<< Go Back

Sabat 18 Juli 2026

 

RENUNGAN PENDAHULUAN

CARANYA KERAJAAN ITU DATANG

Orang-orang Yahudi telah membangun sebuah konsep pengertian yang keliru dari hal apa Kerajaan yang akan datang itu, dan bagaimana serta kapan Kerajaan itu akan datang, dan dengan demikian itu apabila Tuhan membentangkan kekeliruan-kekeliruan mereka, maka mereka merasa terhina. Mereka menjadi sangat marah, bukan karena Kerajaan itu yang teIah diterangkan oleh Juruselamat sebagai yang tidak banyak berkelimpahan dan praktis dari pada yang mereka pernah bayangkan, melainkan karena kekeliruan-kekeliruan mereka itu telah ditelanjangi. Demikianlah umat kesayangan sorga itu, yaitu orang-orang Yahudi, telah menimbun kesalahan demi kesalahan Ialu membawakan atas dirinya sendiri malu dan kebinasaan.

Haruskah pengertian Kristen dari hal Kerajaan itu juga akan keliru, dan haruskah kita gagal untuk mengambiI manfaat dari pada kesalahan-kesalahan orang-orang Yahudi itu, lalu kemudian kejatuhan kita akan bahkan Iebih besar dari pada orang-orang Yahudi itu. Olehnya itu marilah kita menyingkirkan setiap perkiraan yang mungkin kita miliki, lalu menyambut Kebenaran sajian Tuhan yang akan membawa kepada kita pengertianNya dari hal Kerajaan itu secara segar pada hari ini:

Matius 13 : 24 – 26:

“Sebuah perumpamaan lain dibentangkannya kepada mereka, dengan mengatakan: Kerajaan sorga itu diumpamakan dengan seseorang yang menabur benih yang baik di ladangnya. Tetapi sementara orang tidur, maka datanglah musuhnya lalu menaburkan benih-benih lalang di antara gandum, lalu pergiIah ia. Tetapi apabila gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, maka tampaklah juga lalang-lalang itu?”

Lalang lalang pengganggu itu yang tumbuhnya lebih tinggi dan lebih kuat dari pada gandum diilhami oleh Setan, lalu oleh mereka diciptakan teori-teori yang keliru mengenai rencana Allah. Lalang-lalang itu sesuai dengan perumpamaan itu adalah demikian hampir sama dengan gandum sehingga mereka sukar dikenal terkecuali sesudah mereka itu berbuah; artinya, mereka itu dapat dikenal hanya dari buah-buah terakhir yang dihasilkan oleh pekerjaan mereka.

Dan apakah yang akan terjadi dengan buah-buah ini? Apa lagi yang lain dari pendapat-pendapat yang bukan diilhami sorga dapat kamu harapkan di dalam sidang kalau bukan sifat mementingkan diri, sifat egois, keras kepala, keduniawian, keragu-raguan, kebencian terhadap tegoran dan terang terhadap perbuatan perbuatan jahat mereka? Bukankah itulah tujuan mereka untuk meninggikan dirinya sendiri dari pada meninggikan Kristus dan KebenaranNya?

“Perhatikan juga ini, bahwa pada akhir zaman akan datang kelak suatu masa yang sukar. Karena segala orang akan mengasihi dirinya sendiri, dan tamak akan uang, membesarkan dirinya, sombong, mengumpat orang, durhaka kepada ibu bapa, tiada syukur, fasik, tiada berpengasihan, tiada mau berdamai, memfitnah orang, tiada memerintahkan dirinya, kejam, tiada gemar terhadap yang baik, penghianat, keras kepala, tinggi diri, melebihkan kesenangan akan kepelesiran dari pada mengasihi akan Allah, merupakan diri seperti orang beribadah, tetapi menolak akan kuasa ibadah. Dari yang sedemikian inilah supaya menjauhkan diri. Karena mereka yang semacam inilah yang mencuri masuk ke dalam rumah-rumah, lalu melarikan perempuan-perempuan yang bodoh yang penuh beban dosa, yang terbawa oleh berbagai keinginan nafsu, yang senantiasa belajar tetapi tiada pernah sampai kepada pengetahuan akan Kebenaran itu.” 2 Timotius 3 : 1 – 7.

Matius 13 : 27 – 30:

“Maka datanglah segala hamba dari orang yang mempunyai ladang itu, lalu berkata kepadaNya, Tuan, bukankah Tuan menabur benih yang baik di ladang Tuan? Lalu dari manakah lalang-lalang itu? Maka sahutNya kepada mereka itu, Seorang musuh telah melakukan yang demikian itu. Maka kata segala hamba itu kepadaNya, Maukah Tuan agar kami pergi mencabut semuanya itu? Tetapi kataNya: Jangan, agar tidak sementara kamu mencabut lalang-lalang itu kamu akan mencabut juga gandum sertanya. Biarkanlah kedua-duanya bertumbuh bersama-sama sampai kepada masa penuaian; maka pada masa penuaian itu Aku akan berkata kepada para penuai, Kumpulkanlah Ialang-lalang itu dahulu, dan ikatkanlah semuanya berberkas-berkas untuk dibakar, tetapi kumpulkanlah gandum itu ke dalam Iumbung.”

Di sini kita saksikan, bahwa bahkan pendapat-pendapat dari hamba-hamba Allah yang tersetia sekalipun terhadap pendirian KerajaanNya itu serta mengenai pencabutan lalang-lalang itu adaIah tidak sama dengan rencana-rencana Allah…………..

Oleh karena itu seseorang yang hanya karena tertarik oleh Kebenaran yang maha kuasa itu tidaklah akan berarti ia akan selamat. Kesempatannya untuk tinggal selamanya dengan Kebenaran itu tergantung kepada pemenuhannya terhadap keinginan-keinginan Tuhan dari padanya…………..

(Selanjutnya melalui Matius 13:31-33 perumpamaan biji sesawi dan ragi dijelaskan)…. bahwa Ia yang akan memulaikan Kerajaan itu akan merupakan sesuatu yang sangat tidak berarti, bertentangan dengan semua harapan manusia. Namun bagaimanapun juga, seperti halnya tanaman sesawi itu akan menjadi yang terbesar dari pada segala rerumputan, maka demikianlah Kerajaan itu akan bertumbuh dan menjadi terbesar dari pada segala kerajaan. Ini bertentangan dengan semua rencana manusia, tetapi adalah hakekatnya, bahwa selain dari pada orang-orang yang seperti Nicodemus, maka orang-orang yang terus saja merasa malu untuk dipersamakan dengan sesuatu yang tidak terkenal, dibenci, dan tak berarti, akan kelak sebagai hasilnya tertinggal di luar Kerajaan itu.

(Kemudian ditambahkan dengan perumpamaan-perumpamaan Matius 13 : 44, 45, 46 tentang kerelaan menjualkan segala sesuatu yang ada padanya untuk mendapatkan sesuatu benda terpendam di suatu tanah dan mutiara yang mahal)……. Apa yang dijual mereka itu tentunya bukanlah hanya segala tanah atau rumah, melainkan apa saja, yang sekiranya tidak dijual, akan menghalangi mereka masuk ke dalam Kerajaan itu. Mereka yakin, bahwa mereka sedang melakukan suatu investasi yang terbaik, sehingga mereka kelak akan memperoleh jauh lebih banyak dari hasil investasi itu diperbandingkan dengan investasi itu sendiri. Sebaliknya, mereka yang bodoh, yaitu orang-orang yang tidak mengerti akan nilai dari pada benda-benda terpendam itu, akan merasa takut untuk melakukan investasi, maka akibatnya mereka akan rugi.

(Melalui Lukas 14 : 16-17; Victor T. Houteff berbicara tentang ada seseorang membuat perjamuan besar, dan pada waktunya tiba disuruhnya hambaNya untuk menyampaikan undangan kepada para undangan, ayat 18 – 20 berbicara berbagai alasan-alasan kepentingan sendiri dari undangan, seperti ada yang telah membeli sebidang tanah, membeli lembu lima pasang dan seorang lagi baru kawin, sementara yang semula tidak diundang yaitu:) yang berada dijalan-jalan raya dan dilorong-lorong, yaitu mereka yang tidak banyak memiliki harta milik dan yang berkekurangan dalam segala perkara, mereka bersukaria untuk masuk ke perjamuan itu. (Lalu berkaitan dengan itu Victor T. Houteff menjelaskan:) adalah lebih mudah bagi seekor onta dari pada bagi seorang kaya untuk melewati Iobang jarum (Matius 19 : 24).

Di sini tepatlah kata-kata pepatah kuno yang berbunyi, Hampir seIamat, tetapi binasa seluruhnya.’ Di sini terlihatlah jeIas, bahwa menerima kebenaran yang satu tetapi menolak yang selanjutnya, tidak akan bermanfaat apapun bagi seseorang. Panggilan yang terakhir kepada masing-masing individu adalah yang terbanyak artinya……..—–Amaran Sekarang jld 2 No. 11.

 

“JIKA HIDUP KEAGAMAANMU TIDAK LEBIH BENAR DARIPADA HIDUP KEAGAMAAN AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG FARISI, SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN MASUK KE DALAM KERAJAAN SURGA.” MATIUS 5:20.

 

(Catatan: Bacaan berikut memperlihatkan bagaimana sesuatu kepatuhan yang sangat ketat dan terlihat dimata sangat religius  tidak diterima oleh Tuhan, oleh karena kesemuanya dilakukan melalui cara-cara sendiri – bahaya percaya diri)

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bukan hanya menuduh Kristus tetapi murid-murid-Nya sebagai orang-orang berdosa karena mereka tidak menghargai upacara dan peraturan-peraturan guru-guru Yahudi. Sering murid-murid itu dibingungkan dan disusahkan oleh kecaman dan tuduhan dari mereka yang telah biasa dipuja sebagai guru-guru agama. Yesus menyingkapkan penipuan itu. Dia nyatakan bahwa kebenaran yang begitu besar nilainya dibuat orang-orang Farisi tidak berharga. Orang Yahudi telah mengaku menjadi bangsa yang istimewa, setia dan kesayangan Allah; tetapi Kristus menunjukkan agama mereka sebagai tidak memiliki iman yang menyelamatkan. Semua tuntutan kesucian mereka, penemuan dan upacara buatan mereka, dan bahkan pelaksanaan tuntutan-tuntutan hukum secara lahiriah yang mereka sombongkan, tidak berguna untuk menyucikan mereka. Mereka tidak suci dalam hati atau mulia dan menyerupai Kristus dalam tabiat. —-KAB 63.2

Agama resmi tak mampu membawa jiwa rukun dengan Allah. Kekerasan dan kekakuan ortodoksi orang-orang Farisi, tiadanya perasaan berdosa, kelemahlembutan atau kasih, hanya menjadi satu batu sandungan bagi orang-orang berdosa. Mereka adalah bagaikan garam yang telah menjadi tawar; karena pengaruh mereka tidak berkuasa untuk memelihara dunia dari kecurangan. Satu-satunya iman sejati ialah yang “bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6) untuk menyucikan jiwa. Itu bagaikan ragi yang mengubah tabiat. —-KAB 64.1

Semua ini seharusnya sudah dipelajari orang Yahudi dari ajaran-ajaran para nabi. Berabad-abad sebelumnya, seruan jiwa untuk minta pembenaran dari Allah telah menemukan suara dan jawaban dalam kata-kata Nabi Mikha: “Dengan apakah aku akan pergi menghadap Tuhan dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah Tuhan kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? …. Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Mikha 6:6-8. —-KAB 64.2

Nabi Hosea telah menjelaskan apa yang merupakan dasar utama dari ajaran orang-orang Farisi, dalam kata-kata, “Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan buah.” Hosea 10:1. Dalam pelayanan mereka yang terkenal kepada Allah, orang-orang Yahudi benar-benar bekerja untuk diri. Kebenaran mereka adalah buah dari upaya mereka sendiri untuk memelihara hukum menurut pikiran mereka sendiri dan untuk kepentingan mereka sendiri. Karenanya itu tidak lebih baik daripada mereka. Dalam upaya untuk membuat mereka suci, mereka coba membawa barang yang suci dari yang tidak suci. Hukum Allah itu suci sebagaimana Dia suci, sempurna sebagaimana Dia sempurna. Hukum itu menunjukkan kebenaran Allah kepada manusia. Tidak mungkin bagi manusia memelihara hukum dengan kekuatan sendiri; karena sifat manusia sudah rusak, cacat, dan secara keseluruhan tidak menyukai tabiat Allah. Pekerjaan dari hati yang mementingkan diri adalah “seperti seorang najis” dan “segala kesalehan kita seperti kain kotor.” Yesaya 64:6. —-KAB 64.3

Selama hukum itu suci, orang-orang Yahudi tidak dapat mencapai kebenaran dengan upaya mereka sendiri untuk memelihara hukum. Murid-murid Kristus harus memperoleh kebenaran tabiat yang berbeda dari orang-orang Farisi, jika mereka mau memasuki kerajaan surga. Di dalam Anak-Nya, Allah menawarkan kepada mereka, kebenaran yang sempurna dari hukum itu. Jika mereka mau membuka hati mereka sepenuhnya untuk menerima Kristus, maka hidup Allah sendiri, kasih-Nya, akan tinggal dalam diri mereka, mengubah mereka kepada keserupaan-Nya; dan dengan demikian melalui pemberian cuma-cuma dari Allah, mereka akan memiliki kebenaran yang dituntut hukum itu. Tetapi orang-orang Farisi itu menolak Kristus; “tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri” (Roma 10:3) mereka tidak akan menyerahkan diri mereka kepada kebenaran Allah. —-KAB 65.1

Yesus mulai menunjukkan kepada para pendengar-Nya apa artinya memelihara hukum-hukum Allah — bahwa itu adalah suatu salinan tabiat Kristus di dalam diri mereka. Karena di dalam Dia, Allah dinyatakan tiap hari di hadapan mereka. —-KAB 65.2

—————————-

Amaran Sekarang jld 2 No. 35 “Tuhan Kebenaran Kita”:

Matius 6 : 27 – 34:

“Siapakah di antara kamu dengan khawatirnya dapat melanjutkan umurnya barang sedikitpun? Dan mengapakah kamu khawatir dari hal pakaianmu? Perhatikanlah bunga bakung di padang, bagaimana mereka itu tumbuh; tiada mereka bekerja, dan tiada pula mereka memintal benang; namun Aku mengatakan kepadamu, bahwa walaupun Solaiman dalam segala kemuliaannya tiada ia dihiasi seperti salah satu dari pada segala kuntum bunga itu. Olehnya itu, jika sedemikian itu Allah menghiasi rumput di padang yang ada pada hari ini, dan esoknya dibuang ke dalam dapur api, tidakkah Ia akan lebih menghiasi kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu khawatir sambil mengatakan, Apa yang akan kami makan, atau apa yang akan kami minum, atau dengan apakah kami akan dihiasi? (Karena semua perkara inilah yang dikejar oleh orang-orang Kapir) karena Bapa samawimu mengetahui, bahwa kamu membutuhkan semua perkara ini. Tetapi caharilah dahulu olehmu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semua perkara ini akan dipertambahkan kepadamu. Oleh karena itu janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok itu ada kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Janganlah khawatir akan hari esok, karena hari esok akan mengawasi dirinya sendiri – mengapa membuang-buang waktu memikirkan hal-hal yang tidak akan timbul? Mengapa khawatir bagaimana kamu akan mengisi perutmu dan dengan apa kamu akan menutupi dirimu besok jika semua itu diperhatikan sekarang? Mengapa khawatir mengenai segala kebutuhanmu, mengapa tidak khawatir tentang bagaimana memajukan Kerajaan Allah? Dengan melakukan kerja extra untuk membangun tenda-tenda atau memperbaiki sepatu untuk nafkah adalah benar kalau saja tidak anda katakan, “Saya hendak melakukan ini dan lainnya dan memperoleh uang untuk membeli dan membangun ini atau itu.” Saudara sebaliknya harus mengatakan, “Jika Allah berkenan, saya hendak melakukan ini atau itu, supaya saya dapat sampai ke sini atau sampai ke sana, supaya saya dapat berbuat ini dan lainnya demi kemajuan kepentingan-Nya”. Apapun tujuan yang ada di balik tindakanmu, ia itu harus demi kemajuan KerajaanNya.

Mengapa tidak anda menaruh perhatian utama terhadap pekerjaan-Nya? Mengapa tidak terhadap Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, supaya “semua perkara ini dapat dipertambahkan kepadamu”? Mengapa bekerja untuk memberi makan kepada dirimu sendiri? Mengapa tidak bekerja bagi Allah dan membiarkan Dia memberi makan dan memberi pakaian bagimu? Ia adalah jauh lebih mampu untuk memberikan kepadamu dari pada kemampuanmu sendiri. Mengapa tidak membiarkan Dia mengawasi pekerjaanmu, mengawasi rumahmu, mengawasi tubuhmu?

Sementara anda melaksanakan permintaan-Nya, maka Ia tidak akan pernah melalaikan anda. Mengapa tidak melakukan ini dan menjadi seorang Kristen yang lengkap? Mengapa menjadi hanya Kristen dalam nama, tetapi seorang Kapir dalam hati dan iman? Jangan lagi bekerja bagi diri sendiri, bekerjalah bagi Allah dan bebas dari kekhawatiran, bebas dari keharusan mencari nafkah menurut caramu sendiri. Para nelayan Galilea, sementara mereka mencari ikan dalam caranya sendiri mereka terus gagal, tetapi setelah mereka membuang pukatnya di tempat yang dianjurkan Yesus, maka selekas pula pukat mereka dipenuhi dengan ikan.

Ketahuilah pertama-tama, bahwa Allah tidak berkenan dalam usahamu yang mementingkan diri, melainkan dalam dirimu dan usaha penyelamatan-Nya. Oleh sebab itu tidak perlu anda melayani mammon (diri sendiri), lalu pada waktu yang sama mengharapkan berkat-Nya bagi berbagai kepentingan dari mammon itu. Tak seorangpun juga di dunia ini dapat bekerja bagi kepentingan dirinya sendiri dan masih mengharapkan lagi dari perusahaannya untuk mengangkatnya, atau mempertahankannya pada sesuatu jabatan. Tidak ada majikan yang mempekerjakan orang-orang karena ia ingin pegawainya memperoleh nafkah, melainkan hanya karena ia ingin agar usahanya dapat dilayani. Ketahuilah, bawah pekerjaan Allah adalah jauh lebih penting dan mempunyai akibat-akibat yang menjangkau jauh ke depan dari pada setiap usaha perorangan dan bahwa Allah adalah jauh lebih teliti dan tepat dari pada setiap orang yang pernah ada atau pun akan ada kemudian.

Matius 11 : 28 – 30:

“Marilah kepada-Ku, hai kamu sekalian yang bekerja dan yang menanggung berat, maka Aku hendak memberikan kepadamu istirahat. Ambillah pikulan-Ku ke atasmu, dan belajarlah dari pada-Ku, karena Aku adalah lemah lembut dan rendah hati, maka kamu akan menemukan istirahat bagi jiwamu. Karena pikulan-Ku adalah mudah, dan beban-Ku adalah ringan”.

 

Kenangkanlah selalu, bahwa Allah tidak memanggil kamu kepada jabatanmu untuk memberi makan kamu atau untuk membuat mu menjadi kaya, melainkan untuk menyelamatkan kamu dan untuk menyelamatkan orang-orang lain oleh perantaraan kamu. Oleh sebab itu, apapun yang kamu perbuat, perbuatlah itu bagi kemuliaan Allah. Kemudian dan hanya kemudian baharulah ia mau memberikan “segala perkara ini,” yaitu segala perkara yang pantas pada pemandangan Allah untuk diberikan. Ia hendak melihat bahwa anda memperoleh semua kebutuhanmu dengan satu atau cara lain. Tidak ada iman yang kurang dari pada iman Nuh, dari pada iman Ayub, dan dari pada iman Daniel yang dapat membayar hutang, Saudara-saudariku, sebab apapun yang kurang dari ini ialah penghinaan kepada Allah. Ia itu sama saja dengan menyebut-Nya seorang pembohong. Keragu-raguan terhadap semua janji dari pada Allah merampas dari si peragu itu selengkapnya semua berkat dan janji-janji Allah. Hanya sesudah anda belajar menaruh harap kepada-Nya baharulah Ia akan menjadi bagimu “bagaikan suatu tempat berlindung dari pada angin, dan suatu tempat bersembunyi dari pada angin topan; seperti sungai-sungai yang berair di tempat yang kering, seperti bayangan dari suatu bukit batu besar di tanah tandus”. Yesaya 32 : 2.

“Carilah dahulu olehmu Kerajaan Allah dan kebenaranNya; maka semua perkara ini akan dipertambahkan kepadamu.” Janji ini mengikat di masa Daud dahulu, maka ia juga akan mengikat pada waktu ini.

 

 

 

Country Living p. 6.6- 7.1

Sikap Berlambat-lambatan

 

Saya tidak bisa tidur setelah jam dua pagi ini. Sepanjang waktu malam saya berada dalam suatu dewan. Saya memohon kepada beberapa keluarga untuk memanfaatkan sarana yang telah ditetapkan Allah, dan keluar dari kota-kota demi menyelamatkan anak-anak mereka. Beberapa orang tampak berlambat-lambat, tidak melakukan upaya yang sungguh-sungguh.

 

Malaikat-malaikat belas kasihan mendesak Lot, istrinya, dan anak-anak perempuannya dengan memegang tangan mereka. Andai saja Lot bergegas seperti yang Tuhan kehendaki, istrinya tidak akan menjadi tiang garam. Lot memiliki terlalu banyak sikap berlambat-lambat. JANGANLAH KITA MENJADI SEPERTI DIA. Suara yang sama yang memperingatkan Lot untuk meninggalkan Sodom memerintahkan kita, Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu, … dan janganlah menjamah apa yang najis.” Mereka yang mematuhi peringatan ini akan menemukan tempat perlindungan. Biarlah setiap orang terjaga demi dirinya sendiri, dan berusaha menyelamatkan keluarganya. Biarlah dia menyingsingkan lengan baju untuk pekerjaan itu. ALLAH AKAN MENYATAKAN DARI SATU TAHAP KE TAHAP BERIKUTNYA APA YANG HARUS DILAKUKAN SELANJUTNYA.

 

Dengarlah suara Allah melalui rasul Paulus: “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar. Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Lot melintasi lembah itu dengan langkah kaki yang enggan dan lambat. Dia telah begitu lama bergaul dengan para pelaku kejahatan sehingga dia tidak dapat melihat bahayanya sampai istrinya berdiri di lembah itu menjadi tiang garam untuk selamanya.—The Review and Herald, 11 Desember 1900.

 

Catatan:

Bacaan ini menggugah kita semua,  kita semua rata-rata telah nyaman dengan kehidupan kita,  walaupun masih banyak mimpi-mimpi manusia kita yang belum didapat,  tetapi kesemuanya telah menjadi alasan bagi kita untuk BERLAMBATAN,  kita di dalam pelajaran ini disuruh belajar melihat ruginya BERLAMBATAN, pada setiap orang tingkat kemampuan beradaptasinya berbeda-beda……. Mungkin ada yang seperti Lot walaupun LAMBAT tetapi bisa cepat beradaptasi,  tetapi disamping Lot ada juga yang seperti istri dan ada juga anak-anaknya yang tidak mudah beradaptasi dan tidak juga hingga akhirnya berjuang……. Disini kita diingatkan untuk tidak seperti Lot,  JANGAN PIKIRKAN HANYA DIRI KITA SAJA,  TETAPI PIKIRKAN JUGA ORANG-ORANG LAIN,  dalam bacaan ini Lot dinilai LAMBAT membangun iman Istri dan anak-anaknya.

 

Pada bacaan ini seakan-akan Lot LAMBAT menarik tangan istri dan anaknya,  namun direnungkan lebih dalam, bila dikatakan istrinya menjadi tiang garam adalah karena LOT BERLAMBATAN, sesuai cerita yang kita ikuti keluarnya mereka dari kota Sodom dan Gomora nyatanya mereka semua keluar bersama-sama, bukan Lot duluan kemudian disusul anak-anaknya, baru istrinya keluar paling terakhir secara terpisah-pisah dan berjarak waktu yang berbeda, sehingga bila dikatakan BERLAMBATAN adalah penyebab kematian istrinya, tampaknya membingungkan dan sulit diterima secara rasional. Nasihat tulisan ini pada dasarnya kesalahan Lot BUKANLAH LAMBAT MENGAJAK SEGERA KELUAR DARI KOTA,  TETAPI LOT TERLAMBAT MEMBANGUNKAN IMAN ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA jauh hari sebelumnya…… sehingga istrinya jadi tiang garam,  dan walaupun anak-anaknya telah keluar dari kota Sodom dan Gomora yang berarti telah jauh melampaui kerohanian istrinya,  namun merekapun akhirnya kalah mempertahankan kerohaniannya di kehancuran kota Zoar.

 

Mengapa kita perlu berpikir demikian?,  karena sampai orang mematuhi sesuatu petunjuk firman, dalam hal ini mengenai MENINGGALKAN PERHATIAN, KEBIASAAN, APA YANG DISAYANGI TERMASUK HARTA BENDA seperti istri Lot…… dibutuhkan adanya IMAN,  dan tentunya IMAN dalam cerita ini tidak hanya sampai pada tahapan PERCAYA, tetapi harus sampai tahapan DILAKSANAKAN. Untuk tiba pada tahap PELAKSANAAN tersebut harus diperoleh dari suatu jalan PROSES yang cukup menyita waktu, yang dimulai dari tahapan BELAJAR,  MENGERTI, PERCAYA, baru kemudian terakhir adalah DILAKSANAKAN.

Yang membedakan pribadi Lot dengan istri dan anak-anaknya,  Lot pada rencana awalnya hanya hendak membangun tempat tinggal di daerah yang subur di dekat kota Sodom dan Gomora, namun dalam kelanjutannya bersama-sama dengan keluarganya ia telah menyimpang dan  akhirnya tinggal di dalam kota Sodom dan Gomora dan bahkan Lot menduduki jabatan terhormat, yaitu gubernur di kota tersebut, …… akan tetapi ia masih memiliki rasa hormat kepada Tuhan hasil kebersamaannya dengan Abraham, IMANnya tersebut membantunya, sementara istri dan anak-anaknya makin lama makin mendalam menyatu dengan budaya dan kebiasaan pelanggaran-pelanggaran dosa orang-orang kota tersebut, sehingga sama seperti cerita pengalaman bangsa Israel ketika dibawa Musa keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan, yaitu adalah lebih mudah bagi Tuhan mengeluarkan bangsa Israel keluar dari Mesir, daripada Tuhan mengeluarkan Mesir dari dalam pikiran mereka orang-orang Israel tersebut.

Terbentuknya karakter dan tabiat istri Lot dan anak-anaknya yang telah serupa dengan orang-orang kota Sodom dan Gomora inilah, yang dikatakan LOT TERLAMBAT, seperti diparagraf terakhir bacaan ini,  kita dapat lihat dijelaskan kesalahan BERLAMBATANNYA Lot: 

“Dia telah begitu lama bergaul dengan para pelaku kejahatan sehingga dia tidak dapat melihat bahayanya sampai istrinya berdiri di lembah itu menjadi tiang garam untuk selamanya. “

Jadi terlihat disini, pada dasarnya Lot tidak disalahkan MASALAH TERLAMBAT MENARIK ISTRINYA KELUAR DARI KOTA SODOM DAN GOMORA tetapi jauh lebih luas daripada itu, yaitu kesalahan TIDAK MELIHAT BAHAYANYA membiarkan BUDAYA/TABIAT keluarganya terbentuk serupa dengan orang-orang Sodom dan Gomora, kesalahan Lot yang harus jadi pembelajaran bagi kita adalah KARENA LOT MENGIRA ISTRINYA DAPAT CEPAT BERADAPTASI SEPERTI DIRINYA.

Disini cerita berfokus ke istrinya padahal kesalahan yang sama juga Lot lakukan ke anak-anaknya dan juga kesalahannya untuk mantu-mantunya.

Jadi,  bacaan ini contoh buat kita dalam belajar kebenaran……..  jangan sempit kita memahami petunjuk Roh Nubuatan,  jangan kaku sekedar kepada yang dipermukaan atau eksplisit tetapi juga implisit atau yang tersembunyi, bila kita sempit seperti pengungkapan contoh cerita di atas, yaitu penjelasan yang berbeda dengan cerita nyatanya – istri Lot tidak terpisah dan keluar paling terakhir dari Lot dan anak-anaknya, maka jelas kitapun dapat saja seperti banyak orang-orang yang akhirnya meragukan Ellen G. White.

Pekabaran VTH datang,  dikatakan “membalikan hati anak kepada bapa,  dan sebaliknya”, jadi tepat sekali cerita Lot dan keluarganya mengingatkan kita, BILA KITA SAYANG DENGAN KELUARGA KITA,………. JANGAN BERLAMBATAN….. Ajak mereka juga memiliki IMAN yang sama dengan kita,  JANGAN KITA MENGUKUR-NGUKUR IMAN KELUARGA KITA SAMA DENGAN KITA selama kita BERLAMBATAN

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart