<< Go Back

Sabat 31 Mei 2025

Renungan Pendahuluan

 

Dan kemudian, dalam kata-kata yang ada pada zaman itu hingga sekarang menjadi suatu sumber inspirasi dan dorongan kepada kaum pria dan wanita, Paulus menyatakan pentingnya kasih yang harus dihormati oleh para pengikut Kristus: “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki segala pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.” —–KR 268.1

Bagaimanapun tingginya pekerjaan seseorang, yang hatinya tidak dipenuhi kasih kepada Allah dan sesamanya manusia dia bukanlah murid Kristus yang benar. Walaupun dia mempunyai iman yang besar dan mempunyai kuasa untuk melakukan tanda-tanda ajaib, namun tanpa kasih imannya akan menjadi sia-sia. Dia mungkin menunjukkan kebaikan yang besar; tetapi seandainya dia, dari beberapa alasan yang lain daripada kasih sejati, menyerahkan seluruh hartanya untuk menjamu orang miskin, perbuatan yang demikian tidak menjadi alasan untuk memperkenankan Allah. Dalam semangatnya, dia mungkin menjadi seorang yang mati syahid, namun jika dia tidak digerakkan oleh kasih, dia akan dianggap oleh Allah sebagai seorang yang suka memperdaya diri sendiri atau seorang munafik yang berambisi. —–KR 268.2

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu; ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Kesukaan yang mumi terpancar dari orang yang sangat rendah hati. Tabiat-tabiat yang kuat dan agung dibentuk di atas dasar kesabaran, kasih, dan penyerahan kepada kehendak Allah. ——KR 268.3

“Kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan ia tidak menyimpan kesalahan orang lain.” Kasih seperti dimiliki Kristus itu menempatkan tafsiran yang sangat baik pada motif dan tingkah laku orang lain. Kasih itu tidak perlu membukakan kesalahan-kesalahan orang lain; ia tidak ingin mendengar laporan-laporan yang tidak baik, tetapi malah membawa kepada pikiran kualitas-kualitas yang baik dari orang-orang lain. ——KR 268.4

Kasih itu, “tidak bersukacita karena ketidakadilan;” tetapi bersuka karena kebenaran; Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Kasih itu, “tidak pernah gagal.” Nilainya tidak pernah hilang; itu adalah suatu sifat perlengkapan surgawi. Sebagai suatu harta yang berharga, kasih itu akan membawa pemiliknya masuk melalui gerbang kota Allah. —-KR 269.1

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”—–KR 270.1

Catatan:

Penjelasan Ellen G. White ini tampak ia menempatkan nubuatan dan rahasia menjadi tidak begitu penting didasarkan kepada penjelasan Rasul Paulus pada 1 Korintus 13 dan Galatia 5, sehingga tidaklah heran bila khususnya orang-orang Advent menjunjung tinggi KASIH dan mengabaikan nubuatan dan rahasia-rahasia Alkitab.

Namun oleh karena sekarang kita telah berada pada di dalam periode malaikat ke empat yang menggabungkan dirinya dengan pekabaran 3 malaikat, maka untuk memperoleh pemahaman antara keberadaan nubuatan dan rahasia dengan KASIH kita perlu melihat penjelasan yang diberikan oleh Victor T. Houteff sebagai malaikat ke empat yang membuat dunia menjadi terang benderang, yaitu kita dapatkan di dalam penjelasannya pada jawaban atas pertanyaan no. 19 dari buku Tanya Jawab buku dua. Di dalam penjelasannya sangat jelas ditunjukkan bahwa keberadaan nubuatan itu tidak terlepas dari bagian kerohanian umat Allah di perjalanan terakhir, dimana kehadiran nubuatan-nubuatan dan rahasia itu berfungsi memberikan penerangan jalan kepada umatNya agar tidak celaka, oleh sebab itu dikatakannya “kita memerlukan yang satu, maka kita pun sama memerlukan yang lainnya. Oleh sebab itu orang-orang Davidian mengkombinasikan kedua-duanya, yaitu mengajarkan kasih Yesus melalui doktrin-doktrin, dan jalan menuju  Kerajaan itu melalui nubuatan-nubuatan”.

Dengan demikian melalui penjelasan ini pertentangan-pertentangan terhadap hal tersebut menjadi jelas, dan adalah sangat masuk akal pemahaman yang diberikan oleh Victor T. Houteff, karena seperti salah satu contoh yang telah kita pahami bahwa semua yang dituliskan oleh nabi Daniel baru dibukakan pengertiannya di akhir zaman, dan oleh karena dijelaskan oleh Ellen G. White bahwa buku Wahyu adalah pelengkap dari buku Daniel, maka kata-kata salah satu ayat buku Wahyu pasal 1:3 dan pasal 22:7 yang menjanjikan kebahagiaan oleh karena bersedia membaca dan menuruti kitab Wahyu tersebut tidak akan dapat diperoleh oleh orang-orang Advent yang hanya berpegang kepada KASIH saja, sementara kitab-kitab seperti buku Daniel dan Wahyu yang berisikan nubuatan diabaikan.

Sekaligus melalui penjelasan Victor T. Houteff kita menjadi paham, mengapa Rasul Paulus dahulu berbicara demikian, karena dimasanya ia hidup secara umum tidak ada nubuatan atau rahasia yang diberikan kepadanya, apa yang ia sampaikan kepada umatNya adalah tentang Yesus Kristus, yaitu nubuatan atau rahasia yang sudah digenapi dan oleh karena periode Paulus hidup bukanlah diakhir zaman yaitu waktunya kata-kata malaikat Jibrail kepada Daniel tergenapi, maka untuk orang-orang dizaman Paulus tersebut hanya memiliki pemahaman tentang KASIH saja yang jadi tanggung jawab mereka saat itu, sedangkan kita masih perlu ditambahkan dengan nubuatan-nubuatan dan rahasia-rahasia.

Sementara Ellen G. White walaupun keberadaan gereja Advent berdiri atas hasil dari penggenapan nubuatan-nubuatan dan rahasia, namun terang yang dibukakan kepadanya saat ia menulis kutipan tersebut belum seluas terang yang Tuhan telah bukakan kepada Victor T. Houteff, sehingga bagi kita yang sekarang hidup di periode paling di hujung waktu, maka kesemua pemahaman-pemahaman akan kebenaran harus dimengerti dibawah terang berkembang.

Namun demikian dari pembelajaran yang semakin berkembang sebagai penerimaan Tuhan terhadap kerohanian kita, hal yang perlu kita pahami bahwa dari kedua-kedua hal  di atas, yaitu nubuatan-nubuatan, rahasia-rahasia dan KASIH kedua-dua dimaksudkan untuk kita dapat mencapai KESERUPAAN DENGAN YESUS, dan salah satu penjelasan yang kita dapatkan dari pelajaran perumpamaan Tuhan Yesus tentang pakaian kawin, jelas kita pahami bahwa pakaian kawin tersebut yang melayakan kepantasan kita hadir dalam prosesi pesta perkawinan anak domba dimaksudkan kepada TABIAT.

Di Tengah-tengah Duri

(Catatan: Bacaan ini mengingatkan tentang kekawatiran dan tipu daya kekayaan adalah ancaman bagi tanaman gandum dan tabiat yang dilambangkan sebagai pakaian kawin dalam pelajaran perumpamaan tentang pakaian kawin )

 

“Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit itu sehingga tidak berbuah.”

Benih injil itu sering jatuh di tengah duri dan semak yang merusak; dan bila tidak ada perubahan akhlak dalam hati manusia, jika kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan yang lama dan kehidupan lama yang penuh dosa tidak ditinggalkan, jika perangai setan tidak dikeluarkan dari jiwa itu, maka tanaman gandum itu akan terhimpit. Duri-duri akan menjadi hasil tanah dan akan membunuh gandum itu.

Rahmat hanya bisa tumbuh subur dalam hati yang selalu dipersiapkan untuk benih-benih kebenaran yang berharga. Duri-duri dosa akan bertumbuh di tanah yang mana saja; ia tidak perlu dipelihara; tetapi rahmat harus dipelihara dengan saksama. Semak dan duri selalu siap sedia untuk tumbuh dan pekerjaan penyucian harus maju terus-menerus. Jika hati itu tidak dipelihara di bawah pengendalian Allah, jika Roh Kudus tidak bekerja terus-menerus untuk membersihkan dan meninggikan tabiat itu, kebiasaan-kebiasaan yang lama akan menunjukkan dirinya dalam hidup Orang boleh mengaku percaya kepada injil; tetapi kecuali mereka disucikan oleh injil, pengakuan mereka adalah sia-sia. Jika mereka tidak mendapat kemenangan di atas dosa, maka dosa memperoleh kemenangan di atas mereka. Duri-duri yang telah dibebat tetapi tidak dicabut akarnya akan tumbuh pesat, sampai tanah itu penuh dengan onak berduri. Kristus menyebutkan hal-hal yang berbahaya terhadap jiwa. Sebagaimana yang dicatat oleh Markus, la menyebutkan kekhawatiran akan dunia ini, tipu-daya kekayaan dan nafsu terhadap hal-hal yang lain. Lukas menyebutkan mengenai, kekhawatiran, kekayaan dan kepelesiran hidup ini. Inilah yang menghimpit firman itu, benih rohani yang sedang bertumbuh. Jiwa itu berhenti menarik makanan dari Kristus dan mati secara rohani dari dalam hati.

“Kekhawatiran dunia ini.” Tidak ada golongan manusia yang bebas dari pencobaan kepada kekhawatiran dunia. Bagi orang miskin, kerja keras serta hal-hal yang tidak dinikmati dan takut akan kekurangan membawa kebingungan dan beban. Kepada orang kaya datang rasa takut rugi serta banyak kekhawatiran -yang lain lagi. Banyak dari pengikut-pengikut Kristus lupa kepada pelajaran yang telah diminta kepada kita supaya belajar dari bunga di padang. Mereka tidak percaya kepada pengawasan-Nya yang tetap. Kristus tidak dapat memikul beban mereka, sebab mereka tidak menyerahkan beban itu kepada-Nya. Oleh sebab itu kekhawatiran hidup, yang harus mendorong mereka kepada Juruselamat untuk memperoleh pertolongan dan penghiburan, memisahkan mereka dari Dia.

Banyak orang yang bisa berguna dalam pekerjaan Allah menjadi cenderung untuk memperoleh kekayaan. Seluruh tenaganya diserap dalam usaha-usaha perdagangan dan mereka terpaksa melalaikan hal-hal yang bersifat rohani. Dengan demikian mereka memisahkan dirinya dari Allah. Kita diperintahkan dalam Kitab Suci agar tidak “kerajinanmu kendor.” Kita harus bekerja supaya kita dapat memberi kepada orang yang susah. Orang Kristen harus bekerja, mereka harus melibatkan diri dalam pekerjaan dan mereka dapat melakukan ini tanpa berbuat dosa. Tetapi banyak orang menjadi terlalu sibuk dalam pekerjaan sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk berdoa, tidak ada waktu untuk mempelajari Alkitab, tidak ada waktu untuk mencari dan menyembah Allah. Sewaktu-waktu kerinduan jiwa itu mencari kesucian dan sorga; tetapi tidak ada waktu untuk meninggalkan pekerjaan yang hiruk-pikuk dari dunia ini untuk mendengar kepada kebesaran dan penurutan yang penuh kuasa dari Roh Allah. Perkara-perkara yang kekal dianggap lebih rendah, sedang perkara-perkara dunia dianggap lebih penting. Adalah mustahil bagi benih firman itu untuk mengeluarkan buah; karena kehidupan jiwa itu diberikan untuk memberi makan kepada duri-duri keduniawian.

Dan banyak orang yang bekerja dengan tujuan yang berbeda-beda, jatuh ke dalam kesalahan yang sama. Mereka bekerja untuk kebaikan orang lain; kewajiban mereka menekan, tanggung jawab mereka begitu banyak dan mereka mengizinkan pekerjaan mereka begitu banyak sehingga menyingkirkan kebaktian. Berhubungan dengan Allah perantaraan doa dan belajar firman-Nya dilalaikan. Mereka lupa bahwa Kristus berkata, “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Mereka berjalan terpisah dari Kristus, hidup mereka tidak diisi oleh rahmat-Nya dan ciri-ciri mementingkan diri tampak nyata. Pelayanan mereka dirintangi oleh keinginan mencari keunggulan, dan sifat-sifat yang kasar dan tidak disukai dari hati yang belum ditaklukkan. Di sinilah salah satu rahasia utama dari kegagalan dalam pekerjaan kekristenan. Itulah sebabnya hasil-hasil yang diperoleh sangat sedikit.”Tipu daya kekayaan.” Cinta akan kekayaan mempunyai kuasa merangsang, kuasa menipu. Terlalu sering orang yang memiliki harta dunia lupa bahwa Tuhanlah yang memberikan mereka itu kuasa untuk mendapatkan kekayaan. Katanya, “Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.” Kekayaan mereka, gantinya membangkitkan syukur kepada Allah, membawa kepada pengagungan diri sendiri. Mereka kehilangan kesadaran terhadap ketergantungan-Nya pada Allah serta kewajibannya terhadap sesama manusia. Gantinya menganggap kekayaan itu sebagai suatu talenta yang harus digunakan bagi kemuliaan Allah dan untuk mengangkat umat manusia, mereka memandangnya sebagai suatu cara untuk melayani dirinya sendiri. Gantinya mengembangkan dalam diri manusia sifat-sifat Allah, kekayaan yang digunakan menumbuhkan sifat-sifat setan di dalam dirinya. Benih firman itu terhimpit di tengah-tengah duri.

“Dan kepelesiran hidup ini.” Dalam mereka memuaskan kepelesiran dan pengagungan diri sendiri terdapat bahaya. Segala kebiasaan memanjakan diri melemahkan kekuatan fisik, yang menggelapkan pikiran, atau yang menumpulkan penglihatan rohani, adalah “keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.”

“Dan keinginan-keinginan yang lain lagi.” Ini tidak selalu perkara-perkara yang berdosa dalam dirinya sendiri, tetapi sesuatu yang diutamakan ganti kerajaan Allah. Apapun yang menyimpangkan pikiran dari Kristus,adaIah musuh bagi jiwa itu.—–Perumpamaan-Perumpamaan, Seorang Penabur – Ditengah-tengah duri, hal 32-34

DUA ORANG YANG BERBAKTI

(Catatan: Bacaan ini memberikan pandangan bahwa kita walaupun telah berada dalam pemegang kebenaran sekarang yang berkembang, kita masih perlu mengoreksi diri terhadap karakter tinggi hati, memandang diri sendiri mampu, memandang orang lain rendah dan perlunya terus menerus rendah hati dan mengakui diri sebagai orang berdosa)

 

Kepada sekelompok orang tertentu yang percaya akan diri mereka sendiri bahwa mereka adalah benar dan memandang rendah kepada orang lain, Kristus menuturkan perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi pergi ke Bait Allah untuk berdoa, bukan sebab ia merasa bahwa ia adalah seorang berdosa yang memerlukan pengampunan, melainkan sebab ia mengira dirinya benar dan berharap untuk mendapat pujian. Perbaktiannya dianggapnya sebagai suatu jasa yang akan memperkenankan dia di hadapan Allah. Pada saat yang bersamaan dengan ini akan memberikan kesan yang tinggi kepada orang-orang mengenai kesalehannya. Ia mengharapkan supaya diperkenan oleh Allah maupun oleh manusia. Perbaktiannya didorong oleh kepentingan diri sendiri.

Dan ia sangat memuji diri sendiri. Ia memperhatikan, berjalan dan berdoa untuk itu. Ia menarik dirinya dari antara orang-orang lain seolah-olah berkata, “Janganlah engkau hampir kepadaku, karena sucilah aku dari padamu,” ia berdiri dan berdoa “kepada dirinya sendiri.” Dengan merasa sangat puas terhadap dirinya, ia mengira bahwa Allah dan manusia menganggapnya serupa itu pula.

“Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu,” katanya, “karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini.”

Ia menilai tabiatnya, bukan dengan tabiat Allah yang suci, melainkan dengan tabiat orang lain. Pikirannya dialihkan jauh dari Allah kepada manusia. Inilah rahasia dari pada perasaan puas terhadap diri sendiri. Ia melanjutkan menyebut perbuatan-perbuatannya yang baik: “Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Agama orang Farisi itu tidak menjamah jiwa. Ia tidak mencari tabiat yang serupa Allah, hati yang dipenuhi dengan kasih dan pengasihan. Ia merasakan agama yang menyangkut kehidupan luar saja. Kebenarannya adalah kebenaran dirinya sendiri-buah-buah perkataannya sendiri dan dinilai dengan ukuran manusia.

Siapapun yang yakin akan dirinya sendiri bahwa dia benar, akan merendahkan orang lain. Sebagaimana orang Farisi menilai dirinya dengan orang lain, begitulah ia menilai orang lain dengan dirinya sendiri. Kebenaran-Nya diukur dengan kebenaran mereka, dan semakin buruk diri mereka, semakin suci tampaknya dalam perbandingan. Anggapan bahwa diri mereka benar telah menuntun dia untuk menuduh orang lain. “Orang lain” dihakimkan oleh dia sebagai pelanggar-pelanggar hukum Allah. Dengan demikian ia justru menunjukkan roh setan, yaitu penuduh saudara-saudara. Dengan memiliki roh yang seperti ini mustahil bagi dia bersekutu dengan Allah. Ia pulang ke rumahnya tanpa memiliki sesuatu apapun dari berkat ilahi.

Si pemungut cukai telah pergi ke kaabah dengan orang-orang lain yang turut berbakti, tetapi ia segera memisahkan dirinya dari mereka, merasa diri tidak layak bersatu di dalam perbaktiannya. Jauh-jauh ia berdiri, “bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri,” dalam derita yang pahit dan merasakan dirinya keji. Ia merasa bahwa ia telah melanggar terhadap Allah, bahwa ia telah berdosa dan cemar. Ia malah tidak bisa mengharapkan pengasihan dari orang yang berada di sekelilingnya; karena mereka melihat dia dengan hina. Ia tahu bahwa ia tidak mempunyai jasa untuk memujikan dirinya kepada Allah dan dalam keadaan yang sama sekali putus asa ia berteriak, “Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa.” Ia tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Karena dipenuhi dengan perasaan bersalah, ia berdiri seolah-olah sendirian di hadirat Allah. Keinginan satu-satunya hanyalah pengampunan dan kedamaian, permohonan satu-satunya adalah pengasihan Allah. Dan ia diberkati. “Aku berkata kepadamu,” ujar Kristus, “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, dan orang lain itu tidak.”

Orang Farisi dan pemungut cukai menggambarkan dua golongan manusia di mana orang yang dapat berbakti kepada Allah dibagi. Dua wakil pertama dari golongan manusia ini terdapat dalam diri kedua anak yang pertama-tama lahir di bumi. Kain merasa dirinya benar dan ia datang kepada Allah dengan suatu persembahan syukur saja. Ia tidak mengadakan pengakuan dosa dan merasa tidak memerlukan pengasihan. Tetapi Habil datang dengan darah yang menunjukkan kepada Anak Domba Allah. Ia datang sebagai seorang berdosa, mengaku dirinya tersesat; pengharapan satu-satunya adalah Kasih Allah tanpa merasa diri layak. Tuhan menghargai persembahannya, tetapi kepada Kain dan persembahannya tidak dihargai-Nya. Menyadari keperluan, mengakui kemiskinan dan dosa kita, adalah syarat pertama mengenai penerimaan Allah. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Bagi setiap golongan yang diwakili orang Farisi dan pemungut cukai, terdapat suatu pelajaran dalam sejarah rasul Petrus. Ketika mula-mula menjadi murid, Petrus merasa dirinya kuat. Seperti orang Farisi, ia merasa dirinya “tidak seperti orang lain.” Ketika Kristus pada malam sebelum dikhianati memberi amaran terlebih dulu kepada murid-murid-Nya, “Kamu semua akan tergoncang imanmu,” Petrus dengan penuh keyakinan berkata, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” Petrus tidak tahu mengenai bahaya terhadap dirinya. Terlalu berharap pada diri sendiri telah menyesatkan dia. Ia mengira bahwa dirinya sanggup menahan pencobaan; tetapi dalam beberapa jam yang singkat datanglah ujian dan dengan kutukan dan sumpah ia menyangkal Tuhannya.

Ketika ayam berkokok mengingatkan dia dari hal perkataannya kepada Kristus, ia heran dan terkejut atas apa yang baru saja dilakukannya, ia menoleh dan memandang kepada Tuhannya. Pada saat itu Kristus memandang kepada Petrus dan di balik pandangan yang sedih itu, Petrus mengerti dirinya. Ia keluar dan menangis tersedu-sedu. Pandangan Kristus menghancurkan hatinya. Petrus telah datang pada titik-alih dan dengan sedih bertobat atas dosanya. Ia seperti pemungut cukai yang menyesal dan bertobat, dan seperti pemungut cukai itu ia mendapat pengasihan. Pandangan Kristus menjamin pengampunannya.

Sekarang perasaan yakin terhadap diri sudah hilang. Tidak pernah lagi sifat-sifat yang angkuh itu diulangi. Sesudah kebangkitan-Nya tiga kali Kristus menguji Petrus, “Simon anak Yonas,” kata-Nya, “apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka itu?” Petrus sekarang tidak meninggikan dirinya di atas sesama saudaranya. Ia berseru kepada Dia yang dapat membaca hatinya: “Tuhan,” . sahutnya, “Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”

Lalu ia menerima tugasnya. Suatu pekerjaan yang lebih luas dan lebih rumit yang pernah diserahkan kepadanya. Kristus memohon kepadanya untuk menggembalakan domba-domba serta anak-domba. Ia menyerahkan ke dalam tangannya jiwa-jiwa yang untuknya Juruselamat telah menyerahkan nyawa-Nya sendiri, Kristus memberi kepada Petrus bukti yang paling kuat mengenai keyakinan dalam pemulihan-Nya. Murid yang tadinya gelisah, angkuh, yakin terhadap diri saja telah menjadi orang, yang takluk dan bertobat. Sejak waktu itu ia mengikuti Tuhan dalam penyangkalan diri dan pengorbanan diri. Ia adalah orang yang ikut serta dalam kesengsaraan Kristus, dan bila Kristus akan duduk di takhta kemuliaan-Nya, Petrus pun akan ikut serta dalam kemuliaan-Nya.

Kejahatan yang memimpin kepada kejatuhan Petrus dan yang menutupi orang Farisi dari persekutuan dengan Allah, terbukti telah menghancurkan ribuan orang sekarang ini. Tidak ada perkara yang begitu menyakitkan hati Allah, atau begitu berbahaya kepada jiwa manusia, seperti keangkuhan dan merasa diri kuat. Dari semua dosa-dosa inilah dosa yang paling tidak berpengharapan dan paling susah diperbaiki.

Kejatuhan Petrus bukanlah tiba-tiba, tetapi lambat laun. Keyakinan atas diri sendiri telah membawa dia kepada keyakinan bahwa dia telah selamat, dan langkah demi langkah ditempuh dalam jalan yang menurun, sampai akhirnya ia dapat menyangkal Tuhan-Nya. Kita tidak akan pernah dapat merasa aman dengan berharap terhadap keyakinan atas diri sendiri, atau merasa, ini di pihak sorga, bahwa kita aman terhadap pencobaan. Orang yang menerima Juruselamat, betapapun ikhlas pertobatannya, tidak pernah boleh diajarkan untuk mengatakan atau merasa bahwa mereka sudah selamat. Ini menyesatkan. Setiap orang harus diajar untuk mendambakan pengharapan dan iman; tetapi meski kita menyerahkan diri kita kepada Kristus dan tahu bahwa Ia menerima kita, kita bukan berada di luar jangkauan pencobaan. Firman Allah berbunyi, “Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji.” Hanya orang yang dapat bertahan atas pencobaan akan menerima mahkota hidup.

Orang yang menerima Kristus, dan di dalam keyakinannya yang pertama-tama berkata, Aku diselamatkan, berarti berada dalam bahaya berharap kepada dirinya sendiri. Mereka tidak melihat kelemahan-kelemahannya sendiri dan keperluan-Nya yang terus-menerus akan kekuatan ilahi. Mereka tidak siap terhadap muslihat setan dan di bawah pencobaan, banyak orang, seperti Petrus, jatuh tenggelam dalam dosa. Kita diberi nasihat, “Siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh.” Keselamatan kita satu-satunya adalah dalam keadaan tidak percaya terhadap diri, dan bergantung kepada Kristus.

Petrus perlu mempelajari kelemahan-kelemahan tabiatnya sendiri dan keperluannya akan kuasa dan rahmat Kristus. Tuhan tidak dapat menyelamatkan dia dari percobaan, tetapi Ia dapat menyelamatkan saya dari kekalahan. Kalau Petrus mau menerima amaran Kristus, dia akan berjaga dan berdoa. Ia akan berjalan dengan takut dan gemetar jangan-jangan kakinya terantuk. Dan ia akan menerima pertolongan ilahi, sehingga setan tidak akan memperoleh kemenangan.

Adanya perasaan diri kuat membuat Petrus jatuh; dan perantaraan pertobatan dan kerendahan hatinya membuat dia dapat berdiri kembali. Dalam catatan pengalaman setiap orang berdosa yang bertobat dapat memperoleh penghiburan. Walau Petrus telah berbuat dosa yang menyedihkan, ia tidak ditinggalkan. Perkataan Kristus tertulis di atas jiwanya, “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.” Dalam kesengsaraan yang pahit dan penuh penyesalan, doa ini dan ingatan mengenai pandangan Kristus yang penuh cinta dan pengasihan, memberikan pengharapan kepadanya. Sesudah kebangkitan Kristus, Kristus mengingat Petrus, dan memberikan kepada malaikat berita untuk disampaikan kepada perempuan itu, “Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus; Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia.” Pertobatan Petrus diterima oleh Juruselamat yang suka mengampuni. ——Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, sub judul Dua Orang yang Berbakti hal 105 – 109

DI PADANG BELANTARA

(Catatan: Bacaan ini untuk menyadarkan ke kita bagaimana isi 40 tahun itu dijalani oleh bangsa Israel, terlihat 40 tahun mereka berisi templakan karena mereka berdosa, mendisiplinkan untuk percaya bahwa Tuhan menyertai mereka dan membiarkan mereka lapar untuk mendidikan mereka memahami bahwa hidup tidak bergantung kepada makanan saja, tetapi juga akan firman yang keluar dari mulut Allah.)

 

Selama kurang lebih empat puluh tahun lamanya bangsa Israel telah hilang dari pandangan di dalam keadaan yang terpencil di padang belantara. Musa berkata, “Adapun lamanya kita berjalan dari Kades-Barnea sampai menyeberang anak sungai Yered itu, ia itu tigapuluh delapan tahun sampai habislah mati segenap bangsa orang perang yang di tengah-tengah tentara itu, seperti Tuhan telah berjanji kepada mereka itu pakai sumpah. Maka sebab itupun tangan Tuhan ada melawan mereka itu hendak diparangkannya mereka itu dari dalam tentaranya, sehingga berkesudahanlah mereka itu sama sekali.” Ulangan 2:14, 15. ——-PB1 429.1

Selama tahun-tahun ini orang banyak terus-menerus diingatkan bahwa mereka berada di bawah tempelakan ilahi. Di dalam pemberontakan di Kades mereka telah menolak Allah, dan untuk sementara waktu Allah telah menolak mereka. Oleh karena mereka telah terbukti tidak setia kepada perjanjianNya, mereka tidak dapat menerima tanda dari perjanjian itu, yaitu upacara sunat. Keinginan mereka untuk kembali ke negeri perbudakan itu telah menunjukkan bahwa mereka tidak layak memperoleh kemerdekaan, dan upacara Paskah, yang telah ditetapkan untuk memperingati kelepasan dari perbudakan, tidak boleh dirayakan. ——-PB1 429.2

Tetapi diteruskannya upacara kaabah menjadi kesaksian bahwa Allah tidaklah sama sekali meninggalkan mereka. Dan pimpinanNya masih mencukupkan kebutuhan mereka. “Tuhan Allahmu telah memberkati kamu di dalam segala pekerjaan tanganmu,” kata Musa, dalam mengulangi kembali sejarah pengembaraan mereka. “Ia mengetahui perjalananmu melalui padang belantara yang luas ini; selama empat puluh tahun Tuhan telah menyertai kamu; engkau tidak kekurangan apapun.” Dan nyanyian orang Lewi yang dicatat oleh Nehemia, dengan jelas menggambarkan penjagaan Allah bagi Israel, sekalipun pada tahun-tahun penolakan dan pembuangan mereka: “Maka tiada juga kau tinggalkan mereka itu di padang Tiah oleh karena kebesaran rahmatmu, sehingga tiang awan itu tiada undur daripadanya pada siang hari akan menghantar mereka itu pada jalannya, dan tiang apipun tiada undur pada malam akan menerangi mereka itu, yaitu pada jalan yang patut diturutnya. Dan lagi Engkaupun sudah mengaruniakan Rohmu yang baik itu akan memberi akal kepada mereka itu dan mannamupun tiada kau tahani daripada mulut mereka itu dan Engkaupun sudah mengaruniakan air kepada mereka itu akan memuaskan dahaganya. Demikianlah Engkaupun sudah memeliharakan mereka itu di padang Tiah empat puluh tahun lamanya, sehingga mereka itu tiada berkekurangan dan pakaian mereka itupun tiada buruk dan kaki mereka itupun tiada bengkak.” Nehemia 9:19-21. ——-PB1 429.3

Pengembaraan di padang belantara bukan hanya ditetapkan sebagai satu hukuman terhadap pemberontak-pemberontak dan orang-orang yang bersungut itu. Musa menyatakan kepada mereka, “Seperti seorang bapa mengajar anaknya begitulah telah diajar Tuhan, Aliahmu, akan kamupun,” “supaya direndahkannya hatimu dengan mencobai kamu, hendak diketahuinya barang yang ada di dalam hatimu, kalau kamu menurut firmannya atau tidak. Dan Ia . . .

 

PENDERITAAN ADALAH JALAN KEBAIKAN

 

Kristus jangan dipersalahkan atas akibat kelalaian dan keragu-raguan. Ia yang memberikan nyawaNya kepada manusia berdosa menghargai nilai jiwa itu. Ia tidak akan pernah gagal melakukan bagianNya, tidak juga jadi kecil hati. Ia tidak akan pernah meninggalkan orang yang melakukan kesalahan, yang digoda dan dicobai dalam konflik.”Kasih karuna-Ku sempurna bagi mu.” “Allah itu setia, yang tidak akan membuatmu menderita digoda di atas kesanggupanmu.” Ia menimbang dan mengukur setiap pencobaan sebelum Ia izinkan itu terjadi…..

Tantangan yang kita jumpai terbukti dapat berguna bagi kita dalam banyak hal. Jika dilakukan dengan baik, itu akan mengembangkan sifat baik yang tidak akan pernah muncul jika orang Kristen tidak pernah memikul beban apapun. Dan iman, kesabaran ketahanan, pikiran tertuju pada surga, percaya pada pemeliharaan ilahi, dan simpati yang tulus kepada orang berdosa, adalah hasil dari pencobaan yang dilalui dengan baik….

Jika firman diterima ke dalam hati yang baik dan jujur, maka jiwa yang keras akan dilunakkan, dan iman yang mengerti janji dan bersandar pada Yesus, akan terbukti menang—- Review and Herald, 28 Juni 1892

 

 

 

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart