<< Go Back

Sabat 10 Oktober 2026

UJIAN YANG SAMA BERATNYA DENGAN YANG DAPAT DIBERIKAN SETAN KEPADA MEREKA YANG MENGAKU MENGETAHUI KEBENARAN

 

Demikianlah Setan bekerja dewasa ini melalui malaikat-malaikatnya yang jahat. Ia bersekutu dengan orang-orang yang mengaku beriman, dan mereka yang berusaha meneruskan pekerjaan Tuhan dengan kesetiaan … akan menghadapi ujian yang sama beratnya dengan yang dapat diberikan Setan kepada mereka yang mengaku mengetahui kebenaran. Keberhasilan Setan sebanding dengan terang dan pengetahuan yang dimiliki para penentang ini. Akar kepahitan menusuk dalam dalam, dan dikomunikasikan kepada orang lain. Dengan demikian banyak orang menjadi najis….

Setan harus menipu untuk menyesatkan…. Pekerjaan curang harus dilakukan, pengaruh yang menipu harus diberikan; kepura-puraan palsu harus dinyatakan sebagai kebenaran; kecurigaan harus dibuai hingga tertidur. Setan akan membungkus godaan dan dosa dengan pakaian kebenaran, dan melalui tipu daya ini ia akan memenangkan banyak orang ke pihaknya. Kristus menyatakan Setan sebagai pendusta dan pembunuh. Oh, kiranya jiwa-jiwa yang tidak waspada akan belajar hikmat dari Tuhan….

Ujian dan pencobaan akan datang kepada setiap jiwa yang mengasihi Tuhan. Tuhan tidak melakukan mukjizat untuk mencegah cobaan berat ini, untuk melindungi umat-Nya dari godaan Setan. Jika mereka digoda dengan keras, itu karena keadaan telah dibentuk sedemikian rupa oleh kemurtadan Setan sehingga godaan diizinkan agar karakter dapat dikembangkan yang akan menentukan kelayakan keluarga manusia untuk rumah di surga, karakter yang akan bertahan melalui semua tekanan keadaan yang tidak menguntungkan dalam kehidupan pribadi dan publik.————Manuscript 57, 1896 (Manuscript Releases 18:363-365)

 

Buku Kristus Menang (Christ triumphant) :

5 April

METERAI LUAR ALLAH MENANDAKAN IMAN BATINIAH

“Apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah maksudmu dengan ibadah ini? Kamu harus berkata: Ini adalah korban Paskah bagi Tuhan, yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir.” Keluaran 12:26, 27.

 

Setiap pelaku manusia menggabungkan karakternya di bawah salah satu dari dua kepala—Raja Kehidupan atau raja kegelapan…. Jika kita melayani dosa, kita akan menerima pahala sebagai pelanggar hukum Yehuwa di hadapan takhta pengadilan Kristus…. Semua undangan yang diberikan oleh Allah yang murah hati—diberikan, tetapi diabaikan dan ditolak—akan disampaikan kepada setiap individu, dan hukuman yang akan menentukan takdir jiwa dalam kebahagiaan kekal atau dihukum dengan unsur api murka Allah, akan menutup sejarah orang jahat selamanya. Syarat yang diberikan kepada orang Ibrani di Mesir pada malam ketika anak sulung disembelih adalah bahwa setiap keluarga harus menunjukkan iman kepada pesan yang diberikan kepada mereka oleh Allah yang akan menuntun mereka untuk bertindak dalam ketaatan yang sempurna terhadap petunjuk yang diberikan kepada mereka oleh Allah. Setiap anggota keluarga harus dikumpulkan ke tempat tinggal orang Ibrani. Mereka harus makan Paskah dengan persiapan yang telah dibuat untuk keberangkatan mereka, bahkan dengan tongkat di tangan mereka. Allah akan melakukan pekerjaan-Nya dalam penghakiman, dan ini dimaksudkan untuk membuat Firaun mengerti bahwa Tuhan, Dialah Allah, dan selain Dia tidak ada yang lain.

Malaikat Allah harus melewati rumah-rumah orang Ibrani dengan darah yang dipercikkan pada ambang pintu dan tiang pintu. Tanda ini harus dihormati.

Tetapi andaikan penghuni rumah itu ceroboh dan tidak mengumpulkan anak-anak mereka di rumah itu. Atau andaikan anak-anak yang telah lahir dan dibesarkan di Mesir menganggap ini hanya iseng, dan sama sekali tidak perlu, dan menolak bujukan orangtua mereka, dengan mencari-cari alasan seperti yang dilakukan mereka yang diundang ke pesta pernikahan. Maka penghakiman Allah tidak akan mengampuni, tetapi pukulan itu pasti akan menimpa anak sulung orang Ibrani seperti halnya anak sulung orang Mesir.

Bagaimana kondisi orang-orang yang menaati perintah-perintah Allah dan memiliki iman kepada Yesus? Jika dalam keluarga ada orang-orang yang menolak ketaatan kepada Tuhan dalam memelihara Sabat-Nya, maka meterai tidak dapat diberikan kepada mereka. Meterai adalah janji dari Allah tentang keamanan yang sempurna bagi orang-orang pilihan-Nya. Meterai menunjukkan bahwa Anda adalah orang-orang pilihan Allah. Dia telah menetapkan Anda bagi diri-Nya. Sebagai orang-orang yang dimeteraikan oleh Allah, kita adalah milik Kristus yang telah dibeli, dan tidak seorang pun akan merebut kita dari tangan-Nya.—Manuscript 59, 1895 (Manuscript Releases 15:223-225)

Bab 9

Bersiap untuk Mati

Maka keluarlah Yesus dari situ dan pergi ke bukit Zaitun, lalu murid-murid-Nya mengikuti Dia. Dan ketika Ia berada di tempat itu, Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Lalu Ia menyingkir dari mereka ke tempat yang jauh dari mereka, lalu berlutut dan berdoa: “Ya Bapa, jikalau Engkau berkenan, pindahkanlah ini dari hadapanMu cawan dari pada-Ku: tetapi janganlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Lukas 22:39-42.

Ditemani oleh para murid-Nya, Juruselamat perlahan-lahan berjalan menuju taman Getsemani. Bulan Paskah, besar dan purnama, bersinar dari langit yang tak berawan. Kota yang penuh dengan tenda-tenda peziarah itu sunyi senyap. Yesus dengan sungguh-sungguh bercakap-cakap dengan murid-murid-Nya dan mengajar mereka; tetapi ketika Dia mendekati Getsemani, Dia menjadi sangat diam. Dia sering mengunjungi tempat ini untuk bermeditasi dan berdoa; tetapi tidak pernah dengan hati yang penuh dengan kesedihan seperti pada malam penderitaan-Nya yang terakhir. Sepanjang hidupNya di bumi, Ia telah berjalan dalam terang hadirat Allah …. Tetapi sekarang Ia seakan-akan tertutup dari cahaya kehadiran Allah yang menopang. Sekarang Dia terhitung di antara para pendurhaka. Kesalahan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa harus ditanggung-Nya. Dia yang tidak mengenal dosa harus menanggung kesalahan kita semua ….

Ketika mereka mendekati taman, para murid telah menandai perubahan yang terjadi pada Guru mereka….

Di dekat pintu masuk taman, Yesus meninggalkan semua murid kecuali tiga orang, dan menyuruh mereka berdoa untuk diri mereka sendiri dan untuk Dia. Bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Dia memasuki tempat yang terpencil. Tetapi sekarang Dia menginginkan mereka untuk menghabiskan malam bersama-Nya dalam doa….

Ia pergi agak jauh dari mereka-tidak terlalu jauh tetapi cukup jauh sehingga mereka dapat melihat dan mendengar-Nya-dan bersujud di atas tanah. Ia merasa bahwa karena dosa, Ia terpisah dari Bapa-Nya.

Di padang gurun pencobaan, nasib umat manusia dipertaruhkan. Kristus telah menjadi pemenang. Sekarang sang penggoda telah datang untuk pergumulan terakhir yang penuh ketakutan. Untuk hal ini, ia telah mempersiapkan diri selama tiga tahun pelayanan Kristus. Semuanya dipertaruhkan olehnya. Jika ia gagal di sini, harapannya untuk menguasai dunia akan hilang; kerajaan-kerajaan di dunia akhirnya akan menjadi milik Kristus; ia sendiri akan digulingkan dan dibuang. Tetapi jika Kristus dapat dikalahkan, bumi akan menjadi kerajaan Setan, dan umat manusia akan selamanya berada di bawah kekuasaannya. Dengan isu-isu konflik yang ada di hadapan-Nya, jiwa Kristus dipenuhi dengan ketakutan akan perpisahan dengan Allah ….

Dosa-dosa manusia sangat membebani Kristus, dan rasa murka Allah terhadap dosa meremukkan hidup-Nya. Dalam penderitaan-Nya Dia berpegang teguh pada tanah yang dingin, seolah-olah untuk mencegah diri-Nya ditarik lebih jauh dari Tuhan. Dari bibir-Nya yang pucat keluarlah tangisan pahit, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku.” Namun, Ia menambahkan, “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Hati manusia merindukan simpati dalam penderitaan. Kerinduan ini Kristus rasakan sampai ke lubuk hati-Nya yang paling dalam. Dalam penderitaan jiwa-Nya yang luar biasa, Ia datang kepada murid-murid-Nya dengan kerinduan yang besar untuk mendengar kata-kata penghiburan dari mereka yang telah begitu sering Ia berkati-Nya dan hiburkan, dan yang telah Ia lindungi dalam kesedihan dan penderitaan. Dia yang selalu memiliki kata-kata simpati bagi mereka sekarang menderita penderitaan yang luar biasa, dan Ia rindu untuk mengetahui bahwa mereka berdoa bagi-Nya dan bagi diri mereka sendiri. ….

Bangkit dengan susah payah, Dia berjalan terhuyung-huyung ke tempat di mana Dia telah meninggalkan para sahabat-Nya. Tetapi Dia “mendapati mereka tertidur.” …

Tepat sebelum Ia melangkahkan kaki-Nya ke taman, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Malam ini kamu semua akan tersinggung karena Aku.” Mereka telah memberikan jaminan terkuat kepada-Nya bahwa mereka akan pergi bersama-Nya ke penjara dan mati. Dan Petrus yang miskin dan mandiri telah menambahkan, “Sekalipun semua orang akan tersinggung, namun aku tidak.” Markus 14:27, kepada Petrus, Yesus berkata, “Simon, apakah engkau tidur? Tidak dapatkah engkau berjaga-jaga satu jam saja? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Ketika penderitaan jiwa menimpa-Nya, “keringat-Nya seperti tetesan darah yang jatuh ke tanah.” Pohon cemara dan  Pohon-pohon palem adalah saksi bisu dari penderitaan-Nya. Dari ranting-rantingnya yang rindang, embun yang lebat turun membasahi tubuh-Nya yang tersiksa, seakan-akan alam menangisi Sang Pencipta yang sedang bergumul sendirian dengan kuasa kegelapan …. Kata-kata Juruselamat terdengar di telinga para murid yang mengantuk, “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini janganlah sampai lenyap dari pada-Ku, kecuali aku meminumnya, kehendak-Mu akan terjadi.” Dorongan pertama para murid adalah untuk pergi kepadaNya, tetapi Ia menyuruh mereka tinggal di sana untuk berjaga-jaga dan berdoa. Ketika Yesus datang kepada mereka, Ia mendapati mereka masih tidur. Kehadiran-Nya membangunkan mereka. Mereka melihat wajah-Nya yang penuh dengan keringat penderitaan, dan mereka dipenuhi dengan rasa takut. Penderitaan pikiran-Nya tidak dapat mereka pahami. “Wajah-Nya sangat rusak melebihi manusia mana pun, dan rupa-Nya melebihi anak-anak manusia.” Yesaya 52:14.

Berpaling, Yesus mencari tempat untuk menyepi, dan bersujud, diliputi oleh kengerian kegelapan yang luar biasa. Kemanusiaan A n a k Allah gemetar pada saat yang sulit itu. Dia tidak berdoa untuk murid-murid-Nya agar iman mereka tidak goyah, tetapi untuk jiwa-Nya sendiri yang sedang dicobai dan menderita. Saat yang mengerikan telah tiba – saat yang akan menentukan nasib dunia. Nasib umat manusia sedang berada di ujung tanduk. Kristus bahkan mungkin sekarang menolak untuk meminum cawan yang diberikan kepada manusia yang bersalah. Saat itu belum terlambat. Dia mungkin akan menyeka keringat darah dari dahi-Nya, dan membiarkan manusia binasa dalam kesalahannya. Dia mungkin berkata, Biarlah orang yang berdosa itu menerima hukuman atas dosanya, dan Aku akan kembali kepada Bapa-Ku. Akankah Anak Allah meminum cawan pahit penghinaan dan penderitaan? Akankah orang yang tidak bersalah menderita akibat dari kutukan dosa, untuk menyelamatkan orang yang bersalah? Kata-kata itu keluar dengan gemetar dari bibir Yesus yang pucat, “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak akan berlalu dari pada-Ku, kecuali Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu.”

Tiga kali Dia mengucapkan doa tersebut.

Para malaikat melihat penderitaan Juruselamat. Mereka melihat Tuhan mereka ditutup oleh legiun kekuatan setan, sifat-Nya dibebani dengan rasa takut yang menggentarkan dan misterius. Ada keheningan di surga. Tidak ada kecapi yang disentuh. Seandainya manusia dapat melihat ketakjuban bala tentara malaikat ketika dalam kesedihan yang hening mereka menyaksikan Bapa memisahkan berkas cahaya, kasih, dan kemuliaan-Nya dari AnakNya yang terkasih, mereka akan lebih memahami betapa jahatnya dosa dalam pandangan-Nya.

Dunia tidak akan hancur dan para malaikat surgawi telah menyaksikan dengan penuh perhatian saat konflik itu hampir berakhir….

Penderitaan Kristus tidak berhenti, tetapi depresi dan keputusasaan-Nya meninggalkan-Nya. Badai tidak mereda, tetapi Dia yang menjadi sasarannya justru dikuatkan untuk menghadapi amukan badai itu. Ia keluar dengan tenang dan tenteram. Damai sejahtera surgawi terpancar dari wajah-Nya yang berlumuran darah. Ia telah menanggung apa yang tidak dapat ditanggung oleh seorang manusia pun, karena Ia telah merasakan penderitaan maut bagi semua manusia ….

Ia mendengar langkah kaki orang banyak yang mencari Dia, lalu berkata: “Bangkitlah, marilah kita pergi; lihatlah, orang yang akan menyerahkan Aku sudah dekat.”

Tidak ada bekas-bekas penderitaan-Nya yang terlihat ketika Yesus melangkah maju untuk menemui pengkhianat-Nya. Sambil berdiri di depan para murid-Nya, Dia berkata, “Siapa yang kamu cari?” Mereka menjawab, “Yesus dari Nazaret.” Yesus menjawab, “Akulah Dia.” Ketika kata-kata ini diucapkan, malaikat yang sebelumnya melayani Yesus bergerak di antara Dia dan orang banyak. Cahaya ilahi menerangi wajah Juruselamat, dan sebuah bentuk seperti burung merpati menaungi-Nya. Di hadapan kemuliaan ilahi ini, kerumunan orang yang membunuh itu tidak dapat berdiri sejenak. Mereka terhuyung-huyung mundur. Para imam, tua-tua, prajurit, dan bahkan Yudas, jatuh tersungkur ke tanah ….

Yesus memiliki kesempatan untuk melarikan diri, tetapi Dia tetap tinggal, tenang dan menguasai diri-Nya sendiri. Sebagai orang yang dimuliakan, Ia berdiri di tengah-tengah mereka yang mengeraskan hati. band, sekarang bersujud dan tak berdaya di kaki-Nya. Para murid memandang, terdiam dengan penuh keheranan dan kekaguman.

Namun, dengan cepat suasana berubah. Kerumunan orang banyak mulai berdatangan. Para prajurit Romawi, para imam dan Yudas, berkumpul mengelilingi Kristus. Mereka tampak malu dengan kelemahan mereka, dan takut bahwa Dia akan melarikan diri. Sekali lagi pertanyaan diajukan oleh Sang Penebus, “Siapakah yang kamu cari?” …

[dan] mereka menjawab lagi, “Yesus dari Nazaret.” Juruselamat kemudian berkata, “Aku telah mengatakan kepadamu, bahwa Akulah Dia; jikalau kamu mencari Aku, biarkanlah orangorang itu pergi,” sambil menunjuk kepada para murid. Dia tahu betapa lemahnya iman mereka, dan Dia berusaha melindungi mereka dari pencobaan dan ujian. Bagi mereka, Ia siap untuk mengorbankan diri-Nya sendiri.

Yudas sang pengkhianat tidak lupa akan peran yang harus dimainkannya. Ketika orang banyak memasuki taman, ia memimpin jalan, diikuti oleh Imam Besar. Kepada para pengejar Yesus, ia telah memberikan tanda dengan berkata: “Setiap orang yang akan kucium, dialah Dia, peganglah Dia erat-erat.” Matius 26:48. Sekarang ia berpura-pura tidak ada hubungannya dengan mereka. Mendekat kepada Yesus, ia memegang tangan-Nya sebagai seorang teman yang akrab. Dengan kata-kata, “Salam, Guru,” ia mencium-Nya berulang kali, dan tampak menangis seolah-olah bersimpati dengan-Nya dalam bahaya.

Yesus berkata kepadanya, “Hai teman, mengapa engkau datang?” Suaranya bergetar karena kesedihan ketika Dia menambahkan, “Yudas, engkau mengkhianati Anak Manusia dengan sebuah ciuman?” Seruan ini seharusnya menggugah hati nurani sang pengkhianat, dan menyentuh hatinya yang keras kepala; tetapi kehormatan, kesetiaan, dan kelembutan manusiawi telah meninggalkannya. Dia berdiri dengan berani dan menantang, tidak menunjukkan keinginan untuk mengalah. Berpaling kepada para imam dan tua-tua, Kristus mengarahkan pandangan-Nya yang penuh pencarian kepada mereka …. Dengan penuh wibawa Ia berkata: Kamu keluar melawan Aku dengan pedang dan tongkat seperti yang kamu lakukan terhadap pencuri atau perampok. Hari demi hari Aku duduk mengajar di Bait Allah. Kamu memiliki setiap kesempatan untuk menumpangkan tangan ke atas-Ku, tetapi kamu tidak melakukan apa-apa. Malam hari lebih cocok untuk pekerjaanmu. “Inilah saatmu, dan kuasa kegelapan.” Para murid sangat ketakutan ketika mereka melihat Yesus membiarkan diri-Nya ditangkap dan diikat. Mereka tersinggung karena Dia harus menderita penghinaan seperti itu terhadap diriNya dan mereka. Mereka tidak dapat memahami tindakan-Nya, dan mereka menyalahkan-Nya karena tunduk kepada orang banyak. Dalam kemarahan dan ketakutan mereka, Petrus mengusulkan agar mereka menyelamatkan diri mereka sendiri. Mengikuti saran ini, “mereka semua meninggalkan Dia dan melarikan diri.”(Kerinduan Segala Zaman, 685 – 697). ——- A Call Stand Apart p. 31

 

PERISTIWA HARI KE 10-14 BULAN KE 7 – PERSEDIAAN KITA AKAN DIJARAH, DAN ALASAN PENYEBABNYA

  1. Orang-orang di dunia sementara sedang menderita kelaparan.

 

Dalam hari pengadilan yang dahsyat itu Dia akan berkata, “Mari bangsaku, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintumu sesudah engkau masuk, bersembunyilah barang sesaat lamanya, sampai amarah itu berlalu”. Apakah yang dimaksud dengan kamar di mana mereka bersembunyi itu? Ia itu adalah perlindungan Kristus dan para malaikat suci. Umat Allah pada masa yang demikian tidak berada pada satu tempat seluruhnya. Mereka berada di dalam rombongan-rombongan yang berbeda-beda di seluruh penjuru bumi. 270.1

Saya tampak orang-orang kudus meninggalkan kota-kota dan desa-desa, berkumpul bersama dalam rombongan-rombongan, dan tinggal di tempat-tempat yang sangat terpencil. Para malaikat menyediakan bagi mereka makanan dan minuman, sedangkan orang-orang jahat menderita kelaparan dan kehausan.  270.2

Pada malam itu sebuah pemandangan yang sangat mengesankan tampak di hadapan saya. Terlihat kekacauan besar dan konflik para tentaraSeorang pembawa pesan dari Tuhan berdiri di hadapanku dan berkata, “Panggillah seisi rumahmu. Aku akan menuntun kamu; ikutilah aku.” Dia menuntun aku melewati lorong yang gelap, melalui sebuah hutan, kemudian melewati celah-celah pegunungan dan berkata, “Di sini kamu aman.” Ada juga orang-orang lain yang telah dituntun ke tempat itu. Utusan surga itu berkata, “Masa kesusahan kini telah tiba seperti seorang pencuri di malam hari, hal ini sebagaimana yang telah Tuhan amarkan kepada kamu.”  270.3

Dalam masa kesusahan menjelang kedatangan Kristus, orang-orang benar akan dilindungi melalui pelayanan para malaikat surga; tetapi tidak akan ada keamanan bagi pelanggar hukum Allah. Malaikat-malaikat tidak dapat melindungi mereka yang meremehkan satu pun peraturan ilahi.  270.4

Dalam periode penutupan sejarah dunia Tuhan akan bekerja dengan penuh kuasa di dalam diri mereka yang berdiri teguh untuk kebenaran….. Di tengah-tengah masa kesusahan itu—yakni kesusahan yang belum pernah terjadi semenjak adanya suatu bangsa—umat pilihanNya akan berdiri teguh tidak tergoyahkan. Setan dengan semua penghuni kerajaan kejahatan akan menghancurkan orang-orang kudus yang paling lemah milik Allah. Malaikat-malaikat yang perkasa akan melindungi mereka dan di dalam diri mereka Yehova akan mengungkapkan diriNya sebagai “Allah dari segala allah”, mampu menyelamatkan dengan sepenuhnya orang-orang yang menaruh kepercayaan mereka kepadaNya.  270.5——–Maranatha 19 September hal 270

 

2. Kelepasan terjadi dalam masa perang, kelaparan dan wabah penyakit

 

Tuhan telah memperlihatkan khayal kepadaku, secara berulangkali, bahwa adalah bertentangan dengan Alkitab bila kita membuat persiapan apa saja untuk kebutuhan-kebutuhan sesaat pada masa kesusahan nanti. Aku tampak bahwa jika orang-orang kudus memiliki makanan yang mereka siapkan di tangan mereka, atau di kebun-kebun, pada masa kesusahan di mana pedang, kelaparan, dan wabah penyakit berjangkit di negeri itu, maka semua makanan itu akan dirampas dari mereka dan orang-orang asinglah yang akan memanen kebun-kebun mereka itu. Maka waktu itulah bagi kita untuk sepenuhnya bergantung kepada Allah, dan Ia akan mempertahankan kehidupan kita. Aku tampak bahwa roti dan air kita akan terjamin pada waktunya, dan kita takkan kekurangan atau menderita kelaparan. Tuhan telah memperlihatkan kepadaku bahwa sebagian anak-anakNya akan merasa panik ketika mengetahui harga-harga makanan mengalami kenaikan, dan mereka akan membeli makanan untuk persiapan masa kesusahan itu. Lalu ketika dibutuhkan, aku tampak mereka mengambil makanan itu, namun makanan itu dikerumuni banyak ulat dan makhluk-makhluk hidup sehingga tidak aman untuk dikonsumsi.  181.1     

Rumah-rumah dan tanah tak akan berguna bagi orang-orang kudus pada masa kesusahan itu, sebab mereka akan harus melarikan diri sebelum pengepungan oleh orang-orang jahat, dan pada masa itu segala harta kepunyaan mereka tidak akan dapat lagi digunakan untuk memajukan pekabaran kebenaran sekarang……  181.2

Aku tampak bahwa jika orang-orang mempertahankan harta mereka dan  bukan menanyakan Tuhan apa kewajiban mereka dengan harta itu, maka Tuhan tidak akan memberitahukan kewajiban itu, dan mereka akan dibiarkan memelihara harta mereka, namun pada masa kesusahan itu akan terjadi bahwa segala harta tersebut akan menimpa mereka dan mereka akan berusaha memanfaatkan harta itu tetapi tidak bisa…… Akan tetapi jika mereka memiliki keinginan untuk diajar oleh Tuhan, maka Tuhan akan mengajar mereka, pada saatnya, kapan untuk menjual dan berapa banyak yang harus dijual…….. 181.3  

Di akhir konflik besar dari pertentangan dengan Setan semua orang yang setia kepada Allah akan melihat segala yang dibangun kekuatan dunia ini dipatahkan. Oleh karena mereka menolak melanggar hukum Allah untuk taat pada kuasa dunia, maka mereka akan dilarang  membeli dan menjual. Akhirnya akan diundangkan bahwa mereka harus dihukum mati….. Tetapi kepada orang-orang yang patuh ini telah diberikan janji, ”dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.”  Yesaya 33:16. Oleh janji ini, anak-anak Allah akan tetap hidup.  181.4——Maranatha 22 Juni hal 181

 

Setiap perkara di dunia ini berada dalam keadaan yang belum stabil. Bangsa-bangsa marah dan persiapan-persiapan besar untuk perang sedang dibuat. Bangsa bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Hari Allah yang besar itu sedang bergegas dengan hebatnya. Namun walaupun bangsa-bangsa sedang mengumpulkan kekuatan mereka untuk perang dan pertumpahan darah, perintah kepada para malaikat itu masih dipegang, yakni mereka menahan keempat angin hingga hamba-hamba Allah dimeteraikan pada dahi mereka.  243.1

Keempat angin itu masih ditahan hingga hamba-hamba Allah dimeteraikan pada dahi mereka. Kemudian kuasa-kuasa di bumi akan menyusun kekuatan mereka untuk peperangan besar yang terakhir. Betapa cermatnya kita harus menggunakan waktu sedikit yang tersisa sebagai pintu kasihan bagi kita.  243.2

Pikiran-pikiran yang sudah menyerah untuk kehilangan pandangan perlu diubah… Pandangan-pandangan harus dipusatkan kepada Allah. Sekaranglah waktunya untuk menaruh usaha yang bersungguh-sungguh mengalahkan kecenderungan-kecenderungan keinginan daging. 243.3

Sebelum kita memasuki hal itu, kita semua akan menerima meterai dari Allah yang hidup. Lalu saya melihat keempat malaikat itu melepaskan keempat angin. Dan saya pun melihat kelaparan, penyakit dan pedang, bangsa bangkit melawan bangsa, dan seluruh dunia berada dalam kekacauan.  243.4

…………….

Tuhan tidak akan mengampuni mereka yang mengetahui kebenaran jika mereka tidak mematuhi perintah-perintahNya dalam perkataan dan perbuatan.  243.6——Maranatha  23 Agustus hal 243

 

Saya diberi penglihatan tentang para penduduk bumi yang berada dalam kekacauan besar.  Perang, pertumpahan darah, penderitaan, kekurangan, kelaparan, dan wabah penyakit merebak di mana-mana. Ketika perkara-perkara ini menimpa umat Allah, mereka mulai bersama-sama menekan dan menyisihkan kesukaran-kesukaran kecil mereka. Kepentingan diri tidak lagi mengendalikan mereka; kerendahan hati yang mendalam datang sebagai gantinya. Penderitaan, kebingungan, dan kekurangan telah menyebabkan orang yang bernafsu dan tidak rasional menjadi insyaf dan bertindak dengan penilaian dan kebijaksanaan.  259.2

Perhatian saya kemudian beralih dari pemandangan itu. Tampaknya ada sesuatu masa yang singkat akan perdamaian. Sekali lagi para penduduk bumi ditampilkan di hadapan saya; dan kembali segala perkara berada dalam kekacauan besar. Pertengkaran, perang, dan pertumpahan darah, dengan kelaparan dan wabah penyakit merebak di mana-mana. Bangsa-bangsa lain terlibat dalam perang dan kekacauan ini. Perang mengakibatkan kelaparan. Kekurangan dan pertumpahan darah menimbulkan penyakit. Dan kemudian hati manusia menggagalkan mereka demi rasa takut, “dan demi menantikan perkara-perkara yang segera datang ke bumi.” 259.3

Malaikat-malaikat kini menahan angin-angin pertengkaran itu, sampai seluruh dunia diamarkan malapetakanya yang akan datang; tetapi sebuah badai sedang bergumul, siap sedia untuk dihembuskan ke bumi, dan ketika Allah menyuruh malaikat-malaikatNya melepaskan angin-angin itu, maka akan terjadi sebuah pemandangan pertengkaran yang tak dapat dilukiskan dengan pena ….. 259.4—–Maranatha 8 September hal 259

 

Para pengikut Kristus mesti menemukan ejekan-ejekan. Mereka akan dicaci-maki; kata-kata dan iman mereka akan disalahpahami. Kebekuan hubungan dan kehinaan mungkin lebih keras untuk ditanggung daripada mati sahid…. 197.4

Para orangtua akan bersikap kasar menentang anak-anak mereka yang menerima kebenaran yang tidak populer. Mereka yang secara sadar melayani Allah akan dituduh sebagai pemberontak. Harta milik yang telah diserahkan kepada anak-anak atau sanak famili lainnya yang percaya pada kebenaran masa kini akan diambil alih dan diserahkan kepada orang lain. Para pejabat akan merampok hak-hak anak-anak yatim piatu dan para janda. Mereka yang bertolak dari ajaran yang jahat akan membuat bagi diri mereka sendiri suatu rampasan melalui aturan-aturan yang ditetapkan untuk memaksakan suara hati nurani.  Orang-orang akan mengambil harta yang bukan hak milik mereka. Kata-kata rasul itu akan digenapi di masa depan: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita penganiayaan.” 197.5———Maranatha 26 Juni hal 185

 

Symbolic Code buku 2 jld 11 no. 12 “Kerajaan sorga diumpamakan dengan sepuluh anak dara”:

Yehezkiel 36:29, 30:

“Aku juga akan menyelamatkan kamu daripada semua kecemaranmu; dan Aku akan menumbuhkan gandum, dan akan meningkatkannya, dan tidak akan mendatangkan kelaparan atasmu. Maka Aku akan melipat gandakan buah pohon, dan hasil ladang, sehingga tidak akan lagi kamu dicela karena kelaparan di antara orang-orang kapir.”

Jika tanah nenek moyang kita itu yang di dalam pasal ini berarti sorga, maka tidak akan terdapat orang-orang kapir disana untuk tidak lagi menyaksikan kecelaan karena kelaparan, sehingga dengan demikian bagian akhir dari ayat 30 itu menjadi tak berguna dan tidak berarti apa-apa.

 

Catatan:

Hal dalam bacaan Symbolic Code di atas tentunya dapat kita pahami berkaitan dengan penjelasan Ellen G. White pada Maranatha 22 Juni hal 181 khususnya paragraf yang pertama. Adalah bertentangan dengan Alkitab dengan masih mempersiapkan segala kebutuhan termasuk makanan, berarti hal ini mereka calon-calon 144000 masih mengandalkan kekuatannya sendiri, oleh karena itulah Tuhan akan membiarkan orang-orang asing merampas dan akan mengambil hasil kebun mereka, sehingga dengan demikian barulah calon-calon 144000 dipaksa untuk SEPENUHNYA BERGANTUNG KEPADA TUHAN.

Hal ini tentunya terjadi dalam pra kesusahan Yakub, yaitu hari ke 10 sampai ke 14 bulan ke 7, yaitu saat masih dalam pemilihan dan penentuan domba-domba yang akan disembelih sesuai Keluaran 12:3, 5.

Akibat dari perampasan persediaan makan mereka, tentunya mereka akan sesaat merasakan kelaparan dan hal ini disaksikan dan dicela oleh orang-orang asing tersebut, namun hal ini tidaklah akan berlangsung lama, karena telah dijanjikan makanan dan minuman mereka akan tersedia, sebagaimana pengalaman janda Sarfat ketika persediaan makannya harus berbagi dengan Elia, ia dan anaknya tidak tahu lagi esok akan makan apa, akan tetapi janji dari perkataan Elia dengan segera tergenapi. Sebagaimana dalam setiap janji Tuhan ada syarat yang harus terlebih dahulu dipenuhi, maka sama dengan pengalaman janda Sarfat mereka calon 144000 pun juga harus sepenuhnya yakin dan percaya, bukan bersungut-sungut seperti bangsa Israel saat di perjalanan keluar dari Mesir, berikut pengalaman keyakinan dan percaya dicontohkan oleh janda Sarfat:

Tidak ada ujian yang lebih besar daripada tuntutan ini. Sampai saat ini janda itu telah melayani semua orang asing dengan keramahan dan kedermawanan. Kini tanpa menghiraukan penderitaan yang mungkin membawa akibat buruk bagi dia dan anaknya, dan percaya kepada Allah Israel yang akan menyediakan setiap keperluan, ia menghadapi ujian kedermawanan yang luar biasa ini oleh mengerjakan “seperti yang dikatakan Elia.” —-PR 74.1

Ajaiblah kedermawanan perempuan Punikia ini, yang ditunjukkannya kepada nabi Allah, dan sungguh ajaiblah imannya yang memperoleh pahala, dengan limpahnya. “Maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makanan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurangan seperti Firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia. —-PR 74.2

Demikian pula hari ke 10 sampai dengan ke 14 ini kita akan mengalami ujian yang sama beratnya dengan janda Sarfat, karena kita pada dasarnya sama dengannya yaitu secara realistis punya kekawatiran apa yang akan kami makan dan apa yang akan kami minum bila tidak ada sama sekali persediaan, dari sini berarti tidak dipungkiri ketakutan seperti ini masih terbawa sampai dihari-hari pra kesusahan Yakub, walaupun dalam 40 hari pendidikan telah kesemuanya dipelajari. Melalui dirampasnya persediaan yang telah dipersiapkan, akhirnya kita semua akan sama dipaksa harus menjadikan Tuhan satu-satunya tempat kita bergantung, iman yang sama dengan janda Sarfat harus kita tunjukkan, demikian pula pengalaman Yunus yang akhirnya karena dilempar dari kapal oleh orang-orang ke lautan, ia juga dipaksa harus mengandalkan Tuhan satu-satunya tempat bergantung, berikut tulisan pengalaman Yunus tersebut:

Pada akhirnya Yunus mengetahui bahwa “keselamatan adalah dari Tuhan.” Mazmur 3:8. Dengan penyesalan dan pengakuan terhadap anugerah Allah yang menyelamatkan, datanglah kelepasan. Yunus dilepaskan dari kebinasaan yang sangat dalam dan telah didamparkan ke atas daratan yang kering.—– PR 155.5

Pengalaman-pengalaman contoh inilah ujian pra kesusahan Yakub. Kemudian karena hari-hari ini tidak berada dalam 7 hari pesta Tabernakel yang baru dimulai pada hari ke 15, berarti masa ini benar-benar masa pemilihan dan penentuan bagi kita.

Setelah hari ke 14, yaitu hari ke 15 barulah calon 144000 tersebut sudah dapat teridentifikasi setelah menang melewati perjuangan hari ke 10-14, walaupun mereka tetap tidak mengetahui bahwa mereka telah dimeterai, namun mereka telah benar-benar matang keserupaannya dengan Yesus, disini janji tidak akan ada yang mati barulah tergenapi.

 

 

BULAN KETUJUH TANGGAL SATU

(Suatu nubuatan peringatan sepuluh hari sebelum tanggal 2 Oktober jatuh pada tanggal 23 September 2027)

 

Bilangan 29:1

29:1 Pada bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, haruslah kamu mengadakan pertemuan yang kudus, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat; itulah hari peniupan serunai bagimu.

29:2 Pada waktu itu haruslah kamu mengolah sebagai korban bakaran menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN: seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan, tujuh ekor domba berumur setahun yang tidak bercela;

29:3 juga sebagai korban sajiannya: tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, yakni tiga persepuluh efa untuk lembu jantan itu, dua persepuluh efa untuk domba jantan itu

29:4 dan sepersepuluh efa untuk setiap domba dari ketujuh ekor domba itu;

29:5 dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa untuk mengadakan pendamaian bagimu,

29:6 selain dari korban bakaran bulan baru serta dengan korban sajiannya, dan korban bakaran yang tetap serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya, sesuai dengan peraturannya, menjadi bau yang menyenangkan, suatu korban api-apian bagi TUHAN.

29:7 Pada hari yang kesepuluh bulan yang ketujuh itu haruslah kamu mengadakan pertemuan yang kudus dan merendahkan dirimu dengan berpuasa, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan.

29:8 Pada waktu itu haruslah kamu mempersembahkan sebagai korban bakaran kepada TUHAN, sebagai bau yang menyenangkan: seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan, tujuh ekor domba berumur setahun; haruslah tidak bercela semuanya itu.

 

Imamat 23:27:

23:23 TUHAN berfirman kepada Musa:

23:24 “Katakanlah kepada orang Israel, begini: Dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari perhentian penuh yang diperingati dengan meniup serunai, yakni hari pertemuan kudus.

23:25 Janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat dan kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN.”

23:26 TUHAN berfirman kepada Musa:

23:27 “Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa dan mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN.

 

Untuk memahami ayat-ayat tersebut, kita ikuti dari bacaan pengalaman pembangunan dan reformasi yang di lakukan oleh Raja Hizkia:

 

2 Tawarikh 29: (Para Nabi dan Raja Bab 28 Hizkia)

29:1 Hizkia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abia, anak Zakharia.

29:2 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.

29:3 Pada tahun pertama pemerintahannya, dalam bulan yang pertama, ia membuka pintu-pintu rumah TUHAN dan memperbaikinya.

29:4 Ia mendatangkan para imam dan orang-orang Lewi, dan mengumpulkan mereka di halaman sebelah timur.

29:5 Katanya kepada mereka: “Dengarlah, hai orang-orang Lewi! Sekarang kuduskanlah dirimu dan kuduskanlah rumah TUHAN, Allah nenek moyangmu! Keluarkanlah kecemaran dari tempat kudus!

29:6 Karena nenek moyang kita telah berubah setia. Mereka melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allah kita, telah meninggalkan-Nya, mereka telah memalingkan muka dari kediaman TUHAN dan membelakangi-Nya.

29:7 Bahkan mereka menutup pintu-pintu balai rumah TUHAN dan memadamkan segala pelita. Mereka tidak membakar korban ukupan dan tidak mempersembahkan korban bakaran bagi Allah orang Israel di tempat kudus,

29:8 sehingga murka TUHAN menimpa Yehuda dan Yerusalem. Ia membuat mereka menjadi kengerian, kedahsyatan dan sasaran suitan (ejekan) seperti yang kamu lihat dengan matamu sendiri.

29:9 Karena hal itulah nenek moyang kita tewas oleh pedang, dan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kita beserta isteri-isteri kita menjadi tawanan.

29:10 Sekarang aku bermaksud mengikat perjanjian dengan TUHAN, Allah Israel, supaya murka-Nya yang menyala-nyala itu undur dari pada kita.

29:11 Anak-anakku, sekarang janganlah kamu lengah, karena kamu telah dipilih TUHAN untuk berdiri di hadapan-Nya untuk melayani Dia, untuk menyelenggarakan kebaktian dan membakar korban bagi-Nya.”

29:12 Lalu bangunlah orang-orang Lewi itu, yakni dari bani Kehat: Mahat bin Amasai dan Yoël bin Azaria, dari bani Merari: Kish bin Abdi dan Azaria bin Yehaleleel, dari orang Gerson: Yoah bin Zima dan Eden bin Yoah,

29:13 dari bani Elisafan: Simri dan Yeiel, dari bani Asaf: Zakharia dan Matanya,

29:14 dari bani Heman: Yehiel dan Simei, dan dari bani Yedutun: Semaya dan Uziel.

29:15 Mereka mengumpulkan saudara-saudaranya dan menguduskan dirinya. Kemudian mereka datang menurut perintah raja, sesuai dengan firman TUHAN, lalu mentahirkan rumah TUHAN.

29:16 Sesudah itu masuklah para imam ke bagian dalam rumah TUHAN untuk mentahirkannya. Semua yang najis, yang didapati mereka di dalam bait TUHAN, dibawa ke pelataran rumah TUHAN; orang-orang Lewi menerimanya untuk diangkut ke luar, ke lembah Kidron.

29:17 Pekerjaan menguduskan itu dimulai pada tanggal satu bulan yang pertama. Pada hari kedelapan bulan itu mereka sampai ke balai rumah TUHAN dan menguduskan seluruh rumah TUHAN dalam delapan hari. Mereka selesai pada hari keenam belas bulan pertama.

29:18 Lalu masuklah mereka menghadap raja Hizkia dan berkata: “Kami telah mentahirkan seluruh rumah TUHAN, juga mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya dan meja roti sajian dengan segala perkakasnya.

29:19 Dan segala perkakas, yang dibuang raja Ahas, ketika ia berubah setia pada masa pemerintahannya, telah kami sediakan dan kami kuduskan. Sekarang semuanya itu ada di depan mezbah TUHAN!”

29:20 Maka pagi-pagi raja Hizkia mengumpulkan pemimpin-pemimpin kota, dan pergi ke rumah TUHAN.

29:21 Mereka membawa tujuh ekor lembu jantan, tujuh ekor domba jantan, tujuh ekor domba muda dan tujuh ekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa untuk keluarga raja, untuk tempat kudus dan untuk Yehuda. Ia memerintahkan anak-anak Harun, yakni para imam, untuk mempersembahkannya di atas mezbah TUHAN.

29:22 Lalu mereka menyembelih lembu-lembu itu; para imam menerima darahnya dan menyiramkannya pada mezbah. Kemudian mereka, menyembelih domba-domba jantan dan menyiramkan darahnya pada mezbah. Sesudah itu mereka menyembelih domba-domba muda dan menyiramkan darahnya pada mezbah.

29:23 Selanjutnya mereka membawa kambing-kambing jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa ke hadapan raja dan jemaah. Mereka meletakkan tangannya ke atas kambing-kambing itu.

29:24 Dan para imam menyembelihnya dan mempersembahkan darahnya di atas mezbah sebagai  untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban penghapus dosa itu bagi seluruh Israel.

29:25 Ia menempatkan orang-orang Lewi di rumah TUHAN dengan ceracap, gambus, dan kecapi sesuai dengan perintah Daud dan Gad, pelihat raja, dan nabi Natan, karena dari TUHANlah perintah itu, dengan perantaraan nabi-nabi-Nya.

29:26 Maka berdirilah orang-orang Lewi dengan alat-alat musik Daud, demikian pula para imam dengan nafiri.

29:27 Lalu Hizkia memerintahkan untuk mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah. Pada saat persembahan korban bakaran dimulai, mulailah pula dinyanyikan nyanyian bagi TUHAN dan dibunyikan nafiri, dengan iringan alat-alat musik Daud, raja Israel.

29:28 Seluruh jemaah sujud menyembah sementara nyanyian dinyanyikan dan nafiri dibunyikan. Semuanya itu berlangsung sampai korban bakaran habis terbakar.

29:29 Sehabis korban bakaran dipersembahkan, raja dan semua orang yang hadir bersama-sama dia berlutut dan sujud menyembah.

29:30 Lalu raja Hizkia dan para pemimpin memerintahkan orang-orang Lewi menyanyikan puji-pujian untuk TUHAN dengan kata-kata Daud dan Asaf, pelihat itu. Maka mereka menyanyikan puji-pujian dengan sukaria, lalu berlutut dan sujud menyembah.

29:31 Kemudian berbicaralah Hizkia: “Sekarang kamu telah mentahbiskan dirimu untuk TUHAN. Mendekatlah dan bawalah korban-korban sembelihan dan korban-korban syukur ke rumah TUHAN!” Lalu jemaah membawa korban-korban sembelihan dan korban-korban puji-pujian; setiap orang yang rela hati membawa juga korban-korban bakaran.

29:32 Jumlah korban bakaran yang dibawa jemaah ialah: lembu tujuh puluh ekor, domba jantan seratus ekor dan domba muda dua ratus ekor. Semuanya sebagai korban bakaran bagi TUHAN.

29:33 Persembahan-persembahan kudus terdiri dari: lembu sapi enam ratus ekor dan kambing domba tiga ribu ekor.

Catatan:

Dari ayat-ayat Bilangan dan Imamat kita dapatkan bahwa pada hari pertama bulan yang ketujuh itu akan ada peniupan serunai dan peniupan ini adalah peringatan untuk melakukan upacara pengorbanan kepada Tuhan sebagai bukti pertobatan, peniupan serunai ini mengingatkan kita kepada pelajaran 10 anak dara pada Matius 25:6 tentang “terdengarlah suara orang berseru: Mempelai itu datang! Songsonglah dia!”, jadi berarti peniupan itu adalah pekabaran, namun tentunya yang menyuarakan adalah penginjil, gembala dan guru, karena Nabi telah tidak ada lagi yang hidup.

Kita saksikan persyaratan-persyaratan yang sama yang harus di persiapkan antara hari pertama bulan yang ke tujuh dan hari ke sepuluh bulan yang ketujuh, bila dikaitkan dengan nubuatan Keluaran 12:6 dimana dikatakan “Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja,” maka dapatlah kita pahami bahwa peniupan serunai pada hari pertama bulan yang ketujuh adalah pengingatan terakhir untuk berkorban bagi Tuhan sebagai bukti pertobat kita meninggalkan diri kita yang lama, menjadi manusia yang berserah sepenuhnya, sebelum kita akan terkurung selama 4 hari sebagaimana pengalaman kesusahan Yesus di taman Getsemani, karena selama 4 hari tersebut kita harus kuat sebagaimana Yesus dan hari-hari itu adalah penentuan bagi kita.

Terlebih jelas lagi hal tersebut dapat kita lihat dari contohnya yang dilakukan oleh Raja Hizkia dalam 2 Tawarikh pasal 29, dengan menggunakan terang dari Victor T. Houteff dari bagan tahun suci dan perayaan-perayaannya jawaban pertanyaan no. 50, yaitu bulan pertama dikaitkan dengan bulan ketujuh jelas sekali hari-hari itu berarti peringatan tentang kesempatan yang tidak boleh dilewatkan umatNya contoh saingan di akhir zaman, yaitu para calon 144000 untuk sepenuhnya mengevaluasi terakhir usaha pembangunan dan reformasinya untuk melakukan kepastian dirinya pantas atau layak serta mampu atau tidak menghadapi peristiwa keterpanggilan dan keterpilihannya pada hari ke sepuluh sesuai Keluaran 12:3 dan 5, yaitu pra kesusahan Yakub.

Hari ke 16 dari yang kita dapatkan dalam pengalaman Raja Hizkia, adalah saat Yesus mati di kayu salib, walaupun kita tahu bahwa hari ke 18 lah hari kemenangan Yesus karena telah bangkit dari kematian, namun pada dasarnya hari ke 16 lah bukti sebenarnya kemenangan Yesus, karena disaat itulah sebelum kematianNya, Ia mengatakan dalam Yohanes 19:30 kata-kata :“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” Demikian pula nanti dengan 144000 hari itu adalah akhir pembuktian kemenangannya.

Percobaan pembunuhan Yesus sebelum pengkhianatan

 

  1. Yohanes 8:57-59:

57 Maka kata orang-orang Yahudi itu kepadaNya: “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?”

58 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”

59 Lalu mereka mengambill batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilangkan dan meninggalkan Bait Allah.

  1. Kerinduan Segala Zaman 1 (Lukas 4:24-30):

Waktu Yesus menyinggung mengenai berkat-berkat yang diberikan kepada orang kafir, roh kesombongan kebangsaan dari para pendengarnya telah dibangkitkan, dan perkataan-Nya telah ditelan oleh suara yang menggemuruh banyak orang yang tidak merasa puas. Orang-orang ini telah menyombongkan diri mereka kerana memelihara Taurat, tetapi kini kesombongan mereka diserang, sehingga mereka hampir melakukan pembunuhan. Rombongan bubar, dan mereka pun menangkap Yesus, mendorong Dia keluar dari dalam rumah ibadah dan keluar dari dalam kota. Rupanya semua mengingini kebinasaan-Nya. Mereka menarik Dia hingga ke tepi jurang, dengan maksud untuk mendorong Dia jatuh. Teriakan kutukan memenuhi angkasa. Ada yang melempar batu pada-Nya, ketika dengan tiba-tiba Ia menghilang dari pemandangan mereka itu. Pesuruh-pesuruh surga yang menyertai Dia di dalam rumah ibadah juga menghantar Dia di tengah-tengah orang-orang yang sedang marah itu. Mereka menutup Dia daripada musuh-musuh-Nya dan membawa kepada suatu tempat yang aman. —–KSZ1 247.4.

  1. Lukas 13:31:

31 Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.”

  1. Matius 26:3-4:

3 Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas,

4 dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia.

(Catatan: dalam lanjutan ayat yang ke 14-16 dalam Kitab Matius 26 tersebut, barulah setelah Yudas bersepakat dengan imam-imam kepala untuk penangkapan Yesus.)

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart