<< Go Back

Sabat 14 Maret 2026

RENUNGAN PENDAHULUAN

AGAMA TUHAN

Christ’s Object Lessons p 48-50

Satu-satunya pengharapan bagi jiwa-jiwa ini ialah untuk menyadari dalam dirinya sendiri kebenaran perkataan Kristus kepada Nikodemus, “Kamu harus dilahirkan kembali.” “Jika seorang tidak dilahirkan kembali ia tidak melihat Kerajaan Allah.”

Kesucian yang benar adalah penyerahan diri seluruhnya kepada pelayanan Allah. Inilah syarat kehidupan umat beragama yang benar. Kristus memohon PENYERAHAN DIRI YANG SEBULAT-BULATNYA, UNTUK PENGABDIAN YANG TIDAK TERBAGI. Ia menuntut hati, pikiran, jiwa, kekuatan. Diri sendiri janganlah dimanjakan. Barangsiapa yang hidup untuk dirinya sendiri saja bukanlah umat Allah.

Kasih harus menjadi asas perbuatan. Kasih adalah prinsip dasar pemerintahan Allah di surga dan di bumi dan itu harus menjadi dasar tabiat umat Allah. Ini saja yang dapat menjadikan dan memelihara kita teguh. Ini saja dapat menyanggupkan kita untuk menahan penindasan dan pencobaan. Dan kasih akan dinyatakan dalam pengorbanan. Rencana penebusan diletakkan dalam pengorbanan, satu pengorbanan yang begitu luas dan dalam serta tinggi sehingga tidak dapat diukur. Tuhan telah menyerahkan segala sesuatu bagi kita dan mereka yang menerima Tuhan akan bersedia mengorbankan segala sesuatu demi penebusnya. Pandangan mengenai kehormatan dan kemuliaan-Nya akan lebih diutamakan daripada yang lain-lainnya.

Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan senang hidup bagi Dia, untuk mempersembahkan persembahan syukur kita kepada-Nya, untuk bekerja bagi Dia. Pekerjaan itu akan terasa ringan. Demi nama-Nya kita akan berhasrat untuk merasakan derita dan kerja keras dan berkorban. Kita akan turut merasakan kerinduan-Nya bagi keselamatan manusia. Kita akan merasakan kerinduan yang lembut terhadap jiwa-jiwa yang telah dirasakan-Nya.

Inilah agama Tuhan. Sesuatu yang kurang dari itu adalah suatu penipuan. Tidak ada teori kebenaran atau pengakuan sebagai murid-Nya yang dapat menyelamatkan suatu jiwa. Kita bukan milik Allah kecuali kita adalah milik Dia seluruhnya. Sikap hidup yang setengah-setengah hati dalam kehidupan umat beragama mengakibatkan tujuan manusia menjadi lemah dan berubah dalam keinginan. Usaha untuk melayani diri sendiri sambil mengaku melayani Tuhan menjadikan seorang pendengar memiliki hati yang berbatu-batu dan dia tidak dapat tahan bila ujian datang ke atasnya.

PENDENGAR DENGAN TANAH YANG BERBATU-BATU BERGANTUNG KEPADA DIRINYA SENDIRI GANTINYA BERGANTUNG KEPADA TUHAN

 

Christ’s Object Lessons 47

Akar tanaman itu menembus jauh ke dalam tanah, dan makanan untuk menghidupi tanaman itu tersembunyi dari pandangan. Demikianlah dengan umat Allah; adalah perantaraan persatuan yang tidak kelihatan dari jiwa itu dengan Tuhan, melalui iman, sehingga kehidupan rohani itu diberi makan. Tetapi para pendengar dengan tanah yang berbatu-batu bergantung kepada dirinya sendiri gantinya bergantung kepada Tuhan. Mereka percaya atas perbuatannya yang baik dan dorongan hati yang baik dan berkeras dalam kebenarannya sendiri. Mereka tidak kuat di dalam Tuhan dan di dalam kuasa kekuatan-Nya. Orang yang begitu “tidak berakar” karena ia tidak berhubungan dengan Juruselamat.

Matahari musim panas yang terik, yang memperkuat dan mematangkan gandum, membinasakan apa yang tidak berakar dalam-dalam. Jadi orang yang “tidak berakar” “tahan sebentar saja.” “Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.” Banyak orang menerima firman Tuhan sebagai suatu jalan keluar dari penderitaan, gantinya sebagai suatu kelepasan dari dosa. Mereka bersuka-suka sebentar, karena mereka kira agama akan membebaskan mereka dari kesusahan dan penindasan. Sementara kehidupan berjalan mudah bagi mereka, mereka kelihatan sebagai orang-orang beragama yang tekun. Tetapi mereka jatuh di bawah ujian pencobaan yang kejam. Mereka tidak tahan celaan demi nama Yesus. Bila firman Allah menunjukkan beberapa dosa kesayangan, atau menuntut penyangkalan diri atau pengorbanan, mereka tersinggung. Itu memerlukan terlalu banyak usaha untuk mengadakan perubahan yang radikal dalam kehidupannya. Mereka memandang kepada ketidak-senangan dan pencobaan sekarang ini lalu melupakan kenyataan-kenyataan yang kekal. Seperti murid-murid yang meninggalkan Yesus, mereka siap untuk berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” – Yohanes 6:60

Banyak orang yang mengaku menyembah Allah, TETAPI TIDAK MEMPUNYAI PENGETAHUAN YANG TELAH TERUJI TENTANG DIA. Keinginan mereka untuk melakukan kehendak-Nya didasarkan atas dorongan hatinya sendiri, bukan atas keyakinan yang mendalam dari Roh Kudus. Kelakuan mereka tidak disesuaikan dengan hukum Allah. Mereka mengaku menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka, tetapi mereka tidak percaya bahwa Ia akan memberikan kepada mereka kuasa untuk mengalahkan dosa-dosanya. Mereka tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Juruselamat yang hidup dan tabiat mereka menunjukkan cacat-cacat yang bersifat turunan maupun yang ditumbuhkan.

 

Catatan:

Memang fakta nyata banyak dari kita rata-rata menurut dan meyakini sesuatu produk kebenaran ketika masih sepakat dengan pengertian kita atau tidak mengoreksi praktek prilaku kita, TETAPI KETIKA TIDAK SESUAI DENGAN PIKIRAN KITA…… LEBIH-LEBIH MENUNTUT PERUBAHAN ATAS KEBIASAAN KITA YANG KITA SAYANGI ATAU KITA   NILAI SEBAGAI MANUSIA BERDOSA MASIH WAJAR-WAJAR SAJA …… KITA CENDERUNG TAWAR-TAWAR DAN LAMA-KELAMAAN MENGABAIKANNYA.

Setengah-setengah memang membuat kita tidak mendapat bantuan kuasa Roh Allah untuk menurut, jadi perubahan cenderung tidak bergerak,  berhenti ditempat. 

 

Setengah-setengah itu apa sebenarnya?….. Karena kita masih sering memakai penilaian/pandangan sendiri, tidak sepenuhnya mengikuti petunjuk Tuhan, itulah maksud dari setengah-setengah.

Sedangkan…. sepenuhnya adalah… sama seperti murid2 Yesus di dalam 40 hari MENYERAHKAN SEPENUHNYA DIRINYA…. TIDAK TANYA-TANYA, TAWAR-TAWAR, TIDAK COBA-COBA CAMPUR ADUK MENGGUNAKAN PIKIRANNYA KETIKA TUNTUTAN ITU MEWAJIBKAN DIA BERUBAH….. MENINGGALKAN SEMUA KEBIASAAN LAMANYA.

Tuntutan Tuhan tidak pernah SEJALAN dengan pikiran dan kebiasaan kita manusia….

Contoh dari zaman Abraham….. ia disuruh keluar dari Ur-Kas-Dim….. padahal Abraham sedang nyaman-nyamannya hidup, kemudian Lot disuruh keluar dari Sodom dan Gomora disaat kota itu masih belum ada tanda-tanda kebinasaan …. ia keluar tidak membawa harta bendanya sama sekali, Musa juga demikian…. dia yang biasa hidup mewah berkelimpahan, terhormat, hidupnya serba dilayani…. bahkan cuci piring, cuci bajupun tidak ia lakukan……. disuruh Tuhan menggembala domba sendiri tanpa ada orang lain yang ia bisa perintahkan……. Apa Tuhan menunggu persetujuan Musa dahulu untuk pendidikan 40 tahunnya tersebut….. Lokasinya….. Posisinya yang rendah itu? Kemudian Daniel juga kita diperlihatkan, ia harus bernyali untuk tidak menyembah raja untuk bisa tetap setia dan berdoa kepada Tuhan, akibatnya yang ia harus tanggung ….. adalah KEMATIAN dilempar ke dalam dapur api dan lubang singa yang kelaparan. Selanjutnya kita melompat ke Rasul-Rasul waktu mereka dipanggil jadi murid Yesus……. sama juga dengan contoh-contoh lain diatas….. tidak sama sekali sesuai dengan pikiran mereka….. Mereka harus meninggalkan pekerjaannya, keluarganya dan tidak juga membawa bekal atau harta mirip seperti Lot keluar dari kota Sodom dan Gomora, walaupun sudah demikian toh mereka juga masih perlu jalani pendidikan tambahan 40 hari untuk serupa dengan Yesus……. COBA RENUNGKAN….. TIDAK ADA SATUPUN YG SEJALAN DENGAN PIKIRAN KITA MANUSIA SAMA SEKALI.

JADI BAGAIMANA, MASIH KAH SAUDARA DAN SAYA….. MAU GUNAKAN PENILAIAN-PENILAIAN PIKIRAN KITA SENDIRI, LALU DICAMPURKAN DENGAN DEMIKIAN FIRMAN TUHAN?…………

Kita coba saksikan yang coba tawar-tawar tuntutan Tuhan……. SEORANG MUDA KAYA YANG DATANG KE YESUS, kemudian juga yang jelas-jelas umat Allah pekerja Allah YUNUS…… dia coba pakai caranya sendiri…. Pergi ke Tarsis bukan ke Niniweh….. Masih diuntungkan dia diberi kesempatan ke dua, dan kita lihat kesempatannya yang kedua…. Apa Tuhan rubah sasarannya jadi Tarsis….. TIDAK Tuhan tetap memerintahkannya harus ke Niniweh.

Pengalaman toleransi dan kenajisan terhadap pelanggaran dari Harun dan Musa dalam beraksi terhadap PATUNG LEMBU EMAS, memberikan contoh lain tentang menggunakan cara-cara sendiri dan sepenuhnya cara Tuhan……. reaksi Musa menurut manusia sangatlah kejam dengan memerintahkan pembunuhan terhadap 3000 orang, akan tetapi menurut sorga dikatakan MUSA ADALAH ORANG YANG PALING LEMAH LEMBUT…… adakah penilaian seperti ini sejalan pikiran Tuhan dengan manusia?

APAKAH MUNGKIN UNTUK JALAN YANG TERAKHIR BAGI CALON PEKERJANYA YANG PALING ISTIMEWA DARI SEMUA PENUAIAN……… TUHAN AKAN MENINGGALKAN POLA KETEGASANNYA YANG TERBUKTI DARI AIR BAH YANG HANYA MENGHASILKAN 8 ORANG SAJA, LALU IA SESUAIKAN DENGAN SELERA DAN KEMAUAN KITA MANUSIA YANG SANGAT MENYAYANGI DOSA-DOSANYA SEKARANG INI…….?

Artinya….. Ide pikiran/cara-cara kita itu TIDAK PERNAH DITERIMA TUHAN

INILAH TANTANGAN BAGI KITA DALAM PERJALANAN KEROHANIAN YANG TERAKHIR, YAITU PERJALANAN TUNTUTAN PENERAPAN HUKUM MORAL BUKAN HUKUM UPACARA…..

SETAN SEDANG GENCAR-GENCARNYA BEKERJA YANG TERAKHIR INI MELALUI CARA-CARA SENDIRI YANG DICAMPUR ADUKKAN DENGAN KEBENARAN TUHAN ……. PELAJARAN DARI MURID-MURID YESUS PADA YOHANES PASAL 6 MENDORONG AGAR MANUSIA MEMAHAMI HANYA SEJAUH SESUAI HURUF SAJA MENGABAIKAN MEMAHAMI SESUAI ROH…… MENGINGATKAN KITA AKAN WAHYU 12…… SEMBURAN AIR NAGA YANG MENYEJUKKAN……. SEKALI LAGI ….. MENYEJUKKAN …….. BUKAN ANIAYA, JADI SANGAT MUNGKIN UNTUK DITERIMA OLEH MASING-MASING KITA YANG BELUM MAU PAHAM……… W A S P A D A.  BERSEDIALAH BERKORBAN, BELAJARLAH DARI PENGALAMAN ISTRI LOT YANG TIDAK RELA BERKORBAN……. DAN LOT YANG RELA BERKORBAN.

…….. JANGAN SIA-SIAKAN KEMURAHAN TUHAN MEMBERIKAN PENDIDIKAN TAMBAHAN 40 HARI INI MENUNDA KEPULANGANNYA KE SORGA.

(Dilanjutkan kepada pelajaran dari pengalaman Murid-murid Yesus yang meninggalkannya dalam Yohanes 6)

Pelajaran dari murid-murid Yesus yang berkurang drastis karena tidak memahami kata-kata Yesus yang disampaikan sesuai Roh

 

(Catatan: Dalam bacaan ini terlihat awalnya Yesus memiliki murid yang cukup banyak, namun oleh akibat cara berpikir mereka yang sempit, yaitu memahami sesuatu pernyataan Yesus hanya sesuai HURUF-nya saja bukan sebagaimana Yesus sampaikan yang disampaikan sesuai ROH, akhirnya banyak dari antara mereka meninggalkanNya dan menyisakan murid-muridNya yang dunia Kristen kenali).

Yohannes 6:25-71:

6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?”

6:26 Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”

6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”

6:29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?

6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”

6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”

6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

6:35 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

6:41 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: “Akulah roti yang telah turun dari sorga.”

6:42 Kata mereka: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?”

6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.”

6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.

6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

6:59 Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.

6:60 Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”

6:61 Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?

6:62 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?

6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.

6:64 Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.

6:65 Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia

6:67 Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”

6:68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;

6:69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

6:70 Jawab Yesus kepada mereka: “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis.”

6:71 Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu.

Mengenai beralihnya banyak orang-orang yang awalnya percaya terpengaruh kepada pandangan-pandangan yang melemahkan, juga kita jumpai dalam pengalaman di peristiwa air bah yang lalu:

 

Mula-mula banyak orang yang kelihatannya menerima akan amaran itu; tetapi mereka tidak berpaling kepada Allah dengan pertobatan yang sejati. Mereka tidak mau meninggalkan dosa-dosa mereka. Selama waktu yang berlangsung sebelum air bah itu datang, iman mereka telah diuji dan mereka gagal untuk menghadapinya. Dikalahkan oleh ketidak-percayaan mereka yang sedang merajalela waktu itu, akhirnya mereka bergabung dengan sahabat-sahabat lamanya untuk menolak pekabaran yang khidmat itu. Beberapa orang yang benar-benar merasa dirinya berdosa dan mau memperhatikan amaran itu; tetapi begitu banyak yang mengolok-olok serta mencemoohkan sehingga mereka dengan roh yang sama telah menolak undangan yang penuh rahmat itu, dan dengan segera merekapun menjadi pengolok-olok yang paling berani; karena tidak ada seorangpun yang lebih takabur dan pergi begitu jauh dalam dosa seperti mereka yang dulunya mempunyai terang kebenaran, tetapi menolak Roh Allah yang dapat meyakinkan. —–PB 88.1

Apabila waktu berlalu, dengan tidak adanya tampak perubahan dalam alam, manusia yang tadinya hatinya digentarkan oleh rasa takut, sekarang tenang kembali. Mereka seperti orang-orang pada zaman ini berpendapat bahwa alam itu lebih tinggi daripada Allah yang menjadikan alam, dan bahwa hukum-hukumNya itu kokoh sehingga Allah sendiri tidak dapat mengubahnya. Sambil berpikir bahwa jikalau pekabaran Nuh itu benar, itu berarti bahwa alam ini berlawanan dengan kebiasaannya dan mereka pun menjadikan pekabaran ini, di dalam pikiran orang banyak di dunia ini, sebagai sesuatu yang tidak masuk akal—satu penipuan yang besar yang luar biasa. Mereka menyatakan ejekan terhadap amaran Allah dengan berbuat hal yang sama seperti sebelum amaran itu diberikan. Mereka teruskan dengan pesta pora mereka, dengan sifat kegelojohan; mereka makan minum, menanam dan membangun, mengadakan rencana-rencana sehubungan dengan keuntungan-keuntungan yang akan mereka peroleh pada hari-hari mendatang; dan mereka pergi lebih jauh dalam kejahatan dan dalam pelanggaran yang berani terhadap tuntutan-tuntutan Allah, untuk menyatakan bahwa mereka tidak takut kepada Oknum yang tidak terbatas itu. Mereka katakan seandainya ada kebenaran dalam apa yang dikatakan oleh Nuh, maka orang-orang yang termasyhur—orang-orang bijaksana dan pintar—tentu akan dapat memahami keadaan itu. —– PB1 89.3

 

 

Contoh lain tentang kesalahan pemahaman yang sama masih dialami juga pada murid-muridNya yang pada akhirnya baru dapat dipahami di 40 hari:

Jawaban Yesus tentang 3 hari Bait Suci akan didirikan kembali yang pengertiannya baru diberikan setelah kebangkitannya

 

Melebihi semua orang, imam-imam dan penghulu-penghulu sudah seharusnya melihat Yesus yang diurapi Tuhan; sebab di tangan mereka ada surat-surat gulungan suci yang melukiskan tugas-Nya, dan mereka tahu bahwa pembersihan Bait Suci itu adalah suatu pernyataan kuasa yang besar daripada kuasa manusia. Betapapun mereka membenci Yesus mereka tidak dapat melepaskan diri dari pikiran bahwa mungkin Ia seorang nabi yang diutus oleh Allah untuk memulihkan kesucian Bait Suci itu. Dengan perasaan hormat yang lahir dari perasaan takut ini, pergilah mereka kepada-Nya dengan pertanyaan, “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan pada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” —— KSZ1 163.3

 

Yesus telah menunjukkan kepada mereka suatu tanda. Dalam memancarkan cahaya ke dalam hati mereka, dan dalam melakukan di hadapan mereka perbuatan yang harus dilakukan Mesias, Ia telah memberikan bukti yang meyakinkan dari tabiat-Nya. Kini ketika mereka meminta sesuatu tanda, Ia menjawab kepada mereka dengan menggunakan suatu perumpamaan, yang menunjukkan bahwa Ia membaca dendam hati mereka, serta melihat hingga sejauh mana dendam itu akan membawa mereka. “Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” —– KSZ1 164.1

 

Dalam ucapan ini maksud-Nya adalah rangkap dua. Ia bukan saja berkata tentang kebinasaan Bait Suci dan perbaktian Yahudi, tetapi juga kematian-Nya sendiri, kebinasaan Bait Suci tubuh-Nya. Ini sudah direncanakan oleh orang Yahudi dengan diam-diam. Ketika imam-imam dan penghulu-penghulu kembali ke Bait Suci, mereka telah berniat hendak membunuh Yesus, dan dengan demikian membebaskan diri mereka sendiri dari si pengacau itu. Namun ketika Ia menghadapkan kepada mereka maksud mereka itu, mereka tidak mengerti akan Dia. Mereka itu memahami ucapan-Nya itu menyangkut hanya Bait Suci yang di Yerusalem dan dengan marah sekali mereka berseru, “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Sekarang mereka merasa bahwa Yesus sudah membenarkan kurang percaya mereka, lalu bertambah kuatlah mereka dalam penolakan terhadap Dia. —— KSZ1 164.2

Kristus tidak bermaksud ucapan-Nya itu dipahami oleh orang Yahudi yang kurang percaya ataupun oleh murid-murid-Nya pada saat itu. Ia tahu bahwa ucapan itu akan disalahpahami oleh musuh-musuh-Nya, dan akan dipakai untuk melawan Dia. Pada waktu Ia diadili ucapan itu akan dihadapkan sebagai tuduhan, dan di Golgota ucapan itu juga akan dilontarkan kepada-Nya sebagai ejekan. Tetapi untuk menerangkannya sekarang akan memberitahukan kepada murid-murid-Nya tentang segala penderitaannya, lalu menimbulkan dalam mereka dukacita yang hingga kini belum sanggup mereka tanggung. Dan suatu penjelasan tentang hal itu akan memaparkan kepada orang Yahudi akibat prasangka dan kurang percaya mereka sebelum waktunya. Sekarang mereka sudah mulai masuki suatu jalan yang akan terus mereka jalani hingga Ia kelak di tuntun seperti seekor anak domba ke tempat pembantaian. —— KSZ1 164.3

Untuk kepentingan orang-orang yang akan percaya kepada-Nyalah maka ucapan Kristus itu dikeluarkan. Ia mengetahui bahwa ucapan itu akan diulangi lagi. Karena diucapkan pada pesta Paskah, ucapan itu akan terdengar oleh ribuan orang, dan akan tersiar ke seluruh pelosok dunia ini. Setelah Ia bangkit dari antara orang mati, arti ucapan itu akan dijelaskan. Bagi orang banyak ucapan itu akan merupakan bukti yang tegas tentang Keilahian-Nya.—— KSZ1 165.1

Karena kegelapan rohani mereka, murid-murid Yesus sendiri pun sering gagal untuk mengerti akan pengajaran-Nya. Akan tetapi kebanyakan pelajaran-pelajaran itu dijelaskan kepada mereka oleh peristiwa-perisitwa yang terjadi kemudian. Waktu Ia tiada lagi berjalan dengan mereka, ucapan-Nya itu pun merupakan penolong yang kuat dalam hati mereka. —– KSZ1 165.2

Mengenai Bait Suci yang di Yerusalem itu, ucapan Juruselamat, “Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali,” mengandung arti yang lebih dalam lagi daripada yang dipahami oleh para pendengar. Kristuslah dasar dan hidup Bait Suci itu. Segala upacaranya melambangkan korban Anak Allah. Keimamatan sudah diadakan untuk membayangkan sifat pengantaraan dan pekerjaan Kristus. Seluruh rencana perbaktian korban-korban adalah bayangan kematian Juruselamat untuk menebus dunia ini. Tidak akan ada lagi khasiat dalam semua persembahan ini apabila peristiwa besar ke arah mana semuanya itu telah menunjuk berabad-abad lamanya sudah digenapkan. —– KSZ1 165.3

BENTENG PERBUATAN BURUK YANG PALING KUAT……………..

 

Benteng perbuatan buruk yang paling kuat di dunia kita ini bukanlah kehidupan yang lalim dari orang berdosa yang ditinggalkan atau orang buangan yang diremehkan; melainkan kehidupan yang sebaliknya kelihatan berbudi luhur, terhormat, dan mulia, tetapi di mana satu dosa dipelihara, satu sifat buruk dimanjakan. Kepada jiwa yang bergumul secara diam-diam melawan pencobaan yang sangat besar, bagaikan seorang yang gemetar di pinggir tebing curam, adalah salah satu dari umpan yang paling berkuasa untuk berdosa. Orang yang diberkati dengan pemahaman tinggi tentang kehidupan, kebenaran dan kehormatan yang tinggi, namun dengan sengaja melanggar satu peraturan dari hukum Allah yang suci, telah merusak karunia-Nya yang suci menjadi suatu pikatan kepada dosa. Kecerdasan pikiran, simpati, bahkan perbuatan kemurahan hati dan kebaikan, bisa menjadi umpan Setan untuk memikat jiwa-jiwa lain ke tebing curam kehancuran hidup ini dan hidup yang akan datang. ——— KAB p.107

——————————-

Khotbah Di Atas Bukit, p 104 – 105

“Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu.” Matius 6:22.

Kebulatan maksud, ketaatan sepenuh hati kepada Allah, adalah syarat yang ditunjukkan oleh kata-kata Juruselamat itu. Biarlah maksud ikhlas dan teguh untuk melihat kebenaran supaya diturut berapa pun harganya, dan engkau akan menerima penerangan Ilahi. Kesalehan sejati mulai apabila segala kompromi dengan dosa berakhir. Kemudian bahasa hati akan menjadi seperti yang dikatakan Rasul Paulus: “Tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Filipi 3:13, 14, 8.

Tetapi apabila mata dibutakan oleh cinta diri, yang ada hanyalah kegelapan. “Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.” Kegelapan yang menakutkan inilah yang menyelimuti orang Yahudi dalam ketidakpercayaan yang bandel, membuat mustahil bagi mereka untuk menghargai tabiat dan misi Dia yang datang untuk menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka.

Menyerah kepada pencobaan mulai dengan membiarkan pikiran ragu-ragu untuk tetap yakin kepada Allah. Jika kita tidak memilih untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah maka kita berada dalam kegelapan. Setiap simpanan yang kita pertahankan, berarti kita sedang membiarkan pintu terbuka yang melaluinya Setan akan masuk untuk menyesatkan kita dengan cobaan-cobaannya. Dia tahu jika dia dapat mengaburkan penglihatan kita, agar mata iman tidak dapat melihat Allah, maka tidak akan ada penghalang terhadap dosa.

Kuatnya keinginan yang berdosa menunjukkan bahwa jiwa sedang berada dalam delusi. Setiap pemanjaan terhadap keinginan itu memperkuat kebencian jiwa terhadap Tuhan. Ketika kita menempuh jalan yang dipilih Setan, kita dilingkupi oleh bayang-bayang kejahatan, dan setiap langkah membawa kita ke dalam kegelapan yang lebih dalam serta menambah kebutaan hati.

Hukum yang sama berlaku dalam kerohanian sebagaimana dalam dunia kebiasaan. Orang yang tinggal di dalam kegelapan akhirnya akan kehilangan kuasa untuk melihat. Dia dikurung oleh kegelapan yang lebih gelap daripada tengah malam; dan baginya tengah hari yang paling terang bisa tidak membawa terang. “Ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.” 1 Yohanes 2:11. Dengan terus-menerus menyayangi kejahatan, dengan sengaja tidak menghargai bujukan kasih Ilahi, orang berdosa kehilangan kasih untuk kebaikan, kerinduan untuk Allah, kemampuan untuk menerima terang surga. Undangan kemurahan hati masih penuh dengan kasih cahaya yang bersinar terang bagaikan pertama kali menyinari jiwanya; tetapi suara masuk-ke telinga-telinga yang tuli, terang bersinar ke mata yang buta.

Tidak ada jiwa yang akhirnya pernah ditinggalkan Allah, menyerah kepada jalan-jalannya sendiri, selama ada harapan untuk keselamatannya. “Manusia yang berbalik dari Allah, bukan Allah yang berbalik dari manusia. Bapa kita yang di surga mengikut kita dengan seruan, amaran, dan jaminan belas kasihan, sebelum kesempatan-kesempatan dan hak-hak istimewa selanjutnya akan sia-sia sama sekali. Tanggung jawabnya terletak pada orang berdosa. Dengan menolak Roh Allah sekarang, dia menyediakan jalan untuk penolakan terang kedua ketika saat itu datang kuasa yang lebih hebat. Dengan demikian dia lewatkan dari satu tingkat penolakan ke tingkat penolakan lainnya, hingga akhirnya terang itu akan gagal memberikan kesan, dan dia akan berhenti memberi reaksi dengan tindakan apa saja kepada Roh Allah. Dan malah “terang yang ada di dalam kamu” telah menjadi kegelapan. Kebenaran yang kita ketahui itu telah dijadikan untuk menambah kebutaan jiwa.

——————————

Sebagai anak-anak Allah, kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi pemenang, dan sebagai pelajar yang berusaha menghormati dan memuliakan Allah, kita harus belajar untuk menunjukkan diri kita layak di hadapan Allah, pekerja yang tidak perlu malu. Pekerja bagi Allah harus berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi wakil Kristus, membuang semua gerak-gerik yang tidak pantas dan ucapan yang kasar. Oh, semoga kaum muda yang sekarang sedang membentuk kebiasaan mereka berusaha mencapai kesempurnaan! Mereka harus berusaha menggunakan bahasa yang benar, dan meskipun ada banyak orang yang ceroboh dalam cara mereka berbicara, namun dengan perhatian yang cermat dan teliti, mereka dapat menjadi wakil kebenaran. Setiap hari mereka harus maju dan tidak mengurangi kegunaan dan pengaruh mereka dengan memelihara kekurangan dalam tingkah laku, nada, atau bahasa. Melalui kewaspadaan yang ketat dan disiplin yang sungguh-sungguh, kaum muda Kristen dapat menjaga lidahnya dari kejahatan dan bibirnya agar tidak mengucapkan hal-hal yang jahat, tipu daya. Ungkapan-ungkapan umum dan murahan harus digantikan dengan kata-kata yang benar dan murni, dan kita harus berhati-hati agar tidak mengucapkan kata-kata kita dengan salah. Ada orang-orang di antara kita yang secara teori tahu lebih baik daripada menggunakan bahasa yang salah, namun dalam praktiknya mereka sering membuat kesalahan. Tuhan menghendaki kita berhati-hati untuk melakukan yang terbaik, menggunakan kemampuan dan kesempatan kita dengan bijak. Tuhan telah menganugerahi manusia dengan karunia-karunia yang dengannya mereka harus memberkati dan membangun orang lain, dan adalah tugas kita untuk mendidik diri kita sendiri agar kita dapat menjadi yang terbaik untuk pekerjaan besar yang dipercayakan kepada kita. —–CE123

————————————

……… (Komentar Rein Terinathe December 27, 2025 ; Bukan membantu sesama manusia dengan memberikan bantuan/sumbangan-sumbangan yang seperti orang-orang pada umumnya lakukan, bacaan berikutnya pada dasarnya sama, hanya banyak orang salah memahaminya.)  Tugas kita yang pertama kepada Allah dan kepada sesama manusia adalah dalam memperkembangkan diri sendiri. Setiap kesanggupan yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita harus diperkembangkan sampai ke taraf kesempurnaan yang paling tinggi, agar supaya kita sanggup berbuat kebajikan yang terbesar yang kita sanggup lakukan. Agar dapat menyucikan dan memperhalus tabiat kita, maka kita membutuhkan anugerah dari Tuhan yang akan menyanggupkan kita melihat dan memperbaiki kekurangan-kekurangan kita dan memperkembangkan apa yang baik di dalam tabiat kita. —-MABJ 173-174

———————————–

Kasih, Prinsip Utama Tindakan

Janganlah kita mengasihi hanya dengan perkataan saja… tetapi dengan perbuatan dan dengan jujur. 1 Yohanes 3:18 .

Kasih ilahi menyampaikan seruan yang paling menyentuh hati ketika Ia memanggil kita untuk menunjukkan belas kasihan yang sama seperti yang ditunjukkan Kristus. Hanya orang yang memiliki kasih tanpa pamrih kepada sesamanya yang memiliki kasih sejati kepada Allah. Orang Kristen sejati tidak akan dengan sengaja membiarkan jiwa yang dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan dibiarkan tanpa peringatan dan perhatian. Ia tidak akan menjauhkan diri dari orang yang tersesat, membiarkan mereka semakin terjerumus ke dalam ketidakbahagiaan dan keputusasaan atau jatuh ke medan pertempuran Setan.

Mereka yang belum pernah mengalami kasih Kristus yang lembut dan memikat tidak dapat menuntun orang lain ke mata air kehidupan. Kasih-Nya di dalam hati adalah kekuatan yang mengikat, yang menuntun manusia untuk menyatakan Dia dalam percakapan, dalam roh yang lembut dan penuh belas kasihan, dalam mengangkat kehidupan orang-orang yang bergaul dengan mereka. Para pekerja Kristen yang berhasil dalam usaha mereka harus mengenal Kristus; dan untuk mengenal Dia, mereka harus mengenal kasih-Nya. Di surga, kesesuaian mereka sebagai pekerja diukur dari kemampuan mereka untuk mengasihi seperti Kristus mengasihi dan bekerja seperti Dia bekerja.

“Janganlah kita mengasihi hanya dengan perkataan,” tulis rasul itu, “tetapi dengan perbuatan dan kebenaran.”

Kesempurnaan karakter Kristen tercapai ketika dorongan untuk menolong dan memberkati orang lain terus-menerus muncul dari dalam diri. Suasana kasih yang mengelilingi jiwa orang percaya inilah yang menjadikannya sumber kehidupan yang membawa kepada kehidupan, dan memungkinkan Allah untuk memberkati pekerjaannya.

Kasih tertinggi kepada Allah dan kasih tanpa pamrih kepada sesama—inilah karunia terbaik yang dapat diberikan Bapa Surgawi kita. Kasih ini bukanlah dorongan sesaat, melainkan prinsip ilahi, suatu kekuatan yang kekal. Hati yang tidak dikuduskan tidak dapat menciptakan atau menghasilkan kasih ini. Hanya di dalam hati tempat Yesus berkuasa kasih ini ditemukan. Kita mengasihi Dia, karena Ia terlebih dahulu mengasihi kita.” Di dalam hati yang diperbarui oleh kasih karunia ilahi, kasih adalah prinsip utama tindakan.

Kasih ini mengubah karakter, mengatur dorongan, mengendalikan nafsu, dan memuliakan perasaan.

Kasih ini, yang dipelihara dalam jiwa, mempermanis hidup dan memberikan pengaruh pemurnian kepada semua orang di sekitar kita.

(Komentar Rein Terinathe : Ny. Ellen G. White memberikan satu buah contoh kasih kepada sesama dari pengalaman Yohanes, disini kita lihat bahwa yang dibantu oleh Yohanes kepada sesama bukanlah materi, akan tetapi pemahaman tentang bagaimana roh Kasih Allah itu, jadi jauh sekali pemahaman kasih kepada sesama dengan pikiran orang-orang kebanyakan.) Yohanes berusaha membimbing orang-orang percaya untuk memahami hak istimewa yang luhur yang akan mereka peroleh melalui penerapan roh kasih. Kuasa penebusan ini, yang memenuhi hati, akan mengendalikan setiap motif lain dan mengangkat pemiliknya di atas pengaruh-pengaruh dunia yang merusak. Dan ketika kasih ini dibiarkan berkuasa penuh dan menjadi kekuatan pendorong dalam hidup, kepercayaan dan keyakinan mereka kepada Allah dan cara-Nya berurusan dengan mereka akan menjadi sempurna.— Kisah Para Rasul, 550-552 . RC234

——————————-

“Karena engkau menuruti Firman-KU, untuk tekun menantikan AKU, maka AKU pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.” Dalam ayat ini telah ditunjukkan saat pencobaan yang akan mencobai mereka yang diam di bumi. Kita sedang hidup disaat pencobaan itu. Tak seorangpun bisa terlepas dari pertentangan ini. Jikalau di dalam kehidupanmu ada tabiat yang cacat yang tidak engkau berjuang mengalahkannya, boleh dipastikan bahwa musuh itu akan berusaha mengambil keuntungan daripadanya. Karena musuh itu selalu siap siaga mencari kesempatan untuk merusak iman setiap orang..——- Review and Herald 9 Juli 1908

——————————-

 

Teguran Ilahi berlaku atas dia yang menolak persahabatan dengan mereka yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba, semata-mata karena mereka tidak kaya, terpelajar, atau dihormati dalam dunia ini. Kristus, Tuhan atas kemuliaan, merasa puas dengan mereka yang lembut dan rendah hati, betapa pun sederhananya panggilan mereka, apa saja pangkat atau derajat kepintaran mereka. —–PI 291.1

 

Adalah orang-orang yang menunggu yang akan dimahkotai dengan kemuliaan, kehormatan, dan keabadian. Kamu tidak perlu berbicara dengan Saya tentang kehormatan dunia, atau pujian dari orang-orang hebat. Itu semua adalah kesia-siaan. Biarkan jari TUHAN menyentuh mereka dan mereka akan segera kembali menjadi debu. Saya ingin kehormatan yang kekal, kehormatan yang abadi, kehormatan yang tidak akan pernah binasa, sebuah mahkota yang lebih kaya, daripada mahkota apapun yang pernah menghiasi kening seorang raja —– Review and Herald, 17 Agustus 1869.

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart