<< Go Back

Sabat 4 Juli 2026

PELAJARAN PENTING DARI MATERI RENUNGAN PENDAHULUAN ZOOM TANGGAL 20 JUNI 2026 TENTANG HAL KEKAWATIRAN, SUSAH HARI INI,  SUSAH HARI ESOK, BAGIAN KITA DAN BAGIAN TUHAN

 

Uraian tulisan Ellen G. White

 

Catatan Pembelajaran

HAL KEKAWATIRAN, SUSAH HARI INI, SUSAH HARI ESOK, BAGIAN KITA DAN BAGIAN TUHAN

 

Matius 6:25-34

6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

 

PETUNJUK ELLEN G WHITE:

“Ketika kita mengambil alih ke dalam tangan kita sendiri pengelolaan hal-hal yang harus kita lakukan, dan bergantung pada hikmat kita sendiri untuk sukses, kita sedang mengambil beban yang tidak diberikan Tuhan kepada kita, dan mencoba memikulnya tanpa bantuan-Nya… Tetapi ketika kita benar-benar percaya bahwa Tuhan mengasihi kita dan bermaksud berbuat baik kepada kita, kita akan berhenti khawatir tentang masa depan.”—-The Desire of Ages (Kerinduan Segala Zaman), Halaman 330.

 

Apabila hati hanya memikir-mikirkan diri saja, berarti hati itu berpaling daripada Kristus, sumber kekuatan dan hidup. Itulah sebabnya Setan selalu berusaha menarik perhatian menjauh dari Juruselamat dan mencegah hubungan jiwa dengan Kristus. Kepelisiran dunia ini, keluh-kesah kehidupan, kebimbangan dan duka, kesalahan-kesalahan orang lain atau kesalahan-kesalahanmu sendiri serta ketidak sempurnaanmu — kepada salah-satu atau semua ini setan akan berusaha menarik perhatianmu. Janganlah disesatkan tipu-dayanya. Banyak orang yang sungguh-sungguh tulus, dan ingin hidup bagi Allah, dia sering menuntun untuk memikir-mikirkan kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan mereka sendiri, dan dengan demikian oleh menceraikan mereka dari Kristus, Setan berharap memperoleh kemenangan. Janganlah kita menjadikan diri-kita sebagai pusat segalanya dan selalu cemas apakah kita akan selamat atau tidak. Semuanya ini akan memalingkan jiwa dari Sumber kekuatan kita itu. Serahkanlah penjagaan jiwamu kepada Allah, dan berharaplah di dalam Dia. Berbicara dan berpikirlah mengenai Yesus. Biarlah dirimu lebur di dalam Dia. Buangkanlah segala kebimbangan; enyahkan segala kuatirmu. Katakanlah seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus: “Adapun hidupku ini bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku; tetapi hidup di dalam tubuh ini, aku hidup di dalam iman kepada Anak Allah, yang mengasihi aku dan yang menyerahkan Dirinya karena aku. ’’Galatia 2:20. Tinggallah di dalam Kristus. Dia dapat menjaga apa yang telah kau serahkan padaNya. Jika engkau mau menyerahkan dirimu sendiri ke dalam tanganNya, maka Dia akan menjadikan engkau terlebih daripada pemenang di dalam Dia yang telah mengasihi engkau. —-KS 66.1

 

1.      Ternyata sejak Matius manusia sudah mengecewakan Tuhan, peringatan untuk jangan kawatir, takut akan hidup ini tidak dihiraukan tetap saja manusia TIDAK PERCAYA BAHWA TUHAN MAMPU MENYEDIAKAN BAGI MEREKA, kesalahan RAGU kepada kemampuan Tuhan dari zaman Musa tidak pernah berubah dalam benak pikiran manusia, dan manusia yang dibicarakan  adalah UMATNYA bukan orang-orang yang tidak kenal kebenaran.

2.      Padahal Matius hidup 2000 tahun jauh dari zaman kita, sudah berapa banyak Tuhan mengirimkan utusan-utusannya, mulai dari rasul-rasul, 7 reformator……dan sampai dengan kita sekarang yang telah memiliki gulungan kebenaran yang tidak dimiliki oleh orang lainnya, namun tetap saja umatNya terus saja mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama, yang menunjukkan TIDAK ADANYA PERUBAHAN DALAM PENGENALAN AKAN TUHAN, HINGGA HARI IN, SUNGGUH SANGATLAH PANTAS BILA KETIDAK PERCAYAAN-KETIDAK PERCAYAAN DARI UMATNYA INI MEMBANGKITKAN MURKA TUHAN, ……..APAKAH KITA JUGA MAU TURUT MEMPERTAHANKAN KEKECEWAAN TUHAN, APAKAH KITA JUGA BAGIAN DARI SEKIAN BANYAK UMAT YANG TUHAN SUDAH BUKAKAN KEBENARAN-KEBENARAN YANG MASIH SAJA JUGA …….TETAP TIDAK MEMPERCAYAI KEMAMPUANNYA, SEHINGGA YANG SEHARUSNYA NILAI KITA LEBIH BESAR DIMATA SORGA OLEH KARENA KITA TELAH MENGENAL ALLAH LEBIH BAIK DARI ORANG LAIN, AKAN TETAPI NYATANYA KITA TIDAKLAH JAUH BERBEDA DENGAN ORANG-ORANG DUNIA YANG MENGKAWATIRKAN KESEMUANYA ITU.  ……SANGAT MENYEDIHKAN,

3.      Bacaan ini memperlihatkan bahwa kita umat Allah, ternyata NYATA SEKALI SELALU MENGGUNAKAN PIKIRANNYA SENDIRI, TERLIHAT DARI KEKAWATIRAN-KEKAWATIRAN TERSEBUT ……KITA TIDAK MENGGUNAKAN PIKIRAN TUHAN DALAM MENGARUNGI PERJALANAN HIDUP.

4.      Kekawatiran-kekawatiran ini ternyata sudah ada dari zaman Matius, yaitu zaman dimana belum ada perintah untuk menyusut segala kepentingannya dialihkan hanya kepada Allah saja, sekarangpun juga ternyata sebelum pengetahuan tentang kewajiban peralihan jabatan menyusutkan kepentingan kita kepada Allah dibukakan, umat-umatNya juga memiliki kekawatiran-kekawatiran ini, …….jadi tidaklah heran bila Ketika perintah menyusutkan segala kepentingan kita ini efektif harus dilaksanakan, mendapatkan penolakan-penolakan dengan  alasan-alasan yang sama dengan yang jadi alasan orang-orang dari zaman rasul-rasul dahulu, Lukas 14:16-20.

5.      Kenapa perintah peralihan jabatan ini baru dibukakan dan diwajibkan hanya kepada umatNya yang terakhir?, mengapa tidak diberikan kepada Abraham, Daniel, Ayub, Yusuf, Daud dan Salomo serta lain-lainnya?, dari pertanyaan-pertanyaan ini kita dapat melihat bahwa Tuhan menilai kita yang diakhir zaman sangat-sangat lemah, jauh lebih merosot kepatuhan dan kepercayaannya kepada Tuhan, pada kita sangat terlihat memiliki dua tuan, kita tidak mampu untuk TETAP SEPENUHNYA PERCAYA KEPADA TUHAN, berbeda dengan Abraham, Daniel, Ayub, Yusuf, Daud dan Salomo yang walaupun mereka terbagi pikirannya, mereka masih mampu menjadikan Tuhan yang UTAMA, sedangkan kita hanya DIMULUT SAJA atau HANYA DALAM PENGAKUAN SAJA.

6.      Sehingga bila perintah peralihan jabatan ini tidak dilaksanakan, maka TIDAK ADA HARAPAN untuk kita bisa didapati LAYAK, dan dapat menang disejajarkan dengan tokoh-tokoh umat Allah dimasa lalu.

7.      Kata-kata “selalu cemas apakah kita akan selamat atau tidak” dan karena dilanjutkan dengan kata-kata “serahkanlah penjagaan jiwamu kepada Allah”, kita harus memahami disini Ellen G. White memaksudkan kecemasan yang dimaksud adalah kepada kemampuan Tuhan, bukan dimaksudkan agar kita harus percaya kepada kemampuan diri sendiri, karena percaya diri berlebihan itulah yang membuat orang-orang Laodekia menjadi diludahkan.    Menyambung dengan nomor 3 diatas, bila kita selalu cemas apakah kita akan selamat atau tidak, ternyata pikiran demikian adalah buah-buah dari menjadikan diri sendiri pusat segala-galanya, kita masih menggunakan pikiran sendiri dalam mengukur-ngukur Rohani kita, hal ini sebagaimana dikatakan dalam The Desire of Ages hal. 330 yang mengatakan “Tetapi ketika kita benar-benar percaya bahwa Tuhan mengasihi kita dan bermaksud berbuat baik kepada kita, kita akan berhenti khawatir tentang masa depan.” Disini menunjukkan walaupun sudah sekian banyaknya tulisan Roh Nubuat diberikan, kita masih saja ragukan kemampuan Tuhan, berarti jelas DIRI KITALAH YANG DIJADIKAN CENTER/PUSAT SEGALANYA…… Kita betul-betul MUNAFIK, tidak mensinkronkan pengakuan dengan tindakan,

8.      Kata-kata “Jika engkau mau menyerahkan dirimu sendiri ke dalam tanganNya, maka Dia akan menjadikan engkau terlebih daripada pemenang di dalam Dia yang telah mengasihi engkau.” Menunjukkan kita belum menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada kita, yaitu MELAKSANAKAN BAGIAN KITA……….sehingga kita sekarang masih penuh dengan kekawatiran-kekawatiran, dan buahnya adalah PERTANYAAN-PERTANYAAN :

“Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?.”

9.      Satu lagi, seperti pertanyaan-pertanyaan diatas, jelas merupakan tindakan kita mengkawatirkan hari esok, disini sudah tegas dijelaskan hal tersebut adalah pekerjaan bagian Tuhan, disini kita sudah alpa dan teralihkan pikiran/perhatian dari bagian kewajiban kita yang harusnya dipedulikan dan diperjuangkan, padahal tanggung jawab terhadap “yang hari ini” sangat menentukan apakah ada hari esok, bukan sebaliknya hari esok yang menentukan hari ini. Jangan perjuangkan hari esok, sama seperti yang ditakutkan dan diperjuangkan orang-orang dunia, yaitu kawatir hari esok atau hari depan.

 

 

PELAJARAN DARI PENGALAMAN DI BATTLE CREEK, SIAP MENGHADAPI UJIAN-UJIAN PERSIAPAN – TIDAK MEMPERSOALKAN ORANG LAIN TIDAK MERASAKANNYA

 

Ketika di-Battle Creek, Michigan, pada tanggal 5 Mei, 1855, saya melihat bahwa percaya hamba-hamba Allah ada terlalu tipis, dan kepercayaan anggota pun begitu juga. Terlalu mudah mereka itu mendapat tawar hati, selalu bersedia mengambil sikap kesangsian terhadap Allah, dan terlalu lekas percaya bahwa nasib mereka adalah terlalu celaka dan Tuhan Allah telah meninggalkan mereka. Saya melihat bahwa keadaan ini kejam adanya. Tuhan Allah ada begitu cinta kepada mereka itu sehingga Dia berikan Anaknya yang kekasih mati ganti mereka itu, dan segenap sorga berusaha keras untuk keselamatan mereka; akan tetapi setelah segala perkara ini dilakukan baginya, sukarlah bagi mereka untuk mempercayai dan berharap kepada Bapa yang begitu murah dan baik hati. Allah telah bersabda bahwa adalah Ia lebih suka memberikan Roh Suci kepada orang yang minta kepadaNya, daripada orang tua dunia suka memberikan hadiah-hadiah yang baik kepada anak-anaknya. Saya melihat bahwa hamba-hamba Allah dan sidang adalah terlalu mudah tawar hati. Apabila mereka minta kepada Bapanya yang disorga akan segala barang-barang yang mereka rasa perlu baginya, dan barang-barang tadi tidak datang dengan segera, maka percayanya lantas tergoncang, keberanian hatinya segera hilang, serta suatu perasaan bersungut-sungut meliputi mereka. Saya lihat bahwa hal ini mendatangkan murka Allah. —-PN 21.1

 

Secara umum karakter manusia berdosa pada setiap generasi selalu sama, yaitu kuat ketika tidak ada goncangan, tetapi luntur ketika ada gelombang kesulitan/cobaan datang, salah satunya yang paling besar pengaruhnya kepada manusia berdosa adalah :

“Banyak orang tidak sadar bahwa harta telah menjadi tuannya. Mereka mengira hanya mengurus kebutuhan hidup, padahal hatinya terikat erat pada harta; uang menjadi kekuatan yang menguasai pikiran dan tindakan tanpa mereka sadari.”——Pelajaran‑pelajaran dari Perumpamaan Kristus, hlm. 351; Nasihat tentang Pengurusan Harta, hlm. 26 (Bacaan ini tepat bagi mereka yang tawar-tawar, takut/kawatir bagaimana hidup, kemudian tidak bersedia menyusutkan kepentingannya kepada kepentingan Allah dengan meninggalkan pekerjaannya dan menjual hartanya… —  cenderung tidak berubah)

 

“Bahaya terbesar adalah ketika seseorang tidak sadar bahwa ia telah menjadikan uang sebagai tuan. Ia mengira melayani Allah, padahal hatinya dipenuhi kasih akan harta. Hal ini perlahan merusak iman, sampai firman tidak lagi berkuasa di hidupnya.”——Counsels on Stewardship, hlm. 27 (Bacaan ini tentunya menunjuk kepada orang-orang yang bekerja diorganisasi gereja atau bekerja melayani seperti pendeta, karena dikatakan “ia mengira melayani Allah”)

 

Ayat yang sangat dipercaya dan dipegang orang banyak termasuk kita antara lain Ulangan 28 :8, 11:

8 TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

11 Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu — di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu.

 

Berikut adalah ayat-ayat Alkitab lain yang memiliki makna serupa dengan Ulangan 28:8,11, yaitu tentang janji Tuhan untuk memberkati, menjaga, dan meneguhkan segala usaha, pekerjaan, serta hasil ladang orang yang setia kepada-Nya:

  1. Berkat atas Hasil Kerja dan Usaha

Mazmur 128:2: “Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!”

Amsal 10:22: “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak menambahinya.”

Hagai 2:20: “Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!” (Konteks ketika umat Tuhan mulai membangun kembali rumah Tuhan dan memperhatikan perintah-Nya).

  1. Kelimpahan di “Lumbung” dan Penyediaan yang Cukup

Amsal 3:9-10: “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah…”

Malakhi 3:10: “…ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat menyelimuti kamu sampai berkelimpahan.”

  1. Perlindungan agar Usaha Tidak Gagal (Tidak “Mandul”)

Maleakhi 3:11: “Aku akan menghardik belalang pelahap karena kamu, supaya jangan dihabisikannya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang mandul bagimu, firman TUHAN semesta alam.”

Mazmur 1:3: “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

 

Ayat-ayat di atas sampai dengan hari ini masih dipegang oleh dunia Kristen dan termasuk sebagaian dari para pemegang kebenaran sekarang, dan tanpa disadari membuat mereka menjadi SERUPA DENGAN DUNIA.

Sehingga kata-kata dalam:

Testimonies to ministers, p. 113, 114:

Bilamana kita sebagai suatu umat mengerti apa manfaatnya buku ini (buku Wahyu) bagi kita, maka akan terlihat di antara kita suatu pembangunan besar.”….kita sedang mendekati masa bilamana ramalan nubuatan-nubuatan buku Wahyu itu akan digenapi.

Bilamana buku-buku Daniel dan Wahyu itu dapat dimengerti dengan sebaik-baiknya, maka orang-orang percaya akan memperoleh suatu pengalaman beragama yang sama sekali berlainan.”

 

Kata-kata ini tidak terwujud di dalam pengalaman praktek-praktek beragama orang-orang di zaman Ellen G. White karena belum banyak nubuatan-nubuatan Daniel dan Wahyu yang dibukakan, dan walaupun nasihat pembangunan dan reformasi disampaikan oleh Ellen G. White, pekabaran pembuka pembangunan dan reformasi belum datang, barulah setelah Victor T. Houteff datang…….pembangunan dan reformasi yang dinasihatkan oleh Ellen G. White mendapatkan dorongan dan efektif berlaku, sehingga sepenuhnya setelah bergabung kebenaran nubuatan-nubuatan dan kebenaran Kasih, umatNya akan mengalami pengalaman beragama yang sama sekali berlainan.

Hal demikian dapat dipahami dalam jawaban Victor T. Houteff dalam pertanyaan no. 19 Tanya Jawab buku 2 (Mengapakah nubuatan-nubuatan menggantikan kasih?).

Dikatakan “mengalami pengalaman beragama yang sama sekali berlainan” tersebut antara lain khususnya kita yang berada dipenghujung dari perjalanan rohani sidang Laodekia dituntut melaksanakan petunjuk yang membutuhkan iman yang besar, yaitu :

Hendaklah setiap orang secara bijaksana beralih dengan cara berangsur-angsur mengurangi usaha-usaha kepentingan pribadinya, dan Iebih meningkat mengajar kepentingan-kepentingan Tuhan. Dengan cara ini masing-masing orang akan terus memanjat dari usaha kepentingan sendiri masa lalu yang hampa dan tak menggembirakan, kepada usaha kepentingan ilahi masa depan yang penuh dan gilang-gemilang, yang akan mengilhami “dari hujung bumi nyanyian-nyanyian, yaitu kemuliaan bagi orang-orang benar”. Yesaya 24 : 16.

Selagi masih bekerja dalam kedudukanmu yang sekarang, pergilah masuk kedalam kebun anggur Tuhan, maka sementara kepentinganmu, di sana bertumbuh, pekerjaanmu sendiri akan makin berkurang sampai kelak engkau akan menemukan dirimu sepenuhnya berpisah daripadanya lalu berpaut (menikah) dengan pekerjaan Tuhan. —–Kepercayaan-kepercayaan dasar Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh, Sub judul Penugasan jam ke sebelas – Peralihan jabatan.

 

Jadi dari petunjuk yang paling akhir ini, yang diperuntukkan terutama bagi kita yang hidup menjelang pintu kasihan tertutup bagi sidang, maka adalah tidak mungkin saat ini setelah Tuhan memberi petunjuk yang mengejutkan ini, Ia masih menjawab doa-doa dari antara kita meminta untuk dijagakan ladang kita, keberhasilan pada lahan pekerjaan kita, ataupun memberkati kita tetap berada dalam jabatan-jabatan tinggi kepentingan-kepentingan manusia, yaitu suatu usaha yang bukan diperuntukkan kemuliaan Allah, melainkan kemuliaan diri manusia kita.

Oleh karena itu, untuk masa sisa perjalanan kita yang terakhir ini, yaitu khususnya bagi siswa 40 hari contoh saingan, jangan lagi kita berharap kepada materi-materi pemuas kepentingan-kepentingan sendiri, menuntut jaminan-jaminan yang tercatat dalam ayat-ayat itu dimaksudkan bagi bangsa Israel dahulu dan juga hingga dimasa pertengahan perjalanan umat Allah.

Kita diposisi paling terakhir, posisi saat dimana berkat-berkat yang dahulu menjadi berkat, lambat laun akan menjadi kutuk, sama seperti bangsa Israel dahulu di tanah Gozen, kemakmuran dan kekayaan mereka menghalangi kemauan mereka kembali ke tanah Kanaan, sehingga Tuhan harus memaksa membuat mereka menderita di pabrik-pabrik batu bata, namun berbeda sekarang Tuhan tidak memaksa, kita sendiri dengan kemauan dari dalam diri harus merelakan melaksanakan perintah peralihan jabatan untuk berhenti dan menjual apa yang kita miliki supaya kita juga mau keluar meninggalkan dunia ini, tetapi faktanya reaksi kita terus saja menunda-nunda dan tawar-tawar. Berikut beberapa ayat menubuatkan tentang apa yang dikejar oleh kita sekarang:

Yesaya 2:18-20:

2:18 Sedang berhala-berhala akan hilang sama sekali.

2:19 Maka orang akan masuk ke dalam gua-gua di gunung batu dan ke dalam liang-liang di tanah terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahan-Nya, pada waktu Ia bangkit menakut-nakuti bumi.

2:20 Pada hari itu berhala-berhala perak dan berhala-berhala emas yang dibuat manusia untuk sujud menyembah kepadanya akan dilemparkannya kepada tikus dan kelelawar.

Yesaya 31:7:

Sungguh pada hari itu kamu masing-masing akan membuang berhala-berhala peraknya dan berhala-berhala emasnya yang dibuat oleh tanganmu sendiri dengan penuh dosa.

 

Sehingga dengan mengikuti kebenaran yang makin berkembang sekarang ini, menjadi jelas mengapa perjalanan hidup dari kita calon-calon 144000 cenderung bukan meningkat melainkan menurun, dari keberhasilan-keberhasilan mengarah kepada ketidak beruntungan-beruntungan materi, adalah karena Tuhan menginginkan kita tidak memiliki halangan-halangan seperti bangsa Israel dahulu, menjadikan kesemua berkat-berkat harta ataupun talenta-talenta pencapaian hidup sebagai berhal-berhala bagi calon- calon umat yang akan ia gunakan, bahkan dikatakan :

Mereka yang hanya sedikit melatih imannya sekarang, berada dalam bahaya yang sangat besar untuk jatuh ke bawah kuasa penipuan Setan dan perintah pemaksaan hati nurani. Dan walaupun mereka tahan terhadap ujian itu, mereka akan terjerumus ke dalam kesusahan dan penderitaan yang lebih dalam pada waktu kesesakan itu, sebab mereka tidak membiasakan diri percaya kepada Allah. Pelajaran-pelajaran iman yang telah mereka lalaikan, terpaksa mereka harus pelajari di bawah tekanan keputusasaan yang hebat. Kita harus membiasakan diri sekarang dengan Allah dengan cara membuktikan janji-janji-Nya. Malaikat-malaikat mencatat setiap doa yang tekun dan sungguh-sungguh. Memang baik kita melakukan kepentingan diri kita namun tidak melalaikan persekutuan dengan Allah, yang paling dalam, penyangkalan diri yang paling besar dengan persetujuan-Nya adalah lebih baik daripada kekayaan, kehormatan, kesenangan dan persahabatan tanpa persetujuan-Nya. Kita harus mengambil waktu untuk berdoa. Jikalau kita membiarkan pikiran kita disibukkan oleh penarikan-penarikan dunia ini, mungkin Tuhan akan memberikan waktu bagi kita untuk membuangkan dari kita berhala-berhala emas, rumah, atau tanah-tanah yang subur. —-KA 655.2

 

Sekarang kita telah memasuki masa pendidikan,  masa persiapan akhir-pematangan, masa penyangkalan diri, masa mematikan manusia lama, yaitu mengalami pengalaman-pengalaman ekstrim yang belum pernah kita lakukan sebelumnya, sebagaimana dahulu Musa dalam menjalani pendidikannya 40 tahun di padang belantara menggembala domba, ia harus rela menjalani masa kehilangan semua kepentingan terhormatnya, Yohanes yang demi pendidikan moralnya Zakharia dan Elizabet orang tuanya berpindah dari kehidupan sebelumnya ke desa, namun oleh kesadaran pribadi akan kekawatiran kepatuhan yang maksimal, ia sendiri melanjutkan pindah ke padang gurun demi menghilangkan sepenuhnya kepentingan-kepentingan manusianya, murid-murid Yesus yang adalah contoh dari kita dalam 40 hari pendidikan, terhadap mereka Yesus menghilangkan semua mimpi-mimpi mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam kerajaan dunia yang ternyata masih ada dalam pikiran mereka dalam pendidikan 3 ½ tahunnya sebelumnya, maka kesemua janji-janji jaminan penjagaan ladang, lahan umatNya pada ayat-ayat Alkitab di atas tidak lagi berlaku bagi kita, kita harus rubah mind set kita, rubah semua permohonan dan permintaan-permintaan dalam DOA-DOA KITA dan juga ……….JANGAN BERSUNGUT-SUNGUT.

 

Kemudian nanti oleh karena kita sedang menjalani sekolah Allah dan dalam sekolah itu sebagaimana umat-umat Allah di dalam melaksanakan materi-materi sekolah harus menjalani ujian-ujian, maka pengalaman Musa, Ayub, Yusuf, Daniel yang mereka diharuskan mengalami penderitaan, kesusahan sebelum lulus, juga harus dijalani kita, oleh karena itu kesemuanya ini ditulis untuk membesarkan hati kita supaya kita lebih siap daripada kita tidak mengetahuinya sama sekali. Sama seperti Musa, Ayub, Yusuf, Daniel dan lainnya mereka sama sekali tidak melakukan protes, membanding-bandingkan dengan orang-orang lainnya pada masanya, termasuk seperti Yusuf ia tidak menunjuk-nunjuk perbedaan Tuhan kepadanya dengan kepada saudara-saudaranya yang telah menjualnya, kemudian kecil hati, kecewa dan bersungut-sungut. Demikian pula dengan kita  melalui berbagai tulisan pengalaman tokoh-tokoh Alkitab di atas yang telah dituliskan kepada kita untuk menjadi bahan pembelajaran contoh, juga jangan kita melihat orang-orang disekeliling kita yang tidak merasakan kesulitan-kesulitan menghadapi ujian-ujian seperti kita, kita harus juga mampu rela dan iklas menjalankan pendidikan sebagaimana mereka, sehingga dapat memperoleh hasil yang gilang gemilang sebagaimana mereka juga telah menang.

 

Mengapa demikian, hal ini karena kita dipandang Tuhan, bahwa kita dapat gunakan sebagai pekerjanya, sehingga ujian ini adalah pematangan persiapan melaksanakan pekerjaan, sedangkan mereka yang disekitar memang tidak turut dalam ujian, karena Tuhan tidak melihat ada yang istimewa didalam diri mereka.

BELAJAR DARI PENGALAMAN LUPANYA BANGSA ISRAEL ATAS KEPEMIMPINAN ALLAH

 

Memandang akan situasi itu secara manusia, mereka telah berada dalam keadaan yang berbahaya yang sama sekali tidak menentu. Dalam saat-saat itu mereka lupa akan kelepasan mereka yang begitu ajaib dari belenggu penguasa-penguasa Phiraun dan mata mereka tertutup terhadap keajaiban tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari yang telah memimpin mereka sepanjang perjalanannya. Sementara mereka memandang akan hal itu, maka kenyataan melawan kemampuan Musa untuk membawa mereka dengan selamat merajalela di mana-mana. Sejauh itu yang menyangkut mereka, maka keseluruhan usaha itu tampaknya akan bernasib gagal. Harapan-harapan mereka untuk maju ke depan atau pun untuk kembali telah lepas dari mereka, bahkan dari segala-galanya, sebab mereka mengira Musa, bukan Allah, sebagai pelepas mereka. Betapa piciknya, betapa tidak menentunya, betapa keragu-raguannya, dan betapa pelupanya manusia. Pengalaman di dalam pekerjaan Injil telah mengajarkan kepada saya, bahwa umat Allah di waktu ini pun mempunyai penggoda yang sama yang harus dilawan, dan pencobaan-pencobaan yang sama yang harus dikalahkan, jika mereka hendak menerima meterai Allah itu.

Alangkah besar bedanya kalau saja pada waktu itu Israel percaya, bahwa hanya Allah, dan bukan Musa, sebagai pemimpin mereka, sehingga apa yang tampak kepadanya berupa jerat yang mematikan itu, akan sesungguhnya merupakan pintu pengharapan baginya. Kiranya pengalaman mereka itu dapat mengajarkan kepada kita untuk selalu ingat, bahwa Allah sedang memimpin kita sepenuhnya atau Ia tidak memimpin sama sekali, bahwa segala jalanNya bukanlah jalan kita, dan bahwa apa yang mungkin muncul merupakan penghalang kita yang terbesar, mungkin sekali akan berbalik menjadi berkat kita yang terbesar.

Bahaya Israel yang sesungguhnya, kita saksikan sekarang, bukan terdapat dalam apa yang diperbuat oleh Musa, melainkan dalam ketidakpercayaan mereka, bahwa Allah memegang segala perintah dalam tangan-Nya, dan karena tidak mengetahui, bahwa segala jalan-Nya adalah di luar dugaan kita —– bertentangan dengan jalan-jalan kita. Mereka gagal untuk melihat, bahwa Allah dapat secara berulang kali memperlihatkan mujizat demi mujizat, demi untuk melepaskan mereka dari tangan musuhnya, sehingga Ia dapat mengeringkan lautan luas dengan mudah seperti halnya Ia membanjiri bumi dengan air bah.

Dengan melihat akan kegagalan-kegagalan mereka itu, maka kita hendaknya menjadikan semuanya itu sebagai batu-batu loncatan kita untuk mencapai keberhasilan. Oleh karena itu marilah kita dengan sepenuh hati percaya bahwa Allah sedang mengawasi keselamatan kita, juga kehidupan dan kematian kita. Bahwa Ia mampu membawa kita ke tempat yang aman sekalipun sekiranya bumi akan jatuh keluar dari angkasa, sehingga kita tidak akan mati sekiranya Ia menghendaki kita hidup, dan bahwa kita tidak akan hidup sekiranya Ia menghendaki kita mati. Marilah kita kenangkan selalu, bahwa kita oleh diri kita sendiri tidak akan mengetahui apapun akan hal rencana-rencana Allah terkecuali sesuai dengan yang diceritakan oleh hamba-hamba pilihan-Nya yaitu nabi-nabi, dan sesuai apa yang kita saksikan dari hari ke hari. Jika kita setiap hari berjalan bersama Allah, jika kita percayakan segala-galanya kepada-Nya, maka segala tanggung jawab adalah pada-Nya.—–Amaran Sekarang jld 1 no. 7 Apa yang membuat seseorang dapat terpilih.

 

Catatan:

Bacaan sedikit panjang diatas adalah konteks dari kutipan yang sering kita gunakan “kita oleh diri kita sendiri tidak akan mengetahui apapun akan hal rencana-rencana Allah terkecuali sesuai dengan yang diceritakan oleh hamba-hamba pilihan-Nya yaitu nabi-nabi, dan sesuai apa yang kita saksikan dari hari ke hari.”

Jadi di dalam cerita ini kita lihat bahwa janganlah kita sempit berpegang hanya kepada apa yang disampaikan oleh nabi-nabi,  melainkan kita harus bijaksana juga siap apabila dalam penggenapannya terdapat hal-hal yang lebih berkembang dari apa yang disampaikan terbatas oleh nabi Allah yang tidak menyaksikan sendiri bagaimana penggenapan nubuatan tulisannya.

Contoh nyata lainnya juga kita jumpai didalam cerita kelahiran Yesus, walaupun bangsa Yahudi telah menantikan Mesias untuk melepaskan mereka dari belenggu penjajahan sejak tahun 586 SM, artinya sudah bergenerasi-bergenerasi harapan tersebut diwariskan ke anak cucuk, namun  mereka sangat tidak siap ketika kegenapan ramalan kelahiran Yesus jauh sekali dari apa yang mereka percayai hasil interpretasi pemimpin mereka. Bila dikatakan mereka kurang dalam kesetiaan beragama, dari cerita-cerita mempersalahkan Yesus, menunjukkan mereka sangat-sangat ketat dalam mempraktekan agamanya, namun sesuai kita ikuti diakhirnya tidak satupun petinggi-petinggi Parisi yang aktif menyerangNya ada dalam jajaran pekerja Allah, menunjukkan bahwa praktek ketat beragamanya, pada dasarnya adalah praktek beragama KAIN dahulu yang membuat persembahan korbannya tidak diterima Allah.

 

DIMATA HABAKUK TAMPAK SUKU BANGSA YEHUDA TIDAK MEMILIKI LAGI HARAPAN DAN AKAN SEGERA MENYUSUL 10 SUKU BANGSA ISRAEL —– KITA CONTOH KETAHANAN IMAN HABAKUK BAGI YANG HIDUP DIAKHIR ZAMAN —— JANGAN PUTUS HARAPAN WALAU TAMPAK MUSTAHIL

 

KERAJAAN Yehuda yang makmur sepanjang zaman Hizkia, sekali lagi direndahkan selama tahun-tahun pemerintahan Manasye yang jahat, ketika berhala dihidupkan kembali, dan banyak orang yang terseret untuk menyembah berhala. “Manasye menyesatkan Yehuda dan penduduk Yerusalem, sehingga mereka melakukan yang lebih daripada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan Tuhan dari depan orang Israel.” 2 Tawarikh 33:9. Terang generasi-generasi sebelumnya yang mulia kini diikuti dengan kegelapan takhyul dan kesalahan. Bermacam-macam kejahatan muncul dan merajalela, –kekuasaan tangan besi, penindasan, kebencian terhadap semua barang yang baik, keadilan diselewengkan, kekerasan dijalankan.—-PR 218.3

Salah satu dari yang pertama akan ditumbangkan ialah Yesaya, yaitu yang selama setengah abad lebih telah berdiri di hadapan Yehuda sebagai utusan Yehova yang ditentukan. “Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung.” Ibrani 11:36-38. —–PR 219.2

Beberapa dari mereka yang menderita penganiayaan selama pemerintahan Manasye adalah mereka yang ditugaskan untuk membawakan pekabaran khusus sebagai teguran dan penghukuman. Untuk raja Yehuda, para nabi itu menyatakan, “telah berbuat jahat lebih daripada segala . . . yang mendahului dia.” Oleh sebab kejahatan ini, maka kerajaannya sedang mendekati keadaan yang gawat; segera penduduk negeri itu akan dibawa sebagai tawanan ke Babilon, di sana mereka akan menjadi “. . . jarahan dan menjadi rampasan bagi semua musuh mereka.” 2 Raja-raja 21:11, 14. Tetapi Tuhan sama sekali tidak akan meninggalkan mereka yang ada di negeri asing yang akan mengenal Dia sebagai Raja mereka; dan mereka mungkin akan menderita kesukaran besar, namun Ia akan mendatangkan kelepasan bagi mereka pada waktu dan cara yang telah ditetapkan-Nya. Mereka yang akan bersandar sepenuhnya pada-Nya, akan memperoleh perlindungan yang pasti. ——-PR 219.3

(Komentar Rein Terinathe : Walaupun Manasye telah sedemikian jahatnya melebihi pendahulunya, namun Tuhan masih bermurah hati mendengar doanya…. ini bukti Tuhan konsisten dengan hukumanNya yang Ia telah sampaikan dalam Yesaya 1 : 18. Semerah Kirmizi dosa kita akan diputihkan seperti salju. Ini bukti kasih Yesus …. Ia ada bagi yang meminta pertolonganNya, tetapi Ia abai kepada mereka yang tidak mengindahkan undanganNya.) Dengan setia para nabi itu melanjutkan amaran dan nasihat mereka, dengan tidak takut mereka berbicara kepada Manasye dan kepada rakyatnya; tetapi pekabaran-pekabaran itu dicela, orang-orang Yehuda yang murtad tidak mau mengindahkannya. Sebagai suatu pernyataan sungguh-sungguh terhadap apa yang akan menimpa bangsa itu sekiranya mereka terus mengeraskan hati, maka Tuhan membiarkan raja mereka akan ditawan oleh sepasukan tentara Asyur, yang “membelenggunya dengan rantai tembaga dan membawanya ke Babel,” ibu kota mereka yang sementara. Kesengsaraan ini membangkitkan perasaan raja ini; “. . . ia berusaha melunakkan hati Tuhan, Allahnya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya, dan berdoa kepada-Nya. Maka Tuhan mengabulkan doanya, dan mendengarkan permohonannya. Ia membawanya kembali ke Yerusalem dan memulihkan kedudukannya sebagai raja. Dan Manasye mengakui, bahwa Tuhan itu Allah.” 2 Tawarikh 33:11-13. Tetapi pertobatan ini, walaupun bagaimana luar biasanya, datangnya terlambat untuk menyelamatkan kerajaan itu dari pengaruh jahat tahun-tahun menyembah berhala. Banyak yang telah tersandung dan jatuh, tidak pernah bangkit lagi. —–PR 219.4

Di antara mereka yang pengalaman hidupnya sudah berada dalam keadaan tidak dapat kembali dari kemurtadan Manasye yang mencelakakan, ialah putranya sendiri, yang naik takhta kerajaan pada usia dua puluh dua. Tentang Raja Amon ada tersurat, “Ia hidup sama seperti ayahnya dahulu sambil beribadah kepada berhala-berhala yang disembah oleh ayahnya dan sujud menyembah kepada mereka. Ia meninggalkan Tuhan, Allah nenek moyangnya; . . . .” 2 Raja-raja 21:21, 22, ia “tidak merendahkan diri di hadapan Tuhan seperti Manasye, ayahnya, merendahkan diri, malah Amon makin banyak kesalahannya.” Raja yang jahat itu tidak diizinkan memerintah lama. Di tengah-tengah keberaniannya yang tidak bertuhan itu, hanya dua tahun sejak ia naik takhta kerajaan, ia telah dibunuh di istana oleh pegawai-pegawainya sendiri; dan “. . . rakyat negeri itu mengangkat Yosia, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.” 2 Tawarikh 33:23, 25. ——PR 220.1

Dengan naiknya Yosia ke atas takhta kerajaan, di mana ia memerintah selama tiga puluh satu tahun, mereka yang telah memperoleh kesucian iman mulai berharap bahwa jalan yang membawa kepada kemerosotan dihentikan; karena raja yang baru, walaupun baru berusia delapan tahun, takut akan Allah, dan sejak dari permulaan “ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.” 2 Raja-raja 22:2. Lahir dari seorang raja yang jahat, dikelilingi dengan pencobaan-pencobaan untuk mengikuti langkah-langkah ayahnya, dan dengan hanya sedikit penasihat yang mendorongnya pada jalan yang benar, walaupun demikian Yosia berlaku benar di hadapan Allah Israel. Mendapat amaran dengan kesalahan-kesalahan generasi-generasi yang lalu, ia memutuskan untuk melakukan yang benar, gantinya turun ke tingkat dosa yang rendah dan kemerosotan di mana ayahnya dan kakeknya telah jatuh. Ia “tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.” Sebagai orang yang harus menduduki suatu jabatan yang mendapat kepercayaan, ia memutuskan untuk mengikuti petunjuk yang telah diberikan untuk menjadi penuntun para raja Israel; dan penurutannya memungkinkan Allah menggunakannya sebagai suatu bejana kepada kehormatan. —–PR 220.2

(Komentar Rein : Keraguan dari kacamata orang yang benar hatinya yaitu Habakuk…. ia dapat melihat betapa dalamnya kejahatan-kejahatan bangsa Yehuda ini, ia tidak yakin bahwa Tuhan masih mau menerima dan mengangkat bangsa Yehuda …. ia menilai dari ketegasan Tuhan terhadap 10 suku bangsa Israel yang sudah lebih dahulu dihukum Tuhan oleh karena melakukan kejahatan-kejahatan yang sama.) Pada zaman Yosia mulai memerintah, dan untuk bertahun-tahun sebelumnya, orang-orang yang benar hatinya di Yehuda sedang bertanya-tanya apakah janji-janji Allah kepada Israel dahulu kala akan dapat digenapi. Dari suatu segi pandangan manusia, maksud Ilahi bagi bangsa yang terpilih itu tampaknya hampir tidak mungkin digenapi. Kemurtadan pada abad-abad sebelumnya telah menjadi begitu kuat selama tahun-tahun yang berlalu; sepuluh suku telah terserak di antara bangsa kafir; hanya suku Yehuda dan Benyamin yang tertinggal, dan yang ini pun kini tampaknya sudah berada di tepi jurang kehancuran moral dan nasional. Para nabi sudah mulai meramalkan kebinasaan tuntas kota indah mereka, di mana bait kudus yang dibangun Salomo berdiri dan di mana segala pengharapan kebesaran nasional duniawi mereka berpusat. Mungkinkah bahwa Allah sudah hendak berbalik dari maksud-Nya yang pernah dinyatakan untuk membawa kelepasan kepada mereka yang menggantungkan pengharapan pada-Nya? Penganiayaan yang berkepanjangan terhadap orang-orang benar yang terjadi di depan hidung mereka, dan kemakmuran yang tampak dinikmati orang-orang jahat, dapatkah mereka yang tetap setia kepada Allah mengharapkan hari-hari yang cerah? Pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan ini adalah suara yang dikumandangkan oleh nabi Habakuk. Ketika melihat situasi orang setia pada zamannya, ia mengungkapkan beban hatinya dalam bentuk pertanyaan: “Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kau dengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kau Tolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mata-Ku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar, itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.” Habakuk 1:2-4. —–PR 220.3

Iman yang menguatkan Habakuk dan semua orang yang suci dan benar pada hari-hari kesukaran yang sengit itu adalah iman sama yang menunjang umat Allah sekarang. Pada saat-saat yang paling gelap, di bawah keadaan yang sangat menakutkan, orang-orang Kristen yang percaya dapat melindungkan jiwanya pada sumber segala terang dan kuasa. Hari demi hari, melalui iman pada Allah, pengharapan dan keberaniannya dapat dibarui. “Orang yang benar itu hidup oleh percaya.” Pekerjaan Allah tidak mengenal patah semangat, keragu-raguan dan ketakutan. Maka Tuhan akan memenuhi pengharapan-pengharapan tertinggi orang-orang yang menaruh kepercayaan mereka pada-Nya. Ia akan memberi mereka hikmat untuk menghadapi bermacam-macam kebutuhan mereka yang mendesak. Mengenai jaminan berlimpah-limpah yang diadakan bagi setiap jiwa yang ditimpa pencobaan, rasul Paulus memberikan kesaksian yang mengesankan. Kepadanyalah diberikan kepastian Ilahi, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu: sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Dengan perasaan hormat dan yakin hamba Allah yang ditimpa pencobaan itu menjawab: “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12:9, 10. —–PR 222.1

Kita harus memegang dan menumbuhkan iman yang olehnya para nabi dan rasul telah bersaksi–iman yang berpegang pada janji-janji Allah dan yang menunggu kelepasan pada waktu dan cara yang telah ditentukan-Nya. Perkataan nubuat yang pasti akan menemukan kegenapannya yang terakhir pada kedatangan Tuhan dan Juruselamat Yesus Kristus kita yang mulia itu, sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan. Waktu menunggu mungkin tampaknya lama, jiwa mungkin ditindas oleh keadaan-keadaan yang membuat putus asa, banyak orang yang tadinya mempunyai keyakinan mungkin akan jatuh di jalan; tetapi dengan nabi yang telah memperlihatkan ketabahan untuk membangkitkan semangat Yehuda pada zaman kemurtadan yang tiada bandingannya, marilah kita dengan yakin menyatakan, “Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi.” Habakuk 2:20. Marilah kita selalu ingat akan pekabaran yang menggembirakan itu, “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. . . . Orang yang benar itu akan hidup oleh percaya.” Ayat 3, 4. —–pr 222.2

(catatan: Bacaan pengalaman Habakuk ini memberikan gambaran bagaimana sama sekali tampak tidak ada lagi harapan kita bisa menang, oleh karena betapa dalamnya pelanggaran-pelanggaran umatNya secara keseluruhan — (bacaan ini tidak menilai dari pribadi-pribadi diri orang-orang yang dicontoh saingankan dengan diri Habakuk)…….disini kita kembali diingatkan gunakan ukuran-ukuran Tuhan, jangan menggunakan ukuran-ukuran sendiri…….karena ukuran Tuhan adalah TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGINYA, ASALKAN BILA IA TELAH MENJANJIKANNYA KITA MENANG)……tidak boleh ada keraguan.

Sebagaimana dikatakan di atas: ”Dari suatu segi pandangan manusia, maksud Ilahi bagi bangsa yang terpilih itu tampaknya hampir tidak mungkin digenapi”, jelas disini kita diingatkan JANGAN MENGGUNAKAN PANDANGAN MANUSIA, kita harus berlaku sebagaimana tegarnya Paulus  dalam 2 Korintus 12:9, 10 diatas, karena selain dari Habakuk ini, kepada kita juga sudah dinubuatkan untuk tidak takut dalam kitab Yesaya, Yeremia, dan dalam Mazmur yang artinya perjalanan nanti sangat MENAKUTKAN. Maka untuk itu kita haruslah belajar dari pengalaman pendahulu kita, yaitu antara lain 8 orang di zaman air bah yang lalu dalam 120 tahun amaran Nuh, Musa menjalani pendidikannya 40 tahun, Yohanes 30 tahunnya, Daniel, Sadrak, Mesak dan Abednego ketika menghadapi dapur api, dan kandang singa, Yusuf dalam perjalanan pembuangan dan Ayub yang kehilangan segala-galanya,  bila mereka semua dahulu mendengar suara-suara dan memikir-mikirkan nasibnya sebagaimana orang-orang disekitarnya…..mereka akan RAGU/KECEWA/BERSUNGUT-SUNGUT……PERTANYAANNYA APAKAH MEREKA BERKENAN DIMATA TUHAN JIKA DEMIKIAN?, …..APA YANG MEMBUAT MEREKA MENANG…..JAWABANNYA ADALAH KARENA MEREKA PERCAYA DAN MEMPASRAHKAN NASIBNYA KEPADA TUHAN, SAMA SEPERTI YESUSPUN DAHULU….BILA IA DENGAR SUARA-SUARA ORANG-ORANG, TERMASUK IBUNYA DAN SAUDARANYA, IAPUN PASTI GAGAL MENEBUS DOSA MANUSIA DAN IAPUN HARUS MATI ATAS DOSANYA SENDIRI.

Jadi melalui pelajaran ini, khususnya kita yang hendak menjalankan pendidikan persiapan kita sendiri, pendidikan yang sama dengan Musa, pendidikan yang sama dengan Yohanes Pembabtis dan pendidikan yang sama dengan 40 hari murid-murid Yesus……BERHENTILAH MENGGUNAKAN ATAU MENCAMPUR ADUK RENCANA ALLAH dan PIKIRAN MANUSIA KITA, 40 hari murid Yesus 180% berbeda dengan 3 ½ tahun mereka, TIDAK ADA LAGI PIKIRAN MANUSIA DALAM PENGALAMAN-PENGALAMAN MEREKA KITA LIHAT, ketakutan Petrus hingga menyangkal Yesus adalah karena ia masih mempertimbangkan pikiran manusianya, murid-murid lainnya kocar kacir berlarian ketika Yesus ditangkap, itupun bukti pikiran manusia mereka masih berkuasa, demikian pula keinginan kedudukan lebih tinggi dari antara mereka hingga mereka bertengkar, gambaran pikiran manusia mereka masih menang dalam diri mereka, tetapi ketika 40 har, saat masih sangat memungkinkan mereka TAWAR HATI kembali sudah sepenuhnya mereka BERESKAN, walaupun mereka ditangkap, didalam penjara, dapat ancaman kematian hingga benar-benar menjalani detik-detik kematiannya…..TIDAK ADA LAGI RAGU, PENYANGKALAN DIRI PETRUS kita saksikan…..SEMUA DENGAN BERANI MENGHADAPINYA……semua mengetahui benar, ITU ANCAMAN KEMATIAN……yang artinya di dalam pikiran manusia…..KEKALAHAN, tetapi MEREKA SUDAH SELESAI DENGAN PIKIRAN MANUSIA, …..MEREKA MERUBAHNYA SEMUA KEPADA KEIKLASAN, walaupun dari yang kita telah baca kepada mereka dalam hari-hari bersama Yesus tidak ada sama sekali dinyatakanNya mereka akan mati, namun ketakutan, kekawatiran sudah sirna dari diri mereka semua. SEMANGAT INILAH YANG JUGA HARUS KITA MILIKI DALAM SEKOLAH KITA YANG TERAKHIR.

Sebagaimana kita baca dari zaman air bah, pengalaman-pengalaman pribadi Abraham dan Ishak yang mau dikorbankan, Lot di kota Sodom dan Gomora serta Zoar, perjalanan Musa, bangsa Israel keluar dari Mesir, tembok Yerikho, Gideon dengan pasukannya yang minim, Daud melawan Goliath, dan seterusnya yang lain……kita saksikan SEMUA RENCANA ALLAH adalah MUSTAHIL, jadi janganlah kita masih menggunakan pikiran-pikiran manusia, seperti memikirkan bagaimana bisa terkumpul jumlah 144000 bila kita semua pergi ketempat yang terpencil, siapa yang bekerja?…..bukankah pindah ketempat yang jauh dari kota adalah juga perintahNya?, dan adakah Tuhan mempertanyakan dahulu sesuatu rencananya kepada manusia dan bagaimana cara membuat berhasil rencana tersebut?…..INI CONTOH TENTANG PERUBAHAN YANG HARUS KITA LAKSANAKAN, DARI YANG BELUM PERNAH SAMA SEKALI KITA LAKUKAN DALAM PENGALAMAN HIDUP KITA.

BERHENTI-BERHENTILAH MEMIKIRKAN JALAN TUHAN DENGAN PIKIRAN MANUSIA.

Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.—-Yesaya 55:9

 

 

 

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart