<< Go Back

Sabat 17 Mei 2025

 

RENUNGAN PENDAHULUAN

 

Harus mempunyai suatu pengetahuan tentang diri sendiri, suatu pengetahuan yang akan membawa penyesalan, sebelum kita dapat beroleh pengampunan (pelajaran tentang SADAR/mengakui kesalahan—pertobatan–pengampunan)

Dalam segenap kekuatan setan tiada kuasa yang dapat mengalahkan satu jiwa yang dengan percaya yang sederhana menyerahkan dirinya kepada Kristus. “Dia memberikan kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”

“Jikalau kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Tuhan berkata, “Hanya akuilah kesalahanmu, bahwa engkau telah mendurhaka terhadap Tuhan, Allahmu.’ “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dan segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.” Tetapi kita harus mempunyai suatu pengetahuan tentang diri kita, suatu pengetahuan yang akan membawa penyesalan, sebelum kita dapat beroleh pengampunan dan kedamaian. Orang Farisi itu tidak merasa bertobat dari dosa. Roh Kudus tidak dapat bekerja dengan Dia. Jiwanya dibungkus dengan suatu perisai perasaan diri benar di mana panah Allah, dibidik oleh tangan malaikat, tidak berhasil menerobosnya. Hanya orang yang mengetahui dirinya saja sebagai orang yang berdosa yang dapat diselamatkan oleh Kristus. Ia datang “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tahanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta untuk membebaskan orang-orang yang tertindas.” Tetapi “bukan orang sehat yang memerlukan tabib.”Kita harus mengetahui keadaan kita yang sebenarnya, jika tidak kita tidak akan merasa keperluan kita mengenai pertolongan Kristus. Kita harus mengerti bahaya kita, kalau tidak kita tidak akan lari kepada perlindungan. Kita harus merasa sakit akibat luka-luka kita, kalau tidak kita tidak akan menginginkan kesembuhan.

…….

Bukanlah hanya pada permulaan kehidupan kekristenan yang membuat penyangkalan diri ini terjadi. Dalam setiap langkah maju menuju ke sorga ia harus dibaharui. Semua pekerjaan kita yang baik bergantung atas suatu kuasa yang berada di luar diri kita sendiri. Oleh sebab itu harus ada jangkauan yang terus-menerus dari hati kita terhadap Allah, suatu pengakuan dosa yang terus-menerus, sungguh-sungguh, yang menghancurkan hati dan merendahkan jiwa itu di hadapan Dia. Hanya oleh penyangkalan diri yang tetap dan bergantung kepada Kristus kita dapat berjalan dengan aman

……

Dalam setiap langkah maju dalam pengalaman kekristenan pertobatan kita akan menjadi lebih dalam. Kepada orang yang telah, diampuni Tuhan, terhadap orang yang telah diakui-Nya sebagai umat-Nya, Ia berkata, “Dan kamu akan teringat kepada kelakuanmu yang jahat dan perbuatan-perbuatan mu yang tidak baik dan kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri karena kesalahan-kesalahanmu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji.

……

Sesuai dengan pengalaman ini ada perintah, “tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”Allah tidak mau engkau merasa takut bahwa Ia akan gagal untuk menggenapi janji-Nya, bahwa kesabaran-Nya akan habis atau pengasihan-Nya akan ternyata kurang. Takutlah supaya jangan kemauanmu tidak akan ditaklukkan kepada kemauan Kristus, supaya jangan sifat-sifat warisan dan yang dipertumbuhkan akan mengendalikan kehidupan. “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Takutlah, jangan sampai kemauan diri sendiri akan menghalangi tujuan tinggi yang Allah, perantaraan engkau, ingin laksanakan. Takutlah untuk percaya kepada kekuatanmu sendiri, takutlah untuk menarik tanganmu dari tangan Kristus dan takutlah berusaha untuk menjalani jalan kehidupan tanpa hadirat-Nya yang tetap. Kita perlu menutupi segala sesuatu yang dapat mendorong kepada kecongkakan dan merasa diri kuat; oleh sebab itu kita harus waspada dalam memberi atau menerima pujian yang muluk-muluk. Adalah pekerjaan setan untuk meleceh. Ia suka meleceh juga suka menuduh dan menghakimkan. Dengan demikian ia berusaha merusakkan jiwa. Orang yang memberi pujian kepada manusia digunakan setan sebagai alat-alatnya. Hendaklah pekerja-pekerja Kristus memimpin setiap kata pujian jauh dari diri mereka.—-Buku Perumpamaan-Perumpamaan sub judul “Seorang penabur – Dua orang yang berbakti”

(Bacaan ini antara lain menegur pikiran kita, yaitu …….kita sering sekali masing memiliki kekawatiran-kekawatiran seperti orang-orang dunia, seperti perintah untuk berpisah dari dunia, menyusutkan kepentingan sendiri dan berpindah ketempat yang jauh dari kota……oleh karena tidak lagi bekerja, kekawatiran kita adalah kawatir tidak bisa makan karena tidak memiliki uang, dalam bacaan ini dikatakan bukanlah kita perlu kawatir kepada hal-hal yang pada dasarnya Tuhan sudah janjikan perlindunganNya, yang sangat-sangat perlu dikawatirkan adalah diwilayah kita, yaitu takut kita tidak konsisten bertahan tetap setia kepada tuntutan-tuntutanNya….dan bila kita mengawatirkan wilayahnya Tuhan, maka tanpa sadar kita telah meragukan janjiNya dan ini berarti kita telah MENGHINANYA.)

 

CALON 144000 ITU AKHIRNYA MEREKA AKAN SENDIRIAN, DIKECEWAKAN BAHKAN DIHIANATI ORANG-ORANG TERDEKAT DAN TERPERCAYA

(Catatan: Sebuah pelajaran singkat bagi kita orang-orang contoh saingan dari lambang Yesus dan Daud akan mengalami peristiwa-peristiwa mematahkan semangat di dalam perjalanan pengakhiran pekerjaannya, dan bagaimana sikap berjiwa besar yang juga harus ditampilkan)

 

Pengalaman Yesus

Apa yang dituntut hukum dari Adam dan Hawa di Eden, dan apa yang dituntut dari Kristus, Adam kedua, dituntut dari setiap manusia. Saya menyerukan kepada mereka yang mengaku percaya kepada kebenaran untuk mencapai standar yang lebih tinggi. Saya mempersembahkan di hadapan Anda Yesus, Yang Mulia surga, yang meninggalkan istana kerajaan, dan demi kita menjadi miskin, agar melalui kemiskinan-Nya kita dapat menjadi kaya. Lihatlah pemandangan dalam kehidupan-Nya yang penuh penderitaan. Pikirkan penderitaan-Nya di Getsemani, ketika, ditindas oleh kuasa kegelapan, Dia berdoa, “Ya Bapa, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Lihatlah Dia dikhianati oleh Yudas, ditinggalkan oleh murid-murid-Nya, dihukum oleh para imam dan penguasa, dan diserahkan oleh Pilatus untuk mati dengan memalukan. Semua ini Ia tanggung supaya manusia dapat ditinggikan dan dimuliakan, dan dengan mengambil bagian dalam kodrat ilahi, ditinggikan di sebelah kanan Allah.——-Review and Herald, 26 Feb. 1901

 

Pekerjaan Maria (Magdalena) justru merupakan pelajaran yang diperlukan oleh murid-murid untuk menunjukkan kepada mereka bahwa pernyataan kasih mereka bagi-Nya akan menyenangkan hati Kristus. Ia sangatlah penting bagi mereka, dan mereka tidak menyadari bahwa tidak lama kemudian mereka akan kehilangan hadirat-Nya, bahwa tidak lama kemudian mereka tidak dapat lagi mempersembahkan kepada-Nya tanda terima kasih mereka karena kasih-Nya yang besar itu. Kesepian Kristus, yang terpisah dari istana-istana surga, hidup seperti manusia, tidak pernah dipahami atau dihargai oleh murid-murid sebagaimana sepatutnya. Ia sering merasa sedih karena murid-murid-Nya tidak memberikan kepada-Nya hal yang harus diterima-Nya dari mereka. Ia mengetahui bahwa jika mereka berada di bawah pengaruh malaikat-malaikat surga yang menyertai Dia, mereka juga akan berpendapat bahwa tidak ada persembahan yang cukup berharga untuk menyatakan kasih dalam batin. ——-KSZ2 184.1

 

Tuhan telah memberikan satu pekabaran reformasi kesehatan kepada umat-Nya. Terang ini telah bersinar pada jalan mereka selama tiga puluh tahun. Tuhan tidak dapat mempertahankan hamba-hambaNya dalam satu arus yang bertentangan. Dia merasa sedih ketika hamba-hamba-Nya menentang pekabaran dalam hal ini, yang telah diberikan kepada mereka untuk disampaikan kepada orang lain. Dapatkah Allah merasa senang apabila separuh dari para pekerja setempat mengajarkan prinsip reformasi kesehatan yang berhubungan erat dengan pekabaran malaikat ketiga sebagaimana lengan dengan tubuh, sedangkan yang separuh lagi mengajarkan prinsip yang sama sekali bertentangan? Ini dianggap sebagai satu dosa di pemandangan Allah…. ——-MMD 40.2

 

Dengan kesedihan Yesus melihat wajah-wajah yang menengadah di hadapan-Nya (orang-orang Israel (Yahudi) sering menghadapi aniaya dari bangsa Roma yang menjajah di zaman Yesus). Dia perhatikan roh dendam yang telah mendalam dalam hati mereka, dan mengetahui betapa mereka sangat merindukan kuasa bangsa itu untuk meremukkan para penindas mereka. Dengan sangat memilukan dia meminta, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” —-KAB 81.1

 

Kata-kata ini hanya merupakan pengulangan dari ajaran Perjanjian Lama. Benar bahwa peraturan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Imamat 24:20), adalah suatu ketetapan dalam hukum yang diberikan lewat Musa; tetapi itu adalah suatu undang-undang sipil. Tidak seorang pun dibenarkan dengan membalas dendam, karena Tuhan mengatakan kepada mereka. “Jangan engkau berkata: Aku akan membalas kejahatan.” “Janganlah berkata: Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia.” “Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh.” “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.” Amsal 20:22; 24:29, 17; 25:21,22. —–KAB 81.2

 

Pengalaman Daud

Daud memiliki hati yang rendah hati sebagaimana Yesus, dari dirinya pun kita dapatkan pelajaran pengalaman bagaimana ia dikhianati banyak pihak:

  1. Dikhianati oleh Absalom anak kesayangannya dan Akhitofel salah seorang penasehat utama Daud,

Absalom pergi ke Hebron, dan bersama-sama dengan dia berangkat “dua ratus orang, semua orang jemputan, adapun sekalian ini pergi dengan tulus hatinya juga, karena tiada diketahuinya akan hal perkara itu.” Orang-orang ini pergi dengan Absalom, dengan tidak memikirkan bahwa kasih mereka terhadap anak itu akan menuntun mereka memberontak melawan bapanya. Setibanya di Hebron, dengan segera Absalom memanggil Akhitofel, salah seorang penasihat utama Daud, seorang yang terkenal bijaksana, yang pendapatnya dianggap selamat dan bijaksana seolah-olah merupakan satu hukum. Akhitofel menggabungkan diri dengan para pemberontak dan dukungannya ini menjadi usaha Absalom kelihatannya pasti akan berhasil, dengan menarik banyak orang yang berpengaruh dari seluruh bahagian negeri itu kepada pihaknya. Apabila terompet tanda pemberontakan itu dibunyikan, mata-mata putera mahkota yang ada di seluruh bagian negeri itu menyebarluaskan berita bahwa Absalom adalah raja, dan banyak orang datang menggabungkan diri kepadanya. ——-PB2 344.1

 

Dirangsang oleh hasutan-hasutan yang licik daripada putera mahkota itu, rasa tidak puas terhadap pemerintah dengan cepat telah meluas. Semua orang memuji Absalom. Orang banyak menganggap dia sebagai ahli waris daripada kerajaan itu, mereka memandangnya dengan rasa bangga sebagai seorang yang layak untuk menduduki jabatan yang tinggi ini, dan satu keinginan telah timbul agar ia bisa menempati tahta kerajaan. “Maka dicuri Absalom akan hati orang Israel.” Namun demikian, raja yang sudah dibutakan oleh kasihnya kepada anak-anaknya, tidak menaruh curiga sedikitpun. Kedudukan Absalom sebagai putera mahkota, dianggap oleh Daud sebagai sesuatu yang akan menjadi kehormatan kepadanya—sebagai satu ungkapan kegembiraan atas adanya perdamaian itu. ——PB2 343.2

 

  1. Dihianati Abdonia anak Daud dari istrinya Hagid, Yoab Panglima kerajaan/ keponakan Daud dari kakak tirinya Zeruya dan Abyatar yang merupakan Imam Besar

Pemberontakan sudah matang, para pemberontak telah berhimpun dalam satu pesta besar tidak jauh dari kota untuk mengumumkan bahwa Adonia adalah raja, pada saat rencana mereka itu telah dihalangi oleh tindakan yang cepat dari beberapa orang yang setia, dengan dipimpin oleh antara lain Zadok, imam itu, nabi Natan, dan Batsyeba ibu Salomo. Mereka ini telah menghadapkan segala perkara itu kepada raja, sambil mengingatkan kepadanya tentang perintah Ilahi bahwa Salomo harus menggantikannya sebagai raja. Dengan segera Daud menyerahkan takhtanya kepada Salomo, yang dengan segera pula telah dilantik dan dinyatakan sebagai raja. Pemberontakan itu dihancurkan. Para pemimpin-nya telah dijatuhi hukuman mati. Abyatar dibiarkan hidup, untuk menghormati tugas jabatannya dan kesetiaannya kepada Daud pada masa yang lalu; tetapi ia telah dicopot dari tugasnya sebagai imam besar, yang kemudian diserahkan kepada keluarga Zadok. Yoab dan Adonia untuk sementara waktu dibiarkan hidup, tetapi setelah kematian Daud mereka telah dijatuhi hukuman atas kejahatan mereka. Dilaksanakannya hukuman ke atas diri anak Daud ini telah menggenapi hukuman empat kali lipat yang menyaksikan akan kebencian Allah terhadap dosa sang ayah. SRNJ2 423.2

 

Sikap Daud atas penghianatan Absalom

Dari istananya, Daud memandang kepada ibu kota kerajaan itu—yang “menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi;… kota Raja besar.” Mazmur 48:3. Ia gemetar oleh pemikiran untuk membiarkan kota ini diserang dan dibinasakan. Haruskah ia meminta tolong dari rakyat yang masih setia kepadanya dan mempertahankan kota itu? Akankah ia mengizinkan Yerusalem dibanjiri pertumpahan darah? Keputusan diambil. Bencana peperangan tidak boleh menimpa kota yang sudah dipilih itu. Ia akan meninggalkan Yerusalem, dan kemudian menguji kesetiaan bangsanya, sambil memberikan kepada mereka suatu kesempatan untuk bersatu dan menolong dia. Di dalam keadaan krisis yang besar ini adalah tugasnya kepada Allah dan kepada bangsanya untuk mempertahankan wewenang yang telah diberikan surga kepadanya. Halhal yang berhubungan dengan peperangan itu ia serahkan kepada Allah. —–SRNJ2 402.1

 

Di dalam kerendahan hati dan kesedihan, Daud pergi ke luar melewati gerbang Yerusalem—terusir dari takhtanya, dari istananya, dari tabut Allah, oleh pemberontakan anak yang dimanjakan itu……. —–SRNJ2 402.2

 

Orang-orang muda ini dicurigai dan dikejar, tetapi mereka berhasil dalam melaksanakan tugas mereka yang berbahaya itu. Daud, merasa lelah dan sedih setelah hari pertama ia telah melarikan diri, menerima kabar bahwa ia harus menyeberangi Sungai Yordan malam itu juga, oleh karena anaknya sedang berusaha untuk membunuhnya. ——SRNJ2 412.2

 

Apakah perasaan ayah dan raja, yang diperlakukan dengan begitu kejam, di dalam bahaya maut yang hebat ini? “Seorang yang gagah perkasa,” seorang yang cakap dalam peperangan, seorang raja, yang kata-katanya merupakan undang-undang, telah dikhianati oleh anaknya yang ia kasihi, manjakan dan yang dengan tidak bijaksana ia telah percayai; ia telah diperlakukan dengan kejam dan ditinggalkan oleh bawahannya yang terikat kepadanya oleh ikatan yang paling kuat dalam kehormatan dan kepatuhan—dengan kata-kata apakah Daud dapat mencurahkan perasaan jiwanya itu? Di dalam jam pencobaan yang paling gelap ini, hati Daud bergantung kepada Allah, dan ia menyanyi: ——-SRNJ2 412.3

 

…….Apabila Yoab, memimpin rombongan yang pertama, melewati tempat raja itu, pemenang ratusan peperangan itu menundukkan kepalanya untuk mendengar pesan yang terakhir dari raja, yang dengan suara gemetar telah berkata, “Perlakukanlah Absalom, orang muda itu dengan lunak karena aku.” Dan Abisai dan Itai menerima pesan yang sama pula—’’Perlakukanlah Absalom, orang muda itu dengan lunak karena aku.” Tetapi permohonan raja, yang seolah-olah menyatakan bahwa Absalom lebih berharga kepadanya daripada kerajaannya, lebih berharga daripada segala bawahannya yang setia kepada kerajaannya, hanyalah menambah kemarahan tentara-tentaranya terhadap anak yang jahat itu. ——SRNJ2 414.3

 

Catatan:

Oleh karena kita dalam beberapa tulisan Ellen G. White dan juga Victor T. Houteff dijelaskan bahwa kita juga merupakan contoh saingan dari Yesus, yaitu salah satunya tentang 3 hari Yesus dalam belenggu dosa akan menjadi contoh kesusahan Yakub, maka pengalaman Yesus dihianati oleh Yudas, ditinggalkan oleh murid-muridNya juga akan menjadi drama perjalanan kita calon 144000, ditambah lagi bila kita membaca pengalaman contoh lainnya yang juga ditunjukkan sebagai contoh kita 144000 yaitu raja Daud dimana ia juga mengalami kesedihan yang sama dengan Yesus, yaitu dihianati oleh anaknya sendiri Absalom, dihianati penasihat kerajaan Ahitofel, dihianati Yoab panglima perangnya, Abdonia anaknya dari istri Hagid dan Abyatar imam besarnya yang kesemuanya adalahorang-orang yang sangat dekat dan dipercaya, maka tidaklah kita perlu heran bila kita sekarang menyaksikan perjalanan sisa waktu ini, dari waktu dahulu jumlah kita cukup banyak, dan perlahan-lahan teman-teman kita hilang meninggalkan dan terbukti sebagaimana pengalaman Yesus dan Daud sudah kita rasakan dari perjalanan kehidupan kerohanian kita sejauh ini, maka kitapun harus siap-siap terhadap kekecewaan terakhir sebagaimana yang telah diramalkan oleh Ellen G. White bahwa kita juga akan mengalami peristiwa diserahkan kepada penguasa oleh Yudas-Yudas contoh saingan akhir zaman.

PELAJARAN DARI TABIAT DAUD DAN JAWABAN MENGAPA CALON 144000 DILAMBANGKAN DENGAN SEORANG DAUD

(Catatan: sebuah pelajaran bagi Daud-Daud contoh saingan bagaimana merubah karakter aslinya yang beberapa masih keras hati, tinggi hati, menjunjung tinggi harga diri……suatu contoh dari pribadi yang rendah hati bersedia ditegur/tidak membantah dan tetap konsisten walaupun dari orang sederhana kemudian menjadi seorang raja yang disegani bangsa-bangsa sekeliling)

 

LEMBUTNYA HATI DAUD

Lembutnya hati Daud, tidak mau membunuh Saul ketika kesempatan ada dan tampak Allah mengijinkan

Sekali lagi kabar dikirimkan kepada Saul, “Ketahuilah, Daud ada di padang gurun En-Gedi. Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan.” Daud hanya mempunyai enam ratus orang dalam kelompoknya itu, sementara Saul bergerak maju dengan disertai tentara yang terdiri dari tiga ribu orang. Di dalam sebuah gua yang tersembunyi anak Isai dan tentaranya itu menunggu petunjuk Allah mengenai apa yang harus mereka lakukan. Apabila Saul mendaki gunung-gunung itu, ia telah berbelok, dan masuk seorang diri, ke dalam gua yang sama di mana Daud dan tentaranya sedang bersembunyi. Pada waktu tentara Daud melihat hal ini mereka telah menganjurkan kepada pemimpin mereka supaya membunuh Saul. Kenyataan bahwa raja itu sekarang berada di dalam kekuasaan mereka telah ditafsirkan oleh mereka sebagai bukti yang pasti bahwa Allah Sendiri yang telah menyerahkan musuh itu ke dalam tangan mereka, agar mereka membunuhnya. Daud tergoda untuk mempertimbangkan hal ini di dalam pikirannya dengan cara yang sama; tetapi suara hati nuraninya berkata kepadanya, “Jangan jamah orang yang sudah diurapi oleh TUHAN.” —–SRNJ2 316.1

Tentara Daud masih tetap tidak mau meninggalkan Saul dalam keadaan selamat, dan mereka telah mengingatkan kembali kepada firman Allah, “Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kau pandang baik. Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.” Tetapi hati nuraninya menghukum dia sesudahnya, oleh sebab dia telah menodai jubah raja itu. ——SRNJ2 316.2

Dengan diselubungi oleh bayangan yang pekat bukit-bukit itu, Daud dan para pengawalnya memasuki perkemahan musuh. Sementara mereka sedang berusaha untuk memastikan jumlah yang tepat dari musuh mereka, mereka mendapati Saul sedang tertidur, tombaknya tertancap di tanah, dan sebuah buyung air terletak dekat kepalanya. Di sampingnya terbaring Abner, panglima bala tentaranya, dan di sekeliling mereka terdapat tentara-tentara, yang sedang tertidur dengan lelapnya. Abisai mengangkat tombaknya, dan berkata kepada Daud, “Pada hari ini Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, oleh sebab itu izinkanlah kiranya aku menancapkan dia ke tanah dengan tombak ini, dengan satu tikaman saja, tidak usah dia kutancapkan dua kali.” Ia menunggu izin; tetapi terdengar oleh telinganya bisikan berkata, “Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi Tuhan, dan bebas dari hukuman?. . . Demi Tuhan yang hidup, niscaya Tuhan akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana. Kiranya Tuhan menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi Tuhan. Ambillah sekarang tombak yang ada di sebelah kepalanya dan kendi itu, dan marilah kita pergi. Kemudian Daud mengambil tombak dan kendi itu dari sebelah kepala Saul, lalu mereka pergi. Tidak ada yang melihatnya, tidak ada yang mengetahuinya, tidak ada yang terbangun, sebab sekaliannya tidur, karena TUHAN membuat mereka tidur nyenyak.” Betapa mudahnya bagi Tuhan untuk melemahkan orang yang paling kuat, melenyapkan hikmat dari orang yang paling bijaksana, dan meniadakan keahlian dari orang yang paling terampil sekalipun! ——-SRNJ2 325.3

Peristiwa yang kedua ini, dimana Daud menunjukkan sikap hormat kepada hidup rajanya itu, memberikan suatu kesan yang lebih dalam lagi di dalam pikiran Saul, dan telah menyebabkan dia mengadakan pengakuan yang lebih sungguh-sungguh lagi akan kesalahannya itu. Ia merasa heran dan kagum atas pernyataan sikap yang amat baik itu. Pada waktu akan berpisah dengan Daud, Saul berseru, “Diberkatilah kiranya engkau, anakku Daud. Apa juapun yang kauperbuat, pastilah engkau sanggup melakukannya.” Tetapi anak Isai itu tidak mengharapkan bahwa raja itu akan tahan lama dalam keadaan pikirannya yang seperti itu. ——SRNJ2 327.1

 

Lembutnya hati Daud, ia tidak dendam dengan keturunan Saul, ia memberikan kehidupan yang layak kepada Mefiboset anak Yonatan dan sabar terhadap sikap Simei keluarga Saul

 

Daud, di dalam perjanjiannya dengan Yonatan, telah bersepakat bahwa bilamana ia tidak lagi mendapat gangguan dari musuh-musuhnya maka ia akan melakukan perbuatan-perbuatan baik terhadap isi rumah Saul. Di dalam kemakmurannya, sambil mengingat perjanjian ini, ia telah bertanya. “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.” Kepadanya diberitahukan bahwa ada anak laki-laki Yonatan, Mefiboset, yang lumpuh semenjak lahirnya. Pada waktu kekalahan Saul oleh orang Filistin di Yizreel, inang pengasuh anak ini, sambil berusaha melarikan diri bersama dengan dia, telah terjatuh, dengan demikian telah menyebabkan dia timpang seumur hidupnya. Sekarang Daud memerintahkan agar anak itu dibawa menghadap kepadanya di istana dan menyambutnya dengan penuh kemurahan hati. Harta milik pribadi Saul telah dikembalikan kepadanya untuk membiayai rumah tangganya: tetapi anak Yonatan itu sendiri harus menjadi tamu yang tetap di istana itu, setiap hari duduk sehidangan dengan raja. Melalui laporan-laporan dari musuh Daud, Mefiboset telah memendam rasa syak wasangka terhadap Daud sebagai seorang perampok; tetapi penerimaan Daud yang murah hati dan sopan santun itu, dan kebajikannya yang terus-menerus itu telah menawan hati orang muda ini; ia menjadi terikat erat kepada Daud, dan seperti Yonatan ayahnya, ia merasa bahwa perhatiannya adalah satu dengan perhatian raja yang telah dipilih oleh Allah itu. —–SRNJ2 376.1

Kemenakan Daud, Abisai, salah seorang pemimpin tentaranya yang paling berani, merasa tidak sabar mendengar kata-kata cemoohan Simei itu. “Mengapa,” serunya, “anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.” Tetapi raja melarangnya. “Sedangkan,” katanya, “anak kandung (Absalom) ku . . . ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian. Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.” ——-SRNJ2 406.4

 

Lembutnya hati Daud, bersedia ditegur oleh Abigail dan nabi Natan

(Abigail istri orang kaya bernama Nabal hendak melindungi Nabal suaminya dari amarah Daud bersama pasukannya yang telah baik menjaga penggembalaan kawanan dombanya meminta bantuan, namun ditolak dan diremehkan )

Suatu kehidupan Kristen yang berserah senantiasa memancarkan terang dan penghiburan, serta damai. Itu ditandai oleh kesucian, kebijaksanaan, kesederhanaan dan kegunaan. Itu dikendalikan oleh kasih yang tidak mementingkan diri, yang dapat menyucikan pengaruh. Itu dipenuhi oleh Kristus, dan meninggalkan suatu bekas yang terang ke mana saja pemiliknya pergi. Abigail adalah seorang penegur dan penasihat yang bijaksana. Amarah Daud hilang di bawah kuasa pengaruh dan pertimbangannya. Ia telah diyakinkan bahwa ia telah mengambil jalan yang tidak bijaksana, dan telah kehilangan kendali atas rohnya sendiri. ——SRNJ2 324.1

Dengan rendah hati ia menerima teguran itu, sesuai dengan kata-katanya, “Biarlah orang benar memalu dan menghukum aku, itulah kasih; tetapi janganlah minyak orang fasik menghiasi kepalaku!” Mazmur 141:5. Ia mengucapkan terima kasih dan berkat oleh sebab dia telah menasihatinya dengan penuh kebenaran. Banyak orang apabila ditegur, merasa bahwa adalah terpuji jika mereka menerima teguran itu tanpa ketidaksabaran; tetapi betapa sedikitnya orang yang menerima teguran dengan rasa syukur dan mengucapkan berkat bagi mereka yang berusaha menyelamatkannya dari jalan yang jahat. ——SRNJ2 324.2

 

(Nabi Natan ditugaskan untuk menegur Daud atas dosanya membunuh Uria untuk mendapatkan istrinya Betsyeba)

Teguran nabi itu menjamah hati Daud, hati nuraninya dibangkitkan; kesalahannya nampak dalam segala kekejiannya. Jiwanya tertunduk dalam pertobatan kepada Allah. Dengan bibir yang gemetar ia berkata. ——-SRNJ2 388.4

“Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Segala kesalahan yang diperbuat kepada orang lain telah terpantul kembali dari yang disakiti kepada Allah. Daud telah melakukan dosa yang keji baik terhadap Uria maupun Batsyeba, dan ia benar-benar merasakannya. Tetapi jauh lebih besar daripada itu adalah dosanya terhadap Allah. ——SRNJ2 388.5

Sekalipun tidak akan didapati seorang di dalam Israel untuk melaksanakan hukuman mati kepada orang yang sudah dilantik bagi Tuhan, Daud gemetar, karena jangan-jangan, dalam keadaan yang bersalah dan tidak diampuni, ia akan dibunuh oleh hukuman Allah yang segera. Tetapi satu kabar telah dikirimkan kepadanya oleh nabi, “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.” Namun demikian keadilan harus dipertahankan. Hukuman mati itu dipindahkan dari diri Daud kepada anak yang telah diperolehnya dalam dosa. Dengan demikian raja diberi kesempatan untuk bertobat; sementara kepadanya penderitaan dan kematian anak itu, sebagai sebagian dari pada hukumannya itu, adalah lebih getir daripada kematiannya sendiri. Nabi itu berkata, “Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.” ——SRNJ2 389.1

 

Lembutnya hati Daud, tidak ada kemarahan kepada anaknya Absalom yang telah berkhianat

Bala tentara yang menang itu, kembali dari medan pertempuran, bergerak mendekati kota itu; pekikan kemenangan mereka telah menggema di bukit-bukit. Tetapi apabila mereka memasuki pintu gerbang kota teriakan mereka terhenti, bendera mereka terkulai di tangan mereka, dan dengan tertunduk mereka berjalan maju dan tampaknya lebih menyerupai orang yang telah menderita kekalahan daripada orang-orang yang menang. Oleh karena raja tidak menyambut mereka, tetapi dari ruang yang di atas pintu gerbang itu ratapannya terdengar, “Anakku Absalom, anakku, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!” SRNJ2 417.2

“Pada hari itulah kemenangan menjadi perkabungan bagi seluruh tentara, sebab pada hari itu tentara itu mendengar orang berkata: Raja bersusah hati karena anaknya. Sebab itu tentara itu masuk kota dengan diam-diam pada hari itu, seperti tentara yang kena malu kembali dengan diam-diam karena melarikan diri dari peperangan.” SRNJ2 417.3

 

Daud ditegur oleh Yoab bawahannya

Yoab dipenuhi oleh kemarahan. Allah telah memberikan kepada mereka sebab untuk menang dan bersuka-suka, pemberontakan yang terbesar yang pernah terjadi di antara orang Israel telah dihancurkan; tetapi kemenangan besar ini telah diubah menjadi satu perkabungan bagi dia yang kejahatannya telah menumpahkan darah ribuan orang-orang yang gagah berani. Pemimpin yang berani ini pergi menghadap kepada raja, dan dengan beraninya berkata, “Pada hari ini engkau mempermalukan semua hambamu, yang telah menyelamatkan nyawamu pada hari ini dan nyawa anak-anakmu laki-laki dan perempuan. . . dengan mencintai orang-orang yang benci kepadamu, dan dengan membenci orang-orang yang cinta kepadamu! Karena pada hari ini engkau menunjukkan bahwa panglima-panglima dan anak buah tidak berarti apa-apa bagimu. Bahkan aku mengerti pada hari ini, bahwa seandainya Absalom masih hidup dan kami semua mati pada hari ini, maka hal itu kaupandang baik. Oleh sebab itu, bangunlah, pergilah ke luar dan berbicaralah menenangkan hati orang-orangmu. Sebab aku bersumpah demi TUHAN, apabila engkau tidak ke luar, maka seorang pun tidak akan ada yang tinggal bersama-sama dengan engkau pada malam ini; dan hal ini berarti celaka bagimu melebihi segala celaka yang telah kau alami sejak kecilmu sampai sekarang.” SRNJ2 417.4

Betapapun kasar bahkan kejamnya teguran kepada raja yang hatinya terluka itu, Daud tidak menolaknya. Menyadari bahwa jenderalnya itu benar, ia pergi ke pintu gerbang, dan dengan kata-kata yang penuh semangat dan pujian itu telah menyambut tentara-tentaranya yang berani itu sementara mereka berbaris melewati dia. SRNJ2 418.5

 

RENDAH HATI

PENYESALAN DAUD SAMA BESARNYA DENGAN KESALAHANNYA

“Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk redam dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk redam.” Yesaya 57:15, NRSV.

 

Orang berdosa jarang merasa benar dalam hal teguran …. Betapa kecilnya simpati yang mereka rasakan terhadap orang yang telah memikul beban berat yang Tuhan berikan kepadanya! Mereka menganggap diri sebagai martir dan berpikir bahwa mereka pantas dikasihani, karena mereka ditegur dan dinasihati yang bertentangan dengan ide dan perasaan mereka sendiri. Mereka mungkin mengakui beberapa hal, tetapi dengan kegigihan yang gigih mereka berpegang teguh pada kesalahan mereka, ide-ide mereka sendiri. “Karena pemberontakan adalah seperti dosa tukang sihir, dan kedegilan adalah seperti kejahatan dan penyembahan berhala.” Firman Tuhan ditolak dengan segala cara….

 

Betapa berbedanya karakter Daud! Meskipun ia telah berdosa, ketika Tuhan mengirimkan teguran keras kepadanya, ia selalu tunduk di bawah hajaran Tuhan. Daud dikasihi Allah, bukan karena ia manusia sempurna, tetapi karena ia tidak suka menentang kehendak Allah yang telah dinyatakan. Rohnya tidak bangkit dalam pemberontakan terhadap teguran….

 

Daud melakukan kesalahan besar, tetapi ia juga sangat rendah hati dan penyesalannya sedalam kesalahannya. Tidak pernah ada orang yang lebih rendah hati daripada Daud dalam menyadari dosanya. Ia menunjukkan dirinya sebagai orang yang kuat, bukan karena selalu melawan godaan, tetapi karena penyesalan jiwa dan pertobatan yang tulus. Ia tidak pernah kehilangan kepercayaannya kepada Allah, yang memberikan teguran keras kepada nabi-Nya. Ia tidak membenci nabi Allah. Ia juga dikasihi, karena ia mengandalkan belas kasihan Allah yang telah ia kasihi, layani, dan hormati.

 

Barang siapa banyak diampuni, orang itu juga mengasihi banyak. Daud tidak meminta nasihat dari rekan-rekannya yang berdosa terhadap Allah. Di sinilah banyak orang gagal. Mereka tertinggal dalam kegelapan tengah malam karena mereka memilih untuk menasihati orang-orang yang tidak berjalan dalam nasihat Tuhan. Mereka akan memaafkan dosa orang berdosa ketika dosa itu tidak disesali, dan mengabaikan kesalahan ketika Allah belum mengampuni mereka. Daud lebih percaya kepada Allah daripada kepada manusia. Keputusan Allah diterima sebagai keputusan yang adil dan penuh belas kasihan. Oh, betapa banyak orang yang berjalan dalam kebutaan dan menuntun orang lain di jalan yang sama, di mana keduanya harus binasa karena mereka tidak mengindahkan teguran Roh Allah! — Manuscript 1a, 1890.

 

Memahami tentang “KASIH YESUS” yang dikatakan harus menjadi tabiat atau karakter dari calon 144000 (menjelaskan bahwa hanya IMAN + PERBUATAN belumlah cukup (1 Korintus 13))

Dan kemudian, dalam kata-kata yang ada pada zaman itu hingga sekarang menjadi suatu sumber inspirasi dan dorongan kepada kaum pria dan wanita, Paulus menyatakan pentingnya kasih yang harus dihormati oleh para pengikut Kristus: “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki segala pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempuma untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.” —–KR 268.1

Bagaimanapun tingginya pekerjaan seseorang, yang hatinya tidak dipenuhi kasih kepada Allah dan sesamanya manusia dia bukanlah murid Kristus yang benar. Walaupun dia mempunyai iman yang besar dan mempunyai kuasa untuk melakukan tanda-tanda ajaib, namun tanpa kasih imannya akan menjadi sia-sia. Dia mungkin menunjukkan kebaikan yang besar; tetapi seandainya dia, dari beberapa alasan yang lain daripada kasih sejati, menyerahkan seluruh hartanya untuk menjamu orang miskin, perbuatan yang demikian tidak menjadi alasan untuk memperkenankan Allah. Dalam semangatnya, dia mungkin menjadi seorang yang mati syahid, namun jika dia tidak digerakkan oleh kasih, dia akan dianggap oleh Allah sebagai seorang yang suka memperdaya diri sendiri atau seorang munafik yang berambisi. —–KR 268.2

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu; ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Kesukaan yang mumi terpancar dari orang yang sangat rendah hati. Tabiat-tabiat yang kuat dan agung dibentuk di atas dasar kesabaran, kasih, dan penyerahan kepada kehendak Allah. ——KR 268.3

“Kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari ke-untungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan ia tidak menyimpan kesalahan orang lain.” Kasih seperti dimiliki Kristus itu menempatkan tafsiran yang sangat baik pada motif dan tingkah laku orang lain. Kasih itu tidak perlu membukakan kesalahan-kesalahan orang lain; ia tidak ingin mendengar laporan-laporan yang tidak baik, tetapi malah membawa kepada pikiran kualitas-kualitas yang baik dari orang-orang lain. ——KR 268.4

Kasih itu, “tidak bersukacita karena ketidakadilan;” tetapi bersuka karena kebenaran; Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Kasih itu, “tidak pernah gagal.” Nilainya tidak pernah hilang; itu adalah suatu sifat perlengkapan surgawi. Sebagai suatu harta yang berharga, kasih itu akan membawa pemiliknya masuk melalui gerbang kota Allah. —-KR 269.1

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”—–KR 270.1

 

UNTUK MEMAHAMINYA …….KUTIPAN BERIKUT MEMBERI PENGERTIAN KEPADA KITA:

Banyak orang yang mengaku menyembah Allah padahal mereka bergantung atas usaha-usaha mereka sendiri untuk menurut hukumNya, untuk membentuk sebuah tabiat yang benar, dan untuk mendapatkan keselamatannya. Hati mereka bukannya digerakkan oleh perasaan yang mendalam akan kasih Kristus, melainkan mereka berusaha membentuk tanggungjawab-tanggungjawab hidup Kristen sebagaimana mana yang diwajibkan Allah bagi mereka dalam rangka memperoleh surga. Agama yang demikian tiada gunanya. Apabila Kristus berdiam di dalam hati, maka jiwa akan dipenuhi kasihNya, dengan hubungan yang menggembirakan dengan dia, sehingga jiwa akan berpaut padaNya; dan di dalam merenung-renungkan Dia, diri sendiri haruslahl dilupakan. Kasih kepada Kristus akan menjadi sumber pancaran perbuatan yang baik. Barangsiapa yang merasakan kasih Allah tidak akan menanyakan betapa kecilkah yang diberikan untuk memenuhi syarat-syarat tuntutan Allah, mereka tidak akan meminta ukuran yang rendah, melainkan bertujuan menuju kesempurnaan sesuai dengan kehendak Penebusnya. Dengan kerinduan yang sungguh-sungguh mereka memasrahkan semuanya dan menyatakan perhatian yang seimbang terhadap nilai benda yang mereka cari: Mengaku pengikut Kristus tanpa kasih mendalam seperti ini hanyalah omong-kosong belaka, formalitas yang kering serta pekerjaan yang amat hina. ——-KS 40.1

 

Buku Tanya Jawab jilid 2:

MENGAPAKAH NUBUATAN-NUBUATAN MENGGANTIKAN KASIH?

 

 Pertanyaan No. 19 :

Mengapakah orang-orang Davidian tidak lebih banyak menggunakan waktu untuk mengajarkan kasih Kristus — bagian Alkitab yang “terpenting itu — dari pada mengajarkan doktrin-doktrin dan nubuatan-nubuatan?

Jawab :

Orang-orang Davidian mengikuti prosedur ini karena sebab Injil yang berbunyi: “Kita juga memiliki suatu perkataan nubuatan yang lebih pasti, maka baiklah kamu memperhatikannya, bagaikan akan sebuah terang yang bercahaya di dalam tempat yang gelap, sampai fajar pagi dan bintang siang terbit di dalam hati kamu sekalian.” 2 Petrus 1 : 19. Oleh sebab itu, nubuatan-nubuatan menciptakan kasih bagi Allah di dalam hati penyelidiknya, karena tidak mungkin dapat diciptakan oleh apapun yang lain.

Lagi pula, sekiranya nubuatan-nubuatan kurang penting dibandingkan dengan bagian-bagian Alkitab lainnya, maka mengapakah Tuhan menugaskan hamba-hamba-Nya menulis sekian banyak nubuatan? Jelaslah, bahwa sekaliannya itu adalah penting. Buku Wahyu yang dialamatkan langsung kepada umat yang akan hidup tepat menjelang kedatangan Tuhan, adalah terdiri dari nubuatan-nubuatan simbolis, terhadap mana Tuhan mengatakan:

“Berbahagialah orang yang membaca, dan mereka yang mendengarkan segala perkataan nubuatan ini, dan yang memeliharakan segala perkara yang tercatat di dalamnya; karena masanya sudah dekat.” Wahyu 1 : 3. “Tengoklah, Aku datang dengan segera; berbahagialah orang yang memeliharakan segala perkataan nubuatan kitab ini ……… Maka aku menyatakan kepada setiap orang yang mendengar segala perkataan nubuatan kitab ini, bahwa jikalau seseorang menambahkan apa-apa kepada segala perkara ini, Allah akan menambahkan kepadanya berbagai bela yang tertulis di dalam kitab ini; dan jikalau seseorang mengurangkan sesuatu dari segala perkataan kitab nubuatan ini, maka Allah akan menghilangkan bagiannya dari kitab hayat, dan dari kota suci itu, dan dari pada segala perkara yang tertulis di dalam kitab ini.” Wahyu 22 : 7, 18, 19.

Benar, bahwa kasih Yesus adalah sangat diperlukan, namun dengan hanya mengkhotbahkannya tanpa mengkhotbahkan doktrin-doktrin dan nubuatan-nubuatan, tidak akan bermanfaat apapun juga bagi orang, karena oleh perantaraan nubuatan-nubuatan dan oleh doktrin-doktrin orang mempelajari bukan saja kasih Yesus melainkan juga bagaimana berbakti kepada-Nya. Rasul Paulus mengatakan: “Semua injil itu adalah dikaruniakan oleh ilham dari Allah, dan adalah berguna bagi doktrin, untuk menegor yang salah, untuk memperbaiki, sebagai petunjuk dalam kebenaran: supaya umat Allah dapat menjadi sempurna, dipersiapkan selengkapnya bagi semua pekerjaan yang baik.” 2 Timotius 3 : 16, 17.

Kalau saja sidang-sidang pada waktu ini sudah mengajarkan nubuatan-nubuatan dan doktrin-doktrin dengan mengesampingkan kasih Yesus, maka tentunya orang-orang Davidian sudah akan bertahan dengan lebih kukuh pada kasih Yesus dari pada nubuatan-nubuatan. Tetapi karena persoalannya adalah sebaliknya, yaitu kasih Yesus dibesarkan dengan melalaikan nubuatan-nubuatan, maka tentunya kebutuhan kita yang utama dan tertinggi ialah mempelajari kasih Yesus itu melalui doktrin-doktrin; kemudian, dengan demikian tanggung jawab kita yang terbesar ialah mengajarkannya.

Sementara injil kasih itu mengilhami kita untuk mengasihi Tuhan, maka semua doktrin mengajarkan kepada kita cara yang benar untuk bagaimana mengasihi Dia, dan terang nubuatan-nubuatan mengendalikan kaki-kaki kita pada jalan yang lurus dan sempit itu sepanjang perjalanan sampai ke kota Allah, sama seperti halnya di malam hari lampu-lampu mobil menunjukkan kepada kita jalan menuju ke rumah. Tanpa sekaliannya itu, maka kita tak dapat tiada akan segera kehilangan jalan, bertabrakan, dan berantakan di dalam kegelapan — suatu kehancuran dan kematian, yang tak disangka-sangka. Dengan demikian sementara kita memerlukan yang satu, maka kita pun sama memerlukan yang lainnya. Oleh sebab itu orang-orang Davidian mengkombinasikan kedua-duanya, yaitu mengajarkan kasih Yesus melalui doktrin-doktrin, dan jalan menuju  Kerajaan itu melalui nubuatan-nubuatan.

 

Review and Herald, March 9, 1905: Marilah kita berjuang dengan seluruh kemampuan yang telah dikaruniakan Allah pada kita untuk masuk dalam rombongan mereka 144.000 itu.

Pengaruh yang harus ditakuti bukanlah orang yang menentang dengan terang-terangan tetapi orang yang mengaku diri Kristen tetapi tidak hidup seperti orang Kristen (SEKAM)

 

Dosa Akhan telah mendatangkan malapetaka ke atas segenap bangsa itu. Untuk dosa satu orang murka Allah telah turun ke atas segenap sidangNya sampai pelanggaran itu diselidiki dan dibuangkan. Pengaruh yang harus paling ditakuti oleh gereja bukanlah pengaruh dari orang-orang yang menentang dengan terang-terangan, orang-orang kapir, dan penghujat-penghujat, tetapi pengaruh dari orang-orang yang mengaku diri Kristen tetapi tidak hidup seperti orang Kristen. Mereka inilah yang telah menahan berkat-berkat Allah Israel dan menyebabkan kelemahan di antara umatNya. ——PB2 89.2

Pengaruh-pengaruh yang sama sedang bekerja dewasa ini dengan perantaraan mereka yang berusaha menjelaskan hukum Allah sedemikian rupa untuk menyesuaikannya dengan kebiasaan mereka. Golongan ini tidak menyerang hukum dengan terang-terangan, melainkan mengemukakan teori-teori yang bersifat mengadu untuk yang melemahkan prinsip-prinsipnya. Mereka menjelaskannya agar dapat merusakkan kekuatannya—-KSZ2 15.1

 

 

Bacaan penutup

 

RAHASIA

………. bahwa perkara-perkara Allah yang rahasia, seperti halnya nubuatan-nubuatan yang dirahasiakan ini, betapa pun sederhananya, semua itu tidak akan dapat diungkapkan oleh manusia-manusia berdosa? Juga tidak oleh Iblis. Apabila Allah menghendaki sesuatu perkara menjadi rahasia, maka betapa pun itu sederhana dan jelas, ia itu akan tetap tertutup sampai kelak Ia sendiri yang akan mengungkapkannya. Kemudian setelah ia itu terungkap maka semua orang akan mengetahui, bahwa Allah sendiri sedang bekerja. Demikianlah mereka semua akan mengenali akan musim dan masa dari pekerjaan Injil. ——Amaran Sekarang jld 2 No. 24

 

MENERIMA SEBAGAI MILIKNYA

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

Buah-buah ini tidak bisa rusak, tetapi akan menghasilkan tuaian yang serupa sampai kepada hidup yang kekal.

“Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit sebab musim menuai sudah tiba.” Kristus sedang menunggu dengan amat rindu bagi pembuktian diriNya dalam sidangNya. Bila tabiat Kristus diperlihatkan dengan sempurna dalam umatNya, barulah Ia akan datang untuk menerima mereka sebagai milikNya.——Perumpamaan-perumpamaan  Tuhan Yesus hal 46.

 

Sering timbul pertanyaan, Kalau begitu, mengapa begitu banyak orang yang mengaku percaya kepada firman Allah, dalam mana tidak tampak pembaharuan dalam perkataan, roh dan tabiat? Mengapa begitu banyak orang yang tidak bisa menahan perlawanan terhadap maksud-maksud dan rencana-rencananya, yang menunjukkan perangai yang tidak suci dan yang menggunakan kata-kata kasar, terlanjur dan penuh nafsu? Dalam dirinya terlihat cinta diri yang sama, pemanjaan diri yang sama, perangai yang sama serta kata-kata yang terlanjur yang terlihat dalam kehidupan orang dunia. Ada pula perasaan angkuh, menyerah kepada kecendrungan-kecenderungan biasa yang sama, tabiat menyimpang yang sama, seolah-olah kebenaran ini sama sekali tidak dikenalnya. Alasannya ialah karena mereka itu belum bertobat. .——Perumpamaan-perumpamaan  Tuhan Yesus hal 66.

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart