<< Go Back

Sabat 31 Januari 2026

DORONGAN KEBANGUNAN SEMANGAT PERJUANGAN

 

Setelah kejatuhan Adam dari keadaan kebahagiaan sempurna kepada satu kondisi dosa dan kesengsaraan, ada bahaya bahwa para pria dan wanita akan berkecil hati…. Namun amaran-amaran yang Allah berikan kepada Adam, dan yang diulang-ulangi oleh Set dan sepenuhnya diteladani oleh Henokh, menyingkirkan kesuraman dan kegelapan itu, memberikan pengharapan kepada semua orang, bahwa sebagaimana melalui Adam ada kematian, maka melalui Yesus, Penebus yang dijanjikan itu, akan ada kehidupan dan kekekalan. —- Signs of the Times, 20 Feb, 1879 (Suara Hati Nurani 7 Juli, hal 197)

 

Catatan:

ini contoh pelajaran KENAPA HENOKH dan ELIA tidak merasai kematian…… JAWABANNYA KARENA DIA …… JAUH LEBIH PATUH MENELADANI AMARAN-AMARAN yang ALLAH berikan kepada ADAM DAN JUGA SET…… jadi Henoch cuma punya DOSA TURUNAN, tapi dosanya sendiri tidak ada, …… oleh sebab itu sesuai tahapan pelajaran pembenaran oleh iman, DOSA TURUNAN itu (Ulangan 5:9 TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalas kesalahan ayah kepada anak-anaknya sampai keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku) akan dipikul oleh Yesus, lalu sesuai rumus Roma 6:23 (upah dosa ialah maut), maka TIDAK ADA HAL YANG MENGAKIBATKAN HENOCH HARUS MATI, sehingga Henoch layak untuk diangkat ke Sorga hidup-hidup tidak merasai kematian.

Beda dengan yang lain, di bacaan ini disebutkan Adam dan Set…… jelas karena Adam kita semua tidak dapat selamat bila tidak ada penebusan Yesus, maka dia harus menerima akibat dosa yaitu maut, kemudian walaupun tidak dijelaskan tentang bagaimana kehidupan Set, namun dari perbedaan cerita pengalaman Adam dan Henoch hidup, kita dapat paham bahwa Set tentunya masih memiliki dosanya sendiri yang membuatnya tidak bisa disamakan dengan Henoch dan Elia, walaupun mereka kedua-duanya bertobat dari segala pelanggarannya, tetapi akhirnya karena DAMPAK DARI PELANGGARAN HUKUM PRIBADI TERSEBUT, KEPADA MASING-MASING …… ADA KECEMARAN, sehingga tidak bisa sebersih Henoch dan Elia.

Oleh karena demikian, kepada keduanya mereka harus merasai upah dosanya, yaitu maut, sebagai pembayaran pribadi. Dan maut yang dijalani adalah maut sementara, sedangkan terhadap maut kekalnya telah dibayarkan oleh Darah Yesus.

 

Demikian juga perlakuan hukum yang sama berlaku juga kepada semua umat Allah setelah Adam dan Set.

Itulah sebabnya kenapa Abraham yang walaupun disebut sebagai BAPA ORANG PERCAYA ……. masih harus merasai kematian…… karena Abraham masih punya dosanya sendiri, demikian pula dengan Musa, walaupun hanya sesaat kemudian ia dibangkitkan kembali, tetapi hal tersebut adalah bukti kekonsistenan Tuhan akan penerapan hukumNya.

 

Selanjutnya, logika penerapan hukum ini apakah berlaku untuk 144.000 dan buah-buah kedua?

 

Pertanyaan timbul:

Kita paham bahwa 144.000 adalah contoh saingan dari Elia dan buah kedua dari Henoch, namun bukankah calon 144.000 yang dikatakan pasukan teristimewa dari sepanjang generasi umat Allah adalah contoh saingan juga dari bangsa Israel, contoh saingan Yakub, contoh saingan dari Rasul-Rasul yang diantaranya ada Petrus, yang mana kesemuanya juga sama dengan Adam dan Set selain memiliki dosa turunan, tetapi juga jelas mereka memiliki dosa-dosa atas pelanggaran hukum yang dilakukan mereka sendiri, yang bahkan dalam dikatakan disamakan dengan lambang Lot dan Yosua, yaitu bagaikan puntung yang dipungut dari antara bara api. Demikian pula dengan buah-buah kedua, mereka berasal dari orang-orang gereja yang sudah rubuh-sudah rubuh babel, dari bangsa-bangsa kapir dan sebagian belum pernah sama sekali mendengar nama Tuhan, tentu mereka selama ini mematuhi, menjalankan dan mengajarkan secara luas PIKIRAN MANUSIA, sehingga kedua kelompok buah-buah hasil penuaian pekerjaan akhir dunia ini TIDAK SAMA SEKALI SAMA DENGAN LAMBANG ELIA dan HENOCH, PANTASKAH MEREKA TIDAK MERASAI KEMATIAN SAMA SEKALI, DISELAMATKAN BERKERAJAAN BERSAMA YESUS SELAMANYA? BAHKAN 144.000 AKAN MENJADI PASUKAN PENDAMPING YESUS YANG DIKATAKAN TERTINGGI DARI SELURUH ALAM SEMESTA? Bila tadi di dalam membahas kematian Musa, kita berbicara KONSISTENSI, tetapi mengapa dalam hal 144.000 dan buah kedua TIDAK ADA KONSISTENSI PENERAPAN PERLAKUAN HUKUM oleh Tuhan?

 

Sejauh ini kita tidak memperoleh jawaban atas pertanyaan di atas, namun memang demikianlah nubuatan-nubuatan dan interpretasinya yang dibukakan kepada kita bahwa 144.000 dan buah-buah kedua memang akan diselamatkan dari dunia ini tanpa merasai kematian, sama sebagaimana Elia dan Henoch, itulah sebabnya sangatlah DIISTIMEWAKANNYA KITA MANUSIA-MANUSIA YANG SAMA DENGAN LOT, YAKUB, BANGSA ISRAEL DAN JUGA PETRUS.

Oleh karena itu janganlah lagi kita MENUTUT LEBIH, BERSUNGUT-SUNGUT MERASA DITINGGALKAN, MERASA TIDAK ADIL DAN TERUS MENERUS MENGELUH DAN MENAMPAKKAN KEKECEWAAN YANG TIDAK BERKESUDAHAN MENGIKUTI PIKIRAN-PIKIRAN MANUSIA KITA……. SEBALIKNYA KITA HARUSLAH BERSYUKUR DAN BERTERIMA KASIH YANG SANGAT-SANGAT BESAR KARENA KITA LEBIH DIISTIMEWAKAN DARI SEMUA PAHLAWAN-PAHLAWAN ALLAH DARI SEMUA ZAMAN SEJAK ADAM DAN HAWA DAHULU, ….. BAHKAN KEDUDUKAN 144.000 NANTI LEBIH TINGGI DARI HENOCH DAN ELIA.

 

MANFAATKANLAH SEGERA, ABAIKAN PENGARUH ROH-ROH JAHAT YANG ADA DALAM PIKIRAN-PIKIRAN MANUSIA KITA. KESEMPATAN EMAS YANG TUHAN BERIKAN SEBENTAR LAGI AKAN BERAKHIR, SEGERALAH JANGAN BERLAMBATAN, BERHENTILAH BERPIKIR DENGAN PIKIRAN-PIKIRAN PENYESAT YANG ADA TERUS DIGAUNGKAN DARI LINGKUNGAN KITA DAN DARI BUAH PIKIRAN-PIKIRAN JAHAT DI DALAM DIRI KITA, LAWANLAH MEMENANGKAN PEPERANGAN DENGAN DIRI KITA SENDIRI, ….. TOH UNTUK MEMENANGKANNYAPUN KITA TIDAKLAH DIBIARKAN SENDIRIAN, KASIH KARUNIA TURUT MEMBANTU KITA BERJUANG……. TINGGAL KESEDIAAN KITA MEMBUKA DIRI BEKERJA SAMA DENGANNYA. DEMIKIANLAH KEMURAHANNYA YANG SANGAT-SANGAT MELIMPAH DIBERIKAN KEPADA KITA YANG SEBENARNYA ……. SANGAT-SANGAT TIDAK LAYAK INI.

JANGAN TAWAR HATI, JANGAN KECIL HATI, INGATLAH JANJINYA:

  • Yesaya 1:18 (TB):“Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”
  • Yesaya 1:19 (TB):“Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.” 

 

Lalu kembali lagi pertanyaan lainya timbul:

Akankah terjadi gejolak di dalam sorga ketika dari semua penebusan selesai terlaksana, kebangkitan pertama telah dilaksanakan dan kesemua rombongan penebusan hadir di hadapan Tuhan, kemudian mereka semua mengetahui bahwa 144.000 dan buah-buah kedua tidak merasai kematian? Adilkah ini? Sedangkan tokoh-tokoh Alkitab selain Henoch dan Elia harus merasai kematian?……. ADAKAH IRI HATI MASIH ADA DIANTARA MEREKA?

 

MARILAH KITA LANJUTKAN KEPADA BACAAN RENUNGAN PENDAHULUAN

RENUNGAN PENDAHULUAN

 

IRI HATI DAN KRITIK

 

Iri hati bukanlah sekedar sifat buruk, tetapi suatu penyakit yang mengganggu semua kemampuan. Semua itu bermula dari Setan. Ia ingin menjadi yang pertama di surga, dan karena ia tidak dapat memiliki semua kekuasaan dan kemuliaan yang diinginkannya, ia memberontak terhadap pemerintahan Allah. Ia iri kepada orang tua pertama kita dan menggoda mereka untuk berbuat dosa, sehingga menghancurkan mereka dan seluruh umat manusia.

Orang yang iri hati menutup mata terhadap sifat-sifat baik dan perbuatan mulia orang lain. Ia selalu siap untuk meremehkan dan salah menggambarkan hal-hal yang baik. Manusia sering mengakui dan meninggalkan kesalahan-kesalahan lain, tetapi sedikit yang dapat diharapkan dari orang yang iri hati. Karena iri hati terhadap seseorang berarti mengakui bahwa ia lebih unggul, kesombongan tidak akan mengizinkan konsesi apa pun. Jika upaya dilakukan untuk meyakinkan orang yang iri hati tentang dosanya, ia menjadi semakin pahit terhadap objek nafsunya, dan terlalu sering ia tetap tidak dapat disembuhkan.

Orang yang iri hati menyebarkan racun ke mana pun ia pergi, menjauhkan teman dan membangkitkan kebencian serta pemberontakan terhadap Tuhan dan manusia. Ia berusaha untuk dianggap terbaik dan terhebat, bukan dengan melakukan upaya heroik dan penuh pengorbanan untuk mencapai tujuan keunggulan itu sendiri, tetapi dengan tetap berada di tempatnya dan meremehkan jasa yang seharusnya diberikan kepada upaya orang lain. …

Lidah yang senang berbuat jahat, lidah yang cerewet yang berkata, “Laporkan, dan aku akan melaporkannya,” dinyatakan oleh rasul Yakobus sebagai lidah yang terbakar api neraka. Lidah itu menyebarkan bara api ke segala arah. Apa peduli si penyebar gosip bahwa ia memfitnah orang yang tidak bersalah? Ia tidak akan menghentikan perbuatan jahatnya, meskipun ia menghancurkan harapan dan keberanian pada mereka yang sudah terbebani oleh berat beban mereka. Ia hanya peduli untuk memuaskan hasratnya yang suka menyebarkan fitnah, kecenderungan. Bahkan orang-orang yang mengaku Kristen menutup mata terhadap segala sesuatu yang murni, jujur, mulia, dan indah, dan menyimpan segala sesuatu yang tidak terpuji dan tidak menyenangkan, lalu menyebarkannya ke seluruh dunia. ... ——–2TT19

DENGKI/BENCI, MENGUNGGULKAN/MENGISTIMEWAKAN DIRI

Kalau kita berdiri pada hari besar Tuhan bersama Kristus sebagai pelindung kita, menara kita yang tinggi, maka kita harus membuang semua kedengkian, segala usaha untuk keunggulan. Kita harus membinasakan akar dari perkara-perkara yang najis ini agar itu tidak bisa tumbuh lagi dalam kehidupan kita. Kita harus menempatkan diri kita sepenuhnya pada pihak Tuhan  — TDG 258 (1903)

Sementara orang-orang mengabaikan usaha-usaha Setan, musuh yang waspada ini maju terus setiap saat. Ia memaksakan kehadirannya di setiap bagian rumah tangga, di jalan-jalan kota, di dalam jemaat-jemaat, di majelis-majelis nasional, di pengadilan-pengadilan, untuk membingungkan, menipu, menggoda, untuk menghancurkan tubuh dan jiwa para pria dan wanita dan anak-anak, menghancurkan keutuhan rumah tangga, untuk menaburkan bibit kedengkian, persaingan, perselisihan, hasutan dan pembunuhan. Dan dunia Kristen menganggap hal-hal ini seolah-olah telah ditetapkan oleh Allah dan harus ada. —– KA 532.2

 

Jauh lebih baik bagi kita menderita dalam tuduhan palsu daripada membebani diri kita untuk melakukan siksaan pembalasan kepada musuh-musuh kita. Roh kebencian dan balas dendam berasal dari Setan, dan hanya dapat membawa kejahatan bagi orang yang menghargainya. Kerendahan hati, kelemahlembutan yakni buah dari tinggalnya Kristus di dalam hati adalah rahasia berkat yang sebenarnya. “Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.” Mazmur 149:4. —– KAB 27.1 

 

Apabila para pekerja memiliki Kristus yang tinggal dalam jiwa mereka, bilamana segala sifat mementingkan diri sudah mati, manakala tidak ada persaingan, tidak ada usaha untuk saling unggul, bila ada kesatuan, apabila mereka menyucikan diri sehingga kasih terhadap satu sama lain terlihat dan terasakan, maka hujan rahmat Roh Kudus itu pasti akan datang ke atas mereka sebagaimana janji Allah itu tidak akan pernah gagal meski hanya satu noktah atau titik pun. Tetapi bilamana pekerjaan orang lain tidak dianggap, supaya pekerja-pekerja itu bisa menonjolkan kehebatan mereka, maka mereka menyatakan bahwa pekerjaan mereka sendiri tidaklah mengandung ciri yang semestinya. Allah tidak dapat memberkati mereka —- 1 SM 175 (1876)

Pertobatan sejati adalah perubahan dari sifat mementingkan diri kepada perasaan kasih sayang yang disucikan terhadap Allah dan sesamanya. — 1 SM 114, 115 (1901)

 

Sebagaimana benih yang ditabur menghasilkan suatu penuaian, dan bila ini ditaburkan berulang-ulang, maka hasil penuaian akan berlipat ganda. Dalam hubungan kita dengan orang-orang lain hukum ini benar adanya. Setiap perbuatan, setiap perkataan, adalah suatu benih yang akan mendatangkan buahnya. Setiap perbuatan yang baik seperti keramahan, penurutan, penyangkalan diri, akan dengan sendirinya menghasilkan sesuatu kepada orang lain, dan melalui mereka tersebar kepada orang-orang lain seterusnya. Olehnya setiap perasaan iri hati, dengki, atau perselisihan adalah suatu benih yang akan menumbuhkan suatu “akar yang pahit” di mana banyak orang akan tercemar. Ibrani 12:15. Maka berapa besarkah jumlah racun yang “banyak” itu! Demikianlah penaburan perkara yang baik dan perkara yang jahat berlaku sepanjang waktu sampai selama-lamanya. ——— PR 51.2

 

Adalah motif yang memberi ciri terhadap tindakan-tindakan kita, mencapnya dengan tanda celaan atau dengan nilai moral yang tinggi. — DA 615 (1898). 

 

PELAJARAN-PELAJARAN DARI PARA PELAJAR SEKOLAH PERSIAPAN

  1. MENJALANKAN PENDIDIKAN MEMISAHKAN DIRI DAN MENEMPATI TEMPAT TERPENCIL

Henokh

“Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah” (Kejadian 5:22)

 

Henokh belajar dari bibir Adam, kisah menyakitkan tentang kejahatan dan kisah indah tentang kasih karunia Allah yang rendah hati dalam pemberian anakNya sebagai penebus dunia. Ia percaya, dan mengandalkan janji yang diberikan. Henokh adalah orang suci. Ia melayani Allah dengan tulus hati. Ia menyadari kejahatan keluarga manusia dan memisahkan diri dari keturunan Kain dan mencela mereka atas kejahatan besar mereka. Ada orang-orang di atas bumi yang menyembah Allah, yang takut dan menyembah Dia. Namun Henokh orang benar itu begitu tertekan dengan bertambahnya kejahatan sehingga ia tidak mau bergaul setiap hari dengan mereka, takut ia akan terpengaruh oleh ketidaksetiaan mereka dan ia tidak akan pernah lagi menghormati Allah atas tabiatNya yang agung. Jiwanya sakit melihat mereka setiap hari menginjak-injak kekuasaan Allah. Ia memilih untuk berpisah dari mereka dan menghabiskan sebagian besar waktu dalam kesunyian, merenung dan berdoa. Ia menunggu Allah dan berdoa untuk mengetahui kehendakNya dengan lebih sempurna, agar ia dapat melaksanakannya. Allah bersekutu dengan Henokh melalui para malaikatNya dan memberikan instruksi Ilahi kepadanya. Allah memberitahu dia bahwa Ia tidak selalu tahan melihat manusia dalam pemberontakannya – bahwa Ia bermaksud menghancurkan umat manusia yang penuh dosa dengan membuat air bah ke atas bumi.

Taman Eden yang indah, dan darimana orang tua pertama kita telah diusir, tetap ada sampai Allah bertekad menghancurkan bumi oleh air bah, Tuhan telah membuat taman itu dan terutama memberkatinya, dan dalam pemeliharaanNya yang ajaib ia menariknya dari bumi dan akan mengembalikannya lagi kelak, dihias dengan kemuliaan yang lebih besar daripada sebelum diangkat. Allah bermaksud memelihara satu spesimen dari karya ciptaanNya yang sempurna bebas dari kutukan yang telah diakibatkan dosa ke atas bumi.

Henokh terus bertumbuh lebih ke arah surgawi sambil bersekutu dengan Allah. Wajahnya memancarkan terang yang suci…. Tuhan mengasihi Henokh, karena ia dengan setia mengikutiNya….Ia rindu menyatukan dirinya sendiri semakin dekat kepada Allah, yang ditakutinya, dihormatinya dan dipujanya. Tuhan tidak akan mengizinkan Henokh mati seperti yang lainnya, tetapi mengirim para malaikatNya mengambil dia ke surga tanpa mengalami kematian. Di hadapan orang benar dan orang jahat, Henokh diangkat dari antara mereka —- Signs of the Times, 20 Feb. 1879. (Suara Hati Nurani 6 Juli, hal 196)

 

————–

Henokh-Henokh modern

“Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah” (Kejadian 5:24).

Setelah kejatuhan Adam dari keadaan bahagia yang sempurna kepada kondisi dosa dan kesengsaraan, ada bahaya bahwa manusia akan berkecil hati….. Tetapi instruksi-instruksi yang Allah berikan kepada Adam, dan yang diulang-ulang oleh Set dan diteladani oleh Henokh, menyingkirkan kesuraman dan kegelapan itu, dan memberikan pengaharapan kepada semua orang bahwa sebagaimana melalui Adam ada kematian, maka melalui Yesus, sang Penebus yang dijanjikan itu akan ada kehidupan dan kekekalan.

Dalam kasus Henokh, orang setia diajarkan bahwa meskipun tinggal di tengah masyarakat yang jahat dan berdosa, yang secara terbuka dan berani memberontak terhadap Pencipta mereka, jika mereka mau menuruti Dia dan memiliki iman di dalam Penebus yang dijanjikan itu, maka mereka akan memperoleh kebenaran seperti Henokh yang setia, diterima oleh Allah, dan akhirnya diangkat ke takhta surgaNya.

Henokh, yang memisahkan diri dari dunia dan menghabiskan banyak waktunya dalam doa dan persekutuan dengan Allah, mewakili umat Allah yang setia di akhir zaman, yang akan terpisah dari dunia… Umat Allah akan menjauhkan diri dari kebiasaan salah mereka yang ada disekitarnya dan akan mengusahakan pikiran yang murni dan sesuai dengan kehendakNya sampai gambar IlahiNya akan dipantulkan di dalam diri mereka. Seperti Henokh mereka akan dilayakkan untuk masuk ke surga. Sementara berusaha keras memperingatkan dan mengamarkan dunia, mereka tidak akan mengikuti roh dan kebiasaan orang-orang tak percaya tetapi akan menghukum mereka oleh perkataan mereka yang suci dan teladan yang saleh. Pengangkatan Henokh ke surga tepat sebelum dihancurkannya dunia oleh air bah melambangkan pengangkatan semua orang benar yang hidup dari bumi sebelum kehancuran oleh api. Orang-orang kudus akan dimuliakan di hadapan orang-orang yang membenci mereka karena penurutan mereka yang setia kepada perintah Allah yang benar.

Henokh memberitahu keluarganya tentang Air Bah. Metusalah, putra Henokh, mendengarkan pekabaran dari cucunya Nuh, yang dengan setia memperingatkan penduduk dunia bahwa air bah akan segera datang ke bumi. Metusalah bersama anak-anak dan cucu-cucunya hidup di zaman pembangunan bahtera itu. Mereka, bersama beberapa orang lainnya, menerima instruksi dari Nuh dan membantunya dalam pekerjaannya —– Signs or the Times, 20 Feb 1879 (Suara Hati Nurani 8 Juli, hal 198)

 

———————-

Yohanes pembabtis

Source: Conflict and Courage, 21 September

“Ia akan menjadi salah satu orang besar Tuhan; ia tidak akan menyentuh anggur atau minuman keras dan ia akan dipenuhi dengan Roh Kudus sejak saat kelahirannya.” Lukas 1:15, Filipi.

Dalam catatan surga tentang orang-orang mulia, Juruselamat menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Pekerjaan yang dipercayakan kepadanya adalah pekerjaan yang menuntut tidak hanya energi dan ketahanan fisik, tetapi juga kualitas pikiran dan jiwa yang tertinggi. Pelatihan fisik yang benar sangat penting sebagai persiapan untuk pekerjaan ini sehingga malaikat tertinggi di surga diutus dengan pesan instruksi kepada orangtua anak tersebut. — The Ministry of Healing, 379.

Mereka harus bekerja sama dengan Tuhan dengan setia dalam membentuk karakter seperti itu dalam diri Yohanes yang akan membuatnya cocok untuk melakukan bagian yang telah Tuhan berikan kepadanya…. Yohanes adalah putra dari masa tua mereka, ia adalah anak yang lahir dari mukjizat, dan orangtuanya mungkin berpikir bahwa ia memiliki pekerjaan khusus untuk dilakukan bagi Tuhan dan Tuhan akan menjaganya. Namun orangtuanya tidak berpikir demikian; mereka pindah ke tempat terpencil di pedesaan, di mana putra mereka tidak akan terpapar pada godaan kehidupan kota, atau terdorong untuk meninggalkan nasihat dan instruksi yang akan mereka berikan kepadanya sebagai orangtua. — Child Guidance, 23.

Di padang gurun, Yohanes dapat lebih mudah menyangkal dirinya dan mengendalikan nafsu makannya, serta berpakaian sesuai dengan kesederhanaan alami. Dan tidak ada apa pun di padang gurun yang akan mengalihkan pikirannya dari meditasi dan doa. Setan memiliki akses kepada Yohanes, bahkan setelah ia menutup setiap jalan yang dapat ia lalui. Namun, kebiasaan hidupnya begitu murni dan alami sehingga ia dapat mengenali musuh, dan memiliki kekuatan jiwa dan tekad karakter untuk melawannya.

Kitab alam terbuka di hadapan Yohanes dengan gudang instruksi yang tak habis habisnya. Ia mencari perkenanan Allah, dan Roh Kudus turun ke atasnya, dan menyalakan dalam hatinya semangat yang membara untuk melakukan pekerjaan besar memanggil orang-orang untuk bertobat, dan kepada kehidupan yang lebih tinggi dan lebih suci. Yohanes mempersiapkan dirinya, melalui kekurangan dan kesulitan hidupnya yang terpencil, untuk mengendalikan semua kekuatan fisik dan mentalnya sehingga ia dapat berdiri di antara orang-orang yang tidak tergoyahkan oleh keadaan di sekitarnya seperti batu-batu dan gunung-gunung di padang gurun yang telah mengelilinginya selama tiga puluh tahun. — The Spirit of Prophecy 2:47.

————–

Source: Conflict and Courage, 27 September

Apa yang membuat Yohanes Pembaptis menjadi besar? Ia menutup pikirannya terhadap tumpukan tradisi yang disampaikan oleh para pengajar bangsa Yahudi, dan membukanya kepada hikmat yang datang dari atas. — Counsels to Parents, Teachers, and Students, hlm. 445.

Yohanes Pembaptis tidak dipersiapkan untuk panggilan mulianya sebagai perintis Kristus melalui pergaulan dengan tokoh-tokoh besar bangsa di sekolah-sekolah Yerusalem. Ia pergi ke padang gurun, tempat di mana kebiasaan dan ajaran manusia tidak dapat membentuk pikirannya, dan di mana ia dapat berkomunikasi dengan Allah tanpa halangan. —- Fundamentals of Christian Education, hlm. 123.

Yohanes Pembaptis adalah seorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus sejak kelahirannya, dan jika ada seseorang yang dapat tetap tak terpengaruh oleh pengaruh zaman yang merusak, pastilah dia. Namun, ia tidak berani mempercayai kekuatannya sendiri; ia memisahkan diri dari sahabat dan sanak keluarganya, agar kasih alami tidak menjadi jerat baginya. Ia tidak menempatkan dirinya secara tidak perlu dalam jalan pencobaan, atau di tempat di mana kemewahan atau bahkan kenyamanan hidup dapat mendorongnya untuk bersantai atau memuaskan selera, sehingga mengurangi kekuatan jasmani dan mentalnya….

Ia menundukkan dirinya pada kesederhanaan dan kesendirian di padang gurun, tempat di mana ia dapat memelihara makna suci akan keagungan Allah dengan mempelajari kitab besar-Nya, yaitu alam semesta…… Suasana itu dirancang untuk menyempurnakan budaya moral dan menjaga rasa takut akan Tuhan tetap hidup dalam dirinya. Yohanes, sang perintis Kristus, tidak membiarkan dirinya terpapar pada percakapan yang jahat dan pengaruh dunia yang merusak. Ia takut akan dampaknya terhadap hati nuraninya, bahwa dosa mungkin tidak lagi tampak begitu sangat berdosa baginya. Ia lebih memilih untuk tinggal di padang gurun, tempat di mana indranya tidak akan diputarbalikkan oleh lingkungan sekitarnya. Tidakkah kita seharusnya belajar sesuatu dari teladan orang yang dihormati oleh Kristus, dan tentang siapa Dia berkata: “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis? — Testimonies for the Church 4:108, 109.

 

——————

Empat puluh tahun pelatihan ulang (Musa)

 

Dalam segala hal, Musa telah menjadi seorang pria yang hebat. Sebagai seorang penulis, sebagai pimpinan militer, dan seorang ahli filosofi, ia tidak ada tandingannya. Kesukaan kepada kebenanan dan keadilan telah menjadi menjadi dasar dari tabiatnya dan telah menghasilkan kesetiaan pada tujuan yang tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan dari mode, opini atau peencarian kesenangan. Kesopansantunan, kerajinan dan kepercayaan teguh pada Allah menandai kehidupannya. Ia muda dan penuh semangat, berlimpah energi dan kekuatan. Ia sangat bersimpati terhadap penderitaaan saudara-saudara-saudaranya, dan jiwanya bergejolak dengan satu keinginan untuk melepaskan mereka. Tentu saja kelihatan bagi hikmat manusia bahwa ia dalam segala hal cocok untuk tugas ini.

Tetapi Allah tidak melihat apa yang dilihat manusia; cara-cara Nya bukanlah cara-cara kita. Musa belum disiapkan untuk menjalankan tugas besar ini; tetapi ia masih harus melalui sekolah disiplin yang keras sebelum ia memenuhi syarat untuk tugas suci itu. Sebelum ia sukses memerintah kumpulan besar orang Israel, ia harus belajar untuk menurut, pengendalian diri. Selama empat puluh tahun ia menjalani masa istirahat di padang belantara, agar dalam kehidupannya yang tak menonjol. Dalam pekerjaan rendahan menjaga domba-domba, ia dapat memperoleh kemenangan menaklukkan hawa nafsunya sendiri. Ia  harus belajar berserah sepenuhnya pada kehendak Allah sebelum ia dapat mengajarkan kehendak itu kepada bangsa yang besar.

Makhluk-makhluk fana tentunya tak tahan dengan empat puluh tahun pelatihan di tengah pegunungan Midian, karena menganggapnya sebagai kehilangan waktu yang sangat lama. Namun Ia yang mahabijaksana menempatkan dia yang kelak akan menjadi pelepas bangsanya dari perbudakan, selama periode ini agar mengembangkan kejujurannya,  visinya, kesetiaan dan kepeduliaannya dan kemampuannya untuk mengidentifikasi dirinya sendiri dengan kebutuhan para dombanya yang bisu. Mereka yang diberikan tanggung jawab penting oleh Allah tidak dibesarkan dalam kemudahan dan kemewahan; para nabi agung, para pimpinan dan hakim yang ditunjuk Allah, adalah mereka yang memiliki karakter yang dibentuk oleh kenyataan-kenyataan hidup yang pahit.

Allah tidak memiliki orang-orang yang bekerja bagiNya dari satu mode dan satu watak saja, tetapi individu-individu dengan berbagai tabiat. —- Signs, of the Times, 19 Feb 1880 (Suara Hati Nurani 16 Juli, hal 206)

Pengalaman meninggalkan kebiasaan lama (Musa)

 

“Musa bersedia tinggal di rumah itu” (Keluaran 2:21).

 

Elemen manusia terlihat pada semua orang yang telah dipilih untuk menyelesaikan pekerjaan Allah….. Terhubung dengan Allah, sumber segala hikmat, individu-individu dapat mencapai ketinggian kesempurnaan moral tertentu……

Musa telah belajar banyak kebiasaan yang harus ditinggalkan. Pengaruh yang mengelilinginya di Mesir— kasih dari ibu angkatnya, kedudukannya sendiri yang tinggi sebagai cucu raja, pesona keagungan dalam seni, pelayananan di setiap bidang, pertunjukan yang mengagumkan dalam hal penyembahan berhala, dan pengulangan terus-menerus, oleh para imam, dongeng-dongeng yang tak terhitung banyaknya tentang dewa-dewa mereka— semua itu telah tertanam di dalam pikirannya yang berkembang dan telah membentuk tabiat dan kebiasaannya pada tingkatan tertentu. Kesan-kesan ini dapat berubah seiring waktu, perubahan lingkungan, dan hubungan yang dekat dengan Allah. Namun harus oleh usaha yang sungguh-sungguh dan tekun, semua perjuangan hidup, mengangkat benih-benih kekeliruan, dan digantikan dengan kebenaran yang ditanam dengan kokoh. Meskipun Allah berencana agar Musa melatih diri melalui disiplin keras, namun Ia menjadi penolong yang selalu siap melawan Setan ketika konfliknya terlalu berat untuk kekuatan manusia….

Tatkala Musa melihat bahwa semua karya ciptaan Allah bekerja seirama dengan hukum-hukumNya, ia menyadari betapa tidak pantasnya manusia menentang hukum Allah. Tantangannya paling berat, memerlukan usaha yang panjang, membawa hati dan pikiran pada segala sudut sejalan dengan kebenaran dan dengan surga; tetapi Musa akhirnya menang….

Tahun demi tahun berlalu dan hamba Allah itu masih dalam keadaan bekerja, seseorang yang kurang iman dibandingkan dia akan menganggapnya telah dilupakan oleh Allah, seolah kemampuan dan pengalamannya lenyap ditelan bumi. Tetapi sambil berkelana bersama kawanan ternaknya ditempat-tempat terpencil, kondisi bangsanya yang menderita senantiasa terpampang dihadapannya. Ia mengenang semua bantuan Allah kepada orang-orang setia dimasa lampau dan janji-janjiNya untuk masa depan yang cerah, dan jiwanya menghadap kepada Allah atas nama saudara-saudaranya yang berada dalam perbudakan, dan doa-doanya yang tekun menggema di tengah gua-gua pengunungan siang dan malam. Ia tidak pernah lelah menghadirkan janji-janji yang telah diberikan bagi bangsanya, dan memohon kelepasan kepadaNya. —–—- Signs, of the Times, 19 Feb 1880 (Suara Hati Nurani 17 Juli, hal 207)

  1. PERBANDINGAN DENGAN TANTANGAH YANG TIDAK MAU BERPISAH  DAN BERPINDAH KE TEMPAT YANG TERPENCIL

Masukkan anak-anak ke sekolah yang terletak di kota, di mana setiap tahap godaan sedang menanti untuk menarik dan menjatuhkan moral mereka, maka pekerjaan pembangunan tabiat akan sepuluh kali lebih sulit baik bagi orangtua itu maupun anak-anak. — FE 326 (1894). PAZ 73.2

Tidak ada satu di antara seratus keluarga yang akan bertambah secara jasmani, pikiran ataupun rohaninya dengan tinggal di kota. Iman, pengharapan, kasih, kebahagiaan, akan jauh lebih baik diperoleh di tempat-tempat yang tenang di mana terdapat ladang-ladang, bukit-bukit dan pepohonan. Bawalah anak-anakmu jauh dari pemandangan dan kebisingan kota, jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas di jalan-jalan raya, maka pikiran mereka menjadi lebih sehat. Ternyata akan lebih mudah memasukkan kebenaran firman Allah ke dalam hati mereka. — AH 137 (1905). PAZ 73.5

 

Contoh bagaimana usaha bertahan tetap setia untuk mereka yang tidak mau pindah berpisah dari lingkungannya ke tempat yang terpencil

 

Selama empat puluh tahun Yeremia harus berdiri di hadapan bangsa itu sebagai saksi untuk kebenaran dan keadilan. Pada zaman kemurtadan yang tiada taranya ia harus menunjukkan dalam kehidupan dan tabiat penyembahan kepada satu-satunya Allah yang benar. Selama pengepungan Yerusalem yang mengerikan ia menjadi jurubicara Yehova. Ia harus menubuatkan kejatuhan keluarga Daud dan kebinasaan bait suci yang indah yang dibangun oleh Salomo itu. Dan ketika dipenjarakan oleh sebab ucapan-ucapannya yang tidak mengenal takut, ia masih tetap berbicara dengan tegas terhadap dosa di kalangan atas. Dihina, dibenci, ditolak oleh manusia, pada akhirnya ia harus menyaksikan kegenapan nubuatan-nubuatannya sendiri secara harafiah mengenai nasib yang akan datang, dan ikut merasakan kesusahan dan penderitaan yang harus mengikuti kebinasaan kota yang malang itu. —– PR 235.3

DI ANTARA anak-anak Israel yang dibawa sebagai tawanan ke Babel pada permulaan tujuh puluh tahun penawanan itu terdapat patriot-patriot Kristen, yakni orang-orang yang benar kepada prinsip laksana baja, yang tidak mau dicemari dengan sifat mementingkan diri, tetapi yang mau menghormati Allah walaupun kehilangan segala sesuatu. Di negeri di mana mereka ditawan mereka harus menggenapi rencana Allah dengan memberikan berkat-berkat kepada bangsa-bangsa kafir yang datang melalui pengenalan akan Yehova. Mereka harus menjadi wakil-wakil-Nya. Mereka tidak akan pernah menyesuaikan diri dengan para penyembah berhala; iman mereka dan nama mereka sebagai para penyembah Allah yang hidup mereka akan pertahankan sebagai suatu kehormatan yang tinggi. Dan hal ini memang mereka lakukan. Dalam kemakmuran dan kemalangan mereka menghormati Allah, dan Allah menghormati mereka. —– PR 277.2

 

Selama tiga tahun orang-orang muda Ibrani itu belajar untuk mengetahui “tulisan dan bahasa orang Kasdim.” Selama masa ini mereka memegang teguh kesetiaan mereka kepada Allah dan dengan tetap bergantung atas kuasa-Nya. Dengan kebiasaan mereka mengadakan penyangkalan diri mereka menyatukan kesungguh-sungguhan terhadap rencana, kerajinan dan keteguhan. Bukanlah kesombongan atau ambisi yang membawa mereka ke istana raja, ke dalam pergaulan dengan mereka yang tidak mengenal maupun takut akan Allah; karena mereka adalah para tawanan di negeri asing, ditempatkan di sana oleh Hikmat Yang tak berkesudahan. Terpisah dari pengaruh rumah dan pergaulan yang kudus, mereka berusaha menjauhkan pujian atas diri mereka sendiri, demi kehormatan bangsa mereka yang tertindas itu, dan demi kemuliaan-Nya bagi siapa mereka menjadi hamba. —– PR 280.3

Dalam mempelajari hikmat pengetahuan orang-orang Babel, Daniel dan teman-temannya itu jauh lebih berhasil daripada rekan-rekan mereka mahasiswa; tetapi mereka belajar bulan oleh sebab kebetulan. Mereka memperoleh pengetahuan dengan cara setia menggunakan kuasa mereka, di bawah tuntutan Roh Kudus. Mereka sendiri selalu berhubungan dengan Sumber segala hikmat, menjadikan pengetahuan tentang Allah dasar pendidikan mereka. Dalam iman mereka berdoa supaya memperoleh pengetahuan, dan mereka menghidupkan doa mereka. Mereka menempatkan diri mereka di mana Allah dapat memberkati mereka. Mereka menghindari apa yang akan melemahkan kuasa pikiran mereka, dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menjadi pintar dalam segala jurusan pelajaran. Mereka mengikuti peraturan kehidupan yang tidak akan gagal memberi mereka kekuatan pikiran. Mereka berusaha mempelajari ilmu pengetahuan untuk satu maksud–yakni supaya mereka dapat menghormati Allah. Mereka menyadari bahwa supaya dapat berdiri sebagai wakil-wakil agama yang benar di tengah-tengah agama-agama palsu kekafiran mereka harus memiliki pikiran yang bersih dan harus memiliki tabiat Kristen yang sempurna. Dan Allah sendirilah yang menjadi guru mereka. Berdoa dengan tiada berkeputusan, belajar dengan hati-hati, selalu berhubungan dengan Yang Tak Kelihatan, mereka berjalan dengan Allah sama seperti Henokh. —- PR 281.2

 

Raja (Nebukadnezar) menyetujui permohonan ini; kemudian Daniel mengumpulkan rekan-rekannya, dan dengan sehati mereka menghadapkan masalah ini kepada Allah, memohon hikmat dan kebijaksanaan dari Sumber segala terang dan pengetahuan. Meskipun mereka tinggal di istana raja, dikelilingi pencobaan, mereka tidak melupakan tanggung jawab mereka terhadap Allah. Mereka teguh dalam angan-angan hati, sehingga dalam pimpinan-Nya mereka telah berada di tempat mana mereka ada; agar mereka melaksanakan pekerjaan-Nya, memenuhi tuntutan kebenaran serta tugas. Mereka yakin kepada Allah. Mereka berpaling kepada-Nya untuk mendapat kekuatan saat menghadapi kebingungan dan bahaya, dan bagi mereka Dia adalah penolong yang selalu siap sedia. —- HD 33.1

————————-

 

KEBERADAAN UMAT ALLAH DI PALING AKHIR DIANTARA ORANG DUNIA

 

Umat yang Istimewa

“Yang telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Titus 2:14)

 

Tuhan telah mengasingkan mereka yang saleh bagi diriNya, dan pengabdian diri kepada Tuhan dan ( Komen Rein : Tuntutan untuk terpisah dari dunia sebenarnya bukanlah baru bagi kita, dari Perjanjian Lama pun kita sudah diperlihatkan banyak contoh-contoh dari tokoh-tokoh Alkitab, jadi gak ada alasan bila sekarangpun kita harus terpisah dari dunia.) pemisahan dari dunia ini dengan jelas dinyatakan dan dengan tegas diamarkan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Ada dinding pemisah yang Tuhan sendiri telah tetapkan antara hal-hal dunia dan hal-hal yang Ia telah pisahkan dari dunia dan sucikan untuk diriNya. Panggilan dan karakter umat Tuhan itu istimewa. Masa depan mereka itu khusus, dan keistimewaan ini membedakan mereka dari semua bangsa. Semua umat Tuhan di atas bumi adalah satu tubuh, dari sejak mula sampai akhir masa. Mereka memiliki satu Kepala yang mengatur dan memerintah tubuh. Pembatas yang sama terletak di atas umat Tuhan sekarang, untuk dipisahkan dari dunia, sebagaimana yang terjadi pada Israel kuno. Kepala agung dari gereja tidak berubah….

Saat kita membaca Firman Tuhan, betapa jelas bahwa umat Tuhan itu istimewa dan berbeda dari dunia yang tidak percaya di sekeliling mereka. Kedudukan kita itu menarik dan menakutkan; hidup di zaman akhir, betapa penting agar kita menirukan teladan Kristus dan berjalan sebagaimana Ia berjalan….

(Komen Rein : Bacaan ini menggambarkan bahwa perjalanan kita dalam persiapan kita 40 hari contoh saingan, akan kita hadapi dengan mengulang pengalaman Yesus yang harus serba kekurangan/sederhana dan terhina.) Hamba-hamba Kristus tidak memiliki rumah atau harta benda disini. Mereka semua mengerti bahwa hanya karena Tuhan berkuasa maka kita diizinkan tinggal dalam damai dan keamanan di tengah musuh-musuh kita. Mendapatkan kemurahan hati dunia tidak menjadi hak istimewa kita. Kita harus mau menjadi miskin dan dihina di dunia ini sampai peperangan selesai dan kemenangan di raih. Para anggota Kristus dipanggil untuk keluar dan dipisahkan dari pertemanan dan roh dunia, dan kekuatan serta kuasa mereka ada karena telah dipilih dan diterima Tuhan.

Meskipun demikian anggota-anggota Kristus itu adalah sebagaimana Ia dulu di dunia ini. Mereka adalah putra dan putri Tuhan dan menjadi ahli waris bersama-sama Kristus, dan kerajaan dan kekuasaan milik mereka. Dunia tidak memahami karakter dan panggilan suci mereka. Mereka tidak mengerti pengangkatan mereka ke dalam keluarga Tuhan. Persatuan dan persekutuan mereka dengan Bapa dan Anak tidak diperlihatkan kepada dunia, dan meskipun mereka melihat kehinaan dan kecelaan mereka, namun tidak terlihat jadi apa kelak mereka nanti. Mereka adalah orang-orang asing. Dunia tidak mengenal mereka dan tidak menghargai motif-motif yang menggerakkan mereka. —- Review and Herald, 5 Juli 1875 (Suara Hati Nurani 2 November, hal 315)

 

 

Bab 7 – Masih Ada Pertarungan

Apa yang Telah Dilakukan Dosa

Lebih jelas lagi, kita perlu memahami isu-isu yang dipertaruhkan dalam konflik besar yang sedang kita hadapi. Kita perlu memahami lebih sepenuhnya nilai kebenaran firman Allah dan bahaya membiarkan pikiran kita dialihkan dari oleh si penipu besar. Kebenaran Nilai pengorbanan yang tak terbatas yang diperlukan untuk penebusan kita mengungkapkan fakta bahwa dosa adalah kejahatan yang luar biasa. Melalui dosa, seluruh tubuh manusia menjadi gila, pikiran diselewengkan, imajinasi dirusak. Dosa telah merendahkan kemampuan jiwa. Godaan dari luar menemukan jawaban di dalam hati, dan tanpa disadari kaki berbelok ke arah kejahatan. Sebagaimana pengorbanan atas nama kita telah sempurna, demikian pula pemulihan kita dari kecemaran dosa haruslah sempurna. Tidak ada tindakan kejahatan yang dapat dimaafkan oleh hukum Allah; tidak ada ketidakbenaran yang dapat luput dari hukumannya. Etika Injil tidak mengakui standar apa pun selain kesempurnaan karakter ilahi ….

Dibutuhkan Ketekunan

Kesalahan tidak dapat diperbaiki, dan reformasi perilaku juga tidak dapat dilakukan dengan upaya yang lemah dan terputus-putus.

Pembangunan karakter adalah pekerjaan, bukan untuk satu hari, bukan untuk satu tahun, tetapi untuk seumur hidup. Perjuangan untuk menaklukkan diri sendiri, untuk kekudusan dan surga, adalah perjuangan seumur hidup. Tanpa usaha yang terus menerus dan aktivitas yang konstan, tidak akan ada dalam kehidupan ilahi, tidak akan ada pencapaian mahkota pemenang. Itu kemajuan Bukti terkuat dari kejatuhan manusia dari kondisi yang lebih tinggi adalah fakta bahwa dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk kembali. Cara kembali dapat diperoleh hanya dengan perjuangan yang keras, inci demi inci, jam demi jam.

Dalam satu saat, dengan tindakan yang tergesa-gesa dan tidak waspada, kita dapat menempatkan diri kita di dalam kuasa kejahatan; tetapi dibutuhkan lebih dari satu saat untuk mematahkan belenggu dan mencapai kehidupan yang lebih suci. Tujuannya mungkin sudah terbentuk, pekerjaannya sudah dimulai; tetapi pencapaian ini membutuhkan kerja keras, waktu, ketekunan, kesabaran, dan pengorbanan. Kita tidak bisa membiarkan diri kita bertindak berdasarkan dorongan hati. Kita tidak boleh lengah sedikit pun. Dikepung oleh godaan yang tak terhitung jumlahnya, kita harus melawan dengan tegas atau ditaklukkan. Jika kita sampai pada akhir kehidupan dengan pekerjaan kita yang belum selesai, itu akan menjadi kerugian yang kekal. Kehidupan rasul Paulus adalah sebuah konflik yang terus menerus dengan diri sendiri. Ia berkata, “Aku mati setiap hari” (1 Korintus 15:31). Kehendak dan keinginannya setiap hari bertentangan dengan tugas dan kehendak Allah. Alih-alih mengikuti kecenderungan, ia melakukan kehendak Allah, meskipun hal itu bertentangan dengan naturnya. Pada akhir hidupnya yang penuh dengan konflik, sambil melihat kembali perjuangan dan kemenangannya, ia dapat berkata, “Aku telah berjuang dalam pertandingan yang baik, aku telah menyelesaikan perjalananku, aku telah memelihara iman; dan aku telah menerima mahkota kebenaran, yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada waktu itu.” (2 Timotius 4:7,8). Kehidupan Kristen adalah sebuah peperangan dan perjalanan. Dalam peperangan ini tidak ada jalan keluar; usaha harus terus menerus dan tekun. Dengan usaha yang tak henti-hentinya itulah kita dapat mempertahankan kemenangan atas godaan-godaan Iblis. Integritas Kristen harus diupayakan dengan energi yang tak kenal lelah dan dipertahankan dengan keteguhan tujuan. Tidak seorang pun akan terangkat ke atas tanpa usaha yang keras dan tekun atas namanya sendiri. Semua harus terlibat dalam peperangan ini untuk diri mereka sendiri; tidak ada orang lain yang dapat berperang ….—— A New Life (Revival and Beyond) hal 59-60.

A New Life (Revival and Beyond) hal 39-45

Bab 5 Hanya Diselamatkan “di dalam Kristus”

Mengapa khawatir?

Kehidupan di dalam Kristus adalah kehidupan yang tenang. Mungkin tidak ada ekstasi perasaan, tetapi harus ada kepercayaan yang menetap dan damai. Pengharapan Anda bukan pada diri Anda sendiri; pengharapan Anda ada di dalam Kristus. Kelemahan Anda disatukan dengan kekuatan-Nya, ketidaktahuan Anda dengan hikmat-Nya, kelemahan Anda dengan kekuatan-Nya yang kekal. ….

Kita tidak boleh menjadikan diri sendiri sebagai pusat dan menuruti rasa cemas dan takut apakah kita akan diselamatkan. Semua ini memalingkan jiwa dari Sumber kekuatan kita. Serahkanlah pemeliharaan jiwamu kepada Allah, dan percaya kepada-Nya. Bicaralah dan pikirkan tentang Yesus. Biarkan diri Anda hilang di dalam Dia. Buanglah semua keraguan; singkirkanlah ketakutan Anda. Katakanlah bersama rasul Paulus, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, dan hidupku yang aku hidupi sekarang ini, aku hidup oleh iman kepada Anak Allah, yang telah mengasihi aku,dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20). Bersandarlah kepada Tuhan. Dia sanggup memelihara apa yang telah Anda serahkan kepada-Nya. Jika Anda menyerahkan diri Anda ke dalam tangan-Nya, Dia akan membawa Anda keluar sebagai pemenang melalui Dia yang telah mengasihi Anda. (Langkah-langkah Menuju Kristus, 70-72).

Ini yang Dapat Anda Andalkan “

Dia yang melalui penebusan-Nya sendiri telah menyediakan bagi manusia daya kekuatan moral yang tak terbatas, tidak akan gagal untuk menggunakan kekuatan ini demi kepentingan kita. Di dalam seluruh kekuatan Iblis tidak ada kekuatan yang melebihi datanglah satu jiwa yang dengan kepercayaan yang sederhana menyerahkan dirinya kepada Kristus.” [Christ’s Object Lessons, 157.]

“Rahmat yang berlimpah telah disediakan agar jiwa yang beriman dapat dijaga dari dosa.” [Pesan-Pesan Pilihan 1:394.]

“Di dalam Dia kita memiliki persembahan yang sempurna, pengorbanan yang tidak terbatas, Juruselamat yang perkasa, yang sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Di dalam kasih Dia datang untuk menyatakan Bapa, untuk memperdamaikan manusia dengan Allah, untuk menjadikan manusia ciptaan baru yang diperbarui menurut gambar Dia yang telah menciptakannya.” [Pesan-Pesan Pilihan 1:321.].

Masalah Petrus

Kejahatan yang menyebabkan kejatuhan Petrus [dengan menyangkal Kristus pada pengadilan-Nya] … telah membuktikan kehancuran ribuan orang pada masa kini. Tidak ada yang lebih menyinggung perasaan Allah atau lebih berbahaya bagi jiwa manusia daripada kesombongan dan sikap mementingkan diri sendiri. Dari semua dosa, ini adalah dosa yang paling tidak ada harapan, yang paling tidak dapat disembuhkan.

Kejatuhan Petrus tidak terjadi seketika, tetapi bertahap. Kepercayaan diri membawanya pada keyakinan bahwa ia telah diselamatkan, dan langkah demi langkah diambil di jalan yang menurun, sampai ia dapat menyangkal Gurunya. Kita tidak akan pernah bisa dengan aman menaruh kepercayaan pada diri sendiri atau merasa, di sisi surga ini, bahwa kita aman dari pencobaan. Mereka yang menerima Juruselamat, betapapun tulusnya pertobatan mereka, tidak boleh diajar untuk mengatakan atau merasa bahwa mereka telah diselamatkan. [Catatan: Adalah hak istimewa bagi orang Kristen untuk mengetahui bahwa pada saat ia menerima Kristus, ia telah diselamatkan dari dosa-dosanya dan dapat bersukacita atas keselamatan ini. Tetapi baik Kitab Suci maupun tulisan-tulisan Roh Nubuat tidak mendukung ajaran populer: “Sekali diselamatkan, tetap selamat.” Seseorang mungkin diselamatkan hari ini, tetapi gagal untuk menjaga matanya tetap tertuju kepada Yesus dan bertumbuh setiap hari di dalam Dia, dapat menjadi percaya diri dan hilang besok. Rasul Paulus menyatakan, “Aku mati setiap hari.” Dalam arti tertentu, pertobatan adalah pengalaman sehari-hari.

Pelajarilah dengan saksama peringatan yang diambil dari pelajaran kehidupan Petrus. Bacalah dalam konteks yang utuh dan dalam hubungannya dengan pernyataan serupa yang mengikutinya. Anda akan menemukan bahwa ayat-ayat yang membingungkan itu sudah cukup jelas. Tuhan kita ingin agar setiap orang Kristen bersukacita dengan bebas dalam keselamatannya, keselamatan yang dinikmatinya setiap hari. Dan ketika ditanya, “Apakah kamu sudah diselamatkan?” Dia dapat dengan yakin menjawab ya. Dia akan menjelaskan bahwa pengalaman ini adalah pengalaman yang menghasilkan ketergantungan yang terus-menerus kepada Allah dan pertumbuhan Kristen setiap hari] Ini menyesatkan. Setiap orang harus diajar untuk menghargai pengharapan dan iman; tetapi bahkan ketika kita menyerahkan diri kita kepada Kristus dan mengetahui bahwa Dia menerima kita, kita tidak berada di luar jangkauan pencobaan. Firman Tuhan menyatakan, “Banyak orang akan disucikan dan dibuat putih dan dicobai” (Daniel 12:10). Hanya orang yang tahan uji yang akan menerima mahkota kehidupan (Yakobus 1:12).

Mereka yang menerima Kristus, dan dalam keyakinan pertama mereka berkata, saya telah diselamatkan, berada dalam bahaya karena mengandalkan diri mereka sendiri. Mereka kehilangan pandangan akan kelemahan mereka sendiri dan kebutuhan mereka akan kekuatan ilahi. Mereka tidak siap menghadapi perangkap Iblis, dan di bawah pencobaan, banyak orang seperti Petrus, jatuh ke dalam dosa yang paling dalam. Kita diperingatkan, “Karena itu barangsiapa menyangka, bahwa ia berdiri teguh, hendaklah ia berjaga-jaga, supaya ia jangan jatuh” (1 Korintus 10:12). Satu-satunya keselamatan kita adalah dalam ketidakpercayaan yang terus-menerus terhadap diri sendiri, dan ketergantungan pada Kristus. (Christ’s Object Lessons, 154, 155).

Jangan Pernah “Puas”

Ada banyak orang yang mengaku pengikut Kristus, tetapi tidak pernah menjadi orang Kristen yang dewasa. Mereka mengakui bahwa manusia telah jatuh, bahwa kemampuannya dilemahkan, bahwa ia tidak layak untuk pencapaian moral, tetapi mereka mengatakan bahwa Kristus telah menanggung semua beban, semua penderitaan, semua penyangkalan diri, dan mereka bersedia membiarkan Dia menanggungnya. Mereka mengatakan bahwa tidak ada yang harus mereka lakukan selain percaya, tetapi Kristus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24). Yesus menaati perintah-perintah Allah ….

Kita tidak boleh beristirahat dalam kondisi puas, dan berhenti membuat kemajuan, dengan mengatakan, “Saya sudah diselamatkan.” Ketika gagasan ini dihidupkan, motif untuk berjaga-jaga, untuk berdoa, untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk terus maju ke pencapaian yang lebih tinggi, tidak ada lagi. Tidak ada lidah yang dikuduskan yang akan ditemukan mengucapkan kata-kata ini sampai Kristus datang, dan kita masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota Allah. Kemudian, dengan kepatutan yang tertinggi, kita dapat memuliakan Allah dan Anak Domba untuk pembebasan yang kekal. Selama manusia penuh dengan kelemahan – karena dari dirinya sendiri ia tidak dapat menyelamatkan jiwanya – ia tidak akan pernah berani berkata, “Aku telah diselamatkan.”

Bukan orang yang memakai baju zirah yang dapat memegahkan diri, karena ia harus berperang dan menang. Dia yang bertahan sampai akhirlah yang akan diselamatkan.

Ini Pribadi

Hubungan spiritual ini hanya dapat dibangun melalui pelaksanaan iman pribadi. Iman ini harus mengekspresikan preferensi tertinggi, ketergantungan yang sempurna, pengudusan yang menyeluruh. Kehendak kita harus sepenuhnya diserahkan kepada kehendak ilahi, perasaan, keinginan, minat, dan kehormatan kita diidentifikasikan dengan kemakmuran kerajaan Kristus dan kehormatan perjuangan-Nya, kita terus-menerus menerima kasih karunia dari-Nya, dan Kristus menerima rasa syukur dari kita.

Ketika keintiman hubungan dan persekutuan ini terbentuk, dosa-dosa kita ditanggungkan kepada Kristus; kebenaran-Nya diperhitungkan kepada kita. Dia telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya kita menjadi kebenaran Allah di dalam Dia. Kita memiliki akses kepada Allah melalui Dia; kita diterima di dalam Sang Kekasih….

Ketika Kristus hendak meninggalkan murid-murid-Nya, Ia berkata Ia memberi mereka lambang yang indah dari hubungan-Nya dengan orang-orang percaya. Ia telah menunjukkan kepada mereka persatuan yang erat dengan diriNya sendiri yang dengannya mereka dapat mempertahankan kehidupan rohani ketika kehadiran-Nya yang nyata ditarik kembali. Untuk menanamkan hal itu dalam pikiran mereka, Ia memberikan pohon anggur sebagai lambang yang paling mencolok dan tepat ….

Semua pengikut Kristus memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap pelajaran ini seperti halnya para murid yang mendengarkan perkataan-Nya. Dalam kemurtadan, manusia mengasingkan diri dari Allah. Pemisahan itu begitu luas dan menakutkan; tetapi Kristus telah menyediakan jalan kembali untuk menghubungkan kita dengan diri-Nya. Kuasa kejahatan begitu diidentikkan dengan sifat manusia sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengatasinya kecuali melalui persatuan dengan Kristus. Melalui persatuan ini kita menerima kuasa moral dan spiritual. Jika kita memiliki roh Kristus, kita akan menghasilkan buah kebenaran, buah yang akan menghormati dan memberkati manusia, dan memuliakan Allah.

Bapa adalah sang penggarap kebun anggur. Dia dengan terampil dan penuh belas kasihan memangkas setiap ranting yang menghasilkan buah. Mereka yang berbagi penderitaan dan celaan Kristus sekarang akan berbagi kemuliaan-Nya kelak. Ia “tidak malu menyebut mereka saudara.” Malaikat-malaikat-Nya melayani mereka. Penampakan-Nya yang kedua adalah sebagai Anak Manusia, dan dengan demikian dalam kemuliaan-Nya, Ia menyamakan diri-Nya dengan manusia. Kepada mereka yang telah menyatukan diri mereka dengan-Nya, Ia menyatakan: “Sekalipun seorang ibu melupakan anaknya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihatlah, Aku telah membaringkan engkau di atas telapak tangan-Ku. Engkau senantiasa ada di hadapan-Ku.”

Memangkas Cabang

Oh, betapa banyak keistimewaan luar biasa yang diberikan kepada kita! Akankah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membentuk persekutuan dengan Kristus, yang melaluinya berkat-berkat ini dapat diperoleh?

Akankah kita memutuskan dosa-dosa kita dengan kebenaran dan kejahatan kita dengan berbalik kepada Tuhan? Skeptisisme dan ketidaksetiaan tersebar luas. Kristus bertanya pertanyaannya: “Apabila Anak Manusia datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” Kita harus menghargai iman yang hidup dan aktif. Keabadian iman kita adalah syarat dari persatuan kita.

Persatuan dengan Kristus melalui iman yang hidup adalah kekal; semua persatuan yang lain pasti binasa. Kristus pertama-tama memilih kita, membayar harga yang tak terhingga untuk penebusan kita; dan orang percaya sejati memilih Kristus sebagai yang pertama dan yang terakhir dan yang terbaik dalam segala hal. Tetapi persatuan ini mengorbankan sesuatu. Ini adalah sebuah persatuan yang penuh ketergantungan, yang harus dimasuki oleh makhluk yang sombong. Semua orang yang membentuk persekutuan ini harus merasakan kebutuhan mereka akan darah penebusan Kristus. Mereka harus memiliki perubahan hati. Mereka harus menundukkan kehendak mereka sendiri kepada kehendak Allah. Akan ada pergumulan dengan rintangan-rintangan lahiriah dan batiniah. Harus ada pekerjaan pelepasan yang menyakitkan dan juga pekerjaan keterikatan. Kesombongan, keegoisan, kesia-siaan, keduniawian – dosa dalam segala bentuknya – harus dikalahkan jika kita ingin masuk ke dalam persatuan dengan Kristus. Alasan mengapa banyak orang menemukan kehidupan Kristen begitu menyedihkan, mengapa mereka begitu berubah-ubah, adalah karena mereka mencoba melekatkan diri mereka pada Kristus tanpa terlebih dahulu melepaskan diri mereka dari berhala-berhala yang mereka cintai.

Setelah persatuan dengan Kristus terbentuk, persatuan itu hanya dapat dipertahankan dengan doa yang sungguh-sungguh dan usaha yang tak kenal lelah. Kita harus melawan, kita harus menyangkal, kita harus menaklukkan diri. Melalui kasih karunia Kristus, dengan keberanian, dengan iman, dengan berjaga-jaga, kita dapat memperoleh kemenangan. (Testimonies for the Church, 5:228-231).

<< Go Back

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart