<< Go Back

Sabat 20 Juni 2026

RENUNGAN PENDAHULUAN

HAL KEKAWATIRAN, SUSAH HARI INI, SUSAH HARI ESOK, BAGIAN KITA DAN BAGIAN TUHAN

 

Matius 6:25-34

6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

PETUNJUK ELLEN G WHITE:

“Ketika kita mengambil alih ke dalam tangan kita sendiri pengelolaan hal-hal yang harus kita lakukan, dan bergantung pada hikmat kita sendiri untuk sukses, kita sedang mengambil beban yang tidak diberikan Tuhan kepada kita, dan mencoba memikulnya tanpa bantuan-Nya… Tetapi ketika kita benar-benar percaya bahwa Tuhan mengasihi kita dan bermaksud berbuat baik kepada kita, kita akan berhenti khawatir tentang masa depan.” —- The Desire of Ages (Kerinduan Segala Zaman), Halaman 330.

 

Apabila hati hanya memikir-mikirkan diri saja, berarti hati itu berpaling daripada Kristus, sumber kekuatan dan hidup. Itulah sebabnya Setan selalu berusaha menarik perhatian menjauh dari Juruselamat dan mencegah hubungan jiwa dengan Kristus. Kepelisiran dunia ini, keluh-kesah kehidupan, kebimbangan dan duka, kesalahan-kesalahan orang lain atau kesalahan-kesalahanmu sendiri serta ketidak sempurnaanmu — kepada salah-satu atau semua ini setan akan berusaha menarik perhatianmu. Janganlah disesatkan tipu-dayanya. Banyak orang yang sungguh-sungguh tulus, dan ingin hidup bagi Allah, dia sering menuntun untuk memikir-mikirkan kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan mereka sendiri, dan dengan demikian oleh menceraikan mereka dari Kristus, Setan berharap memperoleh kemenangan. Janganlah kita menjadikan diri-kita sebagai pusat segalanya dan selalu cemas apakah kita akan selamat atau tidak. Semuanya ini akan memalingkan jiwa dari Sumber kekuatan kita itu. Serahkanlah penjagaan jiwamu kepada Allah, dan berharaplah di dalam Dia. Berbicara dan berpikirlah mengenai Yesus. Biarlah dirimu lebur di dalam Dia. Buangkanlah segala kebimbangan; enyahkan segala kuatirmu. Katakanlah seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus: “Adapun hidupku ini bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku; tetapi hidup di dalam tubuh ini, aku hidup di dalam iman kepada Anak Allah, yang mengasihi aku dan yang menyerahkan Dirinya karena aku. ’’Galatia 2:20. Tinggallah di dalam Kristus. Dia dapat menjaga apa yang telah kau serahkan padaNya. Jika engkau mau menyerahkan dirimu sendiri ke dalam tanganNya, maka Dia akan menjadikan engkau terlebih daripada pemenang di dalam Dia yang telah mengasihi engkau. —- KS 66.1

 

DOSA TERBESAR ORANG BERDOSA ADALAH TIDAK SADAR AKAN DOSANYA

 

“Tidak ada kasih yang mendalam kepada Yesus dapat tinggal dalam hati yang tidak melihat dan menyadari keberdosaannya sendiri.” — Our High Calling, hlm. 27. 

 

“Ketika seseorang memiliki cacat karakter tetapi gagal menyadarinya; ketika ia begitu dipenuhi rasa cukup diri sehingga tidak dapat melihat kesalahannya, bagaimana ia dapat dibersihkan?” — Testimonies for the Church, Jilid 7, hlm. 199-200

 

“Pemandangan akan keberdosaan kita mendorong kita kepada Dia yang dapat mengampuni.” —- Steps to Christ, hlm. 29

 

“Semakin dekat kita datang kepada Yesus, semakin jelas kita melihat keberdosaan kita sendiri; sebab penglihatan rohani kita menjadi lebih terang, dan ketidaksempurnaan kita terlihat dalam perbedaan yang nyata dengan sifat-Nya yang sempurna.” — Steps to Christ, hlm. 64.

 

“Hanya dia yang melihat keberdosaannya sendiri yang dapat memahami betapa berharganya Juruselamat.” — Christ’s Object Lessons, hlm. 159

 

“Orang berdosa harus dituntun untuk melihat kesalahannya sebelum ia merasakan kebutuhannya akan Kristus.” —- Selected Messages, Buku 1, hlm. 327

 

Pertobatan mencakup dukacita karena dosa dan berbalik darinya. Kita tidak akan melepaskan dosa kecuali kita melihat betapa berdosanya dosa itu; sampai kita berbalik darinya di dalam hati, tidak akan ada perubahan nyata dalam kehidupan.” Steps to Christ (Kebahagiaan Sejati), Halaman 23.

 

“Semakin dekat Anda kepada Yesus, Anda akan tampak semakin penuh cacat di mata Anda sendiri; karena pandangan Anda akan lebih jelas, dan ketidaksempurnaan Anda akan terlihat dalam kontras yang luas dan jelas dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Ini adalah bukti bahwa tipu daya setan telah kehilangan kekuatannya, bahwa pengaruh Roh Allah yang menghidupkan sedang membangkitkanmu” —– Steps to Christ (Kebahagiaan Sejati), Halaman 64-65.

 

TOLERANSI

 

“Satu dosa yang dipelihara (ditoleransi), sedikit demi sedikit, akan menurunkan mutu karakter, membawa semua kekuatannya yang mulia ke bawah kendali keinginan yang jahat. Pelepasan satu benteng perlindungan dari hati nurani, pemuasan satu kebiasaan buruk, satu pengabdian terhadap tuntutan kewajiban yang tinggi, meruntuhkan pertahanan jiwa dan membuka jalan bagi Setan untuk masuk dan menyesatkan kita.” —- Patriarchs and prophets p. 452.2

 

“Setiap pemuasan dosa (toleransi) memperkuat keengganan jiwa kepada Allah. Seseorang yang menunjukkan ketegaran hati yang tidak percaya, atau ketidakpedulian yang kaku terhadap kebenaran ilahi, hanyalah menuai hasil dari apa yang telah ia tabur sendiri. Di dalam seluruh Alkitab tidak ada peringatan yang lebih menakutkan tentang bermain-main dengan kejahatan selain perkataan orang bijak bahwa orang berdosa ‘akan terjerat dalam tali dosanya sendiri.’” —– Steps to Christ (Kebahagiaan Sejati), Halaman 34.

 

“Tidak ada seorang pun yang dapat menempati posisi netral. Tidak ada yang namanya reformasi sebagian. Jika Anda menoleransi satu kebiasaan yang salah, Anda sedang memperkuat kuasa Setan. Orang Kristen tidak boleh menoleransi kecenderungan berdosa apa pun, melainkan harus mengalahkannya melalui Kristus.” —– Manuscript Releases, Volume 6, Halaman 21.

 

“Kita tidak boleh memelihara cacat-cacat karakter kita, dan mencarikan alasan (menoleransinya) dengan mengatakan, ‘Ini sudah bawaan saya.’ Kita harus mengalahkannya, atau hal itu akan mengalahkan kita dan menutup kita dari kerajaan Allah. Toleransi terhadap satu cacat karakter adalah undangan bagi Setan untuk masuk dan menguasai hati.” —– The Review and Herald, 16 Agustus 1892.

 

Alasan mengapa begitu banyak orang gagal mengalami pertobatan yang sejati adalah karena mereka terus-menerus membuat persyaratan dengan Allah. Mereka menoleransi sedikit dari diri sendiri, sedikit dari dunia, dan sedikit dari dosa yang dipelihara. Tetapi Allah menuntut semuanya atau tidak sama sekali. Hati harus dikosongkan dari setiap kompromi sebelum Kristus dapat tinggal di sana.” ——— Manuscript Releases, Volume 12, Halaman 312.

 

Contoh dari orang yang dikatakan berdosakan terbesar dalam hukum manusia :

Berjam-jam lamanya selama menderita kesengsaraan terdengarlah oleh Yesus segala hinaan dan ejekan. Sementara Ia tergantung disalib, masih juga terdengar oleh-Nya bunyi ejekan dan kutukan. Dengan hati yang penuh kerinduan Ia telah berusaha mendengarkan suatu pernyataan iman dari murid-murid-Nya. Ia telah mendengar hanya perkataan sedih, “Kita berharap bahwa Ialah yang akan membebaskan bangsa Israel.” Itulah sebabnya alangkah menyenangkan bagi Juruselamat mendengar ucapan iman dan kasih dari pencuri yang hampir mati! Sementara orang-orang Yahudi yang terkemuka menyangkali Dia, malah murid-murid sekalipun meragukan Keilahian-Nya, pencuri yang malang itu, di tepi jurang kekekalan, memanggil Yesus Tuhan. Banyak orang bersedia memanggil Dia Tuhan ketika Ia mengadakan mukjizat, dan sesudah Ia bangkit dari kubur; tetapi tidak seorang pun mengakui Dia sementara Ia tergantung hampir mati di salib kecuali pencuri yang menyesal yang diselamatkan pada saat terakhir. —- KSZ2 401.2

Orang-orang yang menonton mendengar perkataan itu ketika pencuri itu memanggil Yesus Tuhan. Nada orang yang bertobat itu menarik perhatian mereka. Mereka yang telah bertengkar tentang jubah Kristus di kaki salib, dan membuang undi atasnya, berhenti hendak mendengarkan. Nada suara mereka yang marah-marah didiamkan. Dengan menahan napas mereka memandang kepada Kristus dan menunggu sambutan dari bibir yang hampir mati itu. —- KSZ2 401.3

Aku berkata kepadamu pada hari ini, Engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. Kristus tidak menjanjikan bahwa pencuri itu seharusnya bersama-sama dengan Dia pada hari itu juga. Ia Sendiri tidak pergi pada hari itu ke Firdaus. Ia tidur di dalam kubur, dan pada pagi ke-bangkitan berkatalah Ia, “Aku belum pergi kepada Bapa.” Yoh. 20:17. Tetapi pada hari penyaliban, hari yang tampaknya hari kekalahan dan kegelapan, janji itu diberikan. “Pada hari ini” sementara mati di salib sebagai seorang penjahat; Kristus memastikan kepada orang berdosa yang malang itu, engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. —- KSZ2 402.1

 

Contoh lain dari dosa sehari-hari yang tidak banyak orang sadari, dan memandangnya hal yang wajar:

Janganlah dianggap sebagai satu perkara remeh untuk berbicara jahat tentang orang lain atau menjadikan diri kita hakim terhadap tindakan dan motif mereka. “Adapun orang yang mencela saudaranya atau menyalahkan saudaranya, ialah mencela hukum serta menyalahkan hukum. Tetapi jikalau engkau menyalahkan hukum itu, bukannya engkau penurut hukum itu, melainkan hakimnya.” Hanya ada satu hakim saja—yakni Dia “yang akan menerangkan barang yang tersembunyi di dalam gelap dan akan menyatakan segala kasad hati orang.” 1 Korinti 4:5. Dan barangsiapa yang menghakimkan dan menghukumkan sesamanya, dia merebut hak mutlak daripada Khalik itu. —– PB1 405.1

Ketika Petrus berjalan di sisi Yesus, Ia melihat bahwa Yohanes sedang mengikuti. Suatu kerinduan datang kepadanya hendak mengetahui masa depannya, dan ia “berkata kepada Yesus, ya Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini? Jawab Yesus: Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” Petrus sudah seharusnya mempertimbangkan bahwa Tuhannya akan menyatakan kepadanya segala sesuatu sehingga paling baik baginya untuk diketahui. Adalah kewajiban setiap orang mengikut Kristus, tanpa kecemasan yang berlebih-lebihan, tentang pekerjaan yang ditentukan bagi orang lain. Dalam mengatakan tentang Yohanes, “Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang,” Yesus tidak memberikan jaminan bahwa murid ini harus hidup sampai kedatangan Tuhan kedua kalinya. Ia hanya menegaskan kuasa-Nya sendiri yang unggul itu, dan meskipun Ia menghendakinya sedemikian, hal itu sekali-kali tidak akan mempengaruhi pekerjaan Petrus. Masa depan Yohanes dan Petrus adalah dalam tangan Tuhan mereka. Penurutan dalam mengikut Dia merupakan kewajiban yang dituntut dari setiap orang. ———-KSZ2 470.2

Alangkah banyak orang yang seperti Petrus dewasa ini. Mereka menaruh perhatian dalam persoalan orang lain dan ingin mengetahui kewajiban mereka, sedangkan mereka ada dalam bahaya melalaikan kewajiban mereka sendiri. Adalah pekerjaan kita untuk memandang kepada Kristus dan mengikut Dia. Kita akan melihat adanya kesalahan-kesalahan dalam kehidupan orang lain, serta cacat dalam tabiat mereka. Manusia dikelilingi dengan kelemahan. Tetapi dalam Kristus kita akan mendapat kesempurnaan. Oleh memandang Dia, kita akan diubahkan.—-KSZ2 470.3

 

Ellen G. White lebih lanjut mengatakan mengenai berbicara kekurangan orang lain:

​”Kabar burung (gossip) adalah racun ganda, yang menghancurkan jiwa pemberi dan penerimanya. Sifat suka mencela, membicarakan kesalahan orang lain, dan menyebarkan laporan palsu, sesungguhnya adalah pembunuhan terhadap karakter sesama kita.”— The Review and Herald, 3 Juni 1884

 

​”Fitnah (slander) meracuni pikiran; itu adalah pembunuhan karakter; dan di mata Allah, hal itu dinilai dengan standar yang sama seperti pembunuhan terhadap tubuh.”— Manuscript 17, 1893

 

Catatan :

Kedua hukum dari contoh diatas, yaitu membunuh, mencuri, merampok di satu bagian yang merupakan dosa orang yang disebelah kanan Yesus berbanding dengan kebiasaan memperhatikan kekurangan/kesalahan orang lain sebagaimana yang dilakukan oleh Petrus, kedua-duanya adalah dosa-dosa yang harus ditinggalkan, namun yang manakah lebih berbahaya bagi keselamatan kita, khususnya bagi kita yang berada di periode paling akhir ini?

MENGAPA DIRI SENDIRI WAJIB MATI?

 

Yohanes dan Yudas adalah wakil dari mereka yang mengaku pengikut-pengikut Kristus. Kedua murid ini mempunyai kesempatan yang sama untuk mempelajari dan mengikuti contoh Ilahi. Keduanya berhubungan erat dengan Yesus dan mendapat kesempatan untuk mendengarkan ajaran-Nya. Masing-masing mempunyai kekurangan tabiat yang serius; dan masing-masing mempunyai jalan masuk kepada rahmat Ilahi yang mengubahkan tabiat. Tetapi sementara seorang dalam kerendahan hati sedang belajar tentang Yesus, yang lain menyatakan bahwa ia bukannya pelaku perkataan itu, tetapi pendengar saja. Seorang, yang mati bagi dirinya sendiri setiap hari dan mengalahkan dosa, disucikan oleh kebenaran; yang lain menolak kuasa anugerah yang mengubahkan dan mengikuti kehendaknya sendiri, terbawa ke dalam perhambaan Setan. ————– KR 471.1

 

Sang Tukang Periuk tidak dapat membentuk untuk menghormati apa yang tidak pernah diletakkan di tangan-Nya. Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang penuh dengan penyerahan diri, ketundukan, dan kemenangan yang terus menerus. Setiap hari kemenangan-kemenangan baru akan diperoleh. Diri sendiri harus dilenyapkan, dan kasih Allah harus terus dipupuk. Dengan demikian kita bertumbuh ke dalam Kristus. Demikianlah hidup kita dibentuk menurut model ilahi —– Manuscript 55, 1900.

 

Kita tidak boleh membiarkan diri kita bertindak berdasarkan dorongan hati. Kita tidak boleh lengah sesaat pun. Dikepung oleh godaan yang tak terhitung jumlahnya, kita harus melawan dengan teguh atau kita akan ditaklukkan. Seandainya kita sampai pada akhir hayat dengan pekerjaan yang belum selesai, itu akan menjadi kerugian yang kekal.

Kehidupan Rasul Paulus adalah konflik yang konstan dengan diri sendiri. Ia berkata, “Aku mati setiap hari” (1 Korintus 15:31). Keinginan dan hasratnya setiap hari bertentangan dengan kewajiban dan kehendak Allah. Alih-alih mengikuti kecenderungannya, ia melakukan kehendak Allah, betapapun hal itu menyalibkan tabiatnya.

Di akhir hidupnya yang penuh konflik, saat menoleh ke belakang pada perjuangan dan kemenangannya, ia dapat berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya” (2 Timotius 4:7, 8).

Kehidupan Kristen adalah sebuah pertempuran dan sebuah perjalanan maju. Dalam peperangan ini tidak ada kata istirahat; upaya harus terus-menerus dan tekun. Melalui upaya yang tak henti-hentinyalah kita mempertahankan kemenangan atas godaan Setan. Integritas Kristen harus diupayakan dengan energi yang tak tertahankan dan dipertahankan dengan ketetapan tujuan yang teguh.

Tidak ada orang yang akan diangkat ke atas tanpa upaya yang keras dan tekun demi dirinya sendiri. Semua orang harus terlibat dalam peperangan ini untuk diri mereka sendiri; tidak ada orang lain yang dapat memperjuangkan pertempuran kita…. —- A New Life, p 59 – 60, Dibutuhkan Ketekunan

 

Juruselamat berkata: “Jikalau seorang tiada diperanakkan pula,” kalau dia tidak menerima satu hati yang baru, kerinduan-kerinduan yang baru, maksud-maksud dan motif yang baru yang menuntun menuju kepada satu kehidupan baru, “tiada dapat ia melihat kerajaan Allah.” Yahya 3:3. Pikiran yang mengatakan bahwa satu-satunya yang perlu dipertumbuhkan ialah yang baik yang memang sudah ada di dalam diri manusia secara alamiah, adalah merupakan satu pikiran yang sesat dan amat berbahaya. “Tetapi orang duniawi tiada menerima barang yang daripada Roh Allah itu, karena perkara itu menjadi kebodohan kepadanya, dan tiada dapat mengenalnya, sebab perkara itu diselidik dengan peri rohani. ” 1 Korintus 2:14. “Jangan engkau heran, sebab sudah Kukatakan kepadamu: Bahwa wajib kamu diperanakkan pula.” Yahya 3:7. Tentang Kristus tertulis sebagai berikut, “Di dalamnya itu ada hidup, dan hidup itulah terang manusia” — satu-satunya nama yang dikaruniakan kepada manusia, yang di dalamnya kita selamat.” Yahya 1:4; Kisah 4:12. —— KS 13.1

 

Yohanes berkata, “Terang itu”—Kristus—“bersinar dalam kegelapan,” yaitu di dunia, “dan kegelapan tidak dapat memahaminya…. Tetapi semua orang yang menerima Dia, kepada mereka Dia memberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu kepada mereka yang percaya kepada nama-Nya: yang lahir bukan dari darah, bukan dari kehendak daging, bukan dari kehendak manusia, tetapi dari Allah.” Alasan mengapa dunia yang tidak percaya tidak diselamatkan adalah karena mereka tidak memilih untuk diterangi. Sifat lama, yang lahir dari darah dan kehendak daging, tidak dapat mewarisi kerajaan Allah. Cara-cara lama, kecenderungan turun-temurun, kebiasaan lama, harus ditinggalkan; karena kasih karunia bukanlah warisan. Kelahiran baru terdiri dari memiliki motif baru, selera baru, kecenderungan baru. Mereka yang dilahirkan kepada kehidupan baru oleh Roh Kudus, telah menjadi bagian dari sifat ilahi, dan dalam semua kebiasaan dan praktik mereka, mereka akan memberikan bukti hubungan mereka dengan Kristus. Ketika orang-orang yang mengaku sebagai orang Kristen tetap mempertahankan semua kekurangan karakter dan watak alami mereka, dalam hal apa posisi mereka berbeda dari orang duniawi? Mereka tidak menghargai kebenaran sebagai pengudus, sebagai pemurnian. Mereka belum dilahirkan kembali. —— RH 12 April 1892, par 9

 

“Kesucian Paulus adalah hasil dari pada suatu peperangan melawan diri sendiri yang tetap terus-menerus. Katanya: ‘Saya mati setiap hari.’ Kemauan dan keinginannya setiap hari berperang melawan tugas dan kehendak Allah. Gantinya mengikuti kecenderungan hatinya, ia melaksanakan kehendak Allah betapa pun menyalibkan bagi sifatnya sendiri. —– Tanya Jawab buku 4 pertanyaan No. 81

 

Catatan:

Dalam tulisan-tulisan Ellen G. White terkait dengan pembangunan dan reformasi terdapat kutipan yang patut kita pikirkan, yaitu DIRI SENDIRI HARUS DIMATIKAN. Oleh karena itu perlu ditampilkan pertanyaan berikut:

Alasan mengapa dalam pelaksanaan penyempurnaan keserupaan dengan Yesus, kita diminta untuk mematikan diri kita sendiri? Mengapa tidak dipilah saja karakter kita/tabiat lama kita yang masih sesuai dengan kehendak Tuhan dipertahankan dan karakter/tabiat jelek kita saja yang diubah?

 

Jawabannya adalah :

Pilihlah olehmu pada hari ini juga kepada siapa hendak kamu membaktikan diri.” Yusak 24 : 15. “Jika Tuhan itu Allah, ikutilah Dia: tetapi jika Baal, maka ikutilah dia.” 1 Raja-raja 18 : 21. ”Tidak seorang pun dapat melayani dua majikan: karena mungkin ia akan membenci yang satu, dan mencintai yang lainnya; atau sebaliknya ia akan berpegang pada yang satu, dan meremehkan yang lainnya. Engkau tidak mungkin dapat membaktikan diri kepada Allah dan juga kepada mammon.” Matius 6 : 24. —– Symbolic Code jld 12 No. 6, 7

 

Saudara saksikan, bahwa Kebenaran AlIah ialah kelengkapanNya, yaitu janji-janji-Nya yang pasti, kemampuan-Nya untuk melaksanakan. Ia menjamin kepastian; dari semua janji-Nya; semuanya tidak akan gagal. Oleh sebab itu, memiliki Kebenaran Tuhan ialah memiliki kelengkapan-Nya dan kesetiaan-Nya, maka semua ini tidak pernah dapat kita miliki selama kita masih tetap tidak mempercayai-Nya. Tidak pernah kita miliki selama kita masih meragukan firman-Nya, karena meragukan firman-Nya sama saja dengan menyebut-Nya sebagai seorang pembohong. Meragukan firman adalah pelanggaran yang terbesar yang dapat dilakukan seseorang. Tak seorang pun dapat meragukan Allah lalu juga masih memperoleh berkat-berkatNya dan janji-janjiNya. Oleh sebab itu memiliki Kebenaran Tuhan ialah menaruh harap sepenuhnya kepada-Nya tanpa syarat. Dan dimanakah Ia mengharapkan kita untuk mulai? — Ia menghendaki kita supaya mulailah dari perkara yang amat mengganggu kita — yaitu perkara-perkara yang bersifat sementara yang akan datang. Ia menghendaki kita supaya belajar agar kita tidak dapat melayani diri sendiri dan juga Allah.

 

Matius 6 : 24 – 26:

“Tak ada orang yang dapat melayani dua majikan, karena ia tak dapat tiada akan membenci yang satu dan mencintai yang lainnya; atau sebaliknya akan berpegang kepada yang satu, dan meremehkan yang lainnya. Kamu tak dapat berbakti kepada Allah dan juga kepada mammon. Sebab itu Aku berkata kepadamu, Janganlah kamu khawatir akan hidupmu, dari hal apa yang akan kamu makan, atau apa yang akan kamu minum; atau pun akan tubuhmu, dari hal apa yang akan kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih dari pada makanan, dan tubuh itu lebih dari pada pakaian? TengokIah kepada burung-burung di udara, karena mereka itu tidak menabur, mereka juga tidak menuai atau pun mengumpulkan ke dalam Iumbung-lumbung; namun Bapa samawimu memberi juga makan kepada mereka itu. Bukankah kamu adalah jauh lebih baik dari pada segala burung itu?”

 

Ketiga ayat ini mengatakan dengan jelas, bahwa hidup untuk mempertahankan hidup, dan merasa khawatir bagaimana untuk menyukseskan hari depan adalah sama saja dengan berbakti kepada mammon (diri sendiri); bahwa anda tak dapat berbakti kepada diri sendiri dan kepada Allah pada waktu yang sama; bahwa jika anda berbakti kepada Allah anda hendaknya bebas dari kekhawatiran hari depan, sama seperti halnya burung-burung itu. Anda akan mengetahui dengan sepenuh hati, bahwa selama anda berbakti kepada-Nya Ia tidak akan pernah meninggalkan anda atau pun menolak anda.—– Amaran Sekarang jld 2 no. 35.

 

Catatan:

Jadi dari jawaban singkat di atas kita dapat paham mengapa kita perlu mematikan diri kita sendiri yang telah kita jalani sejak kita lahir, karena diri kita telah memperoleh warisan dosa dari Adam dan Hawa yang tidak dapat kita hindari dengan kekuatan sendiri, Victor T. Houteff mengatakan:

 

Supaya senantiasa diingat, bahwa hanya ada dua penguasa pikiran di dunia ini, yaitu pikiran dari Allah dan pikiran dari Setan. Kita sebagai orang-orang berdosa telah dilahirkan dengan pikiran Setan, dan pikiran ini tinggal dengan kita sampai kelak kita dilahirkan kembali, yaitu lahir oleh Roh dan dengan pikiran Allah. Lalu untuk berbuat yang benar, maka kita harus berbuat bertentangan terhadap apa yang dibisikkan oleh pikiran daging kita, lalu kita akan kemudian melakukan apa yang pikiran Allah sedang perjuangkan bagi kita untuk dilakukan.—— Amaran Sekarang jld 1 No. 1

 

Kemudian tulisan Ellen G. White juga menguatkan perlunya kita mematikan diri kita sendiri:

 

Kita tidak tahan membiarkan roh kita luka atas setiap kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja yang dilakukan pada orang lain. Diri kita sendiri adalah musuh yang sangat perlu kita waspadai. Tidak ada bentuk kejahatan yang mempunyai pengaruh terselubung atas tabiat melebihi nafsu manusia yang tidak berada di bawah pengendalian Roh Kudus. Tidak ada kemenangan lain yang dapat kita raih yang lebih berharga daripada kemenangan atas diri sendiri. ——-PI 407.4

 

Peperangan melawan diri-sendiri adalah merupakan peperangan yang terbesar yang pernah diadakan. Penyerahan diri-sendiri, memasrahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah, mengharuskan satu pergumulan; tetapi jiwa itu harus lebih dahulu diserahkan kepada Allah barulah dapat dibaharui di dalam kesucian.——-KS 37.3

Sekiranya bukan karena korban penebusan Kristus, maka tak ada dalam diri kita sesuatu yang bisa dibanggakan Allah. Segala sifat baik yang ada pada diri manusia tiada berharga dipandangan Allah. Ia tidak senang kepada orang yang masih terus berpegang pada sifat-sifatnya yang lama, dan tidak mau dibaharui di dalam kasih karunia agar menjadi baru di dalam Kristus. Pendidikan, talenta, kekayaan kita merupakan pemberian yang dipercayakan Allah kepada kita, agar Ia dapat menguji kita. Jika kita gunakan untuk mengagungkan diri sendiri, Allah berkata, ”Aku tidak berkenan kepada mereka , karena itu sia-sialah Kristus mati bagi mereka.”

Untuk menghayati ajaran Juruselamat kita, hendaknya pikiran Kristus ada dalam diri kita. Kesenangan dan ketidaksenangan kita, keinginan kita yang terutama, kesenangan diri yang merugikan orang lain harus dikalahkan. Damai sejahtera dari Allah harus mengendalikan hati kita. Kristus harus menjadi azas yang bekerja dan menghidupkan kita.—– 27 Feb, sub judul Kerajaan Kasih Karunia, hal 68 buku Kasih Karunia Bagi Setiap Insan.

 

 

Pertanyaan kita yang mengira bahwa tidaklah perlu seluruh diri kita dimatikan, cukup hal-hal yang kita nilai buruk saja yang perlu kita rubah, telah terjawab dengan jelas, sehingga sekarang menjadi tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan ataupun melindungi tabiat atau karakter kita yang lama.Pada dasarnya alasan itu disampaikan dikarenakan…. kita tidak menginginkan perubahan, kita masih menyayangi kebiasaan-kebiasaan kita.

 

Ellen G. white mengatakan:

 

Dalam menyerahkan diri kita sendiri kepada Allah, kita harus menanggalkan semua hal-hal yang memisahkan kita daripadaNya. Oleh karena itu Juruselamat berkata: “Sedemikian juga barang siapa diantara kamu, yang tiada meninggalkan segala sesuatu yang dipunyainya, tiada dapat menjadi muridKu.” Lukas 14:33. Apapun yang menjauhkan hati dari Tuhan harus dienyahkan. Banyak orang yang berilahkan mammon. Cinta uang, ingin kekayaan, adalah rantai emas yang mengikat mereka pada Setan. Golongan lain pula berilahkan kemuliaan duniawi. Hidup menyenang-nyenangkan diri sendiri serta bebas dari tanggung-jawab adalah berhala bagi orang lain juga. Tetapi rantai yang memperbudak ini harus diretas. Kita tidak boleh setengah-setengah milik Allah dan setengah-setengah milik dunia. Kita bukanlah anak-anak Allah- kecuali kita berserah diri sepenuhnya. ——–Kebahagiaan Sejati 39.1

 

Lebih lanjut penelusuran kita atas mencari jawaban perlunya kita harus mematikan diri sendiri, kita akan dapatkan dari tulisan-tulisan berikut:

 

Pada jaman dahulu kala Tuhan memberi perintah kepada orang Israel ketika mereka berhimpun berbakti padaNya. “Maka disanapun hendaklah kamu makan di hadapan hadirat Tuhan, Allahmu, dan bersukacitalah hati kamu akan segala yang pegangan tanganmu, baik kamu baik segala orang isi rumahmu, sekadar berkat yang telah diberi Tuhan, Allah ini, kepadamu.” Ulangan 12:7. Segala yang dilakukan demi kemuliaan Tuhan hendaklah dilakukan dengan penuh kegembiraan, dengan lagu pujian dan syukur, bukannya dengan murung dan hati yang sedih . ––Kebahagiaan Sejati 96.2

 

Catatan:

 

Ini kutipan …… harus kita renungkan selalu…….karena hari-hari terakhir kita sekarang ini, menuntut SEMUA PENURUTAN KITA, yang dahulu belum kita lakukan…..SEKARANG SEMUA HARUS DILAKUKAN, saat kita melakukannya……karena tuntutan Tuhan itu tidak disetujui oleh diri kita yang alamiah, maka TENTUNYA SEMUA AKAN KITA LAKSANAKAN DENGAN HATI YANG TIDAK MENERIMA PADA NYATANYA, KITA AKAN LAKSANAKAN DENGAN MURUNG DAN HATI YANG SEDIH………DAN INI GAMBARAN KITA MASIH BERMENTAL …..BUDAK.

 

TUHAN mampu melihat semua itu, Ia tidak menginginkan penurutan yang TERPAKSA.

 

KITA HARUS RUBAH …….SEMUA TUNTUTAN TUHAN ITU HARUS DILAKSANAKAN DENGAN SUKARELA, DAN PELAKSANAAN YANG IKLAS SEPERTI ITU ADALAH PELAKSANAAN YANG DILAKUKAN ANAK-ANAK ALLAH……semua umat Allah di masa lalu kita tidak pernah menemukan mereka menjalankan perintah-perintah/tuntutan-tuntutan  Tuhan dengan keterpaksaan.

 

Satu contoh kita dapatkan yang melaksanakan perintah Tuhan dengan rasa keterpaksaan adalah ISTRI LOT dan hasilnya bagaimana?…..kita sudah mengetahui dan haruslah memahaminya.

 

UNTUK MENGETAHUI HAL APA YANG MEMBUAT KITA MENJALANKAN TUNTUTAN TUHAN ITU DENGAN TAMPAK SEBAGAI SESUATU KETERPAKSAAN?

 

JAWABANNYA KITA PERLU MEMAHAMI PETUNJUK BERIKUT:

 

Di dalam pertobatan termasuk penyesalan akan dosa dan berpaling daripadanya. Kita tidak akan meninggalkan dosa itu kecuali kita melihat betapa jahatnya dosa-dosa itu; sebelum kita mengenyahkannya dari dalam hati kita, tidak akan ada perubahan yang sesungguhnya di dalam kehidupan. —– Kebahagiaan Sejati 18.2

 

Mungkin kita memuji-muji diri kita sendiri seperti yang dilakukan Nikodemus, bahwa kehidupan kita telah benar, tabiat kita mulia, dan mengira bahwa kita tidak perlu lagi merendahkan hati di hadapan Tuhan, seperti orang berdosa pada umumnya; tetapi apabila kita melihat terang Kristus yang bersinar menerangi jiwa-jiwa kita, maka akan tampak kepada kita betapa tidak sucinya kita; kita akan melihat motif-motif yang mementingkan diri kita sendiri, bertentangan dengan Tuhan Allah, yang telah mencemarkan tiap-tiap tingkah- laku kehidupan kita. Barulah kita mengetahui bahwa kebenaran kita sesungguhnya bagaikan kain yang buruk dan kotor, sehingga hanya darah Kristus sendirilah yang dapat membasuhkan hati kita dalam teladanNya sendiri. —– Kebahagiaan Sejati 23.3

 

Tiada kasih Allah yang dalam itu dapat tinggal di hati orang yang tidak menyadari dosa-dosanya sendiri. Jiwa yang telah diubahkan melalui karunia Kristus akan mengagumi tabiat ilahiNya; tetapi apabila kita tidak dapat melihat cacad moral kita sendiri, ini merupakan satu bukti yang nyata bahwa kita belum melihat keindahan dan kemuliaan Kristus. ––Kebahagiaan Sejati 60.2

 

Berikut kita dituntun untuk melihat betapa berbahayanya bila diri kita terkelabui oleh kepentingan diri sendiri di dalam contoh-contoh umat Allah di masa lalu:

 

PENGALAMAN RAJA DAUD

 

Roh percaya kepada diri sendiri dan meninggikan diri itulah yang telah menyediakan jalan bagi kejatuhan Daud. Puji-pujian dan bujukan yang licik daripada kekuasaan dan kemewahan bukannya tanpa akibat terhadap dirinya. Pergaulan dengan bangsa-bangsa sekeliling juga mendatangkan satu pengaruh yang tidak baik. Sesuai dengan adat kebiasaan yang ada di antara raja-raja Timur, kejahatan-kejahatan yang tidak boleh ditolerir dilakukan oleh rakyat jelata tidak akan dihukum jikalau itu dilakukan oleh raja-raja, maka raja tidak perlu mengadakan pengendalian diri yang sama seperti yang dilakukan oleh rakyat. Semuanya ini cenderung untuk mengurangi kepekaan Daud terhadap kejinya dosa. Dan gantinya dengan rendah hati bergantung atas kuasa Tuhan, ia mulai berharap kepada kebijaksanaan dan kekuatannya sendiri. Segera setelah setan berhasil memisahkan jiwa dari Allah, satu-satunya Sumber kekuatan itu, ia akan berusaha untuk membangkitkan keinginan-keinginan yang keji daripada sifat alamiah manusia yang jahat itu. Pekerjaan musuh itu bukanlah secara mendadak; pada permulaannya, itu tidak mengejutkan; itu merupakan suatu usaha yang diam-diam untuk menghancurkan benteng-benteng prinsip. Itu dimulai dengan perkara-perkara yang kelihatannya kecil—kelalaian untuk setia kepada Allah dan untuk bergantung dengan sepenuhnya kepadaNya, kecenderungan untuk mengikuti kebiasaan dan praktek-praktek duniawi. ———PB2 328.2

 

PENGALAMAN YOHANES PEMBABTIS

 

Yohanes Pembaptis adalah seorang manusia yang dipenuhi Roh Kudus sejak lahir, dan jika ada orang yang dapat tetap tak terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh merusak dari zaman di mana ia hidup, pastilah ia. Namun ia tidak berani mengandalkan kekuatannya; ia memisahkan diri dari teman-teman dan kerabatnya, agar kasih sayang alaminya tidak menjadi jerat baginya. Ia tidak akan menempatkan dirinya secara tidak perlu dalam godaan atau di mana kemewahan atau bahkan kemudahan hidup akan membawanya untuk menikmati kemudahan atau memuaskan seleranya, dan dengan demikian mengurangi kekuatan fisik dan mentalnya….

Ia menyerahkan dirinya pada kekurangan dan kesunyian di padang gurun, di mana ia dapat memelihara makna suci keagungan Allah dengan mempelajari kitab alam-Nya yang agung…. Suasana itu dirancang untuk menyempurnakan budaya moral dan untuk senantiasa memelihara takut akan Tuhan di hadapannya. Yohanes, pendahulu Kristus, tidak membiarkan dirinya terpapar pada percakapan jahat dan pengaruh dunia yang merusak. Ia takut akan dampaknya terhadap hati nuraninya, agar dosa tidak tampak begitu berdosa baginya. Ia lebih memilih untuk menetap di padang gurun, di mana akal sehatnya tidak akan dirusak oleh lingkungan sekitarnya. Tidakkah kita seharusnya belajar sesuatu dari teladan seseorang yang dihormati Kristus ini dan tentang siapa Ia berkata: “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis”? — Testimonies for the Church 4:108, 109.

 

Di suatu daerah yang sunyi ia tinggal, di antara bukit-bukit yang tandus, jurang-jurang yang dalam, dan gua-gua batu. Tetapi adalah kemauannya sendiri untuk meninggalkan segala kesenangan dan kemewahan hidup demi disiplin yang keras di padang belantara. Di sana keadaan di sekelilingnya cocok bagi kebiasaan-kebiasaan kesederhanaan dan penyangkalan diri. Dalam keadaan tidak terganggu oleh keramaian dunia, ia dapat mempelajari pelajaran-pelajaran dari alam kejadian, dari wahyu dan dari Allah. Perkataan malaikat kepada Zakharia itu telah sering diulangi kepada Yohanes oleh ayah bundanya yang beribadah itu. Sejak kecil tugasnya itu telah dinyatakan kepadanya, dan ia telah menerima kewajiban yang kudus itu. Baginya kesunyian padang belantara itu merupakan suatu tempat menjauhkan diri dari masyarakat di mana kecurigaan, sikap kurang percaya, dan percabulan yang sudah hampir merata. Ia tidak percaya pada kuasanya sendiri untuk melawan pencobaan, dan menjauhkan diri dari hubungan yang tetap dengan dosa, agar ia jangan kehilangan rasa akan kedahsyatan dosa itu. ———KSZ1 92.2

 

Oleh sebab mematikan diri kita adalah merupakan peperangan/pergumulan yang TERBESAR, yang artinya bahkan lebih besar daripada melawan godaan-godaan pergaulan, dan dari semua kutipan dan juga yang terakhir tulisan Ellen G. white diatas, kita dapat kesimpulan bahwa usaha peperangan tersebut harus dilakukan dengan tekun, tegas atau keras dan sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah seperti kebanyakan sekarang ini kita lakukan karena perhatian kita yang masih terbagi, maka TIDAKLAH HERAN BILA PENEGAKAN PELAKSANAAN HUKUM MORAL MENJADI PRIORITAS DALAM PENDIDIKAN YESUS CONTOH SAINGAN YANG TERAKHIR 40 HARI DI AKHIR ZAMAN INI, BUKAN HUKUM UPACARA.

 

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart