<< Go Back

Sabat 3 Mei 2025

RENUNGAN PENDAHULUAN

 

ANAK-ANAK, BUKAN BUDAK

 

“Jadi karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncang-kan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” Ibrani 12:28.

 

Banyak orang yang mengaku pengikut Kristus, tetapi tidak pelaku firman-Nya. Mereka tidak menyukai firman-Nya karena firman itu menyatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan mereka. Mereka tidak menyukai teguran yang memperbaiki dan imbauan yang sungguh-sungguh. Mereka tidak mengasihi kebenaran, tetapi dikuasai dan dikendalikan oleh nafsu kemanusiaan mereka yang tidak menentu.

 

Setiap perbedaan ditentukan oleh bagaimana kita melayani Allah. Seorang anak yang bosan mempelajari pelajarannya oleh karena ia harus mempelajari pelajaran itu, tidak akan pernah menjadi pelajar yang sejati. Seseorang yang mengatakan memelihara perintah-perintah Allah karena berpikir ia wajib memeliharanya, tidak akan pernah masuk ke dalam kesukaan penurutan.

 

Intisari dan aroma semua penurutan adalah kerja keras prinsip dari dalam – mengasihi kebenaran, mengasihi hukum Allah. Intisari dari semua kebenaran adalah kesetiaan kepada Penebus, melakukan yang benar karena itulah yang benar. Bilamana firman Allah menjadi beban oleh karena menghilangkan semua kecenderungan-kecenderungan manusia, maka kehidupan beragama seperti itu bukan kehidupan Kristen, tetapi suatu penurutan yang tegang dan terpaksa. Semua kemurnian dan kesalehan agama dikesampingkan.

 

Tetapi pengangkatan kepada keluarga Allah menjadikan kita anak-anak, bukan budak-budak. Bilamana kasih Kristus memasuki hati, kita akan berusaha untuk meniru tabiat Kristus….. Semakin kita mempelajari kehidupan Kristus dengan hati yang mau belajar, semakin kita menyerupai Kristus. Roh Kudus akan memberikan pengertian yang jelas ke dalam hati setiap pelaku firman. Semakin kita menyalibkan perbuatan-perbuatan yang mementingkan diri sendiri oleh membagikan berkat-berkat kita kepada orang lain dan oleh menggunakan kemampuan kita yang dikaruniakan Allah, semakin dikuatkan dan ditambahkan kasih karunia Surgawi di dalam kita.Kita akan bertumbuh dalam kerohanian, dalam kesabaran, dalam ketabahan dan keuletan, dalam kerendahan hati, dalam kelemah lembutan… Gerbong-gerbong kereta tidak semata-mata disambungkan kepada mesin lokomotif; tetapi mengikuti rel yang sama yang dijalani oleh mesin lokomotif itu. Siapakah yang kita ikuti? ——–That I May Know Him hal. 117

Review singkat dari pembelajaran zoom tanggal 19 April 2025, antara lain berbicara :

 

Pembahasan zoom tanggal 19 April 2025 antara lain menekankan kata-kata Ellen G. White dari materi “Belajar dari Yesus”:

 

Setiap pikiran manusia yang tidak berserah kepada Tuhan, dan tidak berada di bawah kendali Roh Tuhan, akan diselewengkan melalui perantara setan.—- Manuscript 39, 1894.

 

Atas kata-kata “akan diselewengkan”, kita berkembang kepada bacaan lainnya:

Orang yang berulang kali ditarik oleh Juru Selamatnya, dan yang melalaikan amaran-amaran yang telah disampaikan, tidak berserah diri sesuai keinsyafannya untuk bertobat serta tidak mau mendengar bilamana ia dinasehati untuk berusaha mencari pengampunan dan kemurahan akan berada di dalam kedudukan yang sangat berbahaya. Yesus sedang memanggil dia, Roh sedang menggunakan kuasanya ke atas dia sambil mengajurkan kepadanya untuk menyerahkan kemauannya kepada kemauan Allah, maka bilamana undangan ini tidak juga diperhatikan, maka Roh itu akan meninggalkannya dengan sedih. Pelaku dosa itu memilih untuk tetap di dalam dosa dan tanpa perasaan menyesal, walaupun ia memiliki kenyataan untuk mendorong imannya, dan makin banyak kenyataan tidak akan membawa kebaikan. Dosa-dosanya di masa lalu serta dosa-dosanya di waktu ini semuanya dikemukakan kehadapannya, namun penarikan inipun sia-sia saja, sebab ia menolak untuk merobah tindak tanduknya. Ada suatu penarikan lagi untuk mana ia boleh menyambutnya, maka itu adalah penarikan dari Setan. Ia tunduk kepada kuasa-kuasa kegelapan. Jalan inilah yang mematikan, meninggalkan jiwa di dalam keadaan tidak menyesal secara gigih. Inilah pendurhakaan yang sangat umum terdapat diantara manusia, dan kerjanya adalah demikian licik caranya, sehingga pelaku dosa sama sekali tidak merasakan kesadaran menyesal, tidak bertobat, dan akibatnya tidak diampuni. Orang ini dibiarkan kepada dirinya sendiri mencintai kegelapan lebih besar dari pada terang. Ini adalah masyalah dari beribu-ribu orang diwaktu ini…..—- Review and Herald, Juni 29, 1897

 

Dua point besar bacaan di atas adalah adalah:

  1. Orang yang berulang kali ditarik oleh Juru Selamatnya, dan yang melalaikan amaran-amaran yang telah disampaikan, tidak berserah diri sesuai keinsyafannya untuk bertobat serta tidak mau mendengar, akan berada di dalam kedudukan yang sangat berbahaya.

 

Menyadarkan kita untuk jangan memandang mudah, ringan dan murahnya Roh itu akan memimpin kita pada  penyelesaian pekerjaan di depan.

 

  1. Ada suatu penarikan lagi untuk mana ia boleh menyambutnya, maka itu adalah penarikan dari Setan.

 

Bahwa bila kita-kita terus saja melalaikan amaran seperti di point 1 di atas, maka kita  dapat menjadi AGEN-AGENNYA YANG POTENSIAL setan. Dan pada pekerjaan yang paling terakhir ini hal yang paling dibutuhkan oleh setan adalah menggagalkan kemunculan 144000, maka selain dari ia terus menanamkan kecintaan terhadap diri sendiri yang merupakan dosa individu-individu, ia juga mendorong agar pekerja-pekerja/agen-agen yang ia dapatkan untuk menghalangi pekerjaan dari keluarnya 144000.

 

Salah satunya yang saat ini sedang berkembang adalah TAWARAN PERSATUAN dengan mengesampingkan perbedaan-perbedaan, dengan demikian mereka-mereka yang memiliki tipu dimulut akan bersatu dengan gandum murni dan akhirnya gandum-gandum akan terhimpit dan mati.

 

 

Dari hal-hal peringatan jangan meremehkan dan memandang ringannya kepemimpinan Roh Allah bagi kita dan bahaya mengancam yang tidak disadari, kita akan lebih lanjut mempelajari dari contoh-contoh umat Allah di masa lalu.

LELAH/TERPUKUL DAN BERKECIL HATINYA DIALAMI DALAM PENGALAMAN YAKUB DAN PETRUS

(Catatan: bacaan ini hendak membangunkan/menyadarkan kita-kita bahwa Allah tidak melicinkan ataupun melebarkan jalan yang kasar berbatu-batu dan sempit)

YAKUB

Yakub tidak sempurna dalam tabiat. Ia berdosa kepada ayahnya,saudara laki-lakinya, jiwanya sendiri dan terhadap Allah. Ilham dengan setia mencatat kesalahan-kesalahan tokoh-tokoh baik, mereka dikenal oleh kemurahan Allah; memang, kesalahan-kesalahan mereka lebih jelas digambarkan daripada kebaikan-kebaikan mereka….Mereka diserang oleh godaan-godaan dan seringkali dikalahkan, tetapi mereka mau belajar di sekolah Kristus. Kalau saja tokoh-tokoh ini dihadirkan kepada kita tanpa kesalahan, maka itu akan cenderung mengecilkan hati kita dalam perjuangan kita mencari kebenaran…..Tetapi untuk membandingkan dosa dan kesalahan umat manusia di sana dihadirkan satu karakter sempurna – bahwa Putra Allah, yang menyelubungi KeilahianNya dengan kemanusiaan, dan berjalanlah seorang manusia di tengah anak-anak manusia…

Yakub mengambil berkat yang ditujukan bagi saudara laki-lakinya dengan cara menipu. Allah telah menjanjikan hak kesulungan baginya, dan janji itu akan dipenuhi pada waktunya kalau saja ia mau menunggu. Tetapi seperti banyak orang yang sekarang mengaku menjadi anak-anak Allah, ia kekurangan iman dan berpikir ia harus melakukan sesuatu sendiri gantinya membiarkan persoalan itu ke tangan Tuhan….

Saat menyendiri menempuh perjalanan, ia sangat terpukul dan berkecil hati. Namun Allah tidak meninggalkan Yakub. KemurahanNya masih diulurkan kepada hambaNya yang bersalah, dan tidak percaya, meskipun Ia akan mengizinkan penderitaan datang ke atasnya sampai ia bisa belajar berserah. Tuhan dengan penuh kemurahan dan belas kasih menyatakan dengan tepat apa yang Yakub perlukan, seorang Juruselamat….

Lelah dengan perjalanannya, sang pengelana itu pun berbaring di tanah dengan batu sebagai bantalnya. Dan sementara ia tertidur, Tuhan memberikan satu penglihatan padanya. Ia melihat sebuah tangga, terang dan bercahaya, yang dasarnya terletak di bumi sementara puncaknya di surga. Di atas tangga ini para malaikat naik turun, dan di atasnya ada Tuhan yang penuh kemuliaan, yang berbicara kepada Yakub dalam kata-kata penghiburan yang indah, Ia meyakinkan Yakub bahwa ia berada di bawah penjagaan Ilahi dalam pelariannya dari rumah, dan bahwa negeri yang ditujunya untuk pengasihan dan sebagai seorang pelarian akan diberikan kepadanya dan anak cucunya.—-Signs of the Times, 31 Juli 1884

 

 

PETRUS

SEMENTARA KITA BERHARAP KEPADA TUHAN, SETAN TIDAK MEMILIKI KUASA ATAS KITA

 

“Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” 1 Korintus 10:12.

 

Tepat sebelum Petrus jatuh, Kristus berkata kepadanya, “Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum.” Betapa benarnya persahabatan Juruselamat bagi Petrus! Betapa penuh belas kasihan peringatan-Nya! Namun peringatan itu ditentang. Dalam kemandiriannya, Petrus menyatakan dengan yakin bahwa ia tidak akan pernah melakukan apa yang telah diperingatkan Kristus kepadanya. “Tuhan,” katanya, “aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau.” Kepercayaan dirinya terbukti menghancurkannya. Ia mencobai Setan untuk mencobainya, dan ia jatuh ke dalam tipu daya musuh yang licik itu. Ketika Kristus sangat membutuhkannya, ia berdiri di pihak musuh dan secara terbuka menyangkal Tuhannya.

 

Namun bahkan ketika Petrus menyangkal-Nya, Kristus menunjukkan bahwa Ia masih mengasihinya. Di ruang pengadilan, dikelilingi oleh mereka yang menuntut nyawa-Nya, Yesus memikirkan penderitaan-Nya, murid yang bersalah, dan menoleh, Ia memandangnya. Dalam pandangan itu Petrus membaca kasih dan belas kasihan Juruselamat, dan gelombang kenangan menyerbunya…. Ia melihat bahwa ia melakukan hal yang telah ia nyatakan tidak akan ia lakukan…. Sekali lagi ia memandang Gurunya dan melihat tangan yang tidak senonoh terangkat untuk menampar wajah-Nya. Karena tidak tahan lagi dengan pemandangan itu, ia bergegas dengan hati yang hancur dari ruang pengadilan….

Tepat di tempat Yesus mencurahkan jiwa-Nya dalam penderitaan, Petrus tersungkur dan berharap agar ia mati saja…. Seandainya Petrus dibiarkan sendiri, ia pasti akan kalah. Namun, Pribadi yang dapat berkata, Bapa, aku tahu “bahwa Engkau senantiasa mendengarkan Aku,” Pribadi yang berkuasa menyelamatkan, menjadi perantara baginya. Kristus menyelamatkan sepenuhnya semua orang yang datang kepada-Nya.

 

Banyak orang dewasa ini berdiri di tempat Petrus berdiri ketika dengan percaya diri ia menyatakan bahwa ia tidak akan menyangkal Tuhannya. Dan karena kecukupan diri mereka, mereka menjadi mangsa empuk bagi tipu daya Setan. Mereka yang menyadari kelemahan mereka percaya pada kekuatan yang lebih tinggi daripada diri mereka sendiri. Dan sementara mereka memandang kepada Tuhan, Setan tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka….

 

Ada beberapa pelajaran yang tidak akan pernah dipelajari kecuali melalui kegagalan. Petrus menjadi orang yang lebih baik setelah kejatuhannya…. Seperti api memurnikan emas, demikian pula Kristus memurnikan umat-Nya melalui godaan dan pencobaan. Manuscript 115, 1902.

 

 

BAHAYANYA JIKA KITA TIDAK SEGERA BERSERAH DAN MEMBIARKAN DIRI DIKENDALIKAN OLEH ROH KUDUS

(Catatan: Alasan kita perlu sekali memahami pelajaran tentang jangan memandang ringannya pekerjaan dan pengaruh setan yang aktif dan gencar mencari agen-agen pekerjanya yang potensial dimasa yang paling terakhir ini adalah karena pelajaran pengalaman bangsa Israel memberi gambaran betapa sia-sianya perjalanan panjang kesusahan demi kesusahan sudah dilalui, namun akhirnya mereka semua harus kalah dalam perjalanan dan digantikan oleh orang-orang yang lebih muda yang tidak melalui jalan panjang kesulitan)

 

 

Akhirnya bani Israel yang merdeka itu tiba di perbatasan-perbatasan tanah perjanjian. Dan walaupun mereka telah menyaksikan mujizat-mujizat yang besar bersama itu, namun mereka belum percaya, bahwa Allah dapat mengambil tanah itu bagi mereka. Mereka telah menyaksikan, bahwa Ia mampu untuk melepaskan mereka dari ternpat-tempat pembuatan batu bata milik Phiraun, menghantarkan mereka tanpa basah melalui laut, membinasakan musuh-musuh mereka, memberikan kepada mereka makanan dan air di padang belantara di mana di sana tidak ada yang untuk dimakan, namun mereka belum percaya, bahwa Ia mampu untuk mengambil tanah itu baginya, dan bahwa Ia dapat saja menyelesaikan apa yang sudah dimulai-Nya.

Ada beribu-ribu orang pada waktu ini yang berbuat hampir sama dengan itu apabila mereka mengatakan.”Yesaya, pasaI 2, Mikah, pasaI 4, Yeremiah, pasaI 31, dan Yeheskiel, pasaI 36 dan 37 tidak pernah akan digenapi.” AdaIah mereka yang sudah berumur tua, yaitu orang-orang yang seharusnya mengetahui lebih baik, yang telah memulai menggulirkan bola jatuh ke lembah kebinasaan. Orang-orang muda tentunya sudah harus menyuarakan persungutan para orang tua mereka, tetapi Tuhan tidak mempertanggungkan itu kepada mereka. Dan untuk menyelamatkan orang-orang muda Allah telah menguburkan semua orang tua yang bersungut itu terkecuali kedua orang yang setia yang terpercaya yang telah membantah terhadap laporan jahat dari sepuluh orang pengintai lainnya. Lihatkan Saudara, bahwa setiap orang dewasa yang telah meninggaIkan Mesir, terkecuali KaIeb dan Yusak, sudah harus dikuburkan lebih dulu sebelum anak-anak muda itu dapat menyeberangi sungai Jordan. Mengapa? Sebab walaupun Allah telah membawa mereka dengan begitu mudah keluar dari Mesir, Ia tidak berhasil mengeluarkan Mesir dari diri mereka. Adakah Saudara masih terheran-heran mengapa nabi Eliyah harus “membalikkan hati para bapa kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapa mereka?” (Maleakhi 4 : 6).——Amaran Sekarang jld 1 No.7

 

CALON 144000 ITU AKHIRNYA MEREKA AKAN SENDIRIAN, DIKECEWAKAN BAHKAN DIHIANATI ORANG-ORANG TERDEKAT DAN TERPERCAYA

(Catatan: Sebuah pelajaran singkat bagi kita orang-orang contoh saingan dari lambang Yesus dan Daud akan mengalami peristiwa-peristiwa mematahkan semangat di dalam perjalanan pengakhiran pekerjaannya, dan bagaimana sikap berjiwa besar yang juga harus ditampilkan)

 

Pengalaman Yesus

Apa yang dituntut hukum dari Adam dan Hawa di Eden, dan apa yang dituntut dari Kristus, Adam kedua, dituntut dari setiap manusia. Saya menyerukan kepada mereka yang mengaku percaya kepada kebenaran untuk mencapai standar yang lebih tinggi. Saya mempersembahkan di hadapan Anda Yesus, Yang Mulia surga, yang meninggalkan istana kerajaan, dan demi kita menjadi miskin, agar melalui kemiskinan-Nya kita dapat menjadi kaya. Lihatlah pemandangan dalam kehidupan-Nya yang penuh penderitaan. Pikirkan penderitaan-Nya di Getsemani, ketika, ditindas oleh kuasa kegelapan, Dia berdoa, “Ya Bapa, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Lihatlah Dia dikhianati oleh Yudas, ditinggalkan oleh murid-murid-Nya, dihukum oleh para imam dan penguasa, dan diserahkan oleh Pilatus untuk mati dengan memalukan. Semua ini Ia tanggung supaya manusia dapat ditinggikan dan dimuliakan, dan dengan mengambil bagian dalam kodrat ilahi, ditinggikan di sebelah kanan Allah. ——- Review and Herald, 26 Feb. 1901

 

Pekerjaan Maria justru merupakan pelajaran yang diperlukan oleh murid-murid untuk menunjukkan kepada mereka bahwa pernyataan kasih mereka bagi-Nya akan menyenangkan hati Kristus. Ia sangatlah penting bagi mereka, dan mereka tidak menyadari bahwa tidak lama kemudian mereka akan kehilangan hadirat-Nya, bahwa tidak lama kemudian mereka tidak dapat lagi mempersembahkan kepada-Nya tanda terima kasih mereka karena kasih-Nya yang besar itu. Kesepian Kristus, yang terpisah dari istana-istana surga, hidup seperti manusia, tidak pernah dipahami atau dihargai oleh murid-murid sebagaimana sepatutnya. Ia sering merasa sedih karena murid-murid-Nya tidak memberikan kepada-Nya hal yang harus diterima-Nya dari mereka. Ia mengetahui bahwa jika mereka berada di bawah pengaruh malaikat-malaikat surga yang menyertai Dia, mereka juga akan berpendapat bahwa tidak ada persembahan yang cukup berharga untuk menyatakan kasih dalam batin. ——- KSZ2 184.1

 

Tuhan telah memberikan satu pekabaran reformasi kesehatan kepada umat-Nya. Terang ini telah bersinar pada jalan mereka selama tiga puluh tahun. Tuhan tidak dapat mempertahankan hamba-hambaNya dalam satu arus yang bertentangan. Dia merasa sedih ketika hamba-hamba-Nya menentang pekabaran dalam hal ini, yang telah diberikan kepada mereka untuk disampaikan kepada orang lain. Dapatkah Allah merasa senang apabila separuh dari para pekerja setempat mengajarkan prinsip reformasi kesehatan yang berhubungan erat dengan pekabaran malaikat ketiga sebagaimana lengan dengan tubuh, sedangkan yang separuh lagi mengajarkan prinsip yang sama sekali bertentangan? Ini dianggap sebagai satu dosa di pemandangan Allah…. ——- MMD 40.2

 

Dengan kesedihan Yesus melihat wajah-wajah yang menengadah di hadapan-Nya (orang-orang Israel (Yahudi) sering menghadapi aniaya dari bangsa Roma yang menjajah di zaman Yesus). Dia perhatikan roh dendam yang telah mendalam dalam hati mereka, dan mengetahui betapa mereka sangat merindukan kuasa bangsa itu untuk meremukkan para penindas mereka. Dengan sangat memilukan dia meminta, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” —- KAB 81.1

 

Kata-kata ini hanya merupakan pengulangan dari ajaran Perjanjian Lama. Benar bahwa peraturan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Imamat 24:20), adalah suatu ketetapan dalam hukum yang diberikan lewat Musa; tetapi itu adalah suatu undang-undang sipil. Tidak seorang pun dibenarkan dengan membalas dendam, karena Tuhan mengatakan kepada mereka. “Jangan engkau berkata: Aku akan membalas kejahatan.” “Janganlah berkata: Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia.” “Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh.” “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.” Amsal 20:22; 24:29, 17; 25:21,22. —– KAB 81.2

 

Pengalaman Daud

Daud memiliki hati yang rendah hati sebagaimana Yesus, dari dirinya pun kita dapatkan pelajaran pengalaman bagaimana ia dikhianati banyak pihak:

  1. Dikhianati oleh Absalom anak kesayangannya dan Akhitofel salah seorang penasehat utama Daud,

Absalom pergi ke Hebron, dan bersama-sama dengan dia berangkat “dua ratus orang, semua orang jemputan, adapun sekalian ini pergi dengan tulus hatinya juga, karena tiada diketahuinya akan hal perkara itu.” Orang-orang ini pergi dengan Absalom, dengan tidak memikirkan bahwa kasih mereka terhadap anak itu akan menuntun mereka memberontak melawan bapanya. Setibanya di Hebron, dengan segera Absalom memanggil Akhitofel, salah seorang penasihat utama Daud, seorang yang terkenal bijaksana, yang pendapatnya dianggap selamat dan bijaksana seolah-olah merupakan satu hukum. Akhitofel menggabungkan diri dengan para pemberontak dan dukungannya ini menjadi usaha Absalom kelihatannya pasti akan berhasil, dengan menarik banyak orang yang berpengaruh dari seluruh bahagian negeri itu kepada pihaknya. Apabila terompet tanda pemberontakan itu dibunyikan, mata-mata putera mahkota yang ada di seluruh bagian negeri itu menyebarluaskan berita bahwa Absalom adalah raja, dan banyak orang datang menggabungkan diri kepadanya. ——-PB2 344.1

 

Dirangsang oleh hasutan-hasutan yang licik daripada putera mahkota itu, rasa tidak puas terhadap pemerintah dengan cepat telah meluas. Semua orang memuji Absalom. Orang banyak menganggap dia sebagai ahli waris daripada kerajaan itu, mereka memandangnya dengan rasa bangga sebagai seorang yang layak untuk menduduki jabatan yang tinggi ini, dan satu keinginan telah timbul agar ia bisa menempati tahta kerajaan. “Maka dicuri Absalom akan hati orang Israel.” Namun demikian, raja yang sudah dibutakan oleh kasihnya kepada anak-anaknya, tidak menaruh curiga sedikitpun. Kedudukan Absalom sebagai putera mahkota, dianggap oleh Daud sebagai sesuatu yang akan menjadi kehormatan kepadanya—sebagai satu ungkapan kegembiraan atas adanya perdamaian itu. ——PB2 343.2

 

  1. Dihianati Abdonia anak Daud dari istrinya Hagid, Yoab Panglima kerajaan/ keponakan Daud dari kakak tirinya Zeruya dan Abyatar yang merupakan Imam Besar

Pemberontakan sudah matang, para pemberontak telah berhimpun dalam satu pesta besar tidak jauh dari kota untuk mengumumkan bahwa Adonia adalah raja, pada saat rencana mereka itu telah dihalangi oleh tindakan yang cepat dari beberapa orang yang setia, dengan dipimpin oleh antara lain Zadok, imam itu, nabi Natan, dan Batsyeba ibu Salomo. Mereka ini telah menghadapkan segala perkara itu kepada raja, sambil mengingatkan kepadanya tentang perintah Ilahi bahwa Salomo harus menggantikannya sebagai raja. Dengan segera Daud menyerahkan takhtanya kepada Salomo, yang dengan segera pula telah dilantik dan dinyatakan sebagai raja. Pemberontakan itu dihancurkan. Para pemimpin-nya telah dijatuhi hukuman mati. Abyatar dibiarkan hidup, untuk menghormati tugas jabatannya dan kesetiaannya kepada Daud pada masa yang lalu; tetapi ia telah dicopot dari tugasnya sebagai imam besar, yang kemudian diserahkan kepada keluarga Zadok. Yoab dan Adonia untuk sementara waktu dibiarkan hidup, tetapi setelah kematian Daud mereka telah dijatuhi hukuman atas kejahatan mereka. Dilaksanakannya hukuman ke atas diri anak Daud ini telah menggenapi hukuman empat kali lipat yang menyaksikan akan kebencian Allah terhadap dosa sang ayah. SRNJ2 423.2

 

Sikap Daud atas penghianatan Absalom

Dari istananya, Daud memandang kepada ibu kota kerajaan itu—yang “menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi;… kota Raja besar.” Mazmur 48:3. Ia gemetar oleh pemikiran untuk membiarkan kota ini diserang dan dibinasakan. Haruskah ia meminta tolong dari rakyat yang masih setia kepadanya dan mempertahankan kota itu? Akankah ia mengizinkan Yerusalem dibanjiri pertumpahan darah? Keputusan diambil. Bencana peperangan tidak boleh menimpa kota yang sudah dipilih itu. Ia akan meninggalkan Yerusalem, dan kemudian menguji kesetiaan bangsanya, sambil memberikan kepada mereka suatu kesempatan untuk bersatu dan menolong dia. Di dalam keadaan krisis yang besar ini adalah tugasnya kepada Allah dan kepada bangsanya untuk mempertahankan wewenang yang telah diberikan surga kepadanya. Hal-hal yang berhubungan dengan peperangan itu ia serahkan kepada Allah. —– SRNJ2 402.1

 

Di dalam kerendahan hati dan kesedihan, Daud pergi ke luar melewati gerbang Yerusalem — terusir dari takhtanya, dari istananya, dari tabut Allah, oleh pemberontakan anak yang dimanjakan itu……. —– SRNJ2 402.2

 

Orang-orang muda ini dicurigai dan dikejar, tetapi mereka berhasil dalam melaksanakan tugas mereka yang berbahaya itu. Daud, merasa lelah dan sedih setelah hari pertama ia telah melarikan diri, menerima kabar bahwa ia harus menyeberangi Sungai Yordan malam itu juga, oleh karena anaknya sedang berusaha untuk membunuhnya. —— SRNJ2 412.2

 

Apakah perasaan ayah dan raja, yang diperlakukan dengan begitu kejam, di dalam bahaya maut yang hebat ini? “Seorang yang gagah perkasa,” seorang yang cakap dalam peperangan, seorang raja, yang kata-katanya merupakan undang-undang, telah dikhianati oleh anaknya yang ia kasihi, manjakan dan yang dengan tidak bijaksana ia telah percayai; ia telah diperlakukan dengan kejam dan ditinggalkan oleh bawahannya yang terikat kepadanya oleh ikatan yang paling kuat dalam kehormatan dan kepatuhan—dengan kata-kata apakah Daud dapat mencurahkan perasaan jiwanya itu? Di dalam jam pencobaan yang paling gelap ini, hati Daud bergantung kepada Allah, dan ia menyanyi: ——- SRNJ2 412.3

 

……. Apabila Yoab, memimpin rombongan yang pertama, melewati tempat raja itu, pemenang ratusan peperangan itu menundukkan kepalanya untuk mendengar pesan yang terakhir dari raja, yang dengan suara gemetar telah berkata, “Perlakukanlah Absalom, orang muda itu dengan lunak karena aku.” Dan Abisai dan Itai menerima pesan yang sama pula —’’Perlakukanlah Absalom, orang muda itu dengan lunak karena aku.” Tetapi permohonan raja, yang seolah-olah menyatakan bahwa Absalom lebih berharga kepadanya daripada kerajaannya, lebih berharga daripada segala bawahannya yang setia kepada kerajaannya, hanyalah menambah kemarahan tentara-tentaranya terhadap anak yang jahat itu. —— SRNJ2 414.3

 

Catatan:

Oleh karena kita dalam beberapa tulisan Ny. Ellen G. White dan juga Victor T. Houteff dijelaskan bahwa kita juga merupakan contoh saingan dari Yesus, yaitu salah satunya tentang 3 hari Yesus dalam belenggu dosa akan menjadi contoh kesusahan Yakub, maka pengalaman Yesus dihianati oleh Yudas, ditinggalkan oleh murid-muridNya juga akan menjadi drama perjalanan kita calon 144.000, ditambah lagi bila kita membaca pengalaman contoh lainnya yang juga ditunjukkan sebagai contoh kita 144.000 yaitu raja Daud dimana ia juga mengalami kesedihan yang sama dengan Yesus, yaitu dihianati oleh anaknya sendiri Absalom, dihianati penasihat kerajaan Ahitofel, dihianati Yoab panglima perangnya, Abdonia anaknya dari istri Hagid dan Abyatar imam besarnya yang kesemuanya adalah orang-orang yang sangat dekat dan dipercaya, maka tidaklah kita perlu heran bila kita sekarang menyaksikan perjalanan sisa waktu ini, dari waktu dahulu jumlah kita cukup banyak, dan perlahan-lahan teman-teman kita hilang meninggalkan dan terbukti sebagaimana pengalaman Yesus dan Daud sudah kita rasakan dari perjalanan kehidupan kerohanian kita sejauh ini, maka kitapun harus siap-siap terhadap kekecewaan terakhir sebagaimana yang telah diramalkan oleh Ny. Ellen G. White bahwa kita juga akan mengalami peristiwa diserahkan kepada penguasa oleh Yudas-Yudas contoh saingan akhir zaman.

PERUMPAMAAN TENTANG PAKAIAN KAWIN

Perumpamaan tentang pakaian kawin membentangkan di hadapan kita buah pelajaran tentang kepentingan yang tertinggi. Dengan perkawinan digambarkan perpaduan kemanusiaan dengan Keilahian, pakaian kawin menggambarkan tabiat yang harus dimiliki semua orang yang akan dinyatakan sebagai tamu-tamu yang layak bagi perjamuan kawin itu. MKA 237.1

Dalam perumpamaan ini, sama seperti perjamuan besar waktu petang hari, undangan Injil digambarkan, penolakan oleh bangsa Yahudi, dan seruan pengasihan kepada bangsa-bangsa yang lain. Tetapi di pihak yang menolak undangan ini, perumpamaan ini mengatakan, “Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap.” MKA 237.2

Pemeriksaan yang diadakan raja terhadap tetamu menggambarkan pekerjaan pehukuman. Tamu-tamu dalam pesta Injil itu adalah orang yang mengaku menyembah Allah, orang yang namanya tertulis dalam kitab hayat. Tetapi tidak semua orang yang mengaku umat Allah adalah murid-murid yang benar. Sebelum pahala yang terakhir diberikan, haruslah ditentukan siapa yang layak untuk mengecap warisan orang yang benar. Keputusan harus diadakan sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali di awang-awang; karena apabila Ia datang, pahala-Nya adalah beserta Dia, “untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”  Kalau begitu, sebelum kedatangan-Nya tabiat setiap perbuatan manusia sudah ditentukan dan kepada setiap pengikut Kristus pahala sudah dibagi menurut perbuatannya. MKA 240.1

Pakaian putih yang tiada bernoda itu dipakai oleh nenek moyang kita yang pertama ketika mereka ditempatkan Allah di dalam Firdaus yang suci. Mereka hidup dalam keharmonisan yang sempuma kepada kehendak Allah. Segenap kekuatan kasih sayangnya diberikan kepada Bapa semawi. Sebuah terang yang elok dan lembut, terang dari Allah, meliputi pasangan yang kudus ini. Pakaian terang ini adalah sebuah lambang dari pakaian kerohaniannya dari kemurnian semawi. Kalau saja mereka tetap setia kepada Allah, pakaian terang itu akan terus menyelubungi mereka. Tetapi tatkala dosa masuk, mereka memutuskan hubungannya dengan Allah dan terang yang telah menyelubungi merekapun meninggalkan mereka. Dalam keadaan telanjang dan malu, mereka berusaha menggantikan pakaian surga itu dengan menganyam daun-daun ara untuk menutupi dirinya. MKA 240.4

Inilah yang diperbuat oleh para pelanggar hukum Allah sejak Adam dan Hawa melanggar. Mereka menganyam daun-daun ara untuk menutupi ketelanjangan yang disebabkan oleh pelanggaran. Mereka mengenakan pakaian buatan sendiri, dengan usahanya sendiri mereka berusaha untuk menutupi dosa-dosanya dan hendak membuat dirinya dapat diterima Allah. MKA 241.1

Tetapi hal itu tidak pernah dapat dilakukannya. Tidak ada apa-apa yang dapat diciptakan manusia untuk menggantikan pakaian kesuciannya yang telah hilang. Tidak ada pakaian dari daun ara, pakaian duniawi, yang dapat dipakai oleh orang yang duduk bersama Kristus dan malaikat-malaikat pada pesta perjamuan Anak Domba. MKA 241.2

Hanya pakaian yang disediakan oleh Kristus sendiri, dapat membuat kita layak untuk tampil di hadirat Allah. Pakaian ini, pakaian kebenaranNya sendiri, akan dipakaikan Kristus kepada setiap jiwa yang bertobat dan percaya. “Maka Aku menasihatkan engkau,” kata-Nya, “supaya engkau membeli dari padaku … pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan.”  MKA 241.3

Pakaian ini, yang ditenun dengan alat tenun surga, tidak mengandung sehelai benang pun buatan manusia. Kristus dalam keadaan kemanusiaan-Nya menghidupkan suatu tabiat yang sempurna, dan tabiat ini dipersembahkan-Nya kepada kita. “Segala kesalehan kami seperti kain kotor.”  Segala sesuatu yang dapat kita lakukan dengan kesanggupan kita sendiri telah dicemarkan oleh dosa. Tetapi putera Allah “telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa dan di dalam Dia tidak ada dosa.” Dosa diartikan sebagai “pelanggaran hukum Allah.”  Tetapi Kristus taat kepada setiap tuntutan hukum. Kata-Nya kepada Dirinya,: Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dada-Ku.”  Ketika Ia masih berada di dunia Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku menuruti perintah Bapa-Ku.” Dengan penurutan-Nya yang sempurna Ia telah memberikan kemungkinan bagi setiap orang untuk menaati hukum-hukum Allah. Bila kita menyerahkan diri kita kepada Kristus, hati itu dipersatukan dengan hati-Nya, kehendak dibenamkan dalam kehendakNya, pikiran menjadi satu dengan pikiran-Nya, pikiran ditaklukkan kepada-Nya; kita menghidupkan kehidupan-Nya. Itulah artinya dipakaikan dengan pakaian kebenaran-Nya. Kemudian manakala Tuhan memandang kita, Ia melihat, bukan pakaian daun ara, bukan ketelanjangan dan cacat dosa, melainkan pakaian kebenaran-Nya sendiri, yang merupakan penurutan yang sempurna atas hukum Yahwe. MKA 241.4

Orang yang datang ke pesta tanpa pakaian pesta menggambarkan keadaan banyak orang yang terdapat di dunia kita sekarang. Mereka mengaku menjadi umat Allah dan menuntut berkat-berkat serta kesempatan-kesempatan dari Injil; namun mereka merasa tidak memerlukan suatu perubahan tabiat. Mereka belum pernah merasakan pertobatan dari dosa dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak menyadari keperluannya akan Kristus atau menunjukkan iman kepada-Nya. Mereka belum mengalahkan kecenderungan-kecenderungan yang bersifat turunan atau yang telah ditumbuhkan dalam hal berbuat salah. Namun demikian mereka mengira bahwa mereka sudah cukup baik dalam dirinya sendiri dan mereka bernaung di atas jasa-jasanya sendiri gantinya mempercayai Kristus. Para pendengar sabda itu, mereka datang ke pesta, tetapi mereka tidak memakai pakaian kebenaran Kristus. MKA 243.4

Banyak orang yang menyebutkan dirinya umat Allah tidak lebih dari-pada hanya manusia moralis. Mereka telah menolak pemberian satu-satunya yang menyanggupkan mereka untuk menghormati Kristus dengan mewakili Dia ke dunia ini. Pekerjaan Roh Kudus bagi mereka merupakan suatu pekerjaan yang aneh. Mereka bukanlah pelaku sabda itu. Prinsip-prinsip surga yang membedakan orang yang bersatu dengan Kristus dengan orang yang bersatu dengan dunia hampir-hampir tidak dapat dibedakan. Orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus bukan lagi umat yang terpisah dan asing. Garis pembatasan tidak jelas. Orang-orang menaklukkan dirinya kepada dunia, perbuatannya, kebiasaannya, dan sifat mementingkan diri. Jemaat telah menjadi duniawi dalam melanggar hukum, di mana seharusnya dunia datang kepada jemaat dalam penurutan pada hukum. Jemaat kian hari kian berubah menjadi duniawi. MKA 244.1

Semuanya ini mengharapkan diselamatkan oleh kematian Kristus, sementara mereka menolak menghidupkan suatu kehidupan pengorbanan diri. Mereka menyanjung-nyanjung kelimpahan dari karunia yang Cuma-cuma dan berusaha untuk menutupi dirinya dengan bentuk kesalehan, dengan berharap menutupi cacat tabiatnya; tetapi usahanya akan sia-sia pada hari Allah itu. MKA 244.2

Allah kasih adanya. Ia telah menunjukkan kasih itu dalam penganugerahan Kristus. Ketika “Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”  Ia tidak menahan apa-apa dari milikNya yang telah dibeli. Ia menyerahkan segenap surga, dari sanalah kita dapat menarik kekuatan dan kemantapan, agar kita tidak dipukul mundur atau dikalahkan oleh musuh kita yang besar. Tetapi kasih Allah tidak memimpin Dia untuk memaafkan dosa. Ia tidak memaafkannya pada Setan; Ia tidak memaafkannya pada Adam atau Kain; niscaya tidak akan Ia maafkan seorang manusia lainnya. Ia tidak akan mengizinkan secara diam-diam dosa kita atau memaafkan cacat pada tabiat kita. Ia mengharapkan agar kita mengalahkannya dalam nama-Nya. MKA 244.4

Orang yang menolak pemberian kebenaran Kristus menolak sifat dari tabiat yang akan membentuk putra dan putri Allah. Mereka menolak yang satu-satunya dapat melayakkan mereka memperoleh suatu tempat di pesta perjamuan kawin itu. MKA 245.1

Dalam perumpamaan ini, ketika raja itu bertanya, “Bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?” Orang itu bungkam. Demikianlah keadaannya pada hari pehukuman yang besar itu. Sekarang manusia dapat memaafkan cacat pada tabiatnya, tetapi hari itu mereka tidak akan dapat menyampaikan dalih. MKA 245.2

 

Contoh tulisan Victor T. Houteff yang mendorong hukum moral dipatuhi

 

Sebagai renungan penutup hendaklah kita mengingatkan kepada diri sendiri, bahwa mereka yang 144.000 itu tidak memiliki tipu di mulutnya. Dan Alkitab mengatakan, bahwa orang yang menguasai lidahnya adalah seseorang yang sempurna. Pernahkah kita bersalah karena mengeluarkan pernyataan-pernyataan sebelum memeriksakan ketepatannya, keadilannya, kebutuhannya untuk diucapkan, kebaikannya? Marilah kita belajar membicarakan perkara yang benar, pada waktu yang benar, dan pada tempat yang benar. Setelah mempelajari itu, kita akan menjadi pahlawan-pahlawan, karena adalah kenyataan, bahwa bagi sebagian orang untuk sedikit-dikitnya mencapai kemenangan pada masalah ini mereka harus melakukan apa yang tampaknya merupakan pengorbanan yang terbesar. Janganlah kita berbicara jahat mengenai orang lain. Janganlah kita membicarakan hal-hal yang mengecilkan hati, dan yang mengecewakan. Ingatlah selalu, bahwa orang-orang yang berbicara sedemikian ini selalu menghianati kondisi kerohaniannya sendiri yang rendah. ————— Symbolic Code jilid 12 No. 2

 

Catatan:

kita perhatikan, judul hotbahnya……”Kapan dan bagaimana pekerjaan akan diselesaikan?”, ……. sama sekali dia tidak bicara tentang moral disini, tetapi lihat di penutupan hotbahnya……. ia ingatkan perlunya pembangunan moral, ini menunjukkan bahwa Victor T. Houteff sejalan dengan pemahaman Ny. Ellen G. White bahwa hukum upacara adalah pengantar kepada hukum moral, oleh karena itu kita yang dahulu memegang pekabaran Tongkat mengesampingkan pelajaran-pelajaran moral dari Ny. Ellen G. White sekarang kita harus mau tidak mau mengkoreksi pemahaman kita.

 

Dalam bacaan ini dijelaskan apa lingkup dari kata-kata “tipu di mulut” = TIDAK JAGA/MENGUASAI LIDAHNYA, BICARA JAHAT MENGENAI ORANG LAIN, BICARA MENGECILKAN HATI/MENGECEWAKAN, jadi tidak hanya sebatas menambah-nambah dan mengurang-ngurang produk interpretasi nabi, tetapi ternyata lebih luas.

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart