<< Go Back

Sabat 22 November 2025

RENUNGAN PENDAHULUAN

 

Pelajaran dari perumpamaan Yesus tentang pengejaran terhadap kekayaan dunia

(Catatan: Bacaan ini diperuntukkan ke kita  dalam peralihan pendidikan 3 ½ tahun ke pendidikan 40 hari, janganlah kita masih saja mengejar kecukupan, menciptakan maaf-maaf dan mengira Tuhan akan memaklumi, sehingga walaupun seandainya kita dihormati warga kota, dinilai memiliki pertimbangan yang baik, namun perbuatan/cita-cita berfokus pada diri sendiri demikian disamakan Tuhan dengan HEWAN yang dibinasakan)

 

Melalui perumpamaan orang kaya yang bodoh, Kristus menunjukkan kebodohan orang yang menjadikan dunia ini kepunyaannya. Orang ini telah menerima segala sesuatu dari Allah. Matahari telah dibiarkan menyinari tanahnya karena cahayanya bersinar atas orang yang baik dan orang yang tidak baik. Hujan dari langit turun atas orang yang jahat maupun atas orang yang baik. Tuhan telah menyebabkan tumbuh-tumbuhan berkembang dan ladang-ladang membawa hasil yang limpah. Orang yang kaya bingung apa yang harus diperbuatnya dengan hasil tanahnya. Lumbung-lumbungnya penuh dan ia tidak punya tempat untuk menampung kelebihan dari tuaiannya. Ia tidak memikirkan tentang Allah, asai segala rahmat. Ia tidak menyadari bahwa Allah telah menjadikan dia seorang penatalayan dari harta-Nya, agar ia dapat menolong orang yang susah. Ia mempunyai kesempatan yang berbahagia menjadi pembagi sedekah Allah, tetapi ia hanya memikirkan tentang pekerjaan untuk kesenangannya sendiri. —–MKA 192.2

Keadaan orang miskin, yatim piatu, perempuan janda, orang yang sengsara, orang yang malang, dibawa ke dalam perhatian orang yang kaya itu; banyak tempat di mana ia dapat mencurahkan hasil sawahnya itu. Dengan mudah ia dapat melepaskan dirinya sebagian dari kelimpahannya dan banyak rumah tangga akan dibebaskan dari kekurangan, banyak orang yang lapar akan diberi makan, banyak orang yang telanjang diberi pakaian, banyak hati yang sedih dibuat gembira, banyak doa meminta roti dan pakaian akan dikabulkan dan suatu lagu pujian akan naik ke surga. Tuhan telah mendengar doa orang susah, dan dari kebaikanNya Ia telah menyediakan keperluan orang miskin.  Persediaan yang limpah untuk keperluan banyak orang telah dibuat dalam berkat-berkat yang dianugerahkan kepada orang kaya. Tetapi ia menutup hatinya kepada seruan orang miskin dan berkata kepada hamba-hambanya, “Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya, beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” —–MKA 192.3

Cita-cita orang ini tidak lebih tinggi dari cita-cita hewan yang akan binasa. Ia hidup seolah-olah tidak ada Allah, tidak ada surga, tidak ada kehidupan masa depan; seolah-olah segala sesuatu yang dia miliki adalah miliknya sendiri dan sama sekali tidak berutang kepada Allah atau manusia. Penulis Mazmur menerangkan orang kaya ini ketika ia menulis, “Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah.”  —–MKA 193.1

Orang ini telah hidup dan membuat rencana untuk dirinya sendiri. Ia melihat bahwa masa depannya tersedia berlimpah-limpah; tidak ada apa-apa baginya sekarang kecuali menimbun harta dan mengecap hasil-hasil pekerjaannya. Ia menganggap dirinya sebagai diperkenan lebih dari orang lain dan memujikan dirinya atas pengurusannya yang bijaksana. Ia dihormati oleh sesama warga kotanya sebagai seorang yang mempunyai pertimbangan yang baik dan sebagai seorang warga yang makmur. Karena “orang menyanjungnya, karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri.”  —–MKA 193.2

Satu-satunya perkara yang berharga baginya sekarang, justru tidak disimpannya. Dalam hidup untuk diri sendiri ia telah menolak kasih Ilahi yang akan mengalir keluar dalam pengasihan kepada sesama manusia. Dengan demikian ia telah menolak hidup itu sendiri. Karena Allah adalah kasih, dan kasih adalah hidup. Orang ini telah memilih perkara yang duniawi gantinya perkara rohani dan dengan perkara yang duniawi ia mati sia-sia. “Manusia yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.”  —–MKA 193.4

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jika ia tidak kaya di hadapan Allah.” Gambaran ini adalah benar untuk segala zaman. Engkau boleh membuat rencana untuk kebaikan diri sendiri saja, engkau boleh menimbun harta, engkau boleh membangun istana yang besar dan megah, seperti para pembangun zaman Babel kuno; tetapi engkau tidak dapat membangun dinding yang begitu tinggi dan begitu kuat untuk menghalangi jurukabar kebinasaan. —–MKA 194.1

Raja Belsyazar “berpesta dalam istana,” dan “memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu.” Tetapi tangan dari Dia yang tidak kelihatan menulis di atas dinding kata-kata kebinasaan dan derapan pasukan musuh terdengar di gerbang istana. “Pada malam itu juea terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu,“  dan seorang raja lawannya duduk di atas takhtanya. —–MKA 194.2

Hidup untuk diri sendiri berarti binasa. Ketamakan, keinginan untuk menguntungkan diri sendiri saja, memutuskan hubungan jiwa dengan kehidupan. Roh Setanlah yang hanya mau mendapat dan menarik untuk diri sendiri. Roh Kristus adalah memberi, mengorbankan diri demi kese-jahteraan orang lain. “Dan inilah kesaksian itu. Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.”  —–MKA 194.3

Itulah sebabnya Ia berkata, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” —–MKA 194.4

 

 

EARLY WRITINGS p. 119-125

 

Untuk yang belum berpengalaman

Saya melihat bahwa kaum sisa tidak siap menghadapi apa yang akan terjadi di bumi. Kebodohan, seperti kelesuan, tampaknya menggantung di pikiran sebagian besar dari mereka yang mengaku percaya bahwa kita sedang memiliki pesan terakhir. Malaikat yang menyertai saya berseru dengan kesungguhan yang mengerikan, “Bersiaplah! Bersiaplah! Bersiaplah! Karena murka Tuhan yang dahsyat akan segera datang. MurkaNya akan dicurahkan, tidak bercampur dengan belas kasihan, dan kamu tidak siap. Koyakkanlah hati, dan bukan pakaian. Suatu pekerjaan besar harus dilakukan bagi sisa-sisa yang tertinggal. Banyak dari mereka yang tinggal atas pencobaan-pencobaan kecil.” Malaikat itu berkata, “Legiun malaikat jahat ada di sekelilingmu, dan berusaha menekan kamu dalam kegelapan yang mengerikan, supaya kamu terjerat dan ditangkap. Pikiranmu terlalu mudah teralihkan dari pekerjaan persiapan dan kebenaran-kebenaran yang sangat penting untuk hari-hari terakhir ini. Dan kamu berkutat dengan pencobaan-pencobaan kecil dan membahas detail-detail kesulitan-kesulitan kecil untuk menjelaskannya demi kepuasan orang yang ini atau yang itu.” Percakapan telah berlarut-larut selama berjam-jam di antara pihak-pihak yang terlibat, dan bukan hanya waktu mereka yang terbuang, tetapi hamba-hamba Tuhan dipaksa untuk mendengarkan mereka, ketika hati kedua belah pihak tidak ditaklukkan oleh kasih karunia. Jika kesombongan dan sikap mementingkan diri sendiri dikesampingkan, lima menit saja sudah cukup untuk menyingkirkan banyak kesulitan. Malaikat-malaikat telah bersedih dan Allah tidak senang dengan waktu berjam-jam yang telah dihabiskan untuk membenarkan diri sendiri. Saya melihat bahwa Allah tidak akan tunduk dan mendengarkan pembenaran yang panjang, dan Dia tidak ingin hamba-hambaNya melakukannya, dan dengan demikian waktu yang berharga terbuang sia-sia yang seharusnya digunakan untuk menunjukkan kepada para pelanggar [120] kesalahan jalan mereka dan menarik jiwa-jiwa dari api.

Saya melihat bahwa umat Allah berada di tanah yang penuh pesona, dan bahwa beberapa orang telah kehilangan hampir semua rasa akan singkatnya waktu dan nilai dari jiwa. Kesombongan telah merayap di antara para pemelihara hari Sabat, kesombongan akan pakaian dan penampilan. Kata malaikat itu, “Para pemelihara hari Sabat harus mati bagi diri mereka sendiri, mati bagi kesombongan dan cinta akan pujian.”

Kebenaran, kebenaran yang menyelamatkan, harus diberikan kepada orang-orang yang kelaparan yang berada dalam kegelapan. Saya melihat banyak orang berdoa agar Tuhan merendahkan hati mereka, tetapi jika Tuhan menjawab doa mereka, itu akan dilakukan dengan hal-hal yang mengerikan dalam kebenaran. Adalah tugas mereka untuk merendahkan diri. Saya melihat bahwa jika peninggian diri dibiarkan masuk, hal itu pasti akan menyesatkan jiwa-jiwa, dan jika tidak dikalahkan akan menjadi bukti kehancuran mereka. Ketika seseorang mulai meninggikan diri di matanya sendiri dan berpikir bahwa ia dapat melakukan sesuatu, Roh Allah akan ditarik, dan ia akan terus berjalan dengan kekuatannya sendiri sampai ia digulingkan. Saya melihat bahwa satu orang kudus, jika dia benar, dapat menggerakkan tangan Tuhan; tetapi orang banyak bersama-sama, jika mereka salah, akan menjadi lemah dan tidak dapat melakukan apa-apa.

Banyak orang memiliki hati yang tidak tenang dan tidak rendah hati, dan lebih memikirkan keluhan dan pencobaan kecil mereka sendiri daripada jiwa-jiwa orang berdosa. Jika mereka memiliki kemuliaan Allah dalam pandangan mereka, mereka akan merasa prihatin terhadap jiwa-jiwa yang sedang binasa di sekitar mereka; dan ketika mereka menyadari keadaan mereka yang berbahaya, mereka akan berpegang teguh dengan penuh semangat, menjalankan iman kepada Allah, dan mengangkat tangan para hamba-Nya, sehingga mereka dapat dengan berani, namun dalam kasih, menyatakan kebenaran dan memperingatkan jiwa-jiwa untuk berpegang padanya sebelum suara manis belas kasihan itu lenyap. Kata malaikat itu, “Mereka yang mengaku nama-Nya belum siap.” Dan aku melihat ketujuh malapetaka terakhir datang ke atas kepala-kepala orang jahat yang tidak memiliki tempat berlindung, dan kemudian mereka yang telah berdiri di [121] jalan mereka akan mendengar celaan yang pahit dari orang-orang yang berdosa, dan hati mereka akan menjadi lemah di dalam diri mereka.

Kata malaikat itu. “Kamu telah memilih-milih masalah – memikirkan pencobaan-pencobaan kecil – dan orang-orang berdosa akan terhilang sebagai konsekuensinya.” Allah bersedia bekerja bagi kita dalam pertemuan-pertemuan kita, dan Ia berkenan untuk bekerja. Tetapi Iblis berkata, “Aku akan menghalangi pekerjaan itu.” Agen-agennya berkata, “Amin.” Orang-orang yang mengaku percaya kepada kebenaran memikirkan pencobaan dan kesulitan kecil yang telah diperbesar oleh Setan di hadapan mereka. Waktu terbuang sia-sia yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali. Musuh-musuh kebenaran telah melihat kelemahan kita, Allah telah berduka, Kristus terluka. Tujuan Setan telah tercapai, rencananya telah berhasil, dan dia menang.

—————————

 

Gembala-gembala palsu

Kelompok-kelompok yang berbeda dari orang-orang yang mengaku percaya pada Advent memiliki sedikit kebenaran, tetapi Allah telah memberikan semua kebenaran ini kepada anak-anakNya yang sedang dipersiapkan untuk hari Tuhan. Dia juga telah memberikan kepada mereka kebenaran-kebenaran yang tidak diketahui oleh kelompok-kelompok ini, dan tidak akan mereka pahami. Hal-hal yang dimeteraikan bagi mereka, Tuhan telah membukakan bagi mereka yang mau melihat dan siap untuk mengerti. Jika Tuhan memiliki terang baru untuk dikomunikasikan, Dia akan membiarkan orang-orang yang dipilih dan dikasihi-Nya memahaminya, tanpa mereka perlu menerangi pikiran mereka dengan mendengarkan mereka berada dalam kegelapan dan kesesatan.

Saya diperlihatkan perlunya orang-orang yang percaya bahwa kita sedang menerima pekabaran belas kasihan yang terakhir, untuk memisahkan diri dari mereka yang setiap hari menyerap kesesatan-kesesatan baru. Saya melihat bahwa baik yang muda maupun yang tua tidak boleh menghadiri pertemuan-pertemuan mereka; karena adalah salah untuk mendorong mereka sementara mereka mengajarkan kesesatan yang merupakan racun yang mematikan bagi jiwa dan mengajar untuk doktrin-doktrin perintah-perintah manusia. Pengaruh dari pertemuan-pertemuan semacam itu tidak baik. Jika Allah telah membebaskan kita dari kegelapan dan kesesatan seperti itu, kita harus berdiri teguh di dalam kebebasan yang telah ditetapkan-Nya.

[125] kita bebas dan bersukacita di dalam kebenaran. Allah tidak senang kepada kita apabila kita pergi mendengarkan kesesatan, tanpa diwajibkan untuk pergi; karena kecuali Dia mengirim kita ke pertemuan-pertemuan di mana kesesatan dipaksakan kepada orang-orang dengan kekuatan kehendak, Dia tidak akan memelihara kita. Para malaikat menghentikan penjagaan mereka atas kita, dan kita ditinggalkan pada jamuan makan malam musuh, menjadi gelap dan lemah olehnya dan kuasa malaikat-malaikat jahatnya; dan terang di sekeliling kita menjadi terkontaminasi oleh kegelapan. Saya melihat bahwa kita tidak punya waktu untuk dibuang-buang untuk mendengarkan dongeng. Pikiran kita tidak boleh dialihkan demikian, tetapi harus disibukkan dengan kebenaran yang ada sekarang, dan mencari hikmat agar kita dapat memperoleh pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang posisi kita, sehingga dengan kelemahlembutan kita dapat memberikan alasan pengharapan kita dari Alkitab. Sementara dapat doktrin-doktrin palsu dan kesalahan-kesalahan yang berbahaya menekan pikiran, pikiran tidak memikirkan kebenaran yang sesuai dan mempersiapkan bani Israel untuk berdiri pada hari Tuhan.

Tanya jawab buku 2:

Himbauan perkenalan dari tanya jawab ini, sebuah hotbah Stephanus bagi sidang di waktu ini

 

Tulisan VTH

Catatan analisa :

Demikianlah Tuhan sesuai kuasa takdir telah meninggikan Yusuf untuk ikut menduduki tahta Mesir untuk mempengaruhi Phiraun supaya mengijinkan Israel memasuki tanah itu.

 

Dalam cerita bangsa Israel adalah Allah sendiri yang membawa bangsa Israel menempati tanah Mesir dan hidup menyenangkan bahkan seperti raja-raja, namun mendekati Tuhan membawa pulang umatNya kembali ke tanah Kanaan, mereka perlu dibuat menderita supaya mereka tidak lagi merasa nyaman berada di tanah Mesir, maka sesuai judul “Hotbah Stefanus bagi sidang diwaktu ini” peristiwa pengalaman mereka ini menyadarkan kita bahwa kitapun akan menjalankan pengalaman-pengalaman berat ketika harus keluar dari Mesir kita sekarang ini,……Tuhan akan membiarkan kitapun akan dibuat kecewa/menderita dan tidak lagi nyaman hidup di dunia ini, supaya kita tidak lagi mengandalkan diri kita sendiri, dan sepenuhnya menggantungkan kebutuhan hidup kepada Tuhan

Berikutnya, untuk menarik mereka ke sana, la mendatangkan ke sana kelimpahan selama tujuh tahun, yang kemudian menyusul tujuh tahun kelaparan itu. Kemudian disampaikannya pesan kepada Yakub bahwa Yusuf masih hidup. Oleh berita yang sangat menggembirakan itu, bangkitlah di dalam hati bapanya suatu kerinduan yang tak dapat dihalangi untuk menengok anaknya. Hal inilah berikut derita kelaparan yang menimpa saudara-saudara Yusuf itu telah memaksa mereka untuk pindah memasuki tanah Phiraun yang berkelimpahan itu, di mana di sana mereka telah hidup seperti raja-raja.

 

 

Tetapi karena bukan direncanakan untuk membiarkan mereka di sana untuk selamanya, maka Tuhan tidak membiarkan hidup mereka terus menyenangkan seperti pada mulanya, supaya jangan mereka menolak mematuhi Musa apabila ia datang membawakan firman bahwa saatnya telah tiba bagi mereka untuk kembali pulang. Maka la mendatangkan lagi suatu takdir penyelamatan yang lain, kali ini membiarkan kesengsaraan menimpa mereka, supaya apabila dipanggil mereka akan menyambut dengan suka cita. Demikian itulah mereka telah jadi seperti budak-budak, bahkan lebih berat lagi, telah dirampas dari mereka anak-anak laki-lakinya, kemudian dengan pukulan-pukulan cemeti di punggung-punggung mereka secara kejam, mereka diharuskan menghasilkan lebih banyak lagi batu-batu bata.

 

 

Demikianlah kuasa Roh yang bergabung dengan ngerinya penderitaan dari perbudakan mereka yang berat di Mesir itu, telah merupakan dorongan kuat yang memaksa mereka untuk meninggalkan tanah kapir itu untuk kembali ke tanah airnya sendiri.

 

Ditunjukkan bahwa Roh Allah akan memanfaatkan kengerian penderitaan yang akan kita calon 144000 alami, jadi nanti pengalaman ini dimaksudkan untuk kita tidak mencintai kehidupan Mesir kita, Roh Allah  bukanlah menolong melepaskan kita dari penderitaan, melainkan akan sebagaimana pengalaman Ayub dahulu, yaitu membiarkan kita mengalaminya, ……ini semua pada dasarnya untuk kebaikan kita yaitu supaya kita mau  meninggalkan mesir dengan “suka cita” atau ada kerelaan (karena Tuhan tidak pernah mau memaksa),

 

Dengan sendirinya orang dapat berpikir, bahwa suatu umat yang secara sedemikian mengherankan telah dibebaskan Allah dari perbudakan, dan kemudian secara sama mentaajubkan telah dibuatkan Allah bagi mereka sebuah kerajaan, kini pasti tidak akan pernah lagi jatuh karena mereka adalah kuat. Tetapi karena melalaikan Kekuatan mereka, maka mereka kembali jatuh ke dalam tawanan. Dalam kelemahan sebagai budak-budak di bawah Phiraun, Allah telah mengangkat mereka mencapai kekuatan melebihi majikan-majikan Mesir mereka ; kini dalam kekuatan mereka sendiri sebagai majikan-majikan, la kembali merendahkan mereka menjadi tawanan bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Dua kali keajaiban.

 

Kita saksikan bahwa bila kita berpikir dengan pikiran kita manusia berdosa, mungkin kita akan mengira setelah umatNya mengalami penderitaan di Mesir tersebut dan telah mengikuti petunjukNya melewati banyak jenis pencobaan yang jadi ujian, mereka akan sudah pasti aman dan memperoleh kemenangan, namun kenyataannya selama kita masih di dunia ini, kita tidak ada dibolehkan untuk berpuas diri dan mengendorkan pertahanan diri……..hal yang sangat perlu kita ingat dalam nasihat disini bukanlah ketika dalam perjalanan 40 tahun, namun ketika mereka sudah di tanah Kanaan dan bahwa telah berdaulat menentukan jalan dirinya sendiri. Berarti disini menunjukkan ke kita untuk jangan pernah merasa telah lengkap atau puas merasa diri layak, walaupun tampak berbagai petunjuk yang telah dibukakan kita telah ikuti dan secara maksimal usaha telah laksanakan……SELAMA SETAN MASIH ADA, KITA TIDAK BOLEH BERISTIRAHAT, seperti kata-kata berikut:

…. Selama setan memerintah, maka kita harus berhasil mengalahkan diri sendiri, menguasai semua dosa untuk menang; sepanjang hayat dikandung badan tidak akan ada satupun tempat berhenti.. — The Acts of the Apostles, p. 560.

 

Di sini terdapat bukti yang pasti, bahwa Tuhan telah mendirikan mereka, dan Tuhan juga yang meruntuhkan mereka (2 Tawarikh 36 : 13 – 23), “supaya mereka,” sesuai firman-Nya. “dapat mengetahui semenjak dari matahari terbit, dan semenjak dari barat, bahwa tidak ada lagi yang lain selain AKU. AKU lah Tuhan, dan tidak ada lagi yang lain.” Yesaya 45 : 6.

 

 

Dimulai dengan 120 orang murid yang dipenuhi Roh, maka sidang Kristen Yahudi ini telah mentobatkan 3000 jiwa pada hari Pantekosta oleh menghotbahkan hanya sebuah hotbah sederhana yang mengandung kuasa Roh, dan kemudian “menambahkan kepada sidang setiap harinya sedemikian ini sesuai orang-orang yang akan diselamatkan.” Kisah Rasul-Rasul 2 : 47.

 

 

Pengumpulan jiwa-jiwa yang banyak ini sedemikian rupa telah menimbulkan amarah Setan, sehingga ia membalasnya dengan “menganiayakan perempuan itu (sidang Kristen Yahudi itu) yang telah melahirkan bayi laki-laki itu” (Wahyu 12 : 13), sedemikian rupa untuk menghalanginya mentobatkan orang, dan untuk menghalangi orang-orang yang telah berhasil ditobatkannya untuk menggabungkan diri dengannya.

 

 

(Dari bantuan dasar fakta-fakta, bahwa anak wanita itu, yaitu Kristus, yang “telah dibawa kepada Allah,” ayat 5, telah lahir di dalam sidang Yahudi, dan bahwa sidang Kristen muncul dari sidang Yahudi, mendirikan dengan kokoh wanita itu sebagai lambang hamba-hamba Allah yang setia baik di dalam sidang-sidang wasiat lama maupun wasiat baru).

 

 

Sebagai akibat penganiayaan terhadap perempuan itu, maka Setan, gantinya menghalangi rencana ilahi itu, ia malahan secara ironis hanya membantunya. Memang, di ladang sidang (Matius 13 : 38) hanya bertumbuh “gandum-gandum” yang murni, “pukat” itu (ayat 47) hanya menangkap “ikan-ikan” yang baik saja, maka aniaya terhadap mereka yang sedemikian ini akan membuat orang-orang yang setia itu makin berani memihak kepada Kebenaran dan menjadi anggota-anggota dari sekte agama yang dibenci. Oleh sebab itu, setelah melihat hasil-hasil penindasannya, maka segeralah ia merubah taktiknya.

 

Terakhir dari tulisan ini, sama dengan catatan no. 2 diatas, yaitu sebagaimana pengalaman Ayub dahulu, bukan Tuhan bekerja sama dengan setan (Testimonies vol. 5, p. 98), tetapi Tuhan mengijinkan …yang artinya dapat kita pahami bahwa Tuhan jadikan cobaan yang dibuat setan itu sebagai materi ujianNya,

 

Dari ulangan sejarah umat Allah yang panjang ini kita saksikan, bahwa Ibrahim adalah satu-satunya orang, terhadap siapa Allah tidak pernah memaksa untuk memperoleh hasil-hasil yang diingini, dengan menggunakan sesuatu selain dari perintah sederhana yang mengatakan: “Keluarlah kamu dari negerimu, dan dari bangsamu, dan dari rumah bapakmu, pergi ke suatu negeri yang akan Ku-tunjukkan kepadamu.” (Kejadian 12 : 1).

Kepatuhan dan kesetiaan iman Ibrahim dan penurutannya tanpa ragu-ragu kepada perintah Tuhan yang sederhana dalam setiap kesempatan, telah membuatnya menjadi seorang “teman Allah,” “bapa dari segala orang beriman,” dan sebuah tonggak besar kebenaran yang hidup, dengan sebuah nama untuk dikenang dan dipuja sepanjang masa.

Iman Yakub kepada janji-janji Allah, dan kerinduannya yang kuat untuk mempekerjakan dirinya ke dalam rencana-rencana Tuhan dan untuk melaksanakannya, berhasil dengan dirinya menjadi leluhur dari pada buah-buah pertama atau dinas kependetaan sidang-Kerajaan itu — yaitu mereka yang akan berdiri bersama-sama dengan Anak Domba itu di Gunung Sion (Wahyu 14 : 1).

Kesetiaan Yusuf tanpa mengenal kompromi kepada prinsip yang telah menghantarkan dia ke dalam kedudukan yang tertinggi, dalam mana ia telah menjadi penyedia kebutuhan dunia yang terbesar, sebagai contoh dari Kristus, Penyedia Kerohanian yang Besar itu.

Musa, dalam kelemah-lembutannya (kesederhanaan) dan dalam tekadnya “untuk lebih baik menderita sengsara bersama-sama dengan umat Allah dari pada menikmati kepelesiran dosa untuk sementara” (Iberani 11 : 25), telah bangkit menjadi jenderal yang terbesar, pemimpin, dan penyelamat dari segala zaman, dan bahkan berdiri pada gunung tranfigurasi.

Pengorbanan hidup rasul-rasul bagi kepentingan Kristus dan Kebenaran-Nya telah memenangkan bagi mereka kehormatan yang tinggi yaitu nama-nama mereka ditempatkan pada landasan-landasan Kota Suci (Wahyu 21 : 14).

Keberanian Luther dan usaha-usahanya yang tekun untuk mengangkat Kebenaran yang telah diinjak-injak itu (Daniel 8 : 11, 12; 11 : 31), telah melahirkan faham Protestantisme.

Pada bagian ini kita calon 144000 diingatkan untuk berlaku pertama seperti Abraham dengan kerelaannya tanpa paksaan demi memperoleh hasil yang diinginkan……..mau keluar dr kehidupannya, dari tempat tinggal kelahiran dan keluarganya tanpa mengkawatirkan tempat yang Tuhan sediakan apakah hidupnya terjamin ataukah lebih buruk dari tempat timggalnya di Mesopotamia, negri Haran. Ditulisan Victor T. Houteff pada buku Kepercayan-kepercayaan dasar Davidian Masehi Advent Hari Ketujuh, pada bagian jam kesebelas, Peralihan Jabatan dan Ellen G. White di buku Early Writing, Tugas dalam Pandangan Waktu Kesulitan  dengan tegas kita disarankan pada tahapan akhir kelepasan diperintahkan berpisah dan menyusutkan segala kepentingan pribadi kita dan menikah dengan pekerjaan Tuhan.

 

Kita calon 144000 juga diharuskan memiliki:

a.      Iman Yakub, yaitu dari cerita ia berjuang memegang malaikat untuk melindunginya, kita diajarkan untuk percaya dan bergantung sepenuhnya kepada perlindunganNya,

b.      Kesetiaan Yusuf, dimana kita belajar dari pengalamannya tentang ujian ketahanan mentalnya dari seorang anak yang diistimewakan bapaknya bertahan tidak bersungut di dalam pengalaman direndahkan serendah-rendahnya dan terhina tanpa mengetahui apa yang terjadi kelanjutan hidupnya,

c.       Musa yang lembah lembut, walaupun ia harus sama seperti Yusuf direndahkan dan bekerja dibidang terhina, dan kemudian saat tugasnya datang ia adalah orang yang paling disalahkan setiap kekecewaan menimpa bangsa Israel, padahal ia sama sekali dari segi materi keduniawian tidaklah diuntungkan keluar dari Mesir tersebut,

d.      Pengorbanan rasul-rasul, kita kita diajarkan bahwakan HIDUPnyapun mereka rela korbankan, sejak pemanggilan mereka, termasuk Matius yang pemungut cukai, yang tentunya cukup memiliki dan hampir sama dengan anak muda kaya yang datang kepada Yesus, rela dan tidak ragu-ragu mengalahkan mengorbankan kepentingan-kepentingan hidup sehari.

e.      Luther juga sama bersama pengikutnya bekerja dengan tekun tidak setengah-setengah rela kehilangan segala-galanya sama seperti rasul-rasul dahulu hingga kematiannya tiba.

 

Setelah membaca isi tulisan ini yang diberi judul oleh VTH sebagai khotbah Stephanus, kita tidak ada sama sekali menemukan peristiwa penganiayaan pengalaman pribadi Stefanus, melainkan sebagian besar perjalanan bangsa Israel yang dibicarakan dan bahkan tentang peristiwa pengalaman orang-orang di masa kegelapan agama hingga pembersihan sidang yang sama sekali tidak diketahui oleh Stephanus, maka pertanyaan tentunya timbul mengapa judulnya demikian?……jawaban yang bisa kita simpulkan  tulisan tersebut merupakan suatu pemberitahuan dini tentang pembangunan dan reformasi yang Tuhan akan terapkan ke kita, haruslah kita masing-masing bersiap-siap bahwa jalan kita tidaklah mulus dan aman seperti keadaan sekarang ini, melainkan penuh lika-liku penderitaan yang dapat menciptakan patah semangat, undur….lalu bisa KALAH seperti mayoritas bangsa israel contohnya.

Selain itu pekabaran yang dibawakan dicontoh saingankan dari pekabaran Stefanus adalah gambaran beratnya aniaya yang mengarah kepada kematian yang akan dihadapi dan sulitnya kebenaran yang kita bawakan dapat diterima, bahkan tampak sia-sia seperti Stefanus belum sempat melihat hasilnya, satu perbedaannya dengan calon 144000 adalah dijanjikan bahwa kematian akan melarikan diri daripadanya.

 

Sehingga ketergantungan kita kepada Tuhan yang sepenuhnya, bukan mencampur dengan kekuatan kita manusia……adalah kunci kemenangan kita menjadi 144000.

 

EARLY WRITING P.57-58

Tugas dalam Pandangan Waktu Kesulitan

 

Tuhan telah menunjukkan kepada saya berulang kali bahwa adalah bertentangan dengan Alkitab untuk membuat persediaan apa pun untuk kebutuhan duniawi kita di masa kesusahan. Saya melihat bahwa jika orang-orang kudus memiliki persediaan makanan di rumah atau di ladang pada masa kesusahan, ketika pedang, kelaparan, dan penyakit sampar ada di negeri itu, maka makanan itu akan dirampas oleh tangan-tangan yang kejam, dan orangorang asing akan menuai ladang mereka. Maka akan tiba saatnya bagi kita untuk percaya sepenuhnya kepada Tuhan, dan Dia akan menopang kita. Saya melihat bahwa roti dan air kita akan terjamin pada waktu itu, dan kita tidak akan kekurangan atau menderita kelaparan, karena Allah sanggup menghamparkan meja bagi kita di padang gurun. Jika perlu, Ia akan mengirimkan burung-burung gagak untuk memberi makan kita, seperti yang Ia lakukan untuk memberi makan Elia, atau menurunkan manna dari langit, seperti yang Ia lakukan untuk bangsa Israel.

Rumah-rumah dan tanah-tanah tidak akan berguna bagi orang-orang kudus pada masa kesusahan, karena mereka harus melarikan diri di hadapan massa yang marah, dan pada saat itu harta benda mereka tidak dapat digunakan untuk memajukan tujuan kebenaran masa kini. Saya ditunjukkan bahwa adalah kehendak Allah bahwa orang-orang kudus harus melepaskan diri dari setiap beban sebelum datangnya masa kesusahan, dan membuat perjanjian dengan Allah melalui pengorbanan. Jika mereka meletakkan harta benda mereka di atas mezbah dan dengan sungguh-sungguh memohon kepada Allah untuk melakukan tugasnya, Ia akan mengajarkan kepada mereka kapan mereka harus membuangnya. Maka mereka akan bebas pada masa kesesakan dan tidak memiliki beban yang membebani mereka.

Saya melihat bahwa jika ada yang berpegang pada harta benda mereka dan tidak bertanya kepada Tuhan tentang kewajiban mereka, Dia tidak akan memberitahukan kewajiban mereka, dan mereka akan diizinkan untuk mempertahankan harta benda mereka, dan pada saat kesulitan, harta muncul di hadapan mereka seperti gunung yang mereka, benda itu akan menghancurkan dan mereka akan mencoba untuk menyingkirkannya, tetapi tidak akan mampu. Saya mendengar beberapa orang berduka seperti ini: “Penyebabnya adalah kelaparan, umat Tuhan kelaparan akan kebenaran, dan kami tidak berusaha untuk memenuhi kekurangan itu; sekarang harta benda kami tidak berguna. Oh, seandainya kami telah melepaskannya dan mengumpulkan harta di surga!” Aku melihat bahwa persembahan tidak bertambah, tetapi justru berkurang dan habis. Saya juga melihat bahwa Tuhan tidak mengharuskan semua umat-Nya untuk membuang harta benda mereka pada saat yang sama; tetapi jika mereka ingin diajar, Dia akan mengajari mereka, pada saat dibutuhkan, kapan harus menjual dan berapa banyak yang harus dijual. Beberapa orang telah diminta untuk membuang harta benda mereka di masa lalu untuk menopang tujuan Advent, sementara yang lain telah diizinkan untuk menyimpan harta benda mereka sampai waktu yang dibutuhkan . Kemudian, ketika kebutuhan itu muncul, tugas mereka adalah menjualnya.

Saya melihat bahwa pesan, “Juallah apa yang kamu miliki dan bersedekahlah,” belum diberikan, oleh beberapa orang, dalam terang yang jelas, dan tujuan dari perkataan Juruselamat kita belum disajikan dengan jelas. Tujuan dari menjual bukanlah untuk memberi kepada mereka yang mampu bekerja dan menghidupi diri mereka sendiri, tetapi untuk menyebarkan kebenaran. Adalah dosa untuk mendukung dan menikmati [58] kemalasan mereka yang mampu bekerja. Beberapa orang sangat bersemangat untuk menghadiri semua pertemuan, bukan untuk memuliakan Allah, tetapi untuk “roti dan ikan”. Orang-orang seperti itu lebih baik berada di rumah dan bekerja dengan tangan mereka, “apa yang baik,” untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka dan untuk memiliki sesuatu untuk diberikan guna menopang perjuangan kebenaran masa kini yang berharga. Sekaranglah waktunya untuk mengumpulkan harta di surga dan menata hati kita, siap untuk menghadapi masa kesusahan. Hanya mereka yang memiliki tangan yang bersih dan hati yang murni yang akan bertahan di masa-masa sulit itu. Sekaranglah waktunya bagi hukum Allah untuk ada di dalam pikiran kita, di dahi kita, dan tertulis di dalam hati kita.

Tuhan telah menunjukkan kepada saya bahaya dari membiarkan pikiran kita dipenuhi dengan pikiran dan kekhawatiran duniawi. Saya melihat bahwa beberapa pikiran disesatkan dari kebenaran masa kini dan kecintaan akan Alkitab dengan membaca buku-buku menarik lainnya; yang lainnya dipenuhi dengan kebingungan dan kekhawatiran akan apa yang akan mereka makan, minum, dan kenakan. Beberapa orang melihat terlalu jauh ke depan untuk kedatangan Tuhan. Waktu telah berjalan beberapa tahun lebih lama dari yang mereka harapkan; oleh karena itu mereka berpikir bahwa waktu akan terus berjalan beberapa tahun lagi, dan dengan cara ini pikiran mereka dipimpin dari kebenaran saat ini, untuk mengejar dunia. Dalam hal-hal ini saya melihat bahaya besar, karena jika pikiran dipenuhi dengan hal-hal lain, kebenaran saat ini akan tertutup, dan tidak ada tempat di dahi kita untuk meterai Allah yang hidup. Saya melihat bahwa waktu bagi Yesus untuk berada di tempat maha kudus sudah hampir habis dan waktu itu hanya tinggal sedikit lagi. Waktu luang yang kita miliki seharusnya digunakan untuk menyelidiki Alkitab, yang akan menghakimi kita di hari terakhir.

Saudara-saudariku yang kekasih, biarlah perintah-perintah Allah dan kesaksian Yesus Kristus senantiasa ada dalam pikiranmu dan biarlah itu mengalahkan pikiran-pikiran dan kekuatiran-kekuatiran duniawi. Ketika engkau berbaring dan ketika Anda bangkit, biarlah mereka menjadi meditasi Anda. Hidup dan bertindaklah sepenuhnya dengan mengacu pada kedatangan Anak Manusia. Waktu pemeteraian sangat singkat, dan akan segera berakhir. Sekaranglah waktunya, sementara keempat malaikat memegang keempat penjuru mata angin, untuk memastikan panggilan dan pemilihan kita.

 

————————————–

Mereka yang tidak mau menyangkali dirinya dan menderita di hadirat Allah, tidak mau berdoa dengan tekun dan sungguh-sungguh memohon berkatNya, tidak akan memperolehnya.

 

Masa kesusahan dan siksaan dihadapan kita memerlukan suatu iman yang dapat menanggung keletihan, penundaan dan kelaparan,—iman yang tidak akan pudar, walaupun dicobai dengan begitu berat. Masa pencobaan diberikan kepada semua orang untuk bersedia kepada hari itu. Yakub menang karena ia tekun dan berketetapan. Kemenangannya adalah suatu bukti dari kuasa doa yang sungguh-sungguh. Semua orang yang mau berpegang kepada janji-janji Allah, sebagaimana ia lakukan dan sebagaimana ia bersungguh-sungguh dan tekun, akan berhasil sebagaimana Yakub berhasil. Mereka yang tidak mau menyangkali dirinya dan menderita di hadirat Allah, tidak mau berdoa dengan tekun dan sungguh-sungguh memohon berkatNya, tidak akan memperolehnya. Bergumul dengan Allah—betapa sedikit orang yang mengerti apa artinya itu! Betapa sedikitnya orang yang sangat rindu jiwanya ditarik kepada Allah, sampai segala kuasa dikerahkan. Bilamana gelombang kesukaran dan keputusasaan yang tak terkatakan itu menyapu para pemohon, betapa sedikit yang bergantung dengan iman yang teguh kepada janji-janji Allah—-KA 655.1

 

——————

 

Mereka yang hanya sedikit melatih imannya sekarang, berada dalam bahaya yang sangat besar…… Kita harus membiasakan diri sekarang dengan Allah dengan cara membuktikan janji-janji-Nya (membuangkan/kehilangan berhala-berhala emas, rumah, atau tanah-tanah yang subur)

 

Mereka yang hanya sedikit melatih imannya sekarang, berada dalam bahaya yang sangat besar untuk jatuh ke bawah kuasa penipuan Setan dan perintah pemaksaan hati nurani. Dan walaupun mereka tahan terhadap ujian itu, mereka akan terjerumus ke dalam kesusahan dan penderitaan yang lebih dalam pada waktu kesesakan itu, sebab mereka tidak membiasakan diri percaya kepada Allah. Pelajaran-pelajaran iman yang telah mereka lalaikan, terpaksa mereka harus pelajari di bawah tekanan keputusasaan yang hebat. Kita harus membiasakan diri sekarang dengan Allah dengan cara membuktikan janji-janji-Nya. Malaikat-malaikat mencatat setiap doa yang tekun dan sungguh-sungguh. Memang baik kita melakukan kepentingan diri kita namun tidak melalaikan persekutuan dengan Allah, yang paling dalam, penyangkalan diri yang paling besar dengan persetujuan-Nya adalah lebih baik daripada kekayaan, kehormatan, kesenangan dan persahabatan tanpa persetujuan-Nya. Kita harus mengambil waktu untuk berdoa. Jikalau kita membiarkan pikiran kita disibukkan oleh penarikan-penarikan dunia ini, mungkin Tuhan akan memberikan waktu bagi kita untuk membuangkan dari kita berhala-berhala emas, rumah, atau tanah-tanah yang subur—-KA 655.2

 

Semua yang memiliki iman sejati akan diuji dan dicobai. Mereka mungkin harus kehilangan rumah dan tanah, dan bahkan sanak saudara, karena pertentangan yang sengit. “Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain,” Kristus berkata, “Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.” (Matius 10:23)—- 3SM 401, 402

 

Pencobaan akan datang menerpa kita. Ketidakadilan terjadi dimana-mana di tempat engkau tidak menduganya. Babak kelam akan terbuka dengan sangat mengerikan, meluluhkan jiwa; tetapi kita tidak boleh gagal atau pun putus asa karena kita mengetahui bahwa penggenapan janji adalah di atas takhta Allah.

Kita akan menjadi sasaran pencobaan yang berat, pertentangan, kehilangan, penderitaan; tetapi kita mengetahui bahwa Yesus telah melewati semua ini. Pengalaman ini berharga bagi kita. Keuntungan bukan hanya terbatas pada kehidupan yang singkat ini saja. Tetapi sampai kepada kehidupan kekal….

Pada saat kita mendekati akhir masa sejarah dunia ini, kita mengalami kemajuan yang pesat dalam pertumbuhan Kristen, atau memburuk dengan cara yang sama.—-Letter 1f, 1890

—————-

 

Setan akan menjerat umatNya dengan harta duniawi dan memikul beban berat, hati mereka dipenuhi segala urusan kehidupan ini.

 

Hanya mereka yang menjadi pelajar Alkitab yang tekun dan rajin serta yang telah menerima kasih kebenaran, yang akan dilindungi dari penipuan yang hebat yang menawan dunia ini. Oleh kesaksian Alkitab mereka ini akan mengenali penipu itu dalam penyamarannya. Ujian akan datang kepada semua orang. Oleh penyaringan pencobaan, orang-orang Kristen sejati akan nyata. Apakah umat Allah sekarang berdiri teguh di atas firmanNya sehingga mereka tidak akan tunduk kepada bukti-bukti yang berdasarkan pancaindera mereka? Dalam kemelut yang seperti itu, apakah mereka mau bergantung kepada Alkitab, dan hanya kepada Alkitab saja? Jika mungkin, Setan akan mencegah mereka untuk mengadakan persiapan kepada hari itu. Ia akan mengatur masalah-masalah sedemikian rupa sehingga menghalangi jalan mereka, menjerat mereka dengan harta-harta duniawi, menyebabkan mereka memikul beban yang berat dan melelahkan, sehingga hati mereka dipenuhi dengan segala urusan kehidupan ini, dan hari pencobaan itu boleh datang menimpa mereka seperti datangnya seorang pencuri.—–KA 659.1

 

——————————–

Sebuah contoh atau ramalan dari khayal/mimpi Ellen G. White

 

 “Malam itu saya bermimpi, bahwa saya berada di Bettle Creek sementara memandang keluar melalui sisi kaca pada pintu, maka ku tampak suatu rombongan yang sedang berbaris maju mendatangi rumah, dengan berdua-dua. Mereka tampaknya tegas dan bertekad. Saya mengenal mereka dengan baik, lalu saya menoleh hendak membuka pintu depan untuk menyambut mereka, namun ku pikir saya hendak melihat kembali. Pemandangan itu berubah. Rombongan itu kini memperlihatkan bentuk suatu upacara Katholik. Seseorang membawa di dalam tangannya sebuah salib, seorang lainnya membawa sesuatu alat buluh. Dan sementara mereka itu mendekat, maka orang yang membawa alat buluh itu membuat lingkaran sekeliling rumah, sambil mengatakan sebanyak tiga kali : ‘Rumah ini adalah terlarang. Barang-barangnya harus disita. Sekaliannya telah berbicara menentang tata-tertib kami yang suci.’ Saya dicekam ketakutan, lalu saya berlari melalui rumah, keluar dari pintu utara, lalu mendapati diri saya di tengah-tengah suatu rombongan orang, sebagiannya saya kenal, tetapi saya tidak berani mengucapkan sepatah-kata kepada mereka karena takut dikhianati. Saya berusaha mencarikan suatu tempat istirahat dimana saya dapat meratap dan berdoa tanpa dilihat orang yang ingin tahu kemanapun saya menoleh. Saya berulang kali mencoba, ‘Sekiranya saya dapat hanya memahami hal ini ! Sekiranya mereka mau memberitahukan kepada saya apa yang telah saya katakan, atau apa yang telah saya perbuat!’

“Saya banyak meratap dan berdoa setelah saya melihat barang-barang kami disita. Saya mencoba membaca perasaan simpathi atau kasihan terhadap diri saya pada pandangan orang-orang yang mengelilingi saya, dan menandai wajah kebanyakan orang yang kukira akan berbicara kepada saya dan menghiburkan saya sekiranya mereka tidak takut bahwa mereka akan dimata-matai oleh orang lain. Saya mencoba untuk meloloskan diri dari rombongan orang banyak itu, namun karena melihat bahwa saya telah dimata-matai, maka saya merahasiakan semua niat hati saya. Saya mulai lagi meratap dengan nyaring sambil mengatakan: ‘Sekiranya mereka mau hanya memberitahukan kepada saya apa yang telah saya perbuat, atau apa yang telah saya katakan !’ Suamiku yang tidur di dalam ruangan yang sama, setelah mendengar aku meratap dengan nyaringnya, lalu membangunkan daku. Bantalku basah dengan air mataku, dan roh-roh depresi yang sangat menyedihkan menimpa diriku.” — Testimonies, vol. 1, p. 578.

 

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart