanes, Yakobus, Petrus yang pemarah, keras, sombong namun penakut telah berubah, menjadi pribadi serupa seperti guruNya, rela bahkan nyawanya sekalipun. Hal ini dapatlah kita pahami, bahwa bila saja Yesus tidak merubah metode pengajarannya di 40 hari setelah kebangkitannya, maka karakter murid-muridNya tidaklah akan berubah, mereka apabila tetap dipekerjakan mengajar dengan roh suci hujan awal, mereka akan membentuk orang-orang yang dikumpulkan adalah orang-orang yang tetap seperti manusia lama yang mementingkan diri sendiri, bersaing merebut penghargaan lebih tinggi dari lainnya di dalam kelompoknya.

 

Jadi tidaklah heran bila dahulu pendidikan-pendidikan persiapan sebelum penugasan dari contoh tokoh-tokoh Alkitab, kesemuanya difokuskan kepada reformasi dan pembangunan diri mereka sendiri, seperti antara lain Henokh selama 300 tahun bersama Tuhan, Musa selama 40 tahun, Yohanes pembabtis selama 30 tahun. Mengapa demikian, jawabannya adalah sesuai dengan yang dijelaskan oleh Ellen G. White:

Cinta dirilah yang merusak kedamaian kita. Bila diri masih hidup, kita terus siaga melindunginya dari pelecehan dan penghinaan; tapi bila ego kita telah mati, dan hidup kita tersembunyi dengan Kristus dalam Allah, hati tak lagi terusik bila ditolak dan diremehkan orang. Kita akan tuli terhadap celaan dan buta terhadap caci-maki atau hinaan. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.” 1 Korintus 13”4-8……..—- Khotbah Di ats Bukit pg 23. : “Berbahagialah orang yang lemah lembut.” Matius 5:5.

 

 

“Kesucian ……. bukanlah dicapai melalui suatu perasaan terbang yang menggembirakan, melainkan adalah hasil daripada terus-menerus mati untuk dosa, dan senantiasa hidup bagi Kristus. Kesalahan-kesalahan tidak mungkin dapat diluruskan, juga reformasi-reformasi tidak mungkin dapat dilaksanakan di dalam tabiat oleh usaha-usaha yang hanya sekali-sekali dan lemah. Adalah hanya oleh usaha yang tekun dan lama, disiplin yang ketat, dan perjuangan yang keras, maka kita akan menang. Kita tidak tahu pada hari yang satu berapa kuatnya kelak perjuangan kita pada hari berikutnya. Selama setan memerintah, maka kita harus berhasil mengalahkan diri sendiri, menguasai semua dosa untuk menang; sepanjang hayat dikandung badan tidak akan ada satupun tempat berhenti, tidak ada satupun titik tujuan yang dapat kita capai lalu mengatakan : ‘Saya sudah sepenuhnya berhasil. Kesucian ialah hasil dari pada kepatuhan seumur hidup.” — The Acts of the Apostles, p. 560.

 

…… Diri kita sendiri adalah musuh yang sangat perlu kita waspadai. Tidak ada bentuk kejahatan yang mempunyai pengaruh terselubung atas tabiat melebihi nafsu manusia yang tidak berada di bawah pengendalian Roh Kudus. Tidak ada kemenangan lain yang dapat kita raih yang lebih berharga daripada kemenangan atas diri sendiri. ——-PI 407.4

 

 

  • Selanjutnya keberadaan nubuatan-nubuatan kaitannya dengan kewajiban memiliki kasih Yesus, kita dapat pahami berikut:

 

Selain dari yang telah kita pahami dari pelajaran SISTEM HUKUM GANDA, dimana keberadaan nubuatan-nubuatan adalah merupakan hukum upacara yang keberadaannya adalah karena adanya pelanggaran hukum, maka untuk lebih lanjut memahami secara ringkas kita dapat juga memahaminya dari kutipan-kutipan berikut:

 

…… apa pun yang berupa nubuatan-nubuatan, sekaliannya itu akan disingkirkan; apa pun yang berupa karunia-karunia lidah, sekaliannya itu akan berakhir; apa pun yang berupa pengetahuan, ia itu akan dibuang. Karena kita mengetahui sebagian, dan kita bernubuat sebagian; tetapi apabila yang sempurna itu datang, maka yang sebagian itu akan lenyap. — 1 Korinthi 13 : 8 – 10, A.R.V.” — The Abiding Gift of Prophecy, p. 6.

Kemudian yang dikatakan SEMPURNA itu yang bagaimana:

 

” Kekudusan hati dan kemurnian hidup adalah pokok bahasan utama ajaran Kristus. Dalam khotbah-Nya di atas gunung, setelah menjelaskan apa yang harus dilakukan agar diberkati, dan apa yang tidak boleh dilakukan, Ia berkata, “Karena itu, jadilah sempurna, seperti Bapa-Mu yang di surga sempurna adanya.” Kesempurnaan, kekudusan—tidak ada yang kurang dari ini yang akan memberi mereka keberhasilan dalam melaksanakan prinsip-prinsip yang telah Ia berikan kepada mereka. Tanpa kekudusan ini, hati manusia bersifat egois, berdosa, dan jahat. Kekudusan akan menuntun pemiliknya untuk berbuah, dan berlimpah dalam segala perbuatan baik. Ia tidak akan pernah lelah berbuat baik; tidak pula mengharapkan kenaikan pangkat di dunia ini; tetapi ia akan menantikan kenaikan pangkat oleh keagungan surga ketika Ia akan meninggikan orang-orang kudus dan suci-Nya ke takhta-Nya…. Kekudusan hati akan menghasilkan tindakan yang benar.

Sebagaimana Allah itu murni dalam lingkup-Nya, demikian pula manusia harus murni dalam lingkupnya. Dan ia akan murni jika Kristus terbentuk di dalam dirinya, *pengharapan akan kemuliaan; karena ia akan meniru kehidupan Kristus dan mencerminkan karakter-Nya.

Keagungan luhur karakter Kristen akan bersinar seperti matahari, dan pancaran cahaya dari wajah Kristus akan terpantul pada mereka yang telah menyucikan diri mereka sendiri sebagaimana Dia murni.

Kesucian hati akan menuntun pada kesucian hidup. —– OFC 13

 

……… Allah hanya dapat dimuliakan ketika kita yang mengaku percaya kepada-Nya diubahkan menjadi serupa dengan gambar-Nya. Kita harus merepresentasikan keindahan kekudusan kepada dunia, dan kita tidak akan pernah memasuki gerbang kota Allah sampai kita menyempurnakan karakter seperti Kristus. Jika kita, dengan percaya kepada Allah, berjuang untuk pengudusan, kita akan menerimanya. Kemudian, sebagai saksi bagi Kristus, kita harus menyatakan apa yang telah dikerjakan oleh kasih karunia Allah di dalam kita.

Kegelisahan terbesar yang dapat kita alami adalah ketidakpastian. Penerimaan akan berkat-berkat Allah mendatangkan kebenaran dan kedamaian. Buah kebenaran adalah ketenangan dan kepastian selamanya. Kita harus memiliki kesederhanaan dan ketulusan seperti Allah. Kita harus memiliki hikmat yang datang dari atas. Pengalaman Kristen kita harus dijiwai oleh kesalehan, dan naluri dengan kehidupan Ilahi. — UL.99

 

Jadi dari kutipan singkat ini sesudah memahami SISTEM HUKUM GANDA haruslah kita makin kuat pemahamannya terhadap keberadaan kedua hukum ini, yang menjelaskan keberadaan nubuatan-nubuatan dan Kasih serupa dengan Yesus, kedua-duanya harus kita miliki sebagaimana Adam dan Hawa dahulu, namun khususnya dipenghujung 40 hari ini kita harus mampu memahami yang mana yang sementara dan yang mana yang harus mutlak tidak hanya dipegang tetapi juga harus dihidupkan menjadi TABIAT/KARAKTER kita hingga terjamin keselamatan dan kemenangan kita.

 

SISTEM HUKUM GANDA

Review and Herald, 6 Mei 1875:

Fakta bahwa pasangan suci, yang tidak menghormati satu larangan khusus Allah, dengan demikian melanggar hukumNya, dan sebagai akibatnya menderita akibat kejatuhan itu, harus mempengaruhi semua dengan satu pemahaman benar tentang karakter hukum Allah yang suci….

Umat Allah, yang disebut kepunyaanNya yang istimewa, diberi keistimewaan dengan satu sistem hukum ganda, hukum moral dan hukum upacara. Yang satu, mengarah kembali pada Penciptaan untuk tetap mengingat Allah yang hidup yang telah menjadikan dunia, yang tuntutannya mengikat semua takdir, dan yang akan ada sepanjang masa dan kekekalan. Yang lain, diberikan karena pelanggaran Adam terhadap hukum moral, penurutan yang terdiri dari pengorbanan dan persembahan mengarah pada penebusan yang akan datang….

 

 

Penunggu Pagi Tgl 19 Desember diambil dari Buku : BAPA KITA PERDULI (Ellen G. White)

 

SIAPA YANG MENERIMA METERAI ?

 

“Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta ; mereka tidak bercelah.” — Wahyu 14 : 5. Hanya mereka yang menerima meterai ALLAH yang hidup, yang akan menerima paspor melewati gerbang Kota Suci…

Meterai ALLAH yang hidup akan ditaruh hanya keatas mereka yang memiliki karakter serupa dengan KRISTUS.

Sebagaimana lilin menerima cetakan meterai, begitu pula jiwa menerima cetakan ROH ALLAH dan mempertahankan gambar KRISTUS.

Banyak orang tidak akan menerima meterai ALLAH karena mereka tidak menuruti perintah-NYA atau menghasilkan buah kebenaran.

Orang banyak yang mengaku KRISTEN akan menemui kekecewaan pahit pada hari ALLAH. Mereka tidak memiliki meterai ALLAH yang hidup di dahi mereka. Dengan sikap suam-suam kuku dan setengah hati, mereka tidak menghormati ALLAH lebih daripada orang yang mengaku tidak percaya. Mereka meraba-raba dalam kegelapan, padahal mereka bisa berjalan ditengah terang Firman, dibawah tuntunan DIA yang tidak pernah salah…

Mereka yang akan dituntun Anak Domba ketepi mata air kehidupan, dan yang air matanya akan dihapus oleh-NYA, kelak merekalah yang sekarang menerima pengetahuan dan pengertian yang dinyatakan dalam ALKITAB, FIRMAN ALLAH…

Kita tidak menyuruh manusia manapun. Tidak ada manusia yang cukup bijak untuk menjadi teladan kita. Kita harus memandang YESUS KRISTUS, yang sempurna dalam kebenaran dan kesucian. DIA adalah pelopor dan penyempurna iman kita. DIAlah pola manusia. Pengalaman-NYA adalah ukuran pengalaman yang harus kita capai. Karakter-NYA adalah model kita. Kalau begitu marilah kita alihkan pikiran kita dari kebimbangan dan kesulitan hidup ini, dan arahkan pada DIA, supaya dengan memandang, kita bisa diubah menjadi serupa DIA. Kita boleh memandang KRISTUS dengan maksud baik. Kita bisa aman memandang- NYA ; karena DIA amat bijaksana. Setelah kita memandang dan memikirkan DIA, maka DIA akan terbentuk di dalam batin, pengharapan kemuliaan.

Marilah kita berjuang dengan segenap kekuatan yang telah diberikan ALLAH kepada kita, untuk berada diantara SERATUS EMPAT PULUH EMPAT RIBU itu.

Tanya Jawab buku 2 :

MENGAPAKAH NUBUATAN-NUBUATAN
MENGGANTIKAN KASIH?

Pertanyaan No. 19 :

Mengapakah orang-orang Davidian tidak lebih banyak menggunakan waktu untuk mengajarkan kasih Kristus — bagian Alkitab yang “terpenting” itu — dari pada mengajarkan doktrin-doktrin dan nubuatan-nubuatan?

Jawab :

Orang-orang Davidian mengikuti prosedur ini karena sebab Injil yang berbunyi: “Kita juga memiliki suatu perkataan nubuatan yang lebih pasti, maka baiklah kamu memperhatikannya, bagaikan akan sebuah terang yang bercahaya di dalam tempat yang gelap, sampai fajar pagi dan bintang siang terbit di dalam hati kamu sekalian.” 2 Petrus 1 : 19. Oleh sebab itu, nubuatan-nubuatan menciptakan kasih bagi Allah di dalam hati penyelidiknya, karena tidak mungkin dapat diciptakan oleh apapun yang lain.

Lagi pula, sekiranya nubuatan-nubuatan kurang penting dibandingkan dengan bagian-bagian Alkitab lainnya, maka mengapakah Tuhan menugaskan hamba-hamba-Nya menulis sekian banyak nubuatan? Jelaslah, bahwa sekaliannya itu adalah penting. Buku Wahyu yang dialamatkan langsung kepada umat yang akan hidup tepat menjelang kedatangan Tuhan, adalah terdiri dari nubuatan-nubuatan simbolis, terhadap mana Tuhan mengatakan:

“Berbahagialah orang yang membaca, dan mereka yang mendengarkan segala perkataan nubuatan ini, dan yang memeliharakan segala perkara yang tercatat di dalamnya; karena masanya sudah dekat.” Wahyu 1 : 3. “Tengoklah, Aku datang dengan segera; berbahagialah orang yang memeliharakan segala perkataan nubuatan kitab ini ……… Maka aku menyatakan kepada setiap orang yang mendengar segala perkataan nubuatan kitab ini, bahwa jikalau seseorang menambahkan apa-apa kepada segala perkara ini, Allah akan menambahkan kepadanya berbagai bela yang tertulis di dalam kitab ini; dan jikalau seseorang mengurangkan sesuatu dari segala perkataan kitab nubuatan ini, maka Allah akan menghilangkan bagiannya dari kitab hayat, dan dari kota suci itu, dan dari pada segala perkara yang tertulis di dalam kitab ini.” Wahyu 22 : 7, 18, 19.

Benar, bahwa kasih Yesus adalah sangat diperlukan, namun dengan hanya mengkhotbahkannya tanpa mengkhotbahkan doktrin-doktrin dan nubuatan-nubuatan, tidak akan bermanfaat apapun juga bagi orang, karena oleh perantaraan nubuatan-nubuatan dan oleh doktrin-doktrin, orang mempelajari bukan saja kasih Yesus melainkan juga bagaimana berbakti kepada-Nya. Rasul Paulus mengatakan: “Semua injil itu adalah dikaruniakan oleh ilham dari Allah, dan adalah berguna bagi doktrin, untuk menegor yang salah, untuk memperbaiki, sebagai petunjuk dalam kebenaran: supaya umat Allah dapat menjadi sempurna, dipersiapkan selengkapnya bagi semua pekerjaan yang baik.”– 2 Timotius 3 : 16, 17.

Kalau saja sidang-sidang pada waktu ini sudah mengajarkan nubuatan-nubuatan dan doktrin-doktrin dengan mengesampingkan kasih Yesus, maka tentunya orang-orang Davidian sudah akan bertahan dengan lebih kukuh pada kasih Yesus dari pada nubuatan-nubuatan. Tetapi karena persoalannya adalah sebaliknya, yaitu kasih Yesus dibesarkan dengan melalaikan nubuatan-nubuatan, maka tentunya kebutuhan kita yang utama dan tertinggi ialah mempelajari kasih Yesus itu melalui doktrin-doktrin; kemudian, dengan demikian tanggung jawab kita yang terbesar ialah mengajarkannya.

Sementara injil kasih itu mengilhami kita untuk mengasihi Tuhan, maka semua doktrin mengajarkan kepada kita cara yang benar untuk bagaimana mengasihi Dia, dan terang nubuatan-nubuatan mengendalikan kaki-kaki kita pada jalan yang lurus dan sempit itu sepanjang perjalanan sampai ke kota Allah, sama seperti halnya di malam hari lampu-lampu mobil menunjukkan kepada kita jalan menuju ke rumah. Tanpa sekaliannya itu, maka kita tak dapat tiada akan segera kehilangan jalan, bertabrakan, dan berantakan di dalam kegelapan — suatu kehancuran dan kematian, yang tak disangka-sangka. Dengan demikian sementara kita memerlukan yang satu, maka kita pun sama memerlukan yang lainnya. Oleh sebab itu orang-orang Davidian mengkombinasikan kedua-duanya, yaitu mengajarkan kasih Yesus melalui doktrin-doktrin, dan jalan menuju Kerajaan itu melalui nubuatan-nubuatan.

 

 

KUASA MENGHUKUM DARI HUKUM ALLAH MELUAS, TIDAK HANYA PADA HAL-HAL YANG KITA LAKUKAN, TETAPI JUGA PADA HAL-HAL YANG TIDAK KITA LAKUKAN.

 

Banyak orang mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, tetapi pada saat yang sama mereka menjauhkan diri dari-Nya, dan tidak bertobat dari dosa-dosa mereka, tidak menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi mereka. Iman mereka hanyalah persetujuan pikiran dan penilaian terhadap kebenaran; tetapi kebenaran itu tidak dibawa ke dalam hati, sehingga dapat menguduskan jiwa dan mengubah karakter ….——- A New Life (Revival and Beyond) Bab 2-Bagaimana Menjadi Orang Kristen yang Dilahirkan Kembali, sub judul Keyakinan dan Kepercayaan hal 19.

 

Hukum Allah itu sederhana, dan mudah dipahami. Ada orang yang dengan bangga menyombongkan diri bahwa mereka hanya percaya pada apa yang dapat mereka pahami, lupa bahwa ada misteri dalam kehidupan manusia dan dalam perwujudan kuasa Allah di dalam karya-karya alam – misteri yang tidak dapat dijelaskan oleh filsafat yang paling dalam dan penelitian yang paling ekstensif sekalipun. Tetapi tidak ada misteri dalam hukum Allah. Semua dapat dipahami. dan kebenaran-kebenaran agung yang terkandung di dalamnya. Akal yang paling lemah pun dapat memahami aturan-aturan ini; orang yang paling bodoh pun dapat mengatur kehidupan, dan membentuk karakter yang sesuai dengan standar ilahi. Jika anak-anak manusia mau, dengan sebaik-baiknya, menaati hukum ini, mereka akan memperoleh kekuatan pikiran dan kekuatan untuk memahami lebih banyak lagi maksud dan rencana Allah. Dan kemajuan ini akan terus berlanjut, tidak hanya selama kehidupan sekarang, tetapi selama zaman kekekalan; karena betapapun jauhnya kita maju dalam pengetahuan akan hikmat dan kuasa Allah, selalu ada ketidak terbatasan di luar sana. Hukum Ilahi menuntut kita untuk mengasihi Allah dengan sepenuh hati dan sesama kita seperti diri kita sendiri. Tanpa penerapan kasih ini, pengakuan iman yang tertinggi hanyalah kemunafikan belaka …——- A New Life (Revival and Beyond) Bab 3-Tuhan Juga Punya Aturan, sub judul Taat Membawa Kebahagiaan hal 30.

 

Kuasa menghukum dari hukum Allah meluas, tidak hanya pada hal-hal yang kita lakukan, tetapi juga pada hal-hal yang tidak kita lakukan. Kita tidak boleh membenarkan yang tidak diri kita sendiri dengan tidak melakukan hal-hal yang dituntut oleh Allah. Kita tidak hanya harus berhenti melakukan yang jahat, tetapi kita juga harus belajar untuk melakukan yang baik. Allah telah memberi kita kuasa untuk digunakan dalam pekerjaan-pekerjaan yang baik; dan jika kuasa-kuasa ini tidak digunakan, kita pasti akan ditempatkan sebagai hamba-hamba yang jahat dan malas. Kita mungkin tidak melakukan dosa-dosa yang memilukan; pelanggaran-pelanggaran semacam itu mungkin tidak tercatat dalam kitab Allah; tetapi fakta bahwa perbuatan-perbuatan kita tidak tercatat sebagai perbuatan yang murni, baik, tinggi, dan mulia, yang menunjukkan bahwa kita belum mengembangkan talenta-talenta yang telah dipercayakan kepada kita, membuat kita berada di bawah hukuman. …——- A New Life (Revival and Beyond) Bab 3-Tuhan Juga Punya Aturan, sub judul Di luar Engkau Tidak Boleh hal 32.

  

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart